"Um …."
Suara serak terdengar. Rupanya itu adalah suara Gea yang baru saja membuka matanya.
Dia melirik ke arah bawah dadanya, ada sang suami yang tidur mencium pusarnya.
"Uhum … Bus … bangun," ujar Gea, dia membangunkan sang suami.
Namun, sang suami masih bagai patung mati yang tidak bergerak sedikitpun.
"Bus, Bus." Gea menggoyangkan bahu sang suami.
"Huuuf … mengantuk sekali … jam berapa ini?" Gea melirik ke arah jam beker di pinggir dinding yang berada di atas nakas.
09.05.
"Heeii! Bus, bangun!" Gea langsung terkaget bangun dari ranjang dan mengangkat bahu suaminya hingga Busran duduk di atas ranjang.
"Jam sembilan! sudah jam sembilan! ke kantor!" Gea berseru.
Busran membuka matanya serentak seperti vampir cina yang baru saja bangun dari dalam peti mati setelah diberikan darah segar, namun ini bukan diberikan darah segar melainkan teriakan segar.
Matanya melirik ke arah jam beker yang ditunjuk oleh sang istri.
"Mandi, cepat!" Gea menarik sang suami ke kamar mandi.
"Sayang, mandi berdua saja, yah?"
"Hum, iya iya!" Gea menyahut setuju, dia tidak mau berpikir panjang.
Mereka telah telat ke kantor.
Bushra yang berada di atas ranjang juga terkaget bangun, dia dengan kecepatan kilat berlari ke kamar mandi, sedangkan Ghifan baru saja membuka mata. Hal pertama yang dia lihat adalah, dua pelayan sedang menyiram tanaman di depan gazebo yang ditidurinya.
Ghifan, "!!!"
Cepat-cepat bangun dari tidur meskipun masih dengan kesadaran linglung khas baru bangun tidur.
Dia cepat-cepat masuk ke dalam rumah, namun yang dia lihat adalah meja makan kosong.
"Loh, Bi, Papa dan Mama saya udah ke kantor? kenapa tidak bangunkan saya?" tanya Ghifan.
Bibi pelayan tersenyum masam.
"Tuan, Ayah dan Ibu Anda belum ke kantor. Keluarga Anda masih tidur di kamar."
Ghifan, "...." hanya melihat ke arah meja makan yang baru disadarinya bahwa makanan masih tertata rapi dan belum disentuh sama sekali.
Cus!
Menghilang.
Ghifan dengan kecepatan kilat lari melompati anak tangga ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi.
"Cuci muka saja! sudah terlambat!"
Di dalam kamar Gaishan dan Fathiyah.
Gaishan membuka matanya, dia melirik ke arah sang istri yang juga baru membuka mata.
Tak berapa lama terdengar suara-suara langkah kaki lari dari luar kamar.
Tak tak tak!
"Bibi, tolong taruh bekal sarapan Sira di tempat bekal saja!"
"Busran, jangan lama, ayo sarapan!" terdengar suara Gea.
"Ma, Ghifan nggak sarapan, langsung ke kantor!"
Tak tak tak!
Suara langkah kaki cepat dari luar kamar.
"Eh, Bi, nggak jadi deh, Sira udah telat ke kantor. Udah jam sepuluh! huaaaaa!" suara Bushra panik.
"Nanti Papa telepon Kumantoro, bilang ke menteri pariwisata kalau ada masalah keluarga jadi kamu telat masuk ke kantor!" suara Busran terdengar.
"Nggak perlu, Pa. Iihh, Sira nggak mau ke kantor lagi. Malu, Pa. Sira udah telat banget." Bushra terlihat putus asa.
"Aish, hp aku mana, Sayang?" tanya Busran ke arah Gea.
"Ini."
Busran menelepon seseorang.
'Si Kumantoro.'
"Halo, Bus."
"Halo, selamat pagi, anak saya ada halangan di jalan, jadi masuk telat ke kantor. Nanti saya masukan dana dari Farikin's Seafood ke kementerian pariwisata agar bisa mengekspansi ke beberapa pulau terluar dan tak berpenghuni, dana aman saya tanggung."
"Selamat pagi, Bus, oh baik. Tidak masuk juga tidak apa-apa, saya ijinkan."
"Baik, saya tutup, selamat pagi." Busran menutup telepon.
Gea dan Bushra melirik ke arah Busran.
Sementara itu Busran melirik ke arah anak perempuannya, "Tidak usah ke kantor."
Bushra, "...." dia melirik ke arah jam di pergelangan tangannya.
Jam sepuluh pagi, kalau ke kantor maka itu sudah pasti jam setengah sebelas.
Ah! hidup ini susah!
"Pa, nepotisme amat, Sira jadi malu," ujar Bushra.
"Halah, bukan nepotisme, tapi balas budi. Dulu dia juga minta bantu ke Papa mengenai masalahnya, sekarang ok ok aja kayak gini," balas Busran.
"Nggak usah ke kantor, ganti baju lalu ke kantor Papa saja, atau kalau kamu mau, ke rumah Nenek Lia gih," ujar Busran.
"Um, Sira ke rumah Nenek Lia aja," balas Bushra.
"Buruan sarapan, mau ke kantor," ujar Gea.
"Ok," sahut Busran.
Suami istri muda itu saling melirik lalu bangun serentak dari ranjang.
"Jam sepuluh!" seru Gaishan dan istrinya secara bersamaan.
"Gaishan, kamu tidurnya seperti orang mati." Sindir Fathiyah.
"Sayang, aku mati karena mengikuti kamu yang juga tidur seperti putri tidur," balas Gaishan.
Fathiyah, "...." suami ini.
°°°
"Aah! Ghifan udah ke kantor!"
Syarastini cepat-cepat ke kamar mandi lalu mencuci wajahnya. Dia tidak ada waktu mandi pagi, gadis 24 tahun itu cepat-cepat mengganti baju lalu turun ke bawah.
"Bibi," sapa Syarastini.
"Iya, Non Tini, balas bibi asisten rumah rangga, "Udah sarapan, Non?".
"Nanti saja di luar, Bi, lagi buru-buru," jawab Syarastini.
"Baik, Non. Hati-hati."
"Iya, Bi," sahut Syarastini.
Syarastini pergi dengan mengendarai mobil mini miliknya.
"Aduh, sudah jam sepuluh, Ghifan pasti sudah ke kantor …."
"Lalu untuk apa aku pergi melihat dia kerja?" Syarastini bingung sendiri.
Namun anehnya, mobilnya tetap dia kendarai menuju gedung Farikin's Seafood.
Setelah sampai tak jauh dari gerbang perusahaan yang dia tuju, Syarastini duduk termenung.
Ini adalah kebiasannya yang sering melihat Ghifan pergi bekerja ke kantor.
Syarastini mengingat hal kemarin siang yang membuatnya down.
"Hum … lihat Ghifan dari jauh saja tidak apa-apa … asal jangan dari dekat, nanti dia marah," gumam Syarastini.
Dia berencana untuk kembali ke rumah, namun sebuah mobil masuk ke gerbang perusahaan.
Alhasil, Syarastini mengurungkan niatnya. Dia melihat orang yang mengendarai mobil itu. Wajah orang itu terlihat seperti tidak sabaran.
Memang benar, Ghifan tidak sabaran untuk masuk ke kantor. Dia melihat jam di pergelangan tangannya, itu menunjukan pukul 10.35.
"Sial sekali, aku benar-benar terlambat," ujar Ghifan, dia ingin membelokan mobilnya ke arah kanan agar ke tempat parkir bawah tanah, namun dia melirik sekilas ke arah kaca spion kanan.
Ada mobil hitam mini.
Ghifan memelankan laju mobil lalu melirik ke arah kaca spion mobilnya.
Wajah Syarastini yang tersenyum dari arah jauh terlihat.
Wajah Syarastini jelas tersenyum senang.
Ghifan melirik ke arah depan mobil dan ke kaca spion lainnya, tidak ada mobil atau motor yang mendekat ke arah gerbang perusahaan kecuali mobilnya.
"Tidak ada motor Rinoi," gumam Ghifan.
"Tapi kenapa dia senang?" Ghifan tidak mengerti lagi apa sebenarnya yang telah terjadi.
Dia tidak melanjutkan laju mobil masuk ke parkiran, dia sedang berhenti di tengah gerbang pintu.
Terlintas sebuah pikiran di kepala Ghifan, dia akan menunggu sebentar di tengah gerbang ini.
Siapa tahu saja Rinoi akan keluar dari perusahaan.
Di dalam mobil Syarastini, dia mengerutkan keningnya, "Kenapa Ghifan berhenti?"
Dia tidak tahu apa yang terjadi, namun hal ini cukup membuat dia tersenyum senang karena dia bisa melihat mobil Ghifan yang berada di depannya.
Ghifan tidak memajukan mobilnya hingga setengah jam.
"Rinoi tidak keluar kantor," gumam Ghifan.
"Sudah jam sebelas …," gumam Ghifan sambil melirik ke arah kaca spion.
Masih ada mobil mini Syarastini berhenti tak jauh dari perusahaannya.
Ada sebuah mobil masuk.
Rupanya itu adalah mobil milik Busran dan istri.
"Itu mobil Ghifan," ujar Gea.
"Loh. Dia kok baru sampai kantor? padahal tidak macet di jalan," ujar Gea.
"Mungkin dia lapar di tengah jalan, jadi cari tempat sarapan di kafe," balas Busran.
"Oh. Iya juga," sahut Gea.
"Heh? tapi kok anak itu mobilnya nggak maju-maju ke depan?" Gea mengerutkan keningnya.
Biiipp! Biip!
Ghifan menarik lalu menghembuskan napas kasas.
"Ada apa denganku?!" Ghifan terlihat kesal. Dia memajukan mobilnya agar mendapatkan tempat parkir supaya mobil ayahnya bisa masuk.
Setelah dia turun dari mobil, Busran dan istrinya juga turun dari mobil.
"Kamu kenapa sih berhenti di tengah pintu masuk?" tanya Busran.
"Nggak kenapa-kenapa, Pa," jawab Ghifan.
"Oh, random aja gitu?" Busran menaikkan sebelah alisnya.
"Bus, mau naik nggak?" Gea ternyata sudah berada di lift tempat parkir.
"Aah, Sayang, tungguin!" Busran cepat-cepat berlari ke arah sang istri yang telah memasuki lift. Beruntung dia dapat mencegat pintu lift yang akan tertutup.
"Ghifan, mau masuk atau nggak?" tanya Gea.
Ghifan menggeleng, "Nggak, Ma. Mama dan Papa duluan ke ruangan saja, Ghifan masih ada urusan."
"Oh yaudah." Gea menekan tombol angka lift.
Pintu lift tertutup dan naik, sementara itu Ghifan melirik ke arah luar.
Dia masih penasaran. Entah ada apa pada Ghifan, dia berjalan ke arah luar lalu melirik ke arah tempat di mana mobil Syarastini parkir.
Ternyata mobil itu baru saja pergi, Ghifan hanya melihat belakang plat mobil milik Syarastini.
"Ah, bukan urusanku." Ghifan kembali berjalan masuk ke arah lift.
°°°
Setelah dia keluar dari lift ke lantai ruang kerja, Ghifan melihat karyawannya bekerja serius dan fokus. Begitu juga dengan Rinoi yang sedang memeriksa beberapa berkas yang masuk, dia menandai berkas itu dengan pulpen lalu memisahkan bagian-bagian mana berkas itu masuk.
Kalau Rinoi sedang kerja di sini, lalu Tini melihat siapa tadi? batin Ghifan. Tiba-tiba saja kalimat itu terlintas di kepalanya.
Tidak mungkin Rinoi keluar ruangan karena banyaknya pekerjaan.
Ghifan menatap lama ke arah Rinoi.
Apa jangan-jangan tebakan aku salah?
Tini tidak menyukai Rinoi.
Tapi menyukai orang lain?
Apa itu salah satu karyawan yang juga kerja di sini? di devisiku?
Ghifan sekarang tidak fokus lagi ke hal bahwa dia telah terlambat ke kantor.
Ghifan tidak mendapat jawaban.
Dia menggelengkan kepalanya lalu masuk ke ruangan.
Karyawan melirik ke arah Ghifan masuk.
"Pak Ghifan," sapa karyawan a.
"Selamat pa-siang, Pak," sapa karyawan b setelah dia melihat jam bahwa telah jam sebelas lewat.
Rinoi mengangkat kepalanya dari meja kerja, dia melirik ke arah bosnya.
"Selamat siang, Pak Ghifan."
"Ya, selamat siang," balas Ghifan.
Dia melirik ke arah berkas yang telah selesai diperiksa oleh Rinoi.
"Pak, ini berkas dari bendahara kita, setelah Pak Ghifan tanda tangan atas nama Pak Busran, maka pembagian gaji akan dilakukan tanggal satu yaitu besok," ujar Rinoi.
"Oh, laporan gaji." Ghifan mengangguk mengerti.
"Tolong bawa ke ruangan saya."
"Baik, Pak."
Rinoi mengikuti Ghifan dari belakang untuk masuk ke ruang kerja Ghifan.
Ghifan duduk lalu mulai medantangani satu demi satu berkas keuangan perusahan yang diatasnamakan oleh Busran padanya.
Setelah selesai tanda tangan, Ghifan melirik ke arah Rinoi yang telah mengucapkan terima kasih.
"Terima kasih, Pak."
"Ya. Rino," panggil Ghifan.
"Ya, Pak?"
"Kamu datang ke kantor jam berapa?"
"Saya datang ke kantor seperti biasa, Pak, jam delapan," jawab Rinoi.
"Lalu kamu tidak keluar ruangan tadi setelah masuk kantor?" tanya Ghifan.
Dia sudah seperti penyidik yang menanyakan saksi korban dan pelaku dalam tindak pidana kejahatan.
"Tidak, Pak," jawab Rinoi.
"Oh, yasudah, kembali bekerja."
"Baik, Pak."
Rinoi keluar ruangan Ghifan tanpa rasa curiga.
Mendengar jawaban dari Rinoi, membuat Ghifan tiba-tiba melirik ke arah kamera cctv.
°°°