Meskipun sedang dalam proses makan siang, namun Ghifan tetap melirik sesekali ke arah cctv, hal ini membuat bodyguard yang bertugas menjaga pemantauan cctv tidak juga hilang rasa bergidik ngeri.
Si bos selalu melihat ke arah cctv, seakan itu melihat ke arahnya.
Cepatlah shiftku berlalu!
Doa sang bodyguard dalam hati. Meskipun bodyguard seperti dirinya dilatih keras dan tegas oleh pelatihan di balai latihan milik Nabhan, wajahnya terlihat kaku dan garang setelah pelatihan, namun pada hakikatnya dia adalah manusia yang juga punya rasa takut, takut pada Tuhan, termasuk juga takut pada tuannya yang merupakan keturunan dari Nabhan.
Tiba-tiba sang bodyguard kehilangan nafsu makan siang. Dia takut untuk keluar makan siang.
Sementara itu di dalam ruang kerja Ghifan, dia makan makanan sambil melirik ke arah cctv, kadang dia berhenti makan atau mengunyah sejenak lalu melihat cctv dan dia bahkan melamun sejenak barang beberapa detik. Waktu makan siang yang biasa ditempuh tak sampai setengah jam oleh Ghifan, kini mencapai lebih dari satu jam, seakan di setiap sendokan yang masuk ke dalam mulutnya itu, Ghifan menghitung biji nasi yang dia telan per sendokan.
Rinoi yang masuk ke ruang kerja melihat ke arah ruang kerja sang bos.
Oh, Pak Ghifan sedang makan siang, batin Rinoi.
Setelah itu, Rinoi kembali duduk ke kursi kerja lalu dia melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
Kring kring kring.
Bunyi telepon kantor khusus ruang divisi keuangan.
Rinoi yang sebagai sekretaris dari manager keuangan langsung sigap mengangkat panggilan telepon kantor.
"Ya, dari divisi keuangan Farikin's Seafood. Ada yang bisa kami bantu?" Rinoi mengangkat panggilan.
"Ini saya, sekretaris dari Pak Busran. Begini, em tolong beritahu Pak Ghifan bahwa Pimpinan sedang mencari beliau, tolong segera ke ruangan Pak Busran, yah." Suara profesional Gea terdengar. Sangat profesional dan sopan, bahkan saking sopannya Gea berbicara tentang panggilan kedua orang penting dalam Farikin's Seafood, Rinoi bahkan malu pada dirinya sendiri, karena dia sadar bahwa dia akhir-akhir ini telah membuat sang bos tersinggung.
"Baik, Bu Gea, saya akan segera beritahu Pak Ghifan," balas Rinoi sopan, dia melirik ke arah Ghifan yang sedang menyendok makanan ke dalam mulut lalu dia hendak berdiri, namun setelah sadar bahwa mengganggu orang yang sedang makan itu tidaklah elok apalagi itu adalah atasan sendiri, Rinoi hanya bisa kaku dalam posisi setengah duduk dan setengah berdiri, pantatnya melayang-layang di atas kursi kantor. Tidak merasakan busa kursi kantor tidak juga direnggangkan untuk berjalan, alhasil pantatnya kini bernasib tak jelas.
Ok, jangan bahas *p****t Rinoi yang sedang melayang-layang itu, kembali ke Rinoi sekarang yang merasa tidak enak harus menjawab apa pada sekretaris dari pimpinan.
"Em … itu … Bu Gea," panggil Rinoi agak kikuk.
"Loh, siapa itu? berani manggil-manggil nama kamu? aku saja nggak pernah manggil nama kamu gitu!"
Rinoi melotot takut setelah dia mendengar suara keberatan dan nada tidak sedap didengar oleh pimpinan perusahaan.
Rinoi langsung pucat.
Astagfirullah, aku telah lancang! Rinoi beristigfar dalam hati.
"Kan tidak panggil nama langsung, ada titelnya di depan, Bu, jadi Bu Gea." Terdengar suara balasan dari Gea ke arah sang bos.
"Tapi tetap saja tidak bisa! aku tidak terima ini! dan juga tidak ikhlas!" Suara Busran semakin menjadi-jadi.
Keringat dingin membanjiri pelipis Rinoi.
Tuhan, hidupku dalam masalah! batin Rinoi berteriak pilu.
"Bus, mau diam atau aku tutup teleponnya, semua berkas dan urusan kamu saja yang urus, aku berhenti kerja!"
"Hahahah, ah, aku cuma bercanda kok. Kamu kayak nggak tahu aku aja. Hahaha, bercanda bercanda, jangan diambil serius, ah, sedang kerja rupanya, aku juga mau lihat-lihat email yang masuk dari kamu, hehehe, ayo lanjutkan bicaranya."
Rinoi, "...." membeo.
Dia pernah mendengar desas-desus bahwa setinggi, sekejam, sejahat apapun Tuan Nabhan di depan orang, namun tetap akan tunduk bertekuk lutut di depan wanita mereka. Dan baru sekarang Rinoi mendengar kata ini. Tertanya bos besar takut istri. Isu atau desas-desus itu adalah benar.
Kamu bisa menyinggung Tuan Nabhan namun kamu tidak bisa menyinggung Nyonya Nabhan, berani singgung? kelar lah hidupmu.
Tak berapa lama setelah Busran dari seberang pura-pura melihat layar laptop, Gea kembali melanjutkan pembicaraannya dengan Rinoi, Busran mengusap d**a kirinya.
Ah, untung saja, batin Busran lega.
Untung saja istrinya tidak marah, itu maksud Busran. Susah payah dia merayu istrinya agar tidak usah lagi mengurus berkas yang masuk dengan cara pijat enak-enak tadi, hampir saja dia menyia-nyiakan usahanya itu.
"Maaf, yah Rin, saya sedikit ada kendala, biasa gangguan sinyal," ujar Gea.
"I-iya, Bu. Tidak apa-apa," balas Rinoi.
Gangguan sinyal ….
Entah Rinoi mau berkata apa lagi.
"Bisa kan, kamu tolong bilang pesan saya pada bos kamu?" tanya Gea.
"Bisa, Bu, tentu saja bisa. Ehm tapi kemungkinan Pak Ghifan akan terlambat naik ke ruangan Pak Busran," jawab Rinoi.
"Eh? terlambat?"
"Em, begini, Bu. Pak Ghifan sekarang sedang makan siang," ujar Rinoi.
"Ah, makan siang toh. Tidak apa-apa, santai saja, begitu saja kamu kayak tegang, kalau bos kamu sedang istirahat makan siang, jangan diganggu, ok saya tutup, yah."
"Iya, baik," sahut Rinoi.
Telepon ditutup, Rinoi mengusap d**a kirinya.
"Huuf, hampir saja aku serangan jantung," gumam Rinoi.
"Psst! pstt, Rin," panggil seorang karyawan.
Rinoi melirik ke arah kiri, ada temannya yang beberapa hari lalu bergosip dengan beberapa karyawan.
"Dari sekretaris bos besar, yah?" tanya karyawan itu, dia melirik ke arah Ghifan yang sedang makan.
Rinoi mengangguk, "Ya, dari sekretaris Pak Busran. Jangan tanya lagi, nanti Mas Risal dimarahin, soalnya saya tadi baru saja ditegur bos besar karena manggil nama Ibu Gea."
Pria bernama Risal itu langsung pucat, dia cepat-cepat menunduk melanjutkan kerja.
Aduh, kemarin-kemarin aku gosipin anaknya! batin Risal takut.
Rinoi menarik lirikannya dari Risal, semua orang di sini kalau digertak dengan nama bos besar alias Busran, tentu semua takut, tapi coba kalau digertak dengan nama sekretaris bos besar? semua dari karyawan terendah hingga bos besarpun takut.
Rinoi baru menyadari bahwa pantatnya masih mengudara, dia tidak merasakan pegal di *p****t tapi pegal di jantung, maklum, baru abis senam jantung, spot sport jantung sedikit.
"Huuf …." Rinoi duduk di kursi kerja. Dia melirik Ghifan yang masih makan, dia mulai merasa aneh, sepertinya makin lama cara makan sang bos bagaikan cara berjalannya siput, lama.
"Un, tunggu saja Pak Ghifan selesai makan baru aku kasih tahu, toh tadi pesan dari sekretaris Pak Busran biarkan saja Pak Ghifan makan siang, jangan diganggu."
Alhasil, tunggu lah Rinoi sekarang.
Di ruangan Busran.
Gea mengembalikan telepon ke tempatnya, Busran yang pura-pura melihat layar laptop, kini memindahkan pandangannya dari laptop menuju ke sekretaris.
"Sudah, yah?"
"Sudah apa?" tanya Gea.
"Maksudku, sudah kasih tau Ghifan?"
"Dia sedang makan siang, jangan diganggu," jawab Gea.
"Oh, makan siang." Busran melirik jam di pergelangan tangan kiri, "Sudah jam setengah dua," gumam Busran.
"Makan apa sampai jam begini?" gumaman Busran terdengar di telinga Gea.
"Makan besar, jangan banyak tanya. Itu, ada email baru masuk, tanda tangan secara online lalu aku mau kirim ke Hongkong."
"Asyiap, Nyonya Busran!" Busran langsung turun tangan untuk melakukan apa yang dikatakan oleh sekretaris.
°°°
Satu jam kemudian.
Rinoi merasa bahwa sang bos benar-benar menghitung biji nasi sebelum dimasukan ke dalam mulut, lalu harus mengunyah pelan-pelan hingga tiga puluh dua kunyahan yang lembut seperti makanan bayi dan ditelan lalu minum perlahan dan siklus itu diulang lagi berkali-kali.
Sudah satu jam dia menunggu bosnya makan siang.
Satu jam!
Pantat Rinoi telah panas karena duduk menanam pantatnya terus menerus selama satu jam tanpa perenggangan.
Pak Ghifan, kenapa hari ini Anda makan sangat lama? batin Rinoi menangis. Dia melirik jam, sudah setengah tiga, apakah dia harus menerobos saja pintu kerja bos lalu memberitahu pesan dari sekretaris bos besar ataukah dia duduk menunggu lagi?
Mari kita tanyakan pada Rinoi.
Rinoi melirik ke arah meja bosnya, masih ada nasi.
Setengah piring!
What the? ….
Titik titik silakan diisi sendiri.
Sudah jam segini namun nasi di piring bosnya masih setengah?
Ok fix, Rinoi gila sekarang.
Gila menunggu sang bos abis makan, bukan gila karena menunggu cinta yang tak kunjung datang.
Sabar, sabar. Rino, kamu harus sabar, semua pekerjaan itu ada risiko dan untungnya.
Semua ini adalah untuk menguji kesabaran kita.
Rinoi mewanti-wanti dirinya agar tetap sabar.
Jadi, Rinoi putuskan untuk sabar dan menunggu lagi.
Setelah makan siang yang membutuhkan waktu dua jam namun belum juga habis-habis, Ghifan sekarang melamun sambil mengunyah.
'Dari mana Anda tahu bahwa Nona Tini menyukai sekretaris Anda?'
Dari mana dia tahu bahwa gadis bernama Tini itu menyukai sekretarisnya?
'Tidak perlu dijelaskan lagi, gadis mana yang membuang waktunya dua tahun hanya untuk menanyakan jadwal kerja seorang pria? gadis mana yang membuang-buang waktu dua tahunnya untuk melihat dari jauh orang yang dia suka?'
Ini adalah asumsi dari dirinya sendiri.
'Anda mendengar sendiri konfirmasi atau ucapan dari mulut Nona Tini bahwa dia menyukai sekretaris Anda?'
Tidak, dia tidak mendengar konfirmasi langsung dari Syarastini.
'Sepertinya Anda harus jeli dalam melihat ini. Coba periksa cctv di sekitar ke mana pun Anda pergi, temukan hal apa itu.'
"Periksa cctv?" gumam Ghifan.
'Tuan Kao, maksud Anda?'
'Maksud saya, Anda mungkin harus menyelidiki asal muasal seseorang membuntuti Anda.'
Haruskah aku menyelidiki asal muasal seseorang membuntuti … anda.
Anda.
"Itu berarti … aku?" Ghifan merasa bahwa dia telah berpikir konyol lagi kali ini.
Entah kenapa pemikiran konyol selalu datang padanya akhir-akhir ini.
Jujur saja, hal ini membuat Ghifan tidak nyaman, seperti ada sesuatu yang bercokol di dalam hatinya. Seperti ada yang menggaruk-garuk jantungnya.
"Bukan urusanku jika dia menyukai orang lain. Kenapa aku harus sewot?" Ghifan mulai berusaha untuk menghilangkan pemikiran yang menyerangnya.
'Sepertinya Anda harus jeli dalam melihat ini. Coba periksa cctv di sekitar ke mana pun Anda pergi, temukan hal apa itu.'
Semakin dia ingin menghilangkan pikiran konyolnya, semakin banyak ucapan Hendry yang berputar-putar di kepalanya.
Brak!
"Sialan! baik, aku akan periksa semua cctv!"
"Aaakh!" seorang perempuan kaget.
Ghifan menggebrak meja karena terlalu kesal, meja kerja bergetar hingga piring dan gelas ikut bergetar. Bahkan gelas menumpahkan air.
Ghifan, "...."
Dia bingung ketika melihat ada Rinoi dan salah satu orang kantin yang antri di depan pintu kaca miliknya.
"Ada apa?" tanya Ghifan.
"Ehm, maaf, saya agak kurang enak badan hari ini." Ghifan mengubah suaranya agar tidak terdengar sangar setelah kesal dengan pemikirannya sendiri.
"Be-begini, Pak … saya datang mau ambil piring yang Bapak gunakan untuk makan tadi, tapi … Pak Ghifan masih makan …," jawab orang kantin takut.
"Belum selesai makan siang," ujar Ghifan, dia mengerutkan keningnya, memang dia belum selesai makan siang.
"Maaf, Pak, ini telah jam pulang kantor." Suara Rinoi terdengar.
Ghifan melirik ke arah jam dinding di kantor.
4.15 sore.
"...."
Jadi, siapa yang salah?
°°°