Ungkapan Perasaan

2118 Words
Meski Hanum adalah aku, tapi tetap saja hatiku merasa teriris ketika membaca pesan dari mas Danang. "Kamu sudah menatap wajahnya, Mas, tapi sayang kau tak mengenalinya," lirihku sambil meletakkan gawai itu kembali tanpa berniat untuk membalasnya. Kubaringkan tubuhku di atas kasur berukuran besar ini sambil menatap langit-langit kamar dengan lampu kristal berukuran sedang yang tergantung di tengah-tengahnya. Kasur yang memang sudah tersedia ketika aku menginjakkan kaki di rumah mewah ini dua tahun yang lalu. Meski pernikahanku terjadi kerena sebuah kecelakaan yang seharusnya tidak terjadi, tapi tetap saja orang-orang menyebutku sebagai wanita yang beruntung karena bisa menikah dengan laki-laki kaya dengan jabatan direktur. Namun, mereka tidak tahu betapa tersiksanya aku. Semenjak menikah, tak sekali pun mas Danang menatap wajahku, walaupun harus terpaksa bicara denganku dia lebih memilih membuang pandangannya ke arah lain. Tidak, kami tidak bicara, lebih tepatnya hanya dia yang bicara kerena sebelum aku sempat menjawab dia sudah terlebih dahulu pergi. Meski begitu, satu yang kusalutkan darinya, dia tak pernah perhitungan masalah uang, tapi apalah artinya ... aku bagaikan burung yang hidup dalam sangkar emas, aku memiliki segalanya tapi aku tak bahagia. Getaran gawai di atas nakas yang seakan tak berjeda mengusikku, membuat mata semakin enggan untuk terpejam. Dengan malas aku bangkit dan meraihnya. Rentetan pesan dari mas Danang tertera di sana. "Apa kamu sudah terpikat dengan sosok Hanum, mas?" gumamku. Tertawa ironis. Seandainya kau memberiku kesempatan, tentu aku ini tak harus terjadi. Selama ini jangankan untuk menyentuhmu, untuk menatapmu saja hanya berani kulakukan dengan diam-diam. Beranjak ke meja hias dan duduk mematut diri di sana. Kulepas kaca mata minus yang selama ini bertengger di hidungku untuk membantuku melihat dengan jelas, pun hijab lebar yang tak pernah lepas dari kepalaku. Bukan, bukan tak pernah lepas, ketika awal pernikahan aku pernah melepas jilbabku di rumah ini, kebetulan kami hanya tinggal berdua saja, jadi ketika itu aku merasa tidak sungkan, karena mas Danang adalah suamiku. "Apa kamu pikir dengan melepas jilbabmu bisa mengubah perasaanku terhadapmu? Bangunlah segera, karena itu adalah sebuah kemustahilan semata!" Hatiku bagaikan terkoyak-koyak mendengar ucapan tajamnya, tak ubahnya seperti belati yang sengaja dia tancapkan di hatiku. Sakit ... aku terluka, tapi tak berdarah. Dan semenjak itulah, aku tak pernah lagi melepaskan jilbabku. Kuraih paper bag berisi pakaian dan peralatan make up yang kugunakan semalam. Miris, mas Danang lebih menyukaiku dalam sosok orang lain. Belajar tutorial dari YouTube ternyata mampu membuat mas Danang pangling, dan tak sadar kalau wanita yang bersamanya semalam adalah wanita yang dia abaikan. Wajar jika dia tidak mengenaliku, karena memang tak pernah sedikitpun dia memperhatikanku. Kembali gawaiku bergetar, tapi dengan durasi yang lama, sepertinya bukan lagi pesan masuk, melainkan sebuah panggilan. "Mas Danang? Semudah itukah kau terpikat?" gumamku. Kuusap tombol hijau di layarnya dan mendekatkan benda itu ke telingaku. "Iya, Mas?" sapaku manja. "Kenapa pesanku hanya di-read?" "Maaf, Mas, tadi aku lagi sibuk." Lebih tepatnya sibuk menata hati dan perasaan yang selama ini kau hancurkan. "Kapan kita bisa bertemu lagi?" tanyanya. "Nanti akan kukabarkan kembali." "Hanum, entah kenapa aku bisa langsung nyaman denganmu, setelah perpisahanku dengan mantan kekasihku dua tahun lalu aku belum pernah senyaman ini dengan wanita." Mas Danang berkisah, aku yakin mantan kekasih yang dimaksudnya adalah mbak Kanaya. "Tak ada wanita yang mampu membuatku nyaman seperti saat sedang berada dalam pelukanmu." "Itu karena aku memelukmu dengan hati, mas, dengan cinta," batinku. "Bahkan ... bahkan dari istriku sekalipun." Sumpah demi apa, rasanya ingin kumaki dia dan mengeluarkan sumpah serapah untuknya. Bagaimana mungkin kau bisa bicara seperti itu, sedangkan kau tak pernah memberi kesempatan pada istrimu, jangankan untuk memeluk, melihatnya saja kau seolah-olah jijik. "Hanum?" "Iya, Mas?" "Kenapa kamu diam?" "Oh? Tidak aku hanya tersanjung mendengar penuturanmu. Aku bahagia, ternyata selama ini aku mengagumimu diam-diam membuahkan hasil. Sedikit menyesal karena baru berani mendekatimu sekarang." "Kenapa kau tak mendekatiku dari dulu?" "Aku takut diabaikan." "Hanum ... bagaimana mungkin aku bisa mengabaikanmu?" Seandainya kau melihat sosok yang saat ini sedang bicara denganmu, apakah kau bisa berkata semanis ini? "Ya sudah, Mas, aku masih ada sedikit urusan lagi. Bye." Aku memutuskan panggilan sepihak sebelum mas Danang bicara kembali. Tak sanggup rasanya hatiku mendengar kata-katanya yang semanis madu yang dia tujukan untuk Hanum. *** Rasa kantukku hilang sudah, melebur entah kemana setelah mendengar rayuan mas Danang pada Hanum yang tak lain adalah sosok lain dari diriku--Yulia--istri sahnya. Tak lupa kembali kukenakkan kaca mataku agar aku bisa melihat dengan jelas, begitu juga dengan jilbabku, aku tak ingin mendapat nyinyiran dari mas Danang jika dia melihat aku tak memakai jilbab, bisa-bisa harga diriku semakin tak ada di matanya karena dia akan berpikir kalau aku sengaja melakukan itu untuk menarik perhatiannya. Meninggalkan kamar, aku beranjak menuju teras belakang. Sepertinya di sana akan membuat perasaanku lebih tenang, sambil menatap ragam mawar yang selama ini kutanam dan kuurus untuk menyibukkan diri. Mawar putih ... lambang cinta yang suci, sesuci cintaku pada mas Danang, meskipun kami menikah tanpa cinta, tapi tak sulit untukku belajar mencintainya, tidak seperti dia. Kadang ingin kumenyerah dan mengakhiri pernikahan gila ini, tapi aku tak ingin mencoreng nama baik keluargaku, karena bagi orang kampung seperti kami status janda cerai merupakan aib. Biarlah, mungkin memang lebih baik aku bertahan, meski harus menahan perih luka yang digoreskan mas Danang setiap saat, dan entah kapan luka itu akan terobati. Kunikmati hembusan angin menerpa wajahku, menghirup udara segar sebanyak-banyaknya untuk menyejukkan hati yang terbakar. Melihat mas Danang begitu mesra dengan Hanum saja sudah membuatku terbakar cemburu, apalagi kalau melihat dia melakukan itu dengan wanita lain. Tuhan ... jika cinta ini hanya datang padaku, aku mohon hilangkanlah, karena engkaulah sang maha membolak balikkan hati. Keadaan ini membuatku berperang dengan diri sendiri, satu sisi aku merasa lelah dan ingin menyerah, tapi di sisi lainnya aku ingin untuk tetap bertahan dan selalu berdoa agar suatu saat nanti pintu hati mas Danang akan terketuk. Namun, entah kapan .... Aku tersadar saat gawai dalam genggamanku bergetar, mataku membulat ketika menyadari ternyata aku membawa gawai untuk penyamaranku sebagi Hanum. Nama mas Danang kembali tertera di sana, untuk apa lagi dia menelpon, apa segitu rindunya dia pada Hanum si wanita seksi sang penggoda? Gawai itu terus saja bergetar, tanpa ragu kuusap layarnya, tapi nahas, di saat yang bersamaan mas Danang muncul dari balik pintu yang hanya beberapa meter dari tempatku berdiri. Sejenak pandangan kami bertemu hingga akhirnya aku mengalihkan pandangan ke lain arah. Bergerak cepat tanganku menekan tombol merah, lalu menempelkan benda itu ke telingaku dan bicara sendiri seperti sedang menerima telpon. "Iya, Bu, Alhamdulillah aku sehat," ujarku. Sudah bisa kupastikan melihat aku ada di sana maka mas Danang pasti akan segera pergi, sosok tegap itu kembali hilang di balik pintu. Semoga saja dia tidak curiga. Aku menghembuskan napas, tak bisa kubayangkan apa yang akan terjadi jika mas Danang tahu kalau aku adalah sosok di balik Hanum. Untuk beberapa saat aku masih bicara sendiri seolah-olah aku memang sedang menelpon, hanya untuk berjaga-jaga saja, kalau-kalau mas Danang memperhatikanku dari dalam sana, walaupun sebenarnya itu adalah mustahil, mana mungkin dia akan memperhatikanku sebegitunya. Kumatikan gawaiku dan mulai menyibukkan diri dengan tanaman mawarku, membuang daun-daunnya yang sudah menguning agar dia tetap terlihat indah. Karena terlalu sibuk, tak terasa sudah Zuhur, suara adzan menggema dari mesjid yang terletak tak jauh dari rumahku. Kutinggalkan bunga-bunga itu dan melangkah masuk. Namun, langkahku terhenti ketika mendengar suara dari arah dapur, saat kuintip ternyata mas Danang yang sedang makan di sana. Tak berniat menghampirinya, aku melanjutkan langkah ke kamar, bersiap untuk menghadap pada sang pemegang kehidupan untuk memenuhi kewajibanku sebagai muslimah. Kadang pernah timbul keinginan dalam diriku, shalat diimami oleh mas Danang layaknya pasangan suami istri, tapi segera kuusir keinginan itu karena itu takkan pernah terjadi. Mengharapkan hal itu sama seperti pungguk merindukan bulan. Mustahil. Kubentangkan sajadahku, menundukkan kepala dan mengangkat takbir, menyerahkan diriku seutuhnya pada sang maha pencipta. Selesai shalat, tak lupa aku memohon kebaikan untuk keluargaku, memohon agar Allah membukakan pintu hati mas Danang, agar aku bisa membawa keluarga ini menuju JannahNya. ------------- Tiga hari berlalu, hubunganku dengan mas Danang masih seperti itu-itu saja, tak ada yang berubah, tapi dia semakin gencar mendekati Hanum, mengirimkan pesan-pesan perhatiannya setiap saat. Mas Danang tak pernah lupa mengucapkan selamat pagi pada Hanum sebelum memulai rutinitasnya, mengingatkan makan siang, dan mengucapkan selamat malam, meski sering kali sengaja kuabaikan. Beberapa kali mas Danang juga mengajak Hanum untuk video call, katanya rindu, jelas aku menolaknya, karena tak mungkin aku merubah penampilanku hanya untuk menerima panggilan video dari mas Danang. [Baiklah, besok malam temui aku di hotel kemarin, di kamar sama, dan jam yang sama.] Akhirnya aku memutuskan untuk kembali menemui mas Danang untuk memenuhi permintaannya yang sudah seperti pengemis. [Terima kasih banyak, aku tak sabar untuk segera bertemu denganmu.] Aku bisa bayangkan, sekarang mas Danang pasti sedang tersenyum bahagia karena akan segera bertemu dengan pujaan hatinya. *** "Aku malam ini lembur, pastikan semua pintu terkunci, jangan sampai maling masuk ke rumah ini karena apa yang ada di dalam rumah ini harganya sangat mahal," ucap mas Danang ketika dia selesai sarapan pagi. Ketika bicara dia sama sekali tidak menatapku padahal aku duduk di hadapannya. Lembur? Lembur bersama Hanum maksudmu? Dan pesannya yang ke dua cukup menegaskan betapa tidak berartinya aku baginya, dia lebih mengkhawatirkan ada maling masuk dan mengambil barang-barang di rumah ini, dia sama sekali tidak mengkhawatirkanku jika seandainya aku yang dihabisi oleh maling itu, sepertinya harta jauh lebih berharga daripada aku baginya. Menyedihkan sekali. Setelah memakan sandwich yang kubuatkan Mas Danang meneguk segelas air putih dan berlalu begitu saja. Langkahnya mantap menuju pintu keluar. Tak lama kemudian terdengar deru mobilnya yang menjauh meninggalkan rumah. Tidak ada acara cium tangan apalagi kecupan di keningku sebelum dia berangkat kerja. Ah, sepertinya angan-anganku terlalu berlebihan. *** Saat hari beranjak petang, aku bersiap untuk berangkat ketempat dimana mas Danang akan menemui Hanum. Sengaja aku berangkat lebih awal karena sebelum ke tempat tujuan aku harus mampir untuk membeli pakaian. Taksi yang kunaiki berhenti di sebuah mall yang terletak tak jauh dari hotel tempat dimana mas Danang akan menemuiku sebagi Hanum. Mataku menatap satu persatu pakaian yang terpajang di sana, dan mengambil beberapa lembar yang sesuai dengan seleraku, mencocokkan dengan peran Hanum yang seksi. *** Setelah tiba di kamar, seperti halnya yang kulakukan kemaren, kuganti gamis yang melekat di tubuhku dengan sebuah gaun sebatas lutut berwarna navy. Sebenarnya aku tidak percaya diri dengan tampilan seperti ini, tapi apa boleh buat, daripada mas Danang mencari wanita lain sebagai pelampiasannya dan akan membawanya jatuh dalam kubangan dosa, lebih baik begini, dan aku tidak tau dimana dan seperti apa akhir dari permainan yang kumulai ini. *** Jam sudah menunjukkan pukul setengah delapan, selesai shalat bergegas kukemasi segala sesuatunya yang akan memancing kecurigaan mas Danang. Setelah merasa beres, aku duduk di depan meja hias untuk memulai menghias diriku, tak lupa kulepas kaca mataku dan menggantinya dengan softlens. Aku tersenyum menatap pantulan diriku di cermin, tak sia-sia aku belajar makeup, ternyata ada manfaatnya juga, setidaknya untuk menyamarkan wajah asliku. Tepat pukul sembilan malam pintu di ketuk, sudah bisa kupastikan kalau itu adalah mas Danang, ternyata dia sangat tepat waktu. Sebelum membuka pintu kembali kulihat wajahku di cermin, dan aku merasa kalau penyamaranku sudah sempurna. "Selamat malam, Mas," ucapku setelah membukakan pintu. Mas Danang tersenyum sambil memberikan sebuket mawar merah padaku. "Bunga cantik untuk wanita cantik," ucapnya. "Terima kasih, Mas," kuambil bunga yang dia ulurkan dan menciumnya. "Ayo masuk, Mas." Aku berjalan mendahului mas Danang. "Aku kangen," bisiknya sambil memelukku dari belakang, membuat darahku berdesir dan jantung berdetak tak karuan. Sesaat aku mematung dalam keadaan itu, menempatkan diri sebagai Yulia--isrinya, bukan sebagai Hanum. Aku melepaskan pelukan mas Danang dan berbalik untuk menghadap padanya, lalu melingkarkan tanganku di pinggangnya. "Aku juga kangen, Mas," lirihku sambil menyandarkan kepalaku di dadanya, mendengarkan detak jantungnya dari dekat. Tak terasa mataku mengembun, tapi segera aku menepisnya. Mas Danang kangen pada Hanum, bukan pada Yulia. Aku mengurai pelukanku dan berjalan ke meja hias untuk meletakkan bunga yang diberikan mas Danang. "Aku punya sesuatu untukmu," ucap mas Danang sambil berdiri di belakangku. Kami saling tatap melalui pantulan cermin. "Apa?" tanyaku. "Pejamkan matamu," pintanya. "Harus?" Mas Danang mengangguk. "Baiklah," ucapku seraya memejamkan mata. Aku merasa tangan mas Danang bermain-main di sekitar leherku seperti sedang memasangkan sesuatu. "Udah, matanya boleh dibuka," ucap mas Danang. Perlahan aku membuka mata, pandanganku langsung tertuju pada kalung yang menjuntai indah di leherku. "Kamu suka?" tanyanya, kembali aku dipeluknya. "Suka, suka sekali," sahutku. Bibirku tersenyum, tapi hatiku terasa sakit sekali, dua tahun menikah mas Danang belum pernah memberi surprise padaku seperti apa yang dia lakukan pada Hanum, dua kejutan di waktu yang sama, padahal ini baru kali kedua mereka bertemu. Yulia ... malang sekali nasibmu .... Mas Danang melepaskan pelukannya, dia melangkah mendekat ke meja hias, tangannya terulur untuk meraih kacamataku yang lupa kusimpan. Seketika tulangku melemas, jangan sampai dia menyadari kalau itu adalah kacamata Yulia. "Hanum, ini kacamata milikmu?" tanyanya sambil memperhatikan kacamata yang berada di genggamannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD