Permainan

1118 Words
Benar saja, mas Danang yang datang. Matanya tak berkedip ketika melihatku berdiri di hadapannya. Semoga saja dia tidak menyadari kalau wanita yang sedang berhadapan dengannya saat ini adalah istrinya yang menjelma menjadi seorang pelakor. "Hai, Mas," sapaku sembari menyunguhkan senyuman semanis mungkin. "Hai, Ha-Hanum," sahutnya sedikit gugup. Entah apa yang membuat suaranya bergetar. Apa jangan-jangan dia menyadari kalau Hanum adalah Yulia? Jangan sampai.. "Ayo masuk, Mas." Aku menyingkir dari pintu agar mas Danang bisa masuk. Dia mengangguk samar dan melewatiku. Aroma parfum khas wangi tubuhnya seketika semerbak menusuk indera penciumanku. Setelah menutup pintu, kuhampiri mas Danang yang sudah duduk di sofa dan duduk di sampingnya. "Sepertinya wajahmu tak asing," ujarnya. Dia menatap lekat wajahku. "Aku sudah katakan, beberapa kali kita pernah bertemu di pesta, bahkan kita juga pernah bertemu di club, hanya saja kamu tak pernah menyadarinya, padahal aku selalu memperhatikanmu," sahutku dengan ekspresi seperti orang yang sedang kecewa. Aku bisa menjadikan itu sebagai alasan karena aku tahu mas Danang sering nongkrong di club bersama teman-temannya untuk menghabiskan malam. Begitulah, selama ini dia selalu membiarkanku kesepian sendirian di rumah, meski pernikahan ini juga bukan keinginanku tapi aku tetap menginginkan untuk menjadi seorang istri yang seutuhnya, tapi sayang mas Danang tak pernah memberi kesempatan walau sekedar untuk saling mengenal. Sebenarnya wajar, mungkin dia merasa tertekan dan malu karena terpaksa untuk menikahi office girl di perusahaannya sendiri. "Oh, ya? Kenapa kau tak menghampiriku?" tanyanya sambil membuka jas kerja yang membalut tubuhnya dan hanya menyisakan kemeja berwarna maroon yang kusiapkan tadi pagi. Mas Danang memang tak pernah menganggapku sebagai seorang istri, tapi aku selalu mengerjakan kewajibanku setiap harinya, membuat peranku lebih mengarah seperti seorang pembantu. "Aku takut diabaikan." Kuraih segelas minuman dari atas meja yang sudah kupesan sebelum mas Danang datang dan memberikan padanya. Mas Danang menggeser duduknya mendekat padaku. "Kenapa kamu mengajakku ketemuan di hotel, hum?" tanyanya menatap dalam pada manikku. Perlakuan mas Danang membuat dadaku bertabuh hebat, selama ini kami belum pernah berada dalam posisi sedekat ini. Tatapan matanya yang tajam seakan menusuk langsung ke manikku dan menancap di hati. "Karena aku hanya ingin berdua denganmu, tanpa ada orang lain," sahutku menekan kegugupan. Mana mungkin aku mengajaknya ketemuan di luar, dengan penampilan seperti ini. Dosalah, Bambang! Setelah itu kami menghabiskan malam dengan saling bercerita dan tertawa bersama. Mas Danang tertawa lepas, tawa yang selama ini belum pernah kulihat. Aku yakin, sepertinya mas Danang hanya dingin pada aku--Yulia--istrinya saja, tapi tetap hangat pada orang lain. Mungkin karena perbedaan kasta kami yang sangat mencolok. "Mas, apa istrimu tidak menunggu?" sindirku saat sudah lewat tengah malam. Seketika wajah mas Danang langsung berubah, keceriaan di wajahnya langsung sirna mendengar pertanyaanku. "Kenapa? Apa kau sudah bosan atau ...." Dengan memberanikan diri aku meluk tubuhnya sehingga ucapannya terhenti. "Mana mungkin aku bosan, kalau bisa aku ingin setiap saat seperti ini denganmu." Kuhirup dalam-dalam aroma khas tubuh mas Danang. Hal yang tak pernah kulalukan sebagai Yulia. Dia membalas pelukanku, satu tangannya melingkar erat di pinggang kecilku dan satunya lagi meraih daguku agar mendongak menatap wajahnya. Pandangan kami bertemu, jemari mas Danang bermain-main di bibirku yang kupolesi dengan lipstik berwarna peach kemudian beranjak ke leherku. Matanya menatap sayu seakan menginginkan sesuatu. Perlahan mas Danang mendekatkan wajahnya padaku, hembusan napasnya terasa hangat menerpa wajahku, semakin lama semakin dekat hingga akhirnya bingkai kami menyatu. Aku terhanyut dalam permainan mas Danang. Rasa takut dan senang berbaur menjadi satu, bagaimana pun aku belum siap jika mas Danang melakukan hal yang lebih padaku saat ini. Mas Danang semakin liar, sehingga aku melepaskan diri darinya. "Kenapa?" tanyanya bingung. "Ma-maaf mas, a-aku ...," ucapku terbata-bata. "Aku mengerti." Laki-laki berkulit putih itu mengusap wajahnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Aku menatap mas Danang lamat-lamat, apa mungkin selama ini dia menyalurkan hasratnya di luar? Karena mustahil rasanya seorang laki-laki yang sudah menikah tidak punya keinginan untuk menyalurkan hasrat biologisnya. Baiklah, jika memang itu terjadi, mulai sekarang kupastikan dia akan berhenti melakukan hal itu, cukup aku--Hanum yang menjadi pelariannya dari Yulia. Setidaknya kalaupun kami sampai melakukan hal itu tidak akan berdosa, dan semoga Tuhan bisa memaklumiku. Setelah beberapa saat mas Danang memperbaiki duduknya. "Tapi aku mohon, untuk malam ini temani aku tidur. Aku berjanji tak akan melewati batas. Aku sangat lelah hari ini," pintanya. Aku tersenyum ironis. "Seharusnya jika kau lelah kau mencari istrimu, Mas, karena dia adalah tempat pulangmu, bukannya mencari persinggahan di luar!" makiku dalam hati. "Aku mohon," ucapnya dengan tatapan memohon. "Baiklah, tapi ingat aku hanya menemanimu tidur, kalau sampai kau melewati batas maka aku tidak akan mau lagi mengenalmu," ancamku. Mas Danang tersenyum, seulas senyum mengembang di bibir tipisnya. *** Malam semakin larut, mas Danang sudah terlelap dalam tidurnya dengan membenamkan kepalanya di ceruk leherku. Seandainya peranku sekarang bukan Hanum, tapi Yulia, mungkin aku akan sangat bahagia, bisa tidur dalam pelukan suamiku. Hingga subuh menjelang aku masih terjaga, sengaja aku tidak tidur karena aku harus pulang sebelum mas Danang bangun. Suara lantunan ayat suci Alquran sudah menggema menyambut subuh dari mesjid-mesjid terdekat. Pelan-pelan kusingkirkan tangan mas Danang yang melingkar di pinggangku, kemudian bergegas aku berkemas sebelum mas Danang bangun, mengganti mini dress-ku dengan gamis dan mengenakkan kembali jilbabku. Tak lupa kutinggalkan selembar kertas di atas bantalku. "Maaf, Mas, aku harus pergi sebelum kamu bangun, karena ada urusan." Begitulah pesan yang kutinggalkan untuknya. *** Setibanya di rumah, cepat-cepat aku mandi dan melaksanakan shalat subuh, kemudian melanjutkan aktivitas rutinku di dapur untuk menyiapkan sarapan, biasanya jika mas Danang tidak pulang, maka pagi-pagi sekali dia akan pulang. Benar saja, saat sarapan pagi baru saja terhidang, deru mobil mas Danang sudah terdengar berhenti di halaman. Bergegas aku mencuci tanganku dan membukakan pintu untuk mas Danang. Wajah mas Danang datar melihatku, tanpa mengucapkan salam dia berjalan melewatiku. "Mau mandi atau sarapan dulu, Mas?" tanyaku sambil mengemasi sepatu mas Danang ke rak. Tak ada sahutan, dingin, kaku dan beku, berbeda sekali dengan sosoknya ketika bersama Hanum. Langkah mas Danang lurus ke kamarnya, ya kamarnya, karena dari awal kami memang tidur di kamar yang terpisah, dan itu adalah keinginannya. Aku menatap punggung mas Danang yang semakin menjauh dan menghilang di balik pintu. Kami tak ubahnya seperti orang asing yang tinggal seatap. Bersama tapi tak saling sapa. Setelah menutup makanan yang terhidang, akupun lebih memilih untuk masuk ke kamarku, berencana untuk tidur sejenak, karena semalaman mataku tak pernah terpejam. Gawai yang kuletakkan di atas nakas menyala, aku yakin pasti mas Danang yang tengah menghubungiku, lebih tepatnya menghubungi Hanum, karena gawai itu memang kukhususkan hanya untuk penyamaranku. [Kenapa kamu pergi tanpa membangunkanku? Padahal aku ingin sekali menatap wajahmu saat aku terbangun.] Ternyata dia sereceh itu. Meski Hanum adalah aku, tapi tetap saja hatiku merasa teriris ketika membaca pesan dari mas Danang. "Kamu sudah menatap wajahnya, Mas, tapi sayang kau tak mengenalinya," lirihku sambil meletakkan gawai itu kembali tanpa berniat untuk membalasnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD