Ghifan mengerutkan keningnya ketika melihat ponselnya yang layarnya masih tetap hitam. Dia melirik ke arah Rinoi. "Apa benar ini nomor telepon Tini?" "Ya, Pak?" Rinoi langsung dengan sigap mendongak ke arah bos. "Itu … ya, benar, Pak." "Oh, ya sudah, lanjut kerja." "Baik, Pak," sahut Rinoi. Dia ikut melirik ponsel bosnya lalu lanjut kerja. Ghifan melirik sekilas ponselnya lalu dia lanjut kerja. Sementara itu, Syarastini telah terlelap di dalam kamarnya. Ya, dia tidur siang. Poor Ghifan. °°° Jihat masuk ke ruang bekas kerjanya dulu. Dia duduk lalu melihat berkas di atas meja. Itu adalah akta tanah, surat saham dan beberapa aset berharga miliknya. Semua itu diwariskan nanti pada anaknya yang sekarang, yaitu Badar. Lalu ada suatu map yang disegel rapat dan sama sekali belum d

