"Ngapain kamu di depan pintu kamar Sira?!" Busran melotot ke arah Ghifan.
Mereka sekarang berada di meja makan setelah insiden Bushra berteriak maling.
"Emang nggak bisa Ghifan lewat doang?" Ghifan merasa bahwa mata sang ayah akan segera keluar menggelinding di lantai saking melotot ke arahnya.
"Lagian kak Ghifan ngagetin Sira yang ada di kamar tau. Ini jam satu malam, Sira jelas takut lah," ujar Bushra, dia menggigit ujung kukunya.
Ghifan melirik menyipitkan matanya ke arah sang adik.
"Ih, apaan sih, kok muka Kak Ghifan lihatin Sira kayak gitu?" Bushra menjadi salah tingkah pada arah lirikan sang kakak.
"Hum … aku masih di dunia mimpi, Papa dan yang lainnya bikin heboh aja deh. Biasa itu Sira VC-an sama ayang bebeb luar negeri-" Gaishan tiba-tiba menutup mulutnya rapat setelah dia tersadar bahwa dia telah mengucapkan sebuah rahasia.
Busran, Ghifan dan Gea, "...." melirik serentak ke arah Gaishan.
Wajah Bushra tiba-tiba berubah pucat pasi bercampur aduk takut.
Kak Gaishan! Bushra mencicit dalam hati.
"Ahahahaha! biasa itu, Papa dan Mama kayak nggak tau Sira aja, teman ayang bebebnya banyak, kan kerja terus sama orang luar. Kemarin-kemarin sering dikasih minyak esensial. Kali aja kali ini dikasih ayam bebek goreng hahahaha!"
"Iihh, Kak Gaishan udah mulai ngomong ngaur. Sadar dulu dong baru ngomong," ujar Bushra, dia bersyukur kakaknya bisa menyesuaikan alasan agar tidak terbongkar rahasianya.
"Oh begitu …." Gea hanya manggut-manggut.
Feeling Busran sebagai ayah dan Ghifan sebagai kakak laki-laki berbeda, mereka seperti merasa ada sesuatu yang ganjal.
"Ehem. Sira, kapan-kapan minta minyak kuat dong dari teman-teman kamu yang dari eropa itu. Kak Gaishan mau coba. Kan gadis-gadis di sana aduhai montok minta ditotok sana sini-aduh!"
Bugh!
Pukulan mendarat di rahang kanan Gaishan.
"Masuk kamar tidur."
"Hahahaha, asyiap ayang bebenya Gaishaaan," balas Gaishan setelah dia cengengesan ke arah istrinya.
"Percaya mulut Gaishan, ngaur dia, jangan dengerin maunya minta minyak kuat," ujar Busran ke arah Bushra, dia menyindir Gaishan yang katanya bicara ngaur.
"Hehe, iya, Pa." Bushra terkekeh.
Aduh, hampir saja ketahuan. Aku harus bilang Eric, jangan telepon-telepon aku lagi, batin Bushra.
Bushra mengelus d**a dirinya, suatu keselamatan kali ini karena dia tidak terciduk oleh kakak nomor dua.
Gaishan melirik ke arah sang adik perempuan, lalu tersenyum manis dan mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah punya istri, jangan main mata sama anak gadis Papa!" Busran menggertak ganas anak sulungnya.
"Hehehehe, sensi amat. Sama anak perempuan aja cemburu, apalagi main mata sama istri." Gaishan cengengesan.
"Siap-siap kepala putus dari leher." Busran membalas.
Gaishan, "...."
Aaihh, terlalu galak.
"Udah, tidur," ujar Gea. Dia menarik suaminya masuk kamar, sedangkan Ghifan melihat piring yang berisi makanan yang baru saja dibawakan pelayan untuknya.
Bushra cepat-cepat lari ke kamar, "Kak Ghifan, Sira tidur, yah."
Cus!
Menghilang.
Ghifan melirik ke arah adiknya pergi. Dia tadi dengar sang adik bicara dengan bahasa inggris dan bahasa Perancis.
"E … ric?" Ghifan mengerutkan keningnya.
"E … rica?" Ghifan masih terlihat penasaran dengan nama yang disebutkan oleh sang adik tadi.
Kryuuk kryuuk.
"Tuan Ghifan, makanan sudah siap," ujar pelayan memperingatkan Ghifan.
"Ah? aa ya ya." Ghifan tersadar lalu dia mengambil cepat makanan yang ada.
Para bodyguard yang berjaga saling lirik.
Hari ini mereka diprank oleh satu keluarga ini.
Tapi, setidaknya mereka bisa merasakan terhibur dengan tingkah keluarga ini, jika saja mereka ditugaskan di rumah utama Nabhan, setiap hari mereka akan makan api cemburu dari Tuan Besar Nabhan. Ah, bersyukur saja pekerjaan apa yang diberikan padamu. Semua pekerjaan ada susah senangnya dan tentu saja ada resiko.
Bushra mengunci pintu kamarnya, lalu dia pergi ke arah ranjang.
Ponselnya bergetar terus menerus.
Bushra melirik ke arah ponselnya
'Erica memanggil'
Itu benar, nama kontak itu adalah Erica.
"Ck! tidak bisa seperti ini, bisa ketahuan," gumam Bushra.
Dia meraih ponsel lalu mengangkat panggilan internasional antar benua itu.
"Sira-"
"Jangan hubungi aku dulu," potong Bushra terhadap orang yang bicara dari seberang.
"Why?"
"Eric, kamu buat aku hampir ketahuan," jawab Bushra.
"Masih ingin backstreet dengan keluargamu?" tanya suara seorang pria di seberang. Aksen Perancis sangat kentara namun bahasa Indonesia yang dia gunakan cukup untuk dimengerti oleh penutur asli bahasa Indonesia.
"Ya," jawab Bushra.
"Sampai kapan?" tanya Eric.
"Tidak tahu."
"Aku tidak tahan," ujar Eric.
"Tidak tahan apa?" tanya Bushra.
"Tidak tahan berjauhan dengan kamu. Aku ingin hubungan kita terbuka."
"Ya, sekarang bilang saja ke Papaku, mari ke sini, dan aku berani jamin, kita tidak akan pernah berhubungan apapun lagi," balas Bushra.
Eric terdiam membisu dari seberang.
Tidak mudah menjalani hubungan cinta dengan seorang gadis yang merupakan anak satu-satunya di keluarga itu dan cucu perempuan yang cukup sedikit. Wajah Eric terlihat kesal bercampur masam, dia memang sedang kesal karena niatnya berkali-kali ditolak oleh sang kekasih.
Bushra tidak semudah itu mengjyakan maunya agar dia segera dipinang oleh Eric, hubungan mereka terhalang masa lalu keluarga dan beberapa faktor lainnya.
"Ok … aku akan menerima hubungan kita yang bersembunyi dari keluarga kamu … jangan marah. Maaf, aku terlalu menekan kamu, sudah aku jujur padamu sebelumnya, bahwa aku ingin kita segera bersama, tapi nyatanya tidak semudah itu …," ujar Eric masam.
Dia memutuskan untuk mengalah dan mengikuti saja apa kata Bushra daripada Bushra marah padanya dan hubungan mereka benar-benar berakhir.
Bushra merasa bahwa Eric pasti sedang dilema, namun dia belum punya keberanian untuk dia ungkapkan pada sang ayah mengenai hubungan mereka. Meskipun umurnya tahun ini adalah 23 tahun, namun sang ayah tetap melihatnya sebagai anak gadis kecilnya. Ayahnya lebih protektif semenjak peristiwa kakak sepupunya yang dibawa lari kawin oleh orang setengah bule.
Sejujurnya susah jadi anak gadis.
"Ya …," gumam Bushra.
"Eric …."
"Hum?" sahut Eric.
"Aku punya banyak saudara laki-laki … juga banyak paman … bukan hanya dari pihak ayah tapi pihak ibuku juga banyak … sangat banyak … dua kakak sepupu perempuanku sebelumnya tidak mudah diberi ijin menikah. Aku … tidak tahu bagaimana jelaskan ini padamu … kamu baik … kamu juga perhatian … tapi … orangtuaku adalah nomor satu untukku … Eric, hubungan kita sepertinya-"
"Sudah malam di sana, Sira. Jangan begadang, aku tutup teleponnya, untuk beberapa hari aku akan menuruti apa maumu, tidak menghubungi kamu sembarang waktu. Love you."
Klik.
Panggilan berakhir.
Eric memotong ucapan Bushra sebelum kekasihnya itu berbicara mengenai hubungan mereka yang menemui jalan buntu. Dia tidak ingin mendengar kalimat atau kata berakhir dari mulut Bushra.
"Sial sekali. Huuuf!" Eric mengusap wajahnya setelah dia mematikan telepon yang dia mulai. Eric merasa bahwa hubungan mereka diunjuk tanduk karena keluarga dari Bushra.
Pria itu melirik ke arah layar ponsel yang memperlihatkan foto Bushra memakai pakaian dinas pariwisata sambil berbicara resmi dengannya di sebuah kegiatan. Itu adalah pertama kali mereka bertemu, dan berbincang satu sama lain. Dia sangat merasa nyaman dengan cara bicara Bushra dan senyumnya yang murah meriah.
"Tahan Eric … kalian baru memulai saling serius dalam satu bulan ini …."
Ya, satu bulan yang lalu Bushra memutuskan untuk menerima Eric menjadi pacarnya, namun Eric sudah tidak tahan lagi, dia ingin segera memperistri Bushra, namun sayangnya Bushra menolak. Selain alasan keluarga dan ayahnya, Bushra juga tidak mau kehilangan pekerjaannya.
Hubungan mereka terlalu banyak tembok pemisah.
Sementara itu Bushra berbaring di atas ranjang sambil melihat plafon kamar.
"Mungkin kita tidak bisa bertahan lama …," gumam Bushra. Matanya terasa berat lalu dia tertidur.
Di ruang makan, Ghifan makan dengan kecepatan kilat seperti dia tidak makan selama seminggu. Maklum, perutnya terus berkaraoke sana sini.
"Sangat lapar," ujar Ghifan setelah dia meneguk segelas besar air mineral.
Merasa kenyang, dia berdiri dari kursi makan lalu ingin jalan-jalan di belakang rumah.
"Gerah," gumam Ghifan.
Setelah makan, tubuh akan memproses keringat, itu sebabnya pelipis dan leher Ghifan penuh dengan keringat. Dia berjalan ke taman lalu duduk di gazebo.
Asrama untuk beberapa pelayan terlihat sunyi, hanya ada 5 kamar untuk wanita dan 10 kamar untuk bodyguard. Masing-masing kamar diisi oleh dua orang. Tidak banyak pekerja di rumah Busran. Pelayan dan bodyguard yang banyak itu berada di rumah Agri–kakek dari Ghifan.
Masing-masing dari pekerja punya sift dan nantinya mereka juga akan berganti rumah untuk berjaga.
"Di sini enak … hooaaaam!" Ghifan telah mengantuk. Dia mengantuk setelah makan banyak. Tak butuh waktu lama, mata pemuda 27 tahun itu tertutup, dunia mimpi telah menyambutnya.
°°°
Syarastini mencuci piring dan peralatan yang dia gunakan saat makan. Setelah selesai mencuci, dia naik ke kamarnya lalu ke kamar mandi.
"Tidak usah mandi, cuci wajah dan ganti pakaian saja," gumam Syarastini.
Dia mulai membuka pakaian hingga menyisakan dalaman. Namun, di tengah mencuci wajahnya, Syarastini berubah pikiran.
"Aku gerah," gumamnya.
Syarasini melirik ke arah tempat shower.
"Mandi saja."
Alhasil, Syarastini memutuskan untuk mandi di jam setengah dua dini hari.
"Air hangat lebih enak."
°°°
Pagi datang.
Dua pelayan yang bertugas pagi ini di rumah Busran, selalu celingak-celinguk ke arah pintu-pintu kamar yang ditiduri oleh majikan mereka.
Jam sudah benar, itu menunjukan pukul 08.30 pagi, namun tak ada satupun dari majikan mereka yang terlihat keluar kamar untuk pergi sarapan pagi.
Menu sarapan pagi telah disiapkan, namun penikmat sarapan pagi belum bersiap.
Rumah itu seperti sunyi.
Namun, dibalik kesunyian itu, para bodyguard bersyukur bahwa mereka pagi ini tidak kehilangan sepatu lagi seperti kemarin.
Ini mungkin karena salah satu majikan mereka yang tukang jahil belum bangun.
Dan kenyataan lainnya adalah, semua majikan mereka belum bangun!
Di dalam kamar Busran.
Pria 54 tahun itu sedang asik tidur sambil menempelkan hidungnya ke arah pusar sang istri yang sedang tidur miring, selimut yang mereka pakai terbuang ke lantai, sementara itu Gea masih menjelajah di alam mimpi, itu terlihat karena dua orang yang telah menikah selama 28 tahun itu tidur pulas tak tahu arah jam menunjuk ke angka berapa.
Di kamar Gaishan dan istrinya, pasangan baru itu tidak berniat membuka mata mereka lalu turun dari ranjang.
Gaishan tidur seperti kursi terbalik, kakinya dibentuk seperti angkat 4. Sementara Fathiyah tidur dengan posisi normal. Dua orang itu juga masih di alam mimpi.
Di kamar Bushra.
Gadis manis itu tidur tengkurap menghadapkan kepalanya ke arah kanan. Napasnya masih stabil khas orang yang sedang tidur. Gadis cantik ini sepertinya tidak dalam kondisi balik ke alam nyata.
Ayo kita kembali ke gazebo taman.
Beruntungnya tuan muda Nabhan yang bernama Ghifan itu diselimuti oleh selimut tebal dan bantal empuk di kepalanya.
Terima kasih pada para pelayan dan bodyguard yang saling bekerja sama untuk menyelimuti tubuh majikan mereka.
Ghifan tertidur di luar. Beruntung tidak ada nyamuk yang menyuntikkan jarumnya untuk menyedot darah segar pemuda itu. Pelayan telah memberi kelambu di gazebo itu dan menyediakan selimut serta bantal untuk Ghifan.
Bukannya mereka tidak membangunkan Ghifan, mereka membangunkan pria itu, namun Ghifan saja yang tidur sampai tak tahu arah jalan balik.
°°°
"Aah! Ghifan sudah ke kantor!"
°°°