"Ann, makasih udah kasih aku kesempatan." Di hari berikutnya, Fabian kembali datang ke ruangan Anna. Ia membawa setangkai mawar merah yang kata laki-laki itu baru dipetik dari kebun depan. Anna menerimanya dengan suka rela meski sebenarnya ia tak begitu suka bunga. Menurutnya bunga itu, terlebih bunga mawar sangat merepotkan dengan duri-durinya yang runcing. "Kamu berhak kok dapat kesempatan ke dua, setelah kamu rela mau nyeberang jalan padahal banyak kendaraan yang berlalu lalang," jawab Anna seraya meletakkan mawarnya ke nakas. "Tapi aku nggak berhasil nyelametin kamu dari Rere." Fabian mencicit sendu. "Emang sih. Ngomong-ngomong itu perempuan gimana kabarnya? Masa dibiarin gitu aja, mau bunuh aku loh dia. Untung malaikat Izroil nggak jadi jemput aku." Anna menghela napas. "Udah dita

