Chapter 13

1722 Words
Rinoi hanya mampu duduk diam di samping Ghifan tanpa keberanian untuk basa-basi dengan atasannya itu. Setelah keluar dari restoran, wajah Ghifan terlihat tidak seperti biasanya. Tidak rileks atau marah. Malah wajahnya terlihat agak khawatir. "Tini itu, temanmu dari SMA?" Ghifan tak sadar bahwa dia telah bertanya pada sekretarisnya. Mendengar bahwa sang bos sedang bertanya padanya, Rinoi mengangguk, "Ya, Pak, kami berteman dari SMA." "Sampai sekarang masih saling komunikasi?" tanya Ghifan lagi. Rinoi mengangguk, "Ya, Pak. Saya dan Tini masih berkomunikasi." "Sesering apa?" Rinoi terdiam untuk beberapa detik. Apakah dia harus menjawab bahwa dia dan Syarastini saling berkirim pesan setiap hari? ataukah dia harus mengatakan pada bosnya bahwa Syarastini setiap hari berkirim pesan padanya dan menanyakan jadwal kerjanya. Ataukah dia harus menjawab bahwa dia dan Syarastini saling berkirim pesan karena temannya itu sedang menyukai seseorang yang juga bekerja di tempat kerjanya? Jujur saja, Rinoi sedang perang batin. "Maaf, saya telah lancang telah berlebihan bertanya pada kamu," ujar Ghifan. Ghifan menyadari bahwa dia mungkin bertanya lingkup privasi antara sang sekretaris dan gadis yang bernama Syarastini. Rinoi yang mendengar permintaan bosnya itu malah menjadi bertambah tak enak hati. Hari ini terjadi insiden yang kurang menyenangkan antara temannya dan bosnya, dia sebagai orang tengah merasa bingung dan tak bisa memihak salah satu pihak. "Kami berkomunikasi hanya sebatas …," Rinoi bimbang dalam menjawab pertanyaan sang bos, dia malah terasa seperti ingin menghindar atau menutupi sesuatu, pada akhirnya Rinoi menjawab saja, "kami memang sering berkomunikasi, namun selama ini um, itu sudah dua tahun kami saling berkirim pesan … Tini menanyakan jadwal kerja saya dan hanya itu tak lebih." Ghifan diam beberapa detik setelah dia mendengar jawaban dari Rinoi. Tak lama kemudian dia melirik ke arah kaca spion depan, dia melihat wajah Rinoi yang berkeringat seperti di dalam mobil ini panas, namun suhu di dalam mobil terasa sejuk. "Dua tahun hanya menanyakan jadwal kerja kamu?" "Ya, Pak Ghifan." "Kalau tidak salah kamu masuk di Farikin's Seafood dua tahun lalu," ujar Ghifan. "Ya …," Rinoi sudah merasakan sebuah firasat, dia berpikir jangan-jangan sang bos berkesimpulan bahwa dia dan Syarastini berhubungan lebih dari teman, dia sedikit pucat, "Tini menanyakan jadwal kerja saya karena dia mengatakan sebelumnya bahwa dia menyukai seseorang yang juga kerja di Farikin's Seafood-" Rinoi sadar bahwa dia telah membuka rahasia yang dia tutup rapat dari semua, dia lupa bahwa dia berjanji pada Syarastini untuk tidak memberitahukan tentang perasaan Syarastini pada siapa saja, termasuk bosnya. Sekarang Rinoi benar-benar menyesal. Dia menutup matanya mengucapkan ampunan pada Tuhan karena dia tidak amanah. Tuhan, ampuni aku. Ghifan yang mendengar jawaban Rinoi dia sedikit terkejut. Gadis yang bernama Syarastini itu ternyata sudah menyukai seseorang. Tiba-tiba dia merasa lain di hatinya, namun dia tidak dapat jelaskan rasa apa itu. Mengetahui bahwa dia juga terlalu lancang dengan bertanya ranah privasi Rinoi, Ghifan langsung diam. Dia tidak berselera untuk bertanya lagi setelah mendengar jawaban dari Rinoi. Suasana di dalam mobil yang dinaiki Ghifan dan Rinoi plus satu bodyguard yang bertugas menjadi supir itu diam hingga mobil masuk ke tempat parkir gedung Farikin's Seafood. Ghifan turun dan berusaha bertingkah tidak terjadi apa-apa, jadi dia terlihat santai. Namun, sesungguhnya dia sedang sedikit gugup dan suasana hatinya terasa agak mendung. °°° Cika tak tahu apa yang harus dia katakan pada Syarastini, dia hanya menatap wajah sang teman dengan tatapan syok. Syarastini yang mendengar ucapan temannya tadi merasa bahwa dia sedikit pesimis dalam cintanya pada Ghifan. "Ya … aku tahu, kita tidak mungkin bersama … tadi aku mengacaukan semuanya … aku mempermalukan Ghifan di depan banyak orang dan bahkan berlari darinya tanpa menjelaskan apapun …." Suara Syarastini terdengar sedih. Mendengar nada sedih dari temannya, Cika jadi bersimpati. "Tidak ada yang tidak mungkin, jika Tuhan berkata jadi, maka jadilah," ujar Cika. "Namun, pasti akan sedikit susah untuk membuat dia paham bahwa kamu menyukainya, bagaimana dia tahu bahwa kamu menyukainya jika kamu hanya melihatnya dan menyemangatinya kerja dari jauh tanpa dia tidak melihat kehadiran kamu, maka dia juga tidak akan punya rasa pada kamu. Tini, bukan berarti aku bilang bahwa Tuan Nabhan itu tidak akan melirikmu, tapi dia bisa melirikmu … ada cara, sih." Cika memikirkan sebuah cara agar pria yang disukai oleh temannya ini tahu bahwa dia sedang disukai oleh seorang gadis manis yang polos. "Cara apa itu?" mendengar bahwa temannya punya cara untuk membuat Ghifan tahu bahwa dia menyukai Ghifan, ada sedikit cahaya harapan pada hati Syarastini. "Pepet saja dia terus," jawab Cika tanpa dosa. Syarastini, "!!!" "Yah tapi kamu harus buang urat malu … misalnya pepet terus di manapun kesempatan yang ada, dengan begitu dia pasti akan sadar bahwa kamu suka dia. Kucing kalau akan dikasih ikan segar, pasti tidak akan menolak, begitupun dengan pria yang disuguhi gadis manis terus menerus, tidak akan tahan godaan." Cika tanpa dosa menjelaskan pada Syarastini hal-hal menyangkut pria dan wanita. Syarastini,"...." Blush! Wajahnya memerah maksimal setelah memproses ucapan Cika. Tuhan! itu namanya menggoda! "Tidak bisa …," ujar Syarastini, dia menolak melakukan hal yang diajarkan oleh temannya. "Tidak bisa apanya?" tanya Cika. "Aku tidak bisa menggoda … itu sama seperti w************n …," jawab Syarastini sedih. Cika sakit kepala. Dia harus memutar otak agar mendapat ide lain lagi. Tentu saja temannya ini menolak, sejak kapan kata menggoda itu termasuk dalam sifat sang teman? tidak ada. "Ok, begini saja, jangan pepet seperti w*************a. Pepet pakai cara halus saja." "Bagaimana itu?" tanya Syarastini ingin tahu. "Ikuti saja ke mana dia pergi, kan Rinoi sering ikut Tuan Nabhan itu, nah setiap mau keluar, tanya Rinoi saja, lalu kamu bisa bertemu dengannya tanpa harus pergi pepet dengan cara yang tidak tahu malu," jawab Cika. Syarastini, "...." bukankah itu cara yang dia lakukan selama dua tahun Rinoi kerja di Farikin's Seafood? "Aku lakukan itu selama dua tahun Rinoi kerja di Farikin's Seafood …," ujar Syarastini. "Eh? sudah, yah? hahahahah … berarti lakukan saja cara kamu yang itu, tapi ya kalau bisa jangan sembunyi-sembunyi, buat dia lihat kamu," balas Cika, dia tertawa sumbang. "Baik …," sahut Syarastini. °°° Ghifan sedang mengetik dan melihat berkas kerja sama yang diajukan oleh perusahaan Hendry, namun Ghifan beberapa kali tak fokus pada isi berkas. Rinoi yang berada di balik kaca ruangan kerja Ghifan sesekali melirik ke arah wajah bosnya. Rinoi sendiri merasa bahwa bos ini agak tidak fokus dalam bekerja. Kring kring! "Astagfirullah!" Rinoi terkaget karena bunyi telepon kantor tiba-tiba berbunyi. Hal ini membuat Ghifan melirik ke arah sekretarisnya yang sedang mengelus dadanya. Rinoi mengangkat telepon, "Halo, dengan ruang manager keuangan Pak Ghifan." "Ah, Nak Rino, saya sekretaris Pak Busran, tolong sampaikan pada Pak Ghifan untuk segera naik ke ruang Pak Busran yah, ada hal penting yang ingin Pak Busran bicarakan." Suara Gea terdengar dari seberang. Mendengar suara sekretaris Busran, mata Rinoi terbuka lebar. Sekretaris Busran ini adalah sekretaris dari bos besar Farikin's Seafood, sekaligus merangkap menjadi istri bos dan juga ibu dari bosnya, "Baik, Bu. Saya segera beritahu Pak Ghifan." "Baik, saya tutup teleponnya," ujar Gea. "Baik, Bu," sahut Rinoi sopan. Rinoi meletakkan telepon kembali ke tempatnya dan berdiri lalu mengetuk pintu kerja Ghifan yang sebenarnya masih satu ruangan dengannya namun berbeda bilik dan hanya dipisahkan oleh kaca. Ghifan sendiri bisa melihat Rinoi berjalan ke arahnya. "Pak Ghifan, permisi." "Ya, masuk." Rinoi masuk, dia menutup pintu kaca lalu berkata, "Sekretaris Pak Busran baru saja telepon, beliau mengatakan bahwa Pak Busran ingin Anda naik ke ruangan beliau karena ada hal penting yang ingin beliau bicarakan dengan Anda." "Baik," sahut Ghifan sambil mengangguk. Dia langsung menutup laptop dan berdiri, dia kurang fokus kerja jadi pergi ke ruang kerja bosnya tidak apa-apa. Mungkin bisa menaikkan selera kerjanya setelah keluar dari ruang kerja bosnya, pikir Ghifan. Sementara itu di ruang kerja Direktur Utama. Gea menutup telepon lalu melirik ke arah bosnya, "Sudah, sebentar lagi Ghifan akan naik ke sini." Busran manggut-manggut puas lalu dia melirik persetujuan syarat kerja sama antara Farikin's Seafood dan Sea Delicious. "Tadi Ghifan pergi makan siang dengan tuan Kao, mungkin terjadi sesuatu yang membuat hati Tuan Kao senang dan tanpa lama tidak lagi perlu mempertimbangkan syarat yang kita ajukan dan langsung diterima. Hal ini terlalu cepat," ujar Gea, dia terlihat berpikir, kira-kira hal menyenangkan apa yang terjadi selama makan siang yang membuat perusahaan Hongkong itu langsung senang? Busran tersenyum senang, dia tidak banyak berpikir, yang penting pekerjaan selesai jadi dia punya waktu luang dengan sekretarisnya. Yah istilahnya dia ingin curi-curi kesempatan di tempat kerja dengan sang sekretaris. "Sayang, kemari," panggil Busran. Suaranya dibuat-buat seksi agar istrinya terpukau, namun bukan keterpukauan dari sang istri yang dia dapat melainkan tatapan tajam. "Bukan di rumah," ujar Gea. Gea melirik dari celah pintu yang sedikit terbuka. Busran, "...." Istrinya ini selalu saja begini, berusaha untuk memisahkan mana urusan pribadi dan kerja. Namun, masalahnya dia tidak ingin ada batasan itu, memang profesional sih, tapi yang namanya orang bucin tingkat dewa yah seperti Busran ini, apa-apa tidak suka dibatasi oleh apapun. "Nona Baqi, saya butuh Anda segera di sini, ada hal penting yang ingin saja bicarakan dengan Anda." Busran mengganti cara lain agar sekretarisnya itu mau masuk ke dalam ruang kerjanya. Gea berdiri dari kursi, dia masuk ke ruang kerja suaminya. "Ya, Pak? ada apa itu?" "Tolong dekat ke sini, sepertinya Anda harus baca baik-baik apa yang tertera di kontrak kerja sama ini," jawab Busran, dia menunjuk ke arah kontrak kerja yang tadi diprint out oleh sekretarisnya. Gea mendekat ke arah meja, lalu dia melihat apa saja yang tertulis di kertas itu. Kontrak dalam dua bahasa, yaitu bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. "Tidak ada yang salah-amph!" Busran sudah lebih dulu menarik sekretarisnya duduk di atas pangkuannya lalu mencium bibir sang sekretaris. Lalu tangannya dengan cepat masuk ke dalam baju sang sekretaris. Mata Gea melotot. Ceklek, pintu dibuka dari luar dan seseorang masuk. Ghifan, "...." Mata Busran yang sedang bersemangat mencium bibir sekretarisnya bertatap dengan Ghifan si manager keuangan. "...." Ghifan tidak tahu apakah dia harus tertawa atau menangis. Di siang bolong begini dia menyaksikan sendiri tindakan tidak senonoh antara bos besar Farikin's Seafod dan sekretarisnya. "Ehm, saya rasa saya dipanggil ke sini hanya untuk melihat tindakan tidak senonoh dari bos besar Farikin's Seafood kepada sekretarisnya pada siang ini." Gea langsung cepat-cepat berdiri lalu dia memperbaiki rok dan kamejanya. Gea melotot ke arah bosnya, "Tuan Nabhan, ini sebuah pelanggaran di tempat kerja. Ini adalah pelecehan terhadap karyawan perusahaan." Busran melihat kemeja sekretarisnya yang sedikit terbuka. "Nona Baqi, Anda tidak memakai singlet. *Bra Anda berenda indah, hitam." Gea dan Ghifan, "!!!" Ibu dan anak itu naik darah. °°°
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD