"Sudah sampai depan gerbang rumah kamu," ujar Cika. Dia menoleh ke arah kiri, ada Syarastini yang sedari tadi menunduk saat Cika yang mengendarai mobil mini milik Syarastini.
Cika takut jangan sampai Syarastini yang membawa mobil dalam keadaan gugup seperti tadi, dia tidak ingin terjadi apa-apa pada mereka berdua.
"Aku turun di sini, kamu gantian yang bawa masuk ke dalam garasi rumah kamu," ujar Cika.
"Cika …," panggil Syarastini dengan suara pelan.
"Hum?" Cika menyahut.
"Bisa hari ini kamu ke rumahku?"
Cika, "...." hanya melihat wajah layu Syarastini.
"Aku … suka dia …," aku Syarastini.
"Hum?!" mata Cika melotot besar.
"Wait! wait! kita masuk ke kamar kamu aja!" Cika membunyikan klakson lalu ada seorang pekerja membuka gerbang pintu.
Cika memarkirkan mobil di tempat parkir, "Di sini, kan?"
"Ya."
"Ok, ayo turun." Cika turun dari mobil, begitu juga dengan Syarastini. Setelah itu Cika mengunci mobil dan mereka berdua berjalan masuk ke rumah.
Shanti melihat ke arah anak bungsu dan Cika.
"Tini."
"Mama, ini teman Tini, nama Cika. Itu … Cika mau nemenin Tini sebentar …," ujar Syarastini.
"Halo, Tante, saya Cika, teman Tini waktu SMA." Cika memberi salam sekaligus perkenalannya.
Shinta mengangguk.
"Halo. Baik, masuk ke dalam rumah, yah."
"Iya, Tante," sahut Cika.
Dua gadis itu berjalan masuk ke dalam rumah.
Sedangkan Shinta melirik belakang Cika. Dia melihat Cika dengan tatapan lama yang sulit diartikan.
Setelah Cika dan Syarastini berlalu dari pintu rumah dan tak terlihat lagi, Shinta membalikkan pandangan dan melihat bunga hias miliknya.
Cika melihat isi rumah Syarastini. Ini adalah termasuk rumah mewah dengan desain yang bagus. Lukisan dan guci cukup indah. Kursi di rumah ini kebanyakan dari kayu yang berkualitas tinggi, seperti kursi tamu. Ada dudukan spons dan bantal. Kamar sang teman berada di lantai dua. Setelah Syarastini masuk ke dalam kamar, Cika ikut lalu dia mengunci pintu.
"Sekarang katakan padaku, kamu suka dia, dia itu siapa?" tak perlu menunggu lama, Cika bertanya. Mulutnya sudah gatal dari dalam mobil ingin bertanya mengenai pengakuan Syarastini padanya tentang dia menyukai seseorang.
Syarastini memerah, dia mengisyaratkan agar Cika jangan bersuara besar. Cika tersadar dan langsung menepuk pelan bibirnya dan mengibaskan telapak tangannya di depan bibirnya.
Cika menarik tangan Syarastini lalu mereka duduk di pinggir tempat tidur.
"Tini, aku tahu kamu dulu sampai sekarang masih pemalu dan penyendiri. Aku dan kamu saja selama kami lulus dari SMA, hanya beberapa kali bertemu di jalan. Itupun tak bicara lama, namun waktu kita masih satu kelas, kita sering makan siang bersama ah, aku lupa, aku yang sering nebeng makan siang karena bekalmu banyak. Nah, sekarang terhitung kita teman hang cukup akrab. Kenapa aku bilang akrab? itu karena kamu tadi dengan sisa-sisa keberanian kamu, kamu bilang padaku bahwa kamu menyukai dia. Sekarang ayo jelaskan padaku, dia yang kamu suka itu siapa?"
Ini adalah pertanyaan sederhana yang sebenarnya tak perlu panjang lebar untuk dijelaskan, namun untuk kapasitas Cika yang basicnya adalah seorang pengacara, dia harus menarik ulur dari jauh agar Syarastini yakin bahwa Cika itu teman yang baik dan dapat dipercaya.
Semua itu dilakukan olehnya agar Syarastini percaya, termasuk isyarat meresleting bibirnya, dan berkata, "Rahasia klienku aman. Kamu tidak dikenakan biaya apapun, free."
Syarastini melihat wajah sang teman, dia yakin bahwa temannya ini adalah orang baik dan tidak akan memberitahukan rahasianya pada orang lain.
"Itu … bisakah kamu berjanji tidak akan memberitahu orangtuaku? em … Kak Tia juga."
"Ok, tidak masalah. Aku juga tidak punya urusan dengan mereka," jawab Cika.
"Aku sekarang siap menampung semua rahasiamu."
Syarastini masih terdiam. Dia bingung harus memulai menjelaskan perasaannya dari mana. Dia berusaha untuk mengatur kata dan kalimat agar terdengar singkat dan jelas di pendengaran Cika.
Cika masih berusaha sabar untuk menunggu temannya menjelaskan meskipun dia sendiri sudah geregetan gemas ingin segera mendesak Syarastini untuk bilang padanya, namun hal itu harus ditahannya agar temannya yang pemalu ini tidak hilang keberanian.
"Sudah empat tahun." Akhirnya dari sekian lama waktu yang ditunggu Cika, sang teman buka suara juga. Namun Cika tak mengerti ini.
"Hum? sudah empat tahun? empat tahun apa?" tanya Cika.
"Sudah empat tahun aku suka seseorang yang aku temui di toko sepatu anak-anak di mal x," ujar Syarastini.
"Um, kamu suka seseorang yang kamu temui di mal x. Di toko sepatu anak-anak." Cika mengulangi lagi ucapan Syarastini.
"Hari itu aku mencari hadiah untuk ulang tahun dari anak teman Kak Tia. Tapi kami tidak sengaja saling memegang tangan … dia … itu … aku langsung suka dia hari itu … dan hingga sekarang aku masih menyukainya … setiap kesempatan keluar rumah, aku melihatnya dari jauh … entah itu dia pergi kerja atau pulang kerja …."
Cika memproses ucapan Syarastini dalam waktu satu menit.
Wajah Cika berubah serius ketika melihat ke arah Syarastini, "Tini, jujur padaku, kamu menyukainya selama empat tahun dan tak mengatakan padanya kalau kamu suka dia?"
Syarastini mengangguk pelan.
Dilihat dari kepribadian sang teman yang pemalu, kemungkinan temannya ini menyimpan hati pada pria lain tanpa ada yang tahu, ini namanya cinta dalam diam.
"Dia pasti juga tidak tahu bahwa kamu menyukainya." Ini bukan pertanyaan atau tebakan, namun ini adalah pernyataan valid dari Cika setelah dia menyimpulkan dan menelaah baik-baik pengakuan dari Syarastini.
Syarastini mengangguk pelan.
"Ya pasti. Sudah aku tau. Mana mungkin dia tahu kamu suka dia kalau kamu tidak bilang? orang pintar juga bakal tidak tahu tanpa diberi tahu," ujar Cika.
Syarastini hanya diam lesu.
Cika yang melihat temannya ini hanya bisa memijat kepalanya yang pusing karena memikirkan hal ini.
"Sekarang bilang padaku, siapa dia?" tanya Cika.
"Dia … dia kerja di Farikin's Seafood," jawab Syarastini yang meleset dari pertanyaan Cika.
"Ok. Dia kerja di Farikin's Seafood … apa itu kamu suka … Rinoi?" Cika melotot ngeri.
Dia ingin mendengar langsung kebenaran dari mulut temannya, "Tini, kamu suka Rinoi?"
Syarastini menggeleng.
"Huuff, syukurlah. Dia targetku," desah Cika lega.
Syarastini, "...."
"Ah, yah … tadi aku lihat potensi Rinoi bagus, jadi tidak bisa disia-siakan. Jadi aku sedikit tertarik padanya, hahaha." Cika tertawa sumbang.
"Ah, tidak usah bahas dia, kita sekarang sedang membahas kamu dan dia, pria misterius yang sampai saat ini tidak aku tahu namanya." Cika mengibaskan tangan agar melupakan bahasa tentang Rinoi.
"Ok, sekarang jawab lagi pertanyaan aku. Selain aku, siapa lagi yang tahu bahwa kamu suka seorang pria yang bekerja di Farikin's Seafood?"
"Hanya Rinoi," jawab Syarastini.
"What?!" Cika melotot.
"Memangnya hal apa yang membuat kamu sampai memberitahukan dia mengenai perasaanmu? kamu percaya padanya?" Cika harus mendapatkan jawaban dari pertanyaannya ini pada Syarastini.
"Rinoi kerja di Farikin's Seafood, satu tempat kerja dengan dia … lalu aku meminta bantuan Rinoi untuk bilang padaku jadwal kantor dan kerja dia seperti apa, Rinoi tidak keberatan dan dia bertanya padaku, memangnya kenapa aku ingin tahu jadwal kerjanya, aku katakan pada Rinoi bahwa aku suka seseorang yang juga kerja di sana," jawab Syarastini.
"Jadi selama dua tahun Rinoi kerja di sana, dia bersedia menjawab pertanyaanku seputar jadwal kerjanya," sambung Syarastini.
Cika terdiam untuk beberapa detik, dia terlihat sedang berpikir.
"Rinoi tidak keberatan dia jadi informanmu, seperti itu?"
Syarastini mengangguk membenarkan. Temannya ini mudah sekali mengerti sebuah kasus dan tebak-tebakan.
"Ok, selama dua tahun ini Rinoi kerja di sana, dia katakan padamu bahwa dia kerja jadi apa?" tanya Cika, nah, pertanyaan ini dia secara pribadi juga ingin tahu.
Syarastini berpikir, "Aku tidak tahu dia kerja jadi apa di sana, tapi yang aku tahu Rinoi sering mengikuti dia kemanapun …," jawab Syarastini setelah dia mengingat memang benar bahwa dia tidak tahu Rinoi kerja di bagian apa, tapi yang dia tahu, setahun ini Rinoi mengikuti ke mana orang yang dia suka pergi.
Cika hanya bisa menarik napas zonk.
"Ok, aku harus sabar," desah Cika.
"Nah, kamu bilang Rinoi sering terlihat bersama dia ke manapun dia pergi, itu … apa Rinoi tahu pria yang kamu suka itu adalah orang yang Rinoi ikuti?" Cika sebenarnya tidak punya lagi pertanyaan, pertanyaan ini dia ambil dengan dasar iseng saja.
"Rinoi tidak tahu aku suka dia."
Cika, "!!!"
Cika ingin rasanya meninju bantal yang ada dan membanting bantal itu. Bantal yang dia pangku.
"Tini … itu si Rinoi rela sekali jadi informan kamu tanpa tahu siapa yang kamu suka, wow! betapa terkejooodnya akoh-ups! jangan ribut." Cika buru-buru tersadar lalu menutup bibirnya yang suka ribut.
Syarastini tersenyum masam. Mau bagaimana lagi? Rinoi adalah satu-satunya teman yang waktu itu dapat dia percaya karena berbekal pertemanan mereka yang cukup lama dari SMA sampai kuliah.
"Ok, aku anggap hal ini hanya aku seorang diri yang tahu. Siapa nama orang yang kamu suka selama empat tahun ini?" ini adalah pertanyaan yang paling penting dari semua pertanyaan, namun Cika berhasil menanyakannya pada akhir-akhir pengakuan Syarastini, pasalnya, sudah beberapa kali Cika bertanya hal ini pada temannya itu, namun Syarastini menjawab lain daripada jawaban pertanyaan ini.
Blush.
Wajah Syarastini memerah ketika mendengar pertanyaan Cika.
Lah? Cika hanya terlihat melebarkan matanya ke arah wajah memerah dari Syarastini.
"Tini, kamu selalu saja tersipu malu. Yah aku tahu kamu itu suka tersipu malu dan memang pemalu, tapi ayo jawab, siapa namanya." Cika membujuk halus nan lembut Syarastini untuk memberitahu siapa nama pria yang disukai oleh temannya itu, dia bahkan memegang lembut dua tangan Syarastini.
Mata Syarastini dan mata Cika saling melihat.
Wajah Syarastini masih memerah tersipu malu.
Tidak kunjung mendapat jawaban, Cika ingin bertanya lagi, namun ingatan hari ini terlintas di kepalanya. Insiden yang terjadi hari ini, insiden yang membuat sang teman berlari malu sambil menangis gemas dan takut bercampur panik ketika di restoran tadi.
Cika lalu mengingat, betapa seringnya temannya ini yang memerah tersipu malu di setiap waktu ketika duduk di restoran tadi.
Di restoran tadi ada Rinoi. Ya, Rinoi. Teman semasa dan sekelas SMA mereka berdua, dikatakan oleh temannya yang polos ini bahwa Rinoi kerja di Farikin's Seafood, dan Rinoi sering terlihat bersama pria yang disukai oleh sang teman ke manapun Rinoi pergi. Di restoran tadi hanya ada tiga laki-laki. Buang Rinoi sebagai pengecualian karena dia tidak masuk dalam daftar ini. Lalu hanya sisa dua orang yaitu seorang pria bermata sipit tampan dengan nama Hendry Kao dan seorang pria yang telah dikenali oleh Cika sendiri, yaitu Ghifan, tuan Kao tidak mungkin.
Ghifan ini juga kerja di ….
Farikin's Seafood!
Analisis dan alur pikir dari Cika memang tepat sasaran.
"Tini, kamu suka dengan Ghifan si Tuan Nabhan itu?"
Blush.
Wajah Syarastini memerah bagaikan udang bakar madu.
" … ya, aku suka Ghifan."
Cika dengan syok melepaskan tangan Syarastini yang dia genggam lalu menepuk dahinya.
Plok!
"Innalillahi wainnailaihi internasional! sudah terjadi bencana tadi!"
°°°