Cika yang baru sampai rumah itu tertawa senang. Sang ibu yang melihat kepulangan anak semata wayangnya itu tidak heran dengan sifat anaknya. Namun hari ini anaknya kelewat senang. "Kenapa tertawa macam begitu? sedang dapat job? ah, kamu kan belum dapat surat beracara, masih sebulan lagi baru dua puluh lima tahun, jadi belum ambil sumpah advokad," ujar ibu Cika. "Bukan itu Mi, ada yang lain yang lebih penting. Oh iya, Cika lupa kalau bulan depan Cuma umur dua puluh lima, wah, harus segera cari pasangan ini, nah pas, Cika lagi proses pedekate dengan teman Cika." "Oh, Mami kirain kamu senang tentang pekerjaan kamu." Ibu Cika hanya manggut-manggut. "Ah, biarkan saja Cika jadi asisten pengacara dulu. Kibulin orang-orang kalau Cika itu pengacara asli, hahahah!" Sang ibu hanya menggelengkan

