"Mommy berangkat kerja dulu," kata Miranda ketika dirinya melewati Melani.
"Mommy tunggu!" teriak Melani yang menghentikan langkah kaki Miranda.
Setelah mendekat, Melani memeluk kembali tubuh Miranda dari arah belakang, "Mommy kenapa sih? Tidak sepertinya Mommy kek gini, cuek sama Melani."
Miranda melepaskan pelukan dari Melani. Miranda memutar tubuhnya menghadap Melani. Mira mencoba untuk tersenyum di depan putrinya di tengah dirinya sedang kecewa.
"Nanti kita bahas. Mommy lagi ada meeting pagi ini. Mommy gak sempat untuk mejelaskan kenapa Mommy marah dan bersikap cuek kek gini. Nak, cepat berangkat sekolah. Sarapan mu lebih baik kau bekal saja," kata Miranda.
"Kalau begitu, tunggu dulu. Melani ingin berangkat sekolah bareng Mommy," kata Melani dan di anggukan oleh Mira.
Mira sangat takut kalau nanti Exel merayu Melani, bukan Mira saja yang takut. Melani juga sama takutnya jika dirinya bertemu dengan Exel.
Pada akhirnya Exel memutuskan untuk kerja. Exel takut juga dengan ancaman Miranda. Exel tidak mau nilai kuliahnya buruk karena dia malas-malasan di kantornya Mira yang kini sudah menjadi istrinya. Emang bukan Mira yang nanti akan menilai kinerja Exel, tapi tetap saja Mira yang lebih berkuasa.
********
Melani sudah tiba di sekolahnya, kedatangan Melani mengundang cibiran-cibiran pedas dari mulut-mulut para Siswa di sana. Melani berusaha untuk tetap diam dan berpura-pura tuli dengan cibiran para teman-temannya.
"Gimana rasanya Mel punya Daddy berondong yang harusnya jadi pacar kamu tuh," celetuk Ziny teman sekelas Melani.
Melani masih tetap diam dan membiarkan teman sekelasnya mencibirnya.
"Kok bisa ya Mommy nya Melani di jebak sama berondong kek gitu. Apa jangan-jangan tadinya mau menjebak Melani eh malah mommy nya yang kena, hahahahaa."
Melani mengepal kedua tangannya. Melani mulai emosi. Tapi sebisa mungkin Melani tetap menahan emosinya, Melani tidak mau memancing keributan yang nantinya akan menyulitkannya.
"Kenapa dia bisa nebak kek gitu sih," batin Melani yang sangat geram.
"Mommy, gara-gara si Exel ayah tiri b******k itu hidup Melani jadi kacau kek gini. Gimana nanti dengan nasib Mommy yang punya suami br*ngsek kek si kamvret Exel itu, uuuuhhhhh... " Melani terus mendumel kesal di dalam hatinya.
Di kantor!
"Ciye yang sudah sah menjadi istrinya BOS besar," celetuk Delon rekan kerja Exel.
Delon sama juga seperti Exel, mahasiswa magang di kantornya Miranda.
"Bagamanaa first night nya? Sukses? Lalu bagaimana goyangan Bos besar, uh pasti mantap kan. Secara janda gitu ya. Udah gitu cantik dan body nya, uuuuuuuhhh, " kata Delon yang sangat kepo dengan malam pertamanya Exel dan Bos nya itu.
"Apaan sih, " kesal Exel. "Gak terjadi apa-apatuh semalam. Lagi pula, gue itu tertarik nya sama putrinya, bukan emaknya," kata Exel dengan sinis nya.
"Ah dasar lo emang tidak bersyukur. Di kasih bini kaya cantik dan body nya mantep masih saja minta yang lebih," seloroh Delon.
"Terserah gue lah!"
Tak sengaja Miranda mendengar percakapan antara Exel dengan Delon. Miranda jadi semakin takut dengan keadaan putrinya jika masih satu rumah dengan Exel.
"Bagaimana ini?" batin Miranda. Kini Miranda sudah berada di ruang kerjanya. Miranda mulai mencari solusinya.
"Kenapa jadi ribet kek gini sih." Miranda mulai pening. Miranda terus memijit-mijit keningnya. Miranda memikirkan nasib putrinya.
"Harusnya aku tidak menikahi berondong b******k itu, ah... gimana ni semuanya sudah terlanjur."
***
Ini waktunya Melani pulang sekolah. Miranda sudah mendapatkan solusi bagaimana keputusan yang terbaik untuk putrinya. Miranda berharap kalau Melani setuju dengan keputusannya. Miranda ingin Melani aman tanpa di ganggu oleh Exel yang sudah terlanjur menjadi suaminya.
Miranda kini dalam perjalanan menuju sekolahnya Melani untuk menjemput putrinya pulang sekolah. Sebelumnya Miranda sudah menghubungi Melani kalau dirinya akan menjemput Melani saat pulang sekolah.
Miranda dan Melani sudah berada di dalam satu mobil. Suasana tampak sangat hening hanya derungan lalu lintas saja yang terdengar. Melani menyadari kalau jalan yang di lewatinya bukan arah menuju ke rumahnya.
"Mommy kita mau kemana?" tanya Melani yang akhirnya buka suara.
"Kita ke Cafe dulu. Mommy belum sempat makan siang karena pekerjaan Mommy yang numpuk," jawab Miranda yang pandangan matanya fokus ke depan. Miranda sama sekali tidak melirik Melani yang tengah duduk di sebelahnya.
"Iya Mom! Melani juga sama belum makan siang," sahut Melani.
Sementara Exel di dalam kantor tengah di buat sibuk dengan tugas pekerjaannya. Miranda emang sengaja membuat para Mahasiswa magang itu pada sibuk dengan pekerjaannya.
"Eh Exel, harusnya lu itu duduk manis saja gak usah kerja kek kita-kita. Lu kan udah jadi suaminya Bu Bos Miranda," celetuk Jensen Mahasiswa magang juga.
"Gak seperti semudah yang kalian bayangkan. Istri gue itu tetap menyuruh gue kerja, kalau enggak nilai gue bisa buruk. So, dia kan masih di atas gue posisinya. Jadi gue yang masih di bawah dengan terpaksa mengalah saja," kata Exel dengan tampang kekesalannya. Exel kesal karena mereka mengganggap kalau menjadi suami Miranda itu sangatlah enak.
"Hahaaa, mungkin karena lu gak kasih nafkah batin sama si Bos," celetuk Delon.
"Tahu-ah! Nafkah batinku hanya untuk dia," kata Exel.
*********
Miranda dan Melani sudah tiba di sebuah Cafe, bahkan keduanya sudah memesan makanan dan minuman.
"Melani, Mommy mau tanya sesuatu. Mommy harap kamu bisa jawab dengan jujur." Perkataan Mommy Mira membuat Melani menciut dan gemeteran. Melani sangat takut dengan pertanyaan Mommy nya.
"T-tanya apa Mom?" tanya Melani dengan getir.
"Apa yang kamu lakukan sama Daddy tiri kamu yang b******k itu ketika hari pernikahan Mommy dan si b******k itu. Tolong kamu jawab jujur Melani." Miranda begitu seriusnya. Pertanyaan Mommy nya membuat Melani semakin gemeteran dan takut. Melani malah menunduk. Melani sangat takut dan tidak berani menatap wajah Mommy nya.
"Jawab Mel, " sentak Miranda.
"B-baik Mom, Mela akan menceritakan semuanya. "
Pada akhirnya, Melani menceritakan semuanya kepada Mommy nya atas kejadian waktu di hari pernikahan. Betapa sakitnya hati Mira mendengar semua cerita dari Melani. Meskipun Miranda tidak mencintai Exel, tapi tetap saja. Sakit mendengarnya!
"Baik! Mommy sudah putuskan. Lebih baik kamu sekolah di luar negri saja, dan tinggal bersama Tante Susan di Amerika. Mommy tidak mau kalau Exel itu mencoba merayu kamu dan akhirnya nanti kau kerayu dan sampai menyerahkan kep*raw*nan kamu kepada dia. Mommy tidak mau masa depan hancur hanya karena dia. Sayang, di dunia ini Mommy cuman punya kamu. " Tak terasa air mata Mira menitik. Mira sebenarnya tidak mau jauh-jauh dengan Melani. Tapi Mira tidak punya banyak pilihan lain lagi.
"Mommy, Melani setuju. Asal Mommy mau memaafkan aku. " Air mata Melani pun sama menitik.
Miranda menghapus air mata Melani, "Mommy sudah memaafkan kamu Nak, Mommy akan urus surat kepindahan kamu. Untuk sementara waktu, gak papa kan sayang kamu tinggal di rumah Dila, sekretaris Mommy, " saran Mira.
"Iya Mom tidak apa-apa. Lagi pula Melani sangat takut kalau Melani tinggal di rumah. Melani takut sama Exel, " lirih Melani.
"Sabar ya sayang. Semoga Mommy bisa membuat si b******k itu mencintai mommy. Agar dia tidak mengganggumu lagi, " ucap Miranda.
"Melani yakin, Mommy pasti bisa. "
"Mudah-mudahan sayang. "