Bab 5

1120 Words
Acara pernikahan Exel dan Miranda sudah usai. Kejadian tadi ketika bercinta sekilas dengan Exel membuat Melani jadi banyak melamun. Melani merasa berdosa karena dirinya dengan mudahnya terbujuk rayunya Exel yang kini sudah menjadi papa tirinya. Melani merasa menyesal sekali, mommy nya sudah berkorban banyak untuk Melani dengan cara menikahi Exel. Agar Exel tidak mengganggu masa depan Melani. "kenapa aku bodoh sekali. Harusnya aku itu menolaknya. Tapi kenapa dengan mudahnya aku terhanyut sehingga dia berhasil menciumiku dan memainkan asetku," kesal Melani yang kini sedang menatap dirinya di dalam cermin. "Tidak bisa! Aku harus menolak ajakannya. Dia sudah menyentuh mommy ku! Jangan sampai aku menyerahkan keper*w*nanku kepada Exel yang kini sudah menjadi suami mommy dan otomatis adalah Daddy ku. " "Mommy, maafkan Melani, " lirih Melani yang menyadari kesalahannya. *** Susana malam di dalam kamar Miranda yang kini menjadi kamar Exel juga. Miranda menggunakan pakaian tidurnya yang transparan. Sehingga terlihat samar-samar isi di dalamnya. Mira emang sudah biasa kalau malam mau tidur tidak pernah memakai kacamata. Dengan susah payah Exel menelan Saliva nya secara kasar kala dirinya melihat pemandangan yang indah di depan kedua matanya. Meskipun Miranda sudah berusia 36 tahun tapi pesonanya masih seperti usia Melani. Exel pada akhirnya memutuskan untuk berpura-pura tidur saja. Nanti ketika Miranda sudah tidur, Exel akan menyelinap masuk ke kamar Melani. Meskipun malam ini Exel begitu tergoda dengan pesona Miranda. Tapi Exel berusaha untuk menolaknya. "Ini malam pengantin kita loh Mas, masa tidak ada aktivitas apapun sih," goda Miranda. Tak bisa Miranda pungkiri kalau drinya begitu sangat menginginkannya. Sudah hampir 10 tahun Miranda tidak melakukannya. Terakhir malam itu bersama dengan Exel tapi keadaan Miranda lagi tidak sadar. Karena terpengaruh meskipun tidak sampai kebablasan. Tapi Mira maupun Exel berfikir nya sudah terjadi. "Apaan sih, males! Gak ada hasrat sama sekali bercinta dengan wanita tua sepertimu," kata Exel yang tidur membelakangi Miranda. "Meskipun sudah tua, tapi masih kenceng loh Mas," goda Miranda. Tanpa ada rasa malu, Miranda yang tidak munafik, dirinya terus membelai-belai punggung Exel, bahkan memainkan daun telinga Exel. Sehingga membuat Exel langsung merinding. Dengan susah payah Exel yang terhanyut berusaha untuk menolak. "Ya sudah kalau Mas Exel tidak mau, aku tidur saja." Miranda menarik selimut tebal agar menutupi tubuhnya. Exel pun senang ketika Miranda memutuskan untuk tidur. Satu jam kemudian, Miranda sudah tertidur lelap. Exel pun diam-dam bangun dan keluar kamar. Exel akan menyelinap masuk kedalam kamar Melani. Sedangkan Melani yang sudah mengetahui kalau Exel pasti akan ke kamarnya. Melani memutuskan untuk tidur di kamar tamu yang terletak di lantai bawah. Melani sangat yakin kalau Exel tidak akan bisa menemukan keberadaannya. Melani berusaha untuk menghindar dan menolak ajakan Exel untuk melakukan itu, menyelesaikan yang tadi siang belum di selesaikan. "Maafkan Mela Mom, tadi Mela sama sekali tidak bisa menolak. Ciuman Exel begitu manis. Melani hampir saja. Mom, mommy sudah berkorban untuk Melani agar Melani tidak hancur masa depannya. Mom, maafkan Melani." Lirih Melani yang telah menyesali perbuatannya yang menjijikan itu. Exel sudah berada di depan pintu kamar Melani. Exel tersenyum lebar kala pintu kamar melani tidak terkunci. "Ternyata Melani emang menginginkannya," duga Exel yang sudah berada d dalam kamar Melani. Exel menutup pintu kamar Melani bahkan menguncinya. "Malam pengantinku akan aku lewatkan dengan putri tiri ku." Exel begitu sudah tidak sabar. Exel terus melangkah menuju ke arah tempat tidur. Exel menduga kalau Melani sudah tidur. Padahal itu guling yang Melani tutupi oleh selimut. "Sial'' kesal Exel ketika membuka selimut tebal itu. Ternyata bukan Melani yang tidur melainkan bantal dan guling. "Kemana Melani?" geram Exel yang langsung mengepal kedua tangannya. Miranda merasakan kalau Exel tidak ada di sampingnya. Miranda langsung curiga begitu saja kalau Exel pasti menemui Melani. Miranda segera bangun dan keluar kamar. Kebetulan Exel baru keluar dari kamarnya Melani dan Miranda melihatnya. "Ternyata dugaan aku itu benar. Exel habis menemui putriku. Ya Allah apa yang terjadi," gumam Melani yang mulai berfikiran buruk. Melihat Exel menuju ke arah kamarnya, Miranda buru-buru masuk kembali kedalam kamarnya dan berpura-pura tidur. Exel merebahkan tubuhnya di sebelah Miranda. Exel terus mendumel kesal. "Sial! Kenapa Melani ingkar janji sih. Kenapa dia bisa tidak ada di kamarnya. Sebenarnya Melani kemana," desis Exel kesal. Padahal ia sudah sangat menginginkannya. Dirinya tergoda kala melihat Miranda tapi Exel ingin melakukan nya kepada Melani. Miranda semakin penasaran ada apa sebenarnya yang terjadi antara Melani dan Exel. Miranda masih berpura-pura tidur. Miranda ingin mendengar semuanya. "Padahal tadi siang Melani bilang iya kalau mau bercinta denganku dan menyerahkan semua keg*disannya padaku. Bahkan kita berdua sudah c*uman bahkan aku sudah bermain di asetnya yang kembar itu. Exel terus saja mendumel. "Apa?" Miranda begitu terkejut mendengarnya. Dirinya sangat kecewa. "Melani kenapa kau tega sama mommy nak. Kenapa kau bisa tergoda oleh rayuan Exel," lirih Miranda dalam hatinya. "Padahal Mommy sudah berkorban banyak untuk kamu Nak, Mommy terpaksa Menikahi berondong br*ngsek ini, Melani Mommy sangat kecewa." Air mata Miranda tidak terasa menitik. Miranda sangat kecewa dirinya merasa telah dikhianati oleh putrinya. Miranda tidak habis pikir kalau Melani dengan mudahnya bisa melakukan itu. Bahkan Exel sudah menciumi bibir ranum Melani dan berhasil memainkan aset Melani yang kembar itu. ********* Pagi telah tiba, Exel masih tidur pulas. Miranda sudah bangun lebih awal. Miranda sudah masak dan sudah menyiapkan pakaian kerja untuk Exel. meskipun Exel lebih muda darinya, tapi Miranda tetap menghormati Exel karena Exel kini sudah menjadi suaminya. Melani juga sudah memakai seragam sekolahnya. Hari ini hari pertama Melani masuk sekolah. "Pagi Mommy!" Melani menyapa Mommy nya yang tengah menata makanan di atas meja makan. Melani memeluk Miranda dari belakang. Melani merasa aneh dengan sikap Mommy nya yang sangat cuek dan tidak membalas sapaannya. "Mommy kenapa?" tanya Melani lirih. "Tidak biasanya loh Mommy itu cuek kek gini sama Melani." Melani masih memeluk Miranda dari arah belakang. Miranda menepisnya. Miranda malah nyelonong pergi menuju ke kamarnya. Miranda merasa kecewa, hatinya merasa sakit. "Mommy kenapa?" gumam Melani yang kini duduk di kursi meja makan. "Tidak biasanya Mommy cuek dan acuh seperti itu. Mommy kenapa sih?" Melani terus bertanya-tanya dalam hatinya. Di dalam kamar, Exel sudah bangun. Exel malah santai-santai saja sambil memainkan ponselnya. "Kenapa masih belum mandi Mas? Bukan-kah hari ini kita masuk kerja?" tanya Miranda yang kini duduk di tepi ranjang. "Ah malas. Aku malu. Nanti d kantor karyawan pada mencibirku," ujar Exel. "Dasar suami yang tidak ada nyalinya. Ya sudah terserah. Aku mau berangkat kerja dulu. Sarapan sudah aku siapkan. Jangan salahkan aku jika aku memberikan nilai buruk yang nantinya akan mempengaruhi nilai kuliah kamu." Miranda sengaja mengancam seperti itu agar Exel mau kerja dan menyelesaikan tugas kuliahnya. "Eh kau berani mengancam suamimu?" Exel begitu emosi dengan ancaman Miranda. "Kalau iya kenapa! Eh Mas, meskipun aku wanita karir tapi aku juga perlu nafkah lahir dari suamiku. Berapa pun itu aku akan menerimanya," kata Miranda yang langsung meraih tas kerjanya dan langsung keluar kamar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD