Chapter 29

1561 Words
Wajah Rinoi seperti sulit berekspresi. Dia berpikir mungkin saja dia tuli. Apa yang baru saja dia dengar ini diluar perkiraannya. Wajah Syarastini terlihat murung setelah dia mengaku pada Rinoi bahwa selama empat tahun dia menyukai Ghifan. Rinoi tidak tahu kenapa wajah Syarastini murung, jika dia menyukai sang bos, seharusnya dia senang karena baru saja melihat bos keluar kantor. "Waktu itu aku memilih sepatu untuk kado ulang tahun dari anak teman Kak Tia … tanganku dan tangannya tanpa sengaja saling bersentuhan, setelah aku melihat wajahnya, aku terpukau dan langsung menyukainya … sayangnya selama empat tahun ini hanya aku saja yang merasakan perasaan suka ini, dia terlihat tidak ada perasaan yang sama. Aku mengenal wajahnya karena dia mirip dengan bos perusahaan hiburan, yah itu adalah saudara kembarnya, aku langsung mencari tahu di berbagai berita bahwa saudara kembarnya menolak harta warisan dan memilih membangun sendiri bisnisnya dari nol. Jadi pria yang aku sukai itu pasti bekerja di Farikin's Seafood. Tidak ada info lebih lanjut mengenai keluarga Nabhan terkecuali hanya saudara kembarnya yang adalah bos perusahaan hiburan itu. Informasi tentang keluarga Nabhan ditutup rapat dari khalayak umum. Aku jadi semakin sulit untuk mencari tahu lebih dalam …," aku Syarastini. Matanya melihat ke arah depan namun dia sedang mengingat kejadian yang dia alami. Rinoi hanya diam sambil melihat bibir Syarastini terus berbicara, dia masih syok. Ya, Rinoi syok. Siapa yang tahu bahwa sang teman ini menyukai bosnya? dia baru tahu hari ini setelah dia mendapatkan keberanian untuk bertanya langsung pada Syarastini. "Waktu itu sangat sulit karena aku masih kuliah. Mama tidak mengijinkan aku pergi keluar rumah dengan mudah. Satu setengah tahun kemudian kamu lulus kuliah lebih dulu dengan nilai pujian, tak berapa lama aku melihat status cerita di sosial mediamu bahwa kamu telah diterima bekerja di Farikin's Seaafood selama masa percobaan tiga bulan selesai. Lalu kamu tahu sendiri bahwa aku menghubungi kamu." Ya, Rinoi ingat hari itu. Dia memang bukan orang yang pamer apapun, namun hari itu dia terlalu bahagia karena dia diterima menjadi staf di divisi keuangan Farikin's Seafood, karena nilai dan kinerja bagus, satu tahun kemudian dia dipromosikan menjadi sekretaris dari manager keuangan yang juga tahun itu diangkat. "Jadi aku sangat bersemangat ketika tahu kamu kerja di sana. Meskipun aku tidak tahu bahwa Ghifan ada di bagian apa, yang terpenting aku tahu bahwa kamu dan dia bekerja di satu atap yang sama. Itu sebabnya aku selalu menanyakan jadwal kerjamu. Jam berapa kamu mulai kerja dan jam berapa kamu pulang, hari apa saja kamu berpakaian santai, dan lain-lain …." Syarastini memberi sedikit jeda dalam perbincangannya. "Selama dua tahun, aku cukup terbantu karena kamu. Aku percaya kamu bisa menjaga rahasiaku dan aku mengatakan bahwa aku menyukai seseorang yang juga bekerja di kantor yang sama denganmu. Setelah lulus kuliah, beruntung aku bisa pergi pagi atau sore untuk melihat Ghifan pergi bekerja atau pulang kerja. Hingga sekarang ini … semua itu karena bantuan kamu." Mata Syarastini memerah. "Namun, beberapa hari yang lalu aku mengacaukan semuanya, aku … mempermalukan dia di depan umum …." Suara Syarastini terdengar serak, matanya memerah dan berkaca-kaca. Dapat Rinoi lihat bahwa wajah Syarastini penuh dengan penyesalan dan kekhawatiran. "Aku ditegur … hari itu aku dan Cika ingin ke pulau a untuk melihat dia … tapi hari itu dia marah padaku …." Suara Syarastini terdengar lirih. Melihat wajah Syarastini seperti ini, membuat hati Rinoi jadi iba dan bersimpati. "Pak Ghifan tidak marah," ujar Rinoi setelah dia diam cukup lama mendengar ucapan dari Syarastini. Syarastini menoleh ke kiri, tepatnya ke wajah Rinoi. °°° Ghifan mengipas lehernya, dia merasa panas dan gerah, namun anehnya, suhu di dalam mobil sejuk, bodyguard yang melirik sang majikan dari kaca spion berpikir mungkin saja badan tuan muda itu panas karena sakit seperti yang dia dengar dari nyonya bahwa anaknya sakit. Bodyguard berusaha untuk cepat sampai ke rumah. Ghifan membuka jas hitam lalu membuka satu kenop atas kemeja yang dia pakai. Setelah itu, dia memijat pelan batang hidung dan pelipisnya. Untuk apa memikirkan dia? untuk apa melihat cctv? "Heum." Suara dengkusan dari Ghifan. Hal ini membuat bodyguard berpikir bahwa tuan mudanya sudah tidak tahan berada di dalam mobil, dia melihat jarak posisi mobil mereka ke rumah yang ada di layar mobil, itu tak lama, sekitar lima menit lagi maka mereka akan sampai. Raut wajah yang diperlihatkan oleh Ghifan menunjukan bahwa dia memang dalam keadaan tidak enak. Bukan tidak enak badan melainkan tidak enak hati. Hatinya yang bermasalah bukan badannya. Akhirnya sampai juga di depan pintu rumah. Bodyguard ingin membuka pintu namun Ghifan telah lebih dulu membuka pintu untuk dirinya sendiri. Ghifan menghembuskan napas kasar sambil masuk ke dalam rumah. "Ghifan, tadi tidak sarapan, kan? kamu keringatan." Suara sang ibu terdengar. Ghifan melihat sang ibu yang terlihat khawatir, "Ma, Ghifan tidak apa-apa, hanya sedikit sakit kepala. Ghifan mau naik ke kamar." Gea mengangguk mengerti. "Baik, istirahat saja di kamar, nanti Mama panggilkan untuk makan malam lalu kamu minum obat." "Iya, Ma," sahut Ghifan. Dia berjalan ke tangga lalu ke arah kamarnya, semenatara itu Gea berjalan ke dapur. Bibi pelayan dan dua orang pelayan sedang memasak untuk makan malam. "Nyonya, makanan untuk Tuan Ghifan sudah siap. Apakah harus saya bawa ke kamar beliau?" tanya Bibi pelayan. "Tidak perlu, Bi. Anak saya ingin istirahat, memang dia kurang enak badan, saya lihat wajahnya terlihat tidak seperti biasa," jawab Gea. Dia duduk di kursi di depan meja pantry yang ada sayur segar dan bahan makanan untuk mereka. Seorang pelayan berusia sekitar 30-an melihat ke arah Gea, "Nyonya, tadi malam Tuan Ghifan tidak tidur di kamar. Tuan Ghifan tidur di gazebo taman, mungkin karena itu sekarang Tuan Ghifan sakit." "Ha, apa?" mata Gea terbelalak. "Kenapa baru kamu bilang sekarang? aduh, anak saya tidak makan pagi tadi." Wajah pelayan terlihat bersalah. "Saya membangunkan Tuan Ghifan tapi tidak bangun-bangun setelah makan malam yang saya buat tadi malam pada jam satu dini hari. Setelah sudah berkali-kali dibangunkan dan juga tidak bangun, saya dan dua orang bodyguard memberi kelambu, bantal dan selimut untuk Tuan Ghifan." Wajah Gea terlihat susah. Busran yang duduk sambil membaca majalah di ruang santai, menengok ke arah dapur, dia samar-samar mendengar percakapan sang istri dengan tiga pelayan. Busran tahu, sang istri pasti khawatir pada anak-anak mereka. "Huh … sudah besar-besar namun masih saja membuat orangtua khawatir," desah Busran. Busran menutup halaman majalah bisnis lalu dia berdiri dan naik ke kamar sang anak. Tok tok tok. Pintu kamar Ghifan diketuk oleh Busran, lalu tak menunggu jawaban dari sang empunya kamar, Busran membuka pintu kamar sang anak. Iya, buka saja pintu kamar itu, toh Busran kan pemilik rumah, kamar itu hanya bagian kecil dari rumahnya. Dilihatnya ada Ghifan duduk bersandar di kepala ranjang dengan mata terpejam, kentara sekali bahwa anaknya itu sedang berpikir sesuatu, keningnya berkerut. Busran masuk ke kamar anaknya tanpa menutup pintu. "Mama kamu sudah bilang Bibi di bawah untuk masak bubur dan sup untuk kamu, jangan buat Mama khawatir pada kamu yang sudah umuran ini." Ghifan membuka mata. Dia melirik ke arah sang ayah. Ghifan tahu pesan tersirat dari ucapan sang ayah. Itu artinya dia harus turun ke bawah dan menghabiskan bubur dan sup agar kekhawatiran sang ibu tidak terjadi lagi. Mau segalak apapun, mau sebesar apapun atau setua apapun seorang anak tetaplah anak kecil di mata seorang ibu, dan sekarang Ghifan adalah seorang anak kecil di mata ibunya. Ghifan turun dari ranjang, dia berjalan keluar kamar mengikuti Busran yang keluar kamar setelah melihat anaknya telah mengikutinya dari belakang. "Haduh, saya tidak tau lagi, anak saya Ghifan itu ada apa dengan dia." Gea terdengar menghembuskan napas. Saat itu Ghifan datang ke dapur, "Ma, Ghifan mau makan bubur dan supnya." Gea menoleh ke arah sang anak. "Ah mau makan. Baik, Mama taruh di meja makan, yah." "Di sini saja, Ma." Ghifan mengambil mangkuk bubur dan sup lalu duduk di dekat sang ibu, dia melahap bubur dan sup itu. Sementara itu Busran kembali duduk santai di sofa lalu membuka lagi majalah bisnis setelah melihat anaknya makan. Gea tersenyum agak senang setelah melihat sang anak makan lahap, "Minum obat, yah?" "Nggak perlu, Ma. Makan dan istirahat lebih awal sudah cukup," tolak Ghifan sambil menggeleng. "Ok kalau begitu. Setelah makan, kamu mandi air hangat lalu istirahat saja, jangan kerja di rumah, besok bisa libur." "Hum," gumam Ghifan sambil menelan bubur. "Huuumm bau enak!" Gaishan si mulut cerewet datang mengendus ke dapur. Dia melihat adiknya sendang menyeruput kuah sup, saat itu juga air liurnya meleleh. "Bi, tolong ambilkan mangkuk dan sendok satu, saya ingin ambilkan untuk Gaishan." Gea memberi perintah dengan nada sopan. "Baik, Nyonya." Bibi pelayan mengambil mangkuk dan sendok di lemari piring. Setelah menerima mangkuk dan sendok, Gea mengucapkan terima kasih, "Terima kasih." "Ah, Nyonya ini, kayak sama siapa aja," balas Bibi. "Wah, lapar." Gaishan ternyata sudah ileran. Ghifan yang sedang menyeruput kuah sup hangat dari ujung sendok itu melirik jijik ke arah air liur sang kembaran. "Lap ilernya, biar aku sering bertengakar dengan kamu tapi aku tidak ingin keponakan aku ileran macam itu." "Hehehe." Gaishan hanya cengengesan lalu dia menerima mangkuk sup dari Gea dan langsung menyeruput kuah sup dari tepi mangkuk. Sruup sryuuup sryuuuuuuupp! Semua orang yang ada di dapur, "...." Setengah menit kemudian. "Mau tambah lagi," ujar Gaishan. Gea dan yang lainnya melihat mangkuk itu kosong. "Lagi ngidam," ujar Gaishan, lalu setelah itu terdengar. Kryuuk kryuuk kryuuk. "Oh, pasti dedek bayi di perut Tia kelaparan," ujar Gaishan tanpa dosa. Gea dan yang lainnya, "...." tak dapat berkata-kata, mereka tidak tahu apakah harus tertawa atau menangis. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD