Chapter 28

1643 Words
Ghifan merogoh ponselnya di dalam saku celana kerja lalu dia menelpon sang ibu. Sekretarisnya baru saja memberitahu dia bahwa ada hal penting yang ingin dibicarakan oleh sang ayah alias pimpinan perusahaan, namun dia baru sadar dari acara makan siang 4 jam plus melamunnya. Ghifan tidak habis pikir ada apa dengan dirinya yang tidak fokus kerja ini. Hati Ghifan menjadi kesal, dia menggertakan giginya kesal, ingin rasanya Ghifan mencekik leher seseorang. Rinoi mundur pelan dua langkah ke belakang. Aura-aura yang dikeluarkan oleh sang bos ini sudah termasuk kategori extrem. Di dalam mobil. Gea membuka tas kerja miliknya, ponselnya berdering. Busran yang duduk di sebelah kanan nya melirik, "Siapa?" Mereka dalam perjalanan pulang, Busran yang menunggu kedatangan manager keuangan selama empat jam itu, pantatnya kram, dia memilih pulang dan sudah tidak sudi menunggu lagi manager keuangan, pikir dia, siapa bos siapa bawahan? "Ghifan," jawab Gea. Mendengar nama Ghifan disebutkan oleh bibir sang istri, membuat Busran murka. "Tidak usah diangkat! bikin aku tambah emosi, dia itu bawahanku, juga anak-anak, beraninya membuat kita menunggunya selama empat jam di kantor? punya nyali besar apa dia?" Nah, sekarang Busran telah mengeluarkan aura marahnya. Namun, Gea tetaplah Gea, dia tak mengambil hati tindakan sang anak, dia mengangkat panggilan telepon dari sang anak, Busran hanya mencebikkan bibirnya saja. "Halo," ujar Gea mengangkat panggilan telepon. "Ma, itu, maaf, Ghifan rasa nggak enak badan … apa … itu … em … ah! nggak tau kenapa kepala Ghifan sakit! hsssss ah!" Ghifan yang kesusahan mencari alasan untuk menjelaskan pada sekretaris bos itu malah menjadi tak karuan. "Ghifan, Ghifan, kalau kamu lagi sakit, nggak apa-apa, tidak perlu dipikirkan, nanti kalau kalau kamu udah baikan, boleh lagi kita bahas mengenai hal ini. Ini juga bukan hal yang terlalu penting. Ayo Nak, pulang yah, ah, nanti Mama telepon bodyguard untuk mengantar kamu pulang, jangan menyetir yah, nanti kenapa-napa, Mama tunggu di rumah, nanti besok tidak usah ke kantor," ujar Gea. Dia takut terjadi apa-apa pada anaknya, mungkin saja pekerjaan kantor membebani sang anak. Dari suara yang dia dengar, Gea yakin bahwa sang anak memang tida sehat. Tidak sehat pikiran maksudnya. "Ma … itu-" "Sudah, Mama tutup teleponnya, pulang yah, Nak," potong Gea. Dia menutup telepon lalu mulai menelepon kantor. Tak berapa lama, ada yang mengangkat panggilan. "Halo." "Saya Gea, tolong antarkan anak saya Ghifan pulang, yah, dia merasa tidak enak badan, jangan biarkan anak saya menyetir," ujar Gea. "Baik, Nyonya," sahut orang di seberang telepon. "Baik, saya tutup teleponnya." Gea menutup telepon. Busran dari tadi melihat ke arah sang istri. "Ghifan sakit?" "Iya, jangan tanya mengenai pekerjaan padanya. Aku rasa mungkin banyak proposal kerja sama yang masuk membuat dia agak tertekan," jawab Gea. Busran yang tadinya marah, kini mereda dan hilang sudah amarah itu. Dia tidak jadi marah setelah dia tahu bahwa sang anak sakit. "Ya, besok Ghifan tidak usah masuk kantor," ujar Busran. "Hum. Mungkin tadi tidak sarapan," ujar Gea. "Bisa jadi," balas Busran. "Mau menelepon siapa lagi?" tanya Busran. "Orang rumah, beritahu mereka agar masak bubur atau sup untuk Ghifan," jawab Gea. "Sayang, ketika aku sakit, kamu tidak seperhatian ini." Busran mulai mengeluh. "Ketika kamu sakit, aku tidak masuk kantor, di rumah saja lalu mengurus kamu, pakai celana dalam pun aku pakaikan, suap makanan pun aku suapkan, pergi ke wc saja aku temani, bagian mana yang kamu bilang tidak perhatian?" Gea berbicara pada sang suami tanpa melihat ke arah suaminya, dia menekan nama kontak di telepon. Busran, "...." ok fix, diam saja. Bodyguard yang membawa mobil merasa bahwa Tuan mereka ini mati kutu atas penjelasan Nyonya mereka yang memiliki ingatan yang kuat. Sementara itu Ghifan melihat bingung ke arah telepon genggam miliknya. Dia ingin beralasan agar sang ibu dan ayah tidak marah, namun dia malah tambah sakit kepala memikirkan alasan apa yang tepat, tidak mungkin dia katakan pada sekretaris bos bahwa dia makan empat jam sambil melamun tentang seorang gadis. "Ya Allah … ada apa denganku?" gumam Ghifan sakit kepala. Dia memijat pelipisnya, ingin rasanya dia mengeluarkan otak yang ada di kepalanya lalu membuang hal-hal yang membuat kepalanya sakit. "Pak Ghifan, sepertinya Anda memang kurang sehat hari ini," ujar Rinoi. Setelah melihat wajah kusut dari sang bos, dia merasa iba. Ghifan melirik ke arah Rinoi, "Ya … saya rasa juga begitu. Saya tidak punya mood untuk bekerja," balas Ghifan. Ghifan melihat bahwa sudah ada seorang bodyguard yang melihat ke arah ruangannya, sudah dia tebak bahwa itu pasti atas permintaan sang ibu. "Saya pulang duluan." "Baik, Pak," sahut Rinoi. Nyatanya, para karyawan ingin gas pulang lebih dulu. Namun, karena ada bos, mereka tidak bisa, itu tidak etis. Jadi mereka hanya bersiap-siap angkat kaki dari ruang kerja setelah bos mereka pulang. Ghifan memasukan beberapa barang miliknya di dalam tas kerja, namun Rinoi segera membantu. "Biar saya saja yang membereskan barang-barang Anda, saya bawa di belakang Anda sampai ke mobil." "Ya." Ghifan tidak menolak. Rinoi dengan sigap membawa tas kerja Ghifan, untungnya, Rinoi telah berkemas lebih dulu. Dia telah selesai membereskan barang-barang miliknya. Dua orang itu keluar dari ruang kerja dan diikuti oleh karyawan yang lain. Sesampainya di depan pintu perusahaan, sudah ada mobil yang terparkir, bodyguard telah membukakan pintu untuk Ghifan agar dia masuk ke dalam mobil. Setelah Ghifan masuk, Rinoi memberikan tas kerja Ghifan lalu menutup pintu mobil. Dia menunggu hingga mobil yang dinaiki oleh sang bos itu berjalan menjauh dari perusahaan, setelah dia dia pergi ke parkiran dan naik motor miliknya. Setelah keluar dari gerbang perusahaan, Ghifan ingin menutup matanya, namun dia tak sengaja melihat mobil hitam mini yang tadi pagi menjelang siang dilihat olehnya. Alhasil, mata Ghifan yang akan tertutup itu melek lagi dan melirik ke arah mobil mini milik Syarastini yang terparkir tak jauh dari perusahaannya. Dia lihat dengan jelas bahwa mata Syarastini terlihat senang ke arahnya. Ah, ke arah mobil ataukah ke arah dia? Ghifan mulai bertanya, rona itu, itu adalah rona malu-malu yang diperlihatkan oleh Syarastini ketika bertemu dengan dia. Mata Ghifan tak berpindah dari arah Syarastini, hal ini membuat Syarastini yang berada di dalam mobil merasa malu dan khawatir jika keberadaan dia di mata Ghifan dapat membuat Ghifan tidak nyaman, alhasil, Syarastini menunduk agar Ghifan tidak dapat melihat dia. "Pelankan mobil," ujar Ghifan. Bodyguard yang menyetir mematuhi. Ghifan melihat Syarastini melihat ke arahnya lalu dengan gerakan panik menunduk ke bawah. "Tini …," gumam Ghifan. Tak lama setelah gumaman Ghifan, motor Rinoi keluar dari gerbang perusahaan, yang Ghifan lihat selanjutnya adalah Rinoi berhenti karena melihat mobil Syarastini, dia membelokan motor ke arah Syarastini berada. Mata Ghifan tiba-tiba berubah datar tanpa ekspresi. "Pulang ke rumah." "Baik, Tuan." Sedetik kemudian. "Saya ingin dalam sepuluh menit sudah ada di rumah." Bodyguard, "...." Apakah dia harus memakai jurus hilang-hilang agar cepat sampai ke rumah? Jangan bercanda, ini sudah macet di jalan. Bodyguard sakit kepala. Motor Rinoi berhenti di pinggir pintu mobil Syarastini, dia membuka helm dan mengetuk pintu kaca mobil. Tok tok tok. "Ah!?" Syarastini terkaget karena ada orang yang mengetuk pintu mobilnya. Dia menengok ke atas, rupanya itu adalah wajah sang teman. Syarastini melihat ke depan bahwa tidak ada lagi mobil Ghifan, dia menurunkan kaca mobil. "Rinoi." Rinoi melihat serius ke arah Syarastini. Tiba-tiba dia memikirkan ucapan dari sang bos bahwa Syarastini menyukai dia. Rinoi berpikir, apakah ini benar? dia ingin memastikan jawabannya hari ini. "Tini." "Ya?" sahut Syarastini. "Aku ingin bicara dengan kamu," ujar Rinoi, dia menambahkan lagi, "sekarang." Syarastini mengangguk tanpa banyak berpikir. "Baik. Tapi, di mana? apakah di sini?" Rinoi melihat jam di tangan, setengah lima sore. Itu masih lama untuk jam makan malam, dari pada buang waktu lebih baik di sini saja, toh dia juga tidak sabar ingin bertanya pada Syarastini. Rinoi mengangguk, "Ya, di sini saja." "Itu …," Syarastini melirik ke sekitar, dia ingin mencari tempat bicara, namun semua itu jalanan dan trotoar. "Boleh di dalam mobil saja?" tanya Rinoi sopan. Syarastini melirik ke arah kursi penumpang depan, dia mengangguk. Rinoi meletakan helmnya di atas motor lalu dia berjalan ke arah jok depan mobil dan masuk. "Aku tidak akan lama," ujar Rinoi. Syarastini mengangguk. "Itu, apa yang ingin kamu katakan?" tanya Syarastini. Rinoi menarik napas lalu dia embuskan. Setelah itu dia melihat ke arah Syarastini. "Tini, sebelumnya maafkan aku jika pertanyaanku menyinggung kamu. Aku tidak bermaksud, namun aku juga ingin mengetahui kebenaran." Syarastini mengangguk, "Ya. Silakan." "Selama dua tahun ini kamu mengirim pesan padaku, menanyakan jadwal kerjaku, seperti yang aku tahu bahwa kamu katakan sebelumnya, kamu menyukai orang yang bekerja di sini, di kantor yang sama di tempat kerjaku, apakah ini benar?" Blush. Setelah mendengar pertanyaan dari Rinoi, dua pipi Syarastini merona. Dia mengangguk pelan. Melihat anggukan dari Syarastini, jantung Rinoi berdetak tak karuan, dia rasanya ingin serangan jantung karena penasaran dengan perasaan Syarastini. "Tini, aku tahu aku melampaui privasimu, namun, tolong jawab aku dengan jujur, kamu suka pada siapa?" tanya Rinoi. Ini adalah inti dari teka teki yang dia pikirkan selama ini. Setelah mendengar pertanyaan dari Rinoi, Syarastini terdiam beberapa detik. Dia melihat wajah Rinoi yang penasaran akut. Melihat bahwa sang teman ini begitu penasaran dan karena dia telah merahasiakan nama orang yang dia sukai. Dia tidak enak pada Rinoi, mungkin Rinoi merasa kesal. Syarastini sadar bahwa Rinoi sudah banyak membantunya agar lebih dekat dengan Ghifan. "Rinoi …." "Aku …." Syarastini menghentikan dua detik ucapannya. Jantung Rinoi makin berdetak tak karuan. "Aku … sejujurnya seperti yang kamu tahu bahwa aku tidak memiliki banyak teman. Kamu adalah salah satu teman yang aku percaya dari masuk SMA hingga lulus kuliah, meskipun kamu lebih dulu lulus dariku karena kepintaranmu. Namun kamu masih ingin berteman denganku, teman yang lain yang membuatku nyaman yaitu Cika. Aku dan Cika telah mengikat persahabatan, jadi apakah hari ini aku dan kamu boleh mengikat persahabatan juga?" Rinoi terdiam selama beberapa detik lalu dia mengangguk. Sahabat. Itu lebih dari teman. Syarastini tersenyum, "Terima kasih." Rinoi mengangguk pelan. Jika dia mengikat persahabatan dengan Syarastini, lalu pria yang disukai oleh Syarastini … siapa? Rinoi melihat serius ke arah mata Syarastini. "Rinoi." "Empat tahun …." "Empat tahun aku menyukai Ghifan …." "Apa?!" °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD