Chapter 26

1735 Words
Syarastini memasuki pintu rumah. "Bibi," sapa Syarastini. "Eh Non Tini, udah pulang yah, cepat yah," balas bibi asisten rumah tangga melirik ke arah jam di dinding. "Iya, Bi. Cuma sebentar doang." Syarastini menahan senyum lebar. Hari ini dia cukup puas dengan melihat Ghifan dari jauh selama setengah jam. "Eh, Non sudah makan siang? Bibi tadi cuma masak buat Kakek Non, soalnya Nyonya ke kantor Non Tia." "Um, ok deh, aku makan bareng Kakek saja." "Baik," sahut bibi asisten rumah tangga. Syarastini naik ke kamar untuk meletakan tas selempang dan kunci mobil, setelah itu dia kembali turun ke ruang makan dan duduk berhadapan dengan sang kakek. "Kakek," sapa Syarastini. Lihat yang juga baru duduk di kursi makan, dia mendongak dan melihat ke arah Syarastini. "Ya," sahut Jihat. "Kakek kira kamu jalan-jalan dengan teman seperti kemarin," ujar Jihat. "Nggak, Kek. Teman Tini lagi kerja, katanya ada kasus yang masuk ke kantor pengacara ayahnya," balas Syarastini. "Oh, begitu …," gumam Jihat, dia manggut-manggut lalu setelah itu dia melihat cucunya, "sudah kamu putuskan ingin membuka usaha apa?" Syarastini terdiam. Akhirnya sang kakek menanyakan perihal ini juga. Syarastini mengangguk, "Sudah, Kek." "Kamu mau membuka usaha apa?" tanya Jihat. "Tini mau … em … buka toko sepatu anak-anak saja …," jawab Syarastini agak pelan, namun jawabannya dapat didengar oleh Jihat. "Toko sepatu anak-anak?" Jihat mengerutkan keningnya. Lihat berpikir sang cucu akan memilih membuka usaha lain, tapi toko sepatu anak-anak. Melihat sang kakek mengerutkan kening, timbul rasa pesimis di hati Syarastini. Dia berpikir mungkin sang kakek berubah pikiran atau tidak ingin mengijinkan dia buka usaha lagi. "Iya, Kek, toko sepatu anak-anak," ujar Syarastini. "Alasan kamu pilih untuk membuka toko sepatu anak-anak itu apa?" tanya Jihat. Syarastini tidak tahu apa alasan bisnisnya memilih toko sepatu sebagai usahanya nanti, yang dia tahu adalah alasan pribadi kenapa sampai dia memilih toko sepatu anak-anak. Dia memilih membuka toko sepatu anak-anak karena hal itulah yang terpikir di kepalanya setelah mengingat Ghifan setiap saat, yah pertemuan yang dia ingat bersama Ghifan untuk pertama kalinya adalah di sebuah toko sepatu anak-anak. "Tini suka saja dengan anak-anak, jadi jika nanti ada anak yang orangtuanya ingin membeli sepatu untuk anak mereka, mereka bisa membeli sapatu itu di toko Tini nanti ...," jawab Syarastini, dia melirik reaksi sang kakek yang sedang melihat serius ke arahnya. Jihat melihat sang cucu dengan tatapan sulit diartikan, dia ingin mengatakan sesuatu tetapi takut membuat hati cucunya ini sedih atau menyakiti hati cucunya. Alhasil dia hanya mengangguk. "Baik, Kakek akan bilang pada Papa kamu, urus semuanya, nanti dana dari uang Kakek." Syarastini melihat serius bercampur senang ke arah sang kakek. Tanpa banyak tanya, sang kakek langsung setuju. "Kakek …," panggil Syarastini pelan. "Um?" sahut Jihat. "Terima kasih." Jihat melihat wajah cucunya, dia mengangguk, " … ya," balas Jihat. Syarastini tersenyum senang dan penuh terima kasih pada sang kakek. "Tini." "Ya, Kek?" sahut Syarastini. "Jangan sakit-sakit, kamu sudah besar sekarang. Sudah mau seperempat abad tahun depan, jangan sakit-sakit, cukup kecil saja kamu sakitnya," ujar Jihat. Nada ini diucapkan dengan nada penuh kasih sayang dan sebuah harapan. Mata Syarastini memerah, namun dia cepat-cepat menguasai emosinya, Syarastini mengangguk. "Baik, Kek. Tini sudah besar, tidak sakit-sakit lagi. Lihat, Tini sekarang sehat, heheheh." Jihat tersenyum lalu mengangguk, "Ayo makan." "Siap, Kakek!" Syarastini memberi pose hormat dengan tangan kanan. "Hahahaha!" Jihat terbahak. Bibi asisten melirik penuh senang ke arah meja makan ketika melihat Syarastini dan Jihat tertawa lalu makan bersama. Suasana di meja makan itu memang kekurangan orang namun tidak kekurangan kebahagiaan. Jarang sekali meja makan Tinar terlihat bahagia, yang ada hanya debat-mendebat dari kepala keluarga dan menantu ini. "Kek, makan ikan, bagus untuk Kakek." "Baik." "Kek, makan sayur hijau, bagus untuk Kakek." "Ok." "Kek, makan lobster, bagus untuk Kakek." "Hum." "Kek, makan sup tulang sapi, bagus untuk Kakek." "Hei! perutku akan pecah! ini perut bukan penampungan makanan!" "Hahaha, maaf maaf." "Ini, kamu makan." "Kek …." "Hum?" "Terlalu … banyak." "Nah, supaya kamu rasa apa yang Kakek rasa." Tiga detik kemudian. "Hahahahaha!" Kakek dan cucu itu tertawa hingga air mata mereka menguap. °°° Ghifan melirik ke arah cctv sudah dari setengah jam yang lalu. Hal ini membuat beberapa karyawan yang melihat ke arah sang manager keuangan itu saling melirik bingung. Ada apa dengan manager keuangan mereka? lalu ada apa dengan cctv yang sedang ditatap itu? Arah lirikan mata Ghifan ke cctv itu membuat bodyguard yang bekerja di ruang pemantauan cctv menjadi agak takut. Pasalnya, sang tuan muda sering melirik ke arah cctv, terkesan seperti dia sedang diperhatikan oleh tuan mudanya. Tiba-tiba, bulu kuduk sang bodyguard berdiri tegak karena takut. Dia teringat film horor yang dia nonton bersama pacarnya yang merupakan pelayan di rumah utama Nabhan. Lirikan mata maut. Jemari kiri Ghifan yang dia letakan di atas meja kerja, secara bergantian mengetuk pelan meja kerjanya, terlihat dia sedang memikirkan atau mempertimbangkan sesuatu. Tidak ada yang tahu apa yang sedang dia pikirkan. Hal ini dia lakukan sampai tibanya waktu istirahat makan siang. Rinoi dan karyawan lain menangguhkan pekerjaan mereka untuk sementara waktu, mereka ingin makan siang sekaligus melepas sedikit penat karena bekerja ekstra pada akhir bulan. Ghifan yang melirik cctv itu tersadar bahwa tidak lagi ada karyawan di dalam ruang devisi keuangan. Kryuuk kryuuk kryuuk! Ghifan sadar bahwa perutnya memang belum terisi dari pagi hingga siang ini. Ghifan malas untuk berdiri dari kursi, namun dia merasa lapar, tak mau ambil pusing, dia menelepon di bagian kantin. "Ya, dengan bagian kantin, ada yang bisa kami bantu?" tanya orang kantin. "Saya ingin makan siang dibawakan saja ke ruangan saya," ujar Ghifan. Orang kantin, "....." diam selama tiga detik, masih memikirkan siapakah yang menelepon. "Bawa menu apa saja yang ingin dibawa ke ruangan saya, saya tunggu di ruang manager devisi keuangan," ujar Ghifan, dia tahu bahwa pasti orang kantin bingung siapa dia. Mata orang kantin melotot panik. "P-pak Ghifan?" tanya orang kantin. "Ya, ada apa? tidak jualan lagi?" sahut Ghifan, dia hanya bercanda mengenai kalimat terakhir. "Makanan sudah dijalan! hei, lepas itu, bawa ini, itu, itu, ini, itu, itu! cepat bawa ke ruangan Pak Ghifan, sekarang!" terdengar suara seruan orang kantin. Ghifan melirik ke arah telepon kantor yang dia pegang. Seheboh itukah jika dia memesan makanan di kantin? perasaan setiap dia makan di kantin dan memesan di sana, tidak seheboh itu, pelayan yang kerja di sana baik-baik dan sopan, yah meskipun memang kantin adalah bagian dari penjualan Farikin's Seafood dan dia juga sebagai bos mereka, tapi tidak seheboh ini. "Oh … mungkin baru pertama kali aku pesan makanan lewat telepon," gumam Ghifan. Ghifan menutup panggilan. Tiga menit kemudian. Empat pelayan kantin mengantri masuk ke ruang kerja Ghifan sambil membawa nampan makanan. Ghifan, "...." aku hanya ingin makan, tapi tidak makan semuanya. "Uhum, beri saya satu nampan saja, sisanya bagikan ke karyawan yang masih ada di ruangan ini," ujar Ghifan bijak. "Baik, Pak," sahut empat pelayan. Satu orang pelayan yang berada di depan pintu Ghifan masuk meletakan nampan makanan, dia berhati-hati agar tidak mengotori atau menumpahkan air ke berkas penting milik perusahan. Yah, baru kali ini dia masuk ruang kerja devisi keuangan, yang sering masuk ruang kerja ini adalah cleaning service. Ruang manager cukup simpel namun terkesan mewah. Seperti ini rupanya ruang calon pemimpin masa depan Farikin's Seafood. "Terima kasih," ujar Ghifan. "Iya, Pak," balas pelayan. "Hun." Ghifan mulai mencuci tangan lalu makan. Para karyawan yang mendapat makan siang gratis terlihat sangat senang, mereka melirik ke arah Ghifan, "Pak Ghifan, terima kasih." "Ya, sama-sama, ayo makan," balas Ghifan. °°° "Sayang." "Um?" Gea hanya menyahut panggilan sang bos tanpa mendongak dari layar komputer. Dia sedang membuat laporan akhir yang masuk ke meja bosnya. "Pak Busran, ini di kantor," ujar Gea tanpa melihat ke arah Busran. "Ck ih, nggak ada orang," balas Busran, "Lagian siapa juga yang berani menegurku? aku pimpinan." Busran agak sombong setelah dia berkata ini. "Harus profesional," balas Gea. "Kamu aja bisa manggil aku setiap hari dengan hanya nama, masa aku nggak bisa panggil sayang ke kamu, itu nggak adil," ujar Busran. Dia menuntut keadilan pada sekretarisnya di dalam perusahan yang dia pimpin. Gea berhenti melihat ke arah layar komputer lalu melirik ke arah sang bos, "Baik Pak Busran, saya akan mematuhi perintah perusahan, tidak ada lagi panggilan non formal di antara kita." Busran, "...." lah!? Nah kan, sekarang yang menegur dia adalah sekretarisnya sendiri. Beranikah Busran sebagai pimpinan menegur balik sang sekretaris? mari kita lihat kelanjutannya. Gea dengan santai kembali ke pekerjaannya. "Sayang, aku cuma bercanda, kamu kayak nggak tau aja deh, hahahah." Busran berdiri dari kursi putar bos lalu berjalan keluar pintu kerja dan ke arah Gea. Nah, jawaban dari pertanyaan kita adalah Busran sebagai pimpinan perusahan ini tak berani menanggapi atau menegur balik sang sekretaris yang sudah 28 tahun bekerja untuknya. Gea tak menanggapi, dia hanya serius bekerja. Busran mulai memijat bahu sang sekretaris. "Sayang, eh, aku panggil Nona Baqi saja biar kamu tidak marah, yah." Busran mulai membujuk sang sekretaris. Lalu dia mempersembahkan senyum manis. "Pasti kamu lelah kan kerja di akhir bulan, soalnya banyak banget laporan yang masuk, ah gini aja, aku punya usul, mending semua laporan itu direview dan ditandatangani oleh Ghifan atas nama aku aja, biar kamu nggak ribet gitu ngurus banyak berkas yang masuk. Nah, hitung-hitung ajar Ghifan biar dia bisa cepet belajar ngendaliin perusahaan ini, toh dia kan calon pengganti aku di masa depan. Kamu tahu kan, si kutu kupret anak sulung kita itu pembangkan dan mau bangun usahanya sendiri." Gea terlihat berpikir. Dia mempertimbangkan ucapan sang bos. "Uang gaji dari karyawan sudah ditandatangani oleh Ghifan, kamu mau apa lagi yang mau dia tandatangani?" "Yah kalau bisa semuanya," jawab Busran. "Ok, aku setuju," ujar Gea. "Nah, aku kasih tahu sekretaris manager keuangan sekarang, yah?" Busran hendak meraih gagang telepon kantor. "Itu urusanku," ujar Gea. "Ok." Busran tersenyum lebar. Yes, punya banyak waktu sama Gea, batin Busran senang. Di rumah Busran. "Haachiiuuww! uhuum! masa flu?" Gaishan menggosok hidungnya. Fathiyah yang sedang makan daging kelapa muda ungu melihat ke arah Gaishan. "Flu?" Gaishan menggeleng. "Ini pasti ada yang bergosip tentang aku." Fathiyah, "...." "Setiap hari seluruh rakyat Indonesia menggosipkan kamu karena mereka mengira kamu sudah gila kasih semua perusahaan untuk istri kamu," ujar Gea, "yah, meskipun aku juga kadang-kadang mengira kamu sudah gila." Gaishan tersenyum manis ke arah Fathiyah, "Uang bisa dicari, perusahaan bisa dibangun, tapi kamu tidak bisa dicari apalagi dibangun. Sayangku Tia, Abang janji, seluruh jiwa raga ini Abang persembahkan untukmu, mccuuaah-adow!" Plak! "Ada bekas cabe merah di gigi kamu, mau muntah." °°°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD