bc

Apakah Aku Terlahir Sebagai Penjahat?

book_age16+
2
FOLLOW
1K
READ
system
serious
highschool
war
like
intro-logo
Blurb

Bercerita tentang perjalan Lin Yuan yang masuk ke dunia Immortal,ia hanya ingin kembali pulang ke bumi.Dibantu System ia mulai menjadi kuat, namin ada sebuah takdir yang mulai menghampirinya satu demi satu.kehilangan,kesedihan, kehampaan mulai mendatanginya.mampukaj ia kembali ke bumi?

chap-preview
Free preview
Bab 01:Awal sebuah perjalanan yang panjang
8 Februari 2025 Di sebuah sekolah menengah atas, suasana perpustakaan siang itu terasa tenang. Sinar matahari menembus jendela besar, jatuh di atas rak-rak buku yang tersusun rapi. Di salah satu sudut ruangan, seorang pemuda duduk bersama beberapa temannya. Tangannya memegang sebuah novel dengan sampul gelap dan judul yang terasa asing. Tak lama kemudian, ia menutup buku itu perlahan, seakan enggan berpisah dari halaman terakhir yang baru saja ia baca. Ia berdiri dan berjalan menuju rak untuk mengembalikannya. “Hei, Lin Yuan, buku apa yang kau baca tadi?” tanya seorang pemuda yang duduk tak jauh darinya. Lin Yuan berhenti sejenak dan menoleh. “Judulnya Takdir yang Ditelan Oleh Dao.” “Oh? Ceritanya tentang apa?” tanya temannya lagi, kini terlihat lebih tertarik. Lin Yuan tersenyum tipis. “Tentang seorang pemuda yang tiba-tiba masuk ke dunia para kultivator. Tujuannya cuma satu—mencari cara untuk kembali ke Bumi. Tapi dunia itu tidak hanya dipenuhi kultivator. Ada makhluk yang lahir dari emosi negatif manusia… disebut Iblis Terkutuk. Mereka ingin menguasai dunia itu.” Temannya mengangkat alis. “Jadi… apa dia berhasil kembali ke Bumi?” Mendengar pertanyaan itu, Lin Yuan hanya menggeleng pelan. “Aku juga tidak tahu. Bukunya tidak punya kelanjutan. Seolah-olah penulisnya menghilang tanpa jejak.” Suasana hening sejenak. Rasa penasaran menggantung di udara. Tiba-tiba jam tangan Lin Yuan berbunyi pelan. “Ah, sepertinya sudah waktunya aku pergi. Sampai jumpa lagi, Senior,” ucapnya sambil melangkah cepat menuju pintu. “Tunggu, ucap—” temannya hendak memanggil, namun Lin Yuan sudah berlari menjauh. Pemuda itu hanya bisa menggelengkan kepala. Lin Yuan memang terkenal di sekolah. Fisiknya luar biasa, bahkan dijuluki “monster” oleh para siswa. Ia mampu berlari 50 meter dalam tiga detik. Saat lomba tolak peluru, ia pernah melempar bola hingga melewati gawang sekolah tanpa terlihat kesulitan. Kekuatan dan kecepatannya seolah bukan milik manusia biasa. Namun di balik itu semua, ia hanyalah anak polos yang baik hati. Setiap kali dipuji, ia hanya tertawa dan berkata bahwa dirinya “diberkati genetik yang kuat.” “Hm… aku jadi penasaran dengan buku itu,” gumam pemuda tadi. Ia pun mencari buku yang disebut Lin Yuan. Ia menyusuri setiap rak, membaca setiap judul. Namun setelah lama mencari, buku itu tak ditemukan. Karena lelah, ia menghampiri pengawas perpustakaan. “Permisi, Bu. Apakah ada buku berjudul Takdir yang Ditelan Oleh Dao?” Pengawas itu mengernyit. “Takdir yang Ditelan Oleh Dao? Maaf, seingat saya tidak pernah ada buku seperti itu. Apakah itu buku baru? Bisa tunjukkan gambarnya?” “Tidak ada?” Pemuda itu terkejut. “Tapi tadi saya melihat Lin Yuan membacanya. Ini, saya sempat memotretnya…” Ia membuka ponselnya. Namun tak ada foto buku itu. Tak ada jejaknya sama sekali. Wajahnya memucat. “Tidak mungkin… kenapa bisa hilang? Apa aku salah lihat? Atau… buku itu memang tak pernah ada?” batinnya kacau. Melihat ekspresinya yang kebingungan, pengawas berkata lembut, “Sebaiknya kamu pulang saja. Sudah jam pulang sekolah.” Pemuda itu mengangguk pelan. “Baik, Bu. Terima kasih.” “Ya.” • • • Di sebuah rumah sakit, aroma obat-obatan memenuhi udara. Di sebuah kamar rawat inap, Lin Yuan berdiri di samping ranjang seorang kakek tua yang terbaring lemah. Selang oksigen terpasang di wajahnya, mesin detak jantung berbunyi pelan di samping tempat tidur. “Yuan… apa kau sudah mendengarnya dari perawat?” suara kakek itu lemah namun hangat. Lin Yuan menunduk, menaruh bunga segar ke dalam vas kecil di meja. “Ya. Perawat bilang… waktu Kakek tidak lama lagi.” Hening menyelimuti ruangan. “Nah… karena itu, Kakek ingin menceritakan sesuatu tentang masa kecilmu.” Lin Yuan tersenyum tipis, mencoba terdengar santai. “Sudahlah, Kek. Tidak perlu bersikap keren di depanku. Aku ya tetap aku. Tidak akan berubah walaupun sesuatu terjadi.” Kakeknya mendengus kesal dan memalingkan wajah. “Sial… setidaknya buat aku terlihat keren sedikit di depan cucuku sendiri.” Lin Yuan terkekeh pelan. “Huh… itu tidak penting lagi.” Beberapa detik berlalu dalam diam. Hanya suara mesin yang terdengar. Perlahan, kakeknya kembali menoleh. Matanya yang keriput menatap Lin Yuan dengan lembut—penuh kasih sayang yang tak terucap. “Yuan… kau harus menepati dua janjiku.” Lin Yuan terdiam. “Pertama, kau harus menyelamatkan banyak orang.” Suaranya bergetar. “Dan yang kedua… jika suatu hari kau tidak bisa menyelamatkan semuanya… setidaknya kau harus mati dikelilingi orang-orang terdekatmu. Jangan sendirian.” Kata-kata itu menusuk hati Lin Yuan. Ia tersenyum, meski dadanya terasa sesak. “Baiklah. Akan kulakukan itu.” Mendengar jawaban itu, mata sang kakek berkaca-kaca. Sejak kecil, dialah yang membesarkan Lin Yuan. Ia tahu cucunya kuat… terlalu kuat untuk anak seusianya. Tapi ia juga tahu, sekuat apa pun seseorang, kesepian bisa menghancurkan segalanya. “Dan satu lagi…” Kakek itu merogoh sesuatu dari bawah bantalnya. Sebuah kunci tua, berwarna gelap dengan ukiran aneh. “Ini… ada seorang pemuda misterius yang memberikannya padaku bertahun-tahun lalu. Ia bilang… suatu hari, berikan ini pada Lin Yuan.” Lin Yuan tertegun. “Pemuda misterius?” Kakeknya hanya tersenyum samar. “Entahlah. Tapi… saat aku melihatnya, aku tahu… benda ini memang untukmu.” Lin Yuan menerima kunci itu dengan tangan gemetar. Logamnya terasa hangat. “Huh… sekarang aku bisa tidur dengan nyenyak,” gumam kakeknya. Lin Yuan ingin mengatakan sesuatu. Ingin bercanda lagi. Ingin mengulang waktu. Namun perlahan, mata sang kakek terpejam. Bunyi mesin detak jantung mulai berubah. Bip… bip… bip… Lalu— Biiiiiiii— Garis di monitor menjadi lurus. “...Kek?” Sunyi. Tubuh renta itu tak lagi bergerak. Mata Lin Yuan membesar. Tangannya gemetar hebat. “...Kakek?” Tak ada jawaban. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Lin Yuan merasa tak berdaya. Kekuatan yang ia banggakan, kecepatan yang membuatnya dijuluki monster—tak satu pun mampu menghentikan kematian. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan. Dengan suara tercekat, ia meraih ponsel dan menelepon perawat. “H-Halo… suster… tolong…” Suara di seberang terdengar panik. “Ada apa, Tuan Lin?” Namun Lin Yuan tak mampu berkata banyak. Suaranya hilang ditelan tangis. • • • Dua hari berlalu. Lin Yuan tidak masuk sekolah. Ia mengurung diri di kamar, duduk bersandar di lantai dengan kunci misterius di genggamannya. Rumah terasa kosong. Terlalu sunyi. Orang yang selalu menyambutnya pulang… kini tak ada lagi. “Apa gunanya aku sekuat ini…” gumamnya lirih. Tiba-tiba— “Sampai kapan kau akan menangis?” Suara asing terdengar di dalam kepalanya. Lin Yuan terlonjak dan menoleh ke segala arah. “Siapa?!” Tak ada siapa pun. Namun di hadapannya, ruang udara bergetar. Sebuah pintu misterius muncul begitu saja, berdiri di tengah kamar. Kunci di tangannya bergetar hebat, seolah merespons sesuatu. “Buka.” Suara itu terdengar lagi. Dengan jantung berdegup kencang, Lin Yuan bangkit. Rasa penasaran mengalahkan rasa takut. Ia memasukkan kunci itu ke lubang kunci pintu tersebut. Klik. Saat pintu terbuka, cahaya putih menyilaukan menyembur keluar. Tubuhnya tersedot masuk tanpa sempat berteriak. Ia terjatuh di sebuah ruang tanpa batas—seluruhnya putih. “Di mana ini…?” gumamnya. “Tenanglah.” Sosok bercahaya muncul di hadapannya. Tubuhnya diselimuti cahaya putih, wajahnya tak terlihat jelas. “Ini adalah ruang yang kuciptakan agar kita bisa terhubung.” Lin Yuan berdiri perlahan. “Kenapa aku ada di sini?” Sosok itu mengangkat tangannya. Sebuah dunia muncul di hadapan mereka—penuh cahaya, namun retak di berbagai sisi seakan akan hancur. “Aku tak akan berbasa-basi. Aku punya satu tawaran.” “Tawaran?” “Dunia itu akan segera hancur. Aku ingin kau menyelamatkannya.” Lin Yuan terdiam. “Menyelamatkan dunia? Bagaimana mungkin aku bisa—” “Kau harus menjadi penjahat dalam cerita itu.” “Apa?” “Seorang penjahat palsu.” “Kenapa aku harus menjadi penjahat untuk menyelamatkan dunia?” “Aku tak bisa menjelaskan semuanya. Tapi hanya dengan cara itu dunia tersebut bisa selamat.” Tubuh sosok itu mulai memudar. “Waktuku tidak banyak.” “Jadi… apa pilihanmu?” Lin Yuan terdiam lama. Lalu ia teringat suara kakeknya. Kau harus menyelamatkan banyak orang… Ia mengepalkan tangan. “Baiklah,” ucapnya mantap. “Aku akan menjadi villain dalam cerita itu.” Sosok bercahaya itu tersenyum tipis dan menunjuk sebuah pintu di belakang Lin Yuan. “Pergilah. Mulailah perjalananmu.” Tanpa ragu, Lin Yuan membuka pintu itu dan melangkah masuk. Sosok bercahaya itu menatap kepergiannya. “Kau benar… pak tua,” gumamnya pelan, teringat pada seorang pria dengan penutup mata. Perlahan, ruang putih itu runtuh dan menghilang. Bersambung…

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Trapped in My Future Boss

read
3.4K
bc

Menyala Istri Sah!

read
4.5K
bc

(Bukan) Cinta yang Diinginkan

read
21.6K
bc

(Bukan) Istri Simpanan

read
54.4K
bc

Gadis Tengil Milik Dosen Tampan

read
8.9K
bc

OM DEWA [LENGKAP]

read
8.2K
bc

Desahan Sang Biduan

read
56.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook