Ghifan dengan santai makan sarapannya, sedangkan sang ibu sedang menuangkan *s**u untuk ayahnya, saudara kembarnya berusaha untuk terlihat sibuk 'mengurus' istrinya yang sedang hamil, nyatanya sang istri dari Gaishan tak perlu dilayani seperti seorang Nyonya besar oleh suaminya.
"Jangan terlalu menghalangi mejaku." Fathiyah terlihat dongkol saat melihat ke arah bagian meja makan miliknya. Banyak sekali piring berisi makanan ini dan itu, dan semua makanan itu disediakan oleh Gaishan.
"Sayang, dokter bilang harus makan asam folat yang cukup, omega tiga, vitamin, seng-"
"Aku mau muntah cium semua makanan ini uueek-"
"Ok ok ok! tunda muntahnya, aku segera singkirkan semuanya!" Gaishan malah sibuk asli bukan lagi sibuk palsu, dia berusaha mengambil semua piring di atas meja bagian istrinya lalu lari ke dapur meletakkannya di sana.
"Pft!" Ghifan menahan tawa. Biarkan saja kembaran nya itu kalap sana sini, terlalu berlebihan terhadap istrinya. Ah, terlalu sayang.
Gaishan datang dengan tangan kosong dan hanya menyusun senyum manis, "Sayang, sudah aku taruh piring-piringnya di dapur." Gaishan melapor.
"Hm." Fathiyah hanya menyahut singkat lalu dia meraih roti mentega dan melahapnya. Gaishan merasa dia tidak puas sang istri hanya melirik satu jenis makanan saja, dia ingin istrinya makan banyak agar perkembangan anak mereka juga bagus. Namun apa daya, dia tidak bisa memerintah istrinya, nanti bogeman mentah milik istrinya yang kuat bagai batu itu mendarat di wajahnya. Saat sang istri hamil, mood istrinya itu dua kali lipat berubah-ubah, Gaishan harus ekstra hati-hati melayani istrinya.
"Ghifan, Mama sudah mengkopi berkas yang akan kamu berikan pada perwakilan perusahaan Hongkong, ada dua versi, soft dan hard. Terserah kamu mau pakai yang mana untuk bacaan kamu," ujar Gea.
"Baik, Ma," sahut Ghifan.
"Bus, makan hati-hati, dasi kamu malah ketumpahan susu." Gea mengomeli sang suami. Dia mengambil tisu lalu membersihkan s**u yang tumpah.
Busran hanya tersenyum senang. Sementara itu Gaishan mencibirkan bibirnya. Sang ayah sendiri yang sengaja menumpahkan s**u di dasinya agar sang ibu membersihkan dasi itu.
"Modus," cibir Gaishan.
"Kenapa? kamu kurang suka? iri? bilang, Nak. Kamu bisa bikin sendiri, tumpahin itu s**u di kerah baju kamu, kali aja Tia mau bersihin." Busran malah membalas cibiran sang anak.
Gaishan hanya mencebikkan bibir, namun anehnya perkataan ayahnya itu masuk ke dalam otaknya, dia ingin mencoba melakukan seperti yang ayahnya lakukan, mungkin saja keberuntungan berpihak padanya. Gaishan tersenyum tipis, tangannya meraih gelas s**u, namun suara terdengar.
"Tumpahkan saja semua isi gelas itu ke badan kamu, biar perlu mandi sekalian biar tambah putih mulus." Suara Fathiyah terdengar.
Gaishan, "...." belum berperang sudah kalah.
"Pffthahahahaha!" Ghifan tak kuat menahan tawa. Begitu juga dengan Bushra, dia tertawa lucu karena tingkah kakaknya ini.
"Kak Gaishan, nggak usah cari muka deh di depan Kak Tia, kan Kak Gaishan sekarang udah jadi suami Kak Tia. Nggak perlu cari masalah deh," ujar Bushra.
"Biarkan saja, siapa tahu semua muka yang dia dapatkan dari Tia kurang, jadi dia ingin mencari banyak muka," timpal Busran.
"Hahahaha!" keluarga yang lain tertawa.
Pagi yang indah di kediaman Busran.
Sementara itu, Syarastini melihat jam di ponselnya. Pukul 07.45 pagi. Sarapan baru saja dimulai, namun dia berusaha agar tidak terlihat buru-buru di depan keluarga.
Sedikit lagi jam delapan, Ghifan akan ke kantor, batin Syarastini.
Kata Rinoi kemarin, hari ini ada pertemuan dari perusahaan Hongkong, apa Ghifan juga ikut? pasti ikut, ah ya, kemarin kan mereka balik ke kantor.
Syarastini sibuk dengan pikirannya sendiri. Dia tidak memperhatikan dan mendengarkan bahwa keluarganya sedang mengajaknya bicara.
"Tini, kamu mau ke mana?" tanya Shinta.
Syarastini tidak menjawab, dia makan sarapannya dan masih terlena dengan pikirannya yang cuma ada Ghifan.
"Tini."
"Um?" Syarastini tersadar. Dia mengangkat pandangan lalu melihat sang ayah yang memanggil namanya.
"Ya, Pa?"
Badar memberi kode arahan mata bahwa sang ibu sedang berbicara dengannya. Syarastini melirik ke arah sang ibu.
"Kamu sudah rapi, ingin ke mana?" tanya Shinta.
"Tini mau bertemu teman, Ma," jawab Syarastini.
Namun ada sedikit warna merah muda di wajahnya. Rupanya dia tersipu malu karena menjawab 'bertemu teman'.
"Oh, tapi pagi sekali. Biasanya kamu ijin keluar rumah siang hari," ujar Shinta.
"Itu … teman Tini … teman Tini mau kerja jadi harus bertemu … pagi," ujar Syarastini pelan.
"Ah, ya sudah. Lalu pulang jam berapa?" tanya Shinta lagi.
"Jangan terlalu banyak tanya." Suara Jihat terdengar.
Shinta yang tadi ingin mendengar jawaban sang anak bungsu, diam.
Jihat melirik ke arah Syarastini, "Pergi jalan-jalan, jangan terlalu di rumah."
"Baik, Kakek," sahut Syarastini menurut.
Syarastya melirik ke arah wajah adiknya. Setiap ingin keluar rumah, wajah adiknya pasti akan berseri-seri. Dia tidak tahu sang adik ini bertemu teman yang mana, pasalnya sang adik jarang memperkenalkan teman.
"Siapa nama teman kamu?" tanya Syarastya.
Syarastini bingung untuk menjawab. Tidak mungkin dia menjawab bahwa dia ingin pergi melihat pria yang bernama Ghifan dari jauh dan menyemangatinya dari jauh dan tak terlihat oleh orang yang dia semangati.
"Cika …."
Akhirnya Syarastini menjawab nama temannya yang lain.
"Oh, yang papanya pengacara itu?" tanya Syarastya.
"Ya …," jawab Syarastini pelan. Dia merasa bersalah karena tidak jujur pada keluarganya.
"Kalian bertemu di kantor pengacara papanya?" tanya Syarastya lagi.
"Ini ya, Kak …."
Syarastya menaikkan sebelah alisnya, gerak-gerik sang adik sangat mencurigakan, namun menurut pantauannya selama ini, adiknya tidak berbuat yang aneh-aneh, jadi Syarastya tidak ambil pusing.
"Oh, pergi saja kalau begitu," ujar Syarastya.
"Baik, Kak."
"Kalau ke kantor pengacara, jangan ke mana-mana. Di situ saja, kalau udah selesai ketemuan nya, kamu pulang, jangan pergi ke tempat lain," ujar Shinta, dia memperingatkan sang anak.
"Iya, Ma. Selesai ketemuan … Tini pulang," sahut Syarastini.
Shinta mengangguk puas. Sang anak seperti biasa menurut padanya.
"Bukannya Mama tidak suka kamu jalan-jalan, tapi ingat, di luar sana banyak debu dan polusi, kalau kamu sakit gimana? siapa yang susah? yah diri kamu sendiri," ujar Shinta.
"Iya, Ma." Syarastini hanya mengangguk saja.
°°°
Syarastini menginjak gas lalu fokus mengendarai mobilnya ke depan, dia berusaha menyalip beberapa mobil yang menurut dia lambat. Dia melirik jam di mobilnya, pukul 08.15 pagi.
"Apa Ghifan udah masuk kantor?" gumam Syarastini. Dia berharap bahwa pria pujaannya belum masuk kantor.
"Ah, tapi tidak mungkin, ini sudah lewat dari jam delapan, dia pasti sudah masuk kantor …."
Meskipun bibir Syarastini mengucapkan kalimat bahwa Ghifan sudah masuk kantor, namun hatinya mengatakan tidak. Jadi Syarastini tetap melajukan mobilnya ke gedung Farikin's Seafood.
Tiga menit kemudian mobil mini yang dikendarai oleh Syarastini berhenti dan menepi di jalan tak jauh dari gerbang Farikin's Seafood. Syarastini menunggu hingga sepuluh menit, namun plat mobil baru milik Ghifan kemarin yang telah dia hafal, tak terlihat memasuki gerbang perusahaan milik Ghifan.
"Yah, tidak ada Ghifan … dia sudah duluan masuk …." Suara Syarastini terdengar sedih. Wajahnya layu, dia bersandar ke kursi lalu menutup mata. Namun, ada sebuah mobil silver melewati mobil milik Syatastini, tak sengaja mata salah satu penumpang yang duduk di jok penumpang depan melihat ke arah kiri, matanya melihat ke arah sisi kanan wajah Syarastini yang sedang menutup mata sambil bersandar.
Ghifan mengerutkan keningnya.
"Dia … Tini," gumam Ghifan.
"Hum? apa?" Gea menyahut.
"Ghifan, kamu bicara apa?" tanya Gea.
"Nggak ada apa-apa, Ma," jawab Ghifan setelah tersadar bahwa sang ibu salah kira.
Mobil silver yang ditumpangi keluarga Nabhan itu masuk ke dalam gerbang perusahaan Farikin's Seafood.
Syarastini membuka mata, sayang sekali dia tidak melihat mobil yang baru saja menghilang dari gerbang perusahaan.
Dia kembali mengendarai mobilnya lalu menjauh dari perusahaan Farikin's Seafood.
°°°
Syarastini berusaha untuk melihat ke depan, sebenarnya ada apa, macet dari tadi.
"Macet kenapa ini?" gumam Syarastini.
Berkali-kali dia berusaha melihat apa yang terjadi di depan, berkali-kali itu juga dia tak melihat apa yang terjadi di depan.
Alhasil, dia hanya bisa pasrah untuk menunggu kemacetan ini berlalu. Mobil maju bagaikan cara jalan siput, sangat lama. Hampir satu jam Syarastini terjebak macet, memang tidak heran karena kota Jakarta ini adalah kota metropolitan yang macet adalah hal lumrah.
Setelah dia melihat apa yang menyebabkan macet, Syarastini tersadar siapa yang sedang duduk di atas trotoar itu.
Kaca mobil dia turunkan, Syarastini melihat ke arah gadis berambut sebahu.
"Cika!"
°°°
"Tini, maaf yah aku bikin repot kamu. Maaf banget. Mobil aku mogok. Biasalah, kamu kan tahu sendiri, mobil itu mobil bekas Papa." Cika mengatakan maafnya berulang-ulang.
Mereka telah sampai di tempat parkir gedung pengadilan negeri di salah satu kota Jakarta.
"Nggak apa-apa kok. Aku ngerti. Itu, apa kamu masih butuh bantuanku lagi? um untuk tumpangan ke kantor kamu nanti," tanya Syarastini.
Syarastini terlihat berpikir, "Nanti ngerepotin kamu."
"Kamu sidangnya sampai jam berapa?" tanya Syarastini.
"Hari ini kasus penting, tapi cuma satu jadwal sidang doang, dakwaan terhadap klien aku. Ah, nggak lama kok," jawab Cika.
"Um. Ok, aku tunggu kamu di sini yah. Sekalian lihat-lihat sidang kamu."
"Ok." Cika setuju.
Dua perempuan muda itu turun dari mobil mini lalu masuk ke salah satu ruang sidang, di mana Cika duduk di kursi penasehat terdakwa dan Syarastini duduk di kursi penonton.
Syarastini menikmati sidang yang disimaknya.
°°°
"Kan, nggak lama, kan? hanya setengah jam aja," ujar Cika.
"Ya, tidak lama," balas Syarastini.
Mereka berdua keluar dari ruang sidang.
"Nah, sekarang kita ke kantor Papa aku," ujar Cika.
"Ok." Syarastini mengangguk.
Beberapa saat kemudian di kantor pengacara.
Syarastini hanya melihat-lihat isi kantor pengacara yang dimasukinya tanpa menyentuh apapun. Dia takut jika dia menyentuh salah satu barang saja, maka mungkin saja barang itu adalah barang penting.
"Tini, entar dulu yah. Jangan marah yah, aku susun pledoi buat besok sidang," ujar Cika.
"Ok, nggak masalah, aku nggak ke mana-mana."
"Hahah, mantap!" Cika menaikkan jempol kanannya lalu melanjutkan pekerjaan.
Satu jam kemudian.
Syarastini masih saja duduk di kursi tanpa niat berdiri. Mematuhi perintah temannya yang mengatakan padanya untuk menunggu.
"Tini, ayo kita makan siang. Maaf yah nunggu lama. Susah juga itu, ribet banget kasusnya," ujar Cika.
"Oh, susah. Apa itu kasus besar?" tanya Syarastini.
Cika melirik kiri kanan, lalu dia berbisik ke arah telinga kanan Syarastini, "Kasus narkotika."
Syarastini buru-buru menutup mulutnya, dia terlihat takut.
Cika hanya tersenyum.
"Ayo."
°°°
"Rumah makan korea! kamu harus banyak makan daging, biar badan makin berisi!" Cika menarik senang tangan Syarastini memasuki restoran korea.
"Aku sudah gendut. Berat badanku empat puluh delapan kilo," ujar Syarastini.
"Genapin jadi lima puluh kilo."
"Terlalu berat-" ucapan Syarastini terhenti saat matanya bertubrukan dengan manik mata orang yang pagi tadi dia cari.
Ini pasti mimpi, batin Syarastini.
"Tini." Rinoi memanggil pelan ke arahnya.
Mata Syarastini terbelalak.
Tuhan! ini bukan mimpi!
°°°