SEMBILAN BELAS

1022 Words
Perjalanan singkat itu terasa menyenangkan bagi Adam dan Rafa tapi tidak dengan Fabian. Fabian menghela napasnya berkali-laki, ia merasa takut, sesekali matanya melirik pada Rafael dan Adam yang tengah membicarakan sesuatu. Anaknya yang berada dalam gendongan laki-laki itu tampak tersenyum, sesekali tertawa ketika mendapat bahasan yang lucu. Fabian tidak pernah melihat Adam seceria itu, tidak pernah sekali pun dengannya. Anak itu malah bersikap dingin, membangun benteng yang seolah tak mengizinkan dirinya berada di dalam benteng itu. Bahkan, interaksinya bersama Adam jauh lebih kecil dari interaksinya bersama Baim dan Yusuf. Adam juga jarang sekali memberi tahu Fabian perihal apa yang anak itu inginkan, jika saja Fabian tidak bertanya mungkin tak pernah ada barang favorite yang dapat Adam miliki. "Om, Mama Adam cantik loh," kata Adam lirih berharap hanya Rafa yang mendengarnya, sayangnya suara itu juga sampai di gendang telinga Fabian. Laki-laki itu tampak mengulas senyum, Adam mungkin tidak semenggemaskan anak-anaknya yang lain, namun anak itu memiliki cara tersendiri membuat oramg lain gemas dengannya. "Benarkah? Wah, Om jadi nggak sabar pengen ketemu," balas Rafa. Fabian meringis mendengar ucapan laki-laki tersebut. "Adam udah beneran nggak marah kan sama Mama? Kasihan Mama loh, nanti dia nangis, terus kecantikannya ngurang." Rafa memberi saran dan Adam hanya mengangguk sebagai jawaban. Tak lama akhirnya mereka sampai di taman. Rafa dan Adam mengedarkan pandangannya. Sementara Fabian sudah menahan napas, ia mempersiapkan diri mendapat amukan dari laki-laki di depannya itu ketika tahu siapa yang Adam maksud Mama. Tinjuan Rafael tentu akan didapatkannya, karena dirinya adalah si laki-laki b******k yang telah m*****i dan merusak masa depan sang adik. Meski sampai kini Fabian tidak yakin apakah dokter kandungan tersebut sudah tahu atau belum perihal adiknya yang pernah melahirkan anak. "Itu Mama Adam sama adik-adik Adam," kata Adam sambil menunjuk pada tiga orang yang duduk tak jauh dari mereka. Tiga orang itu menduduki sebuah bangku taman bercat putih yang memanjang. Rafael mengikuti arah jari telunjuk Adam, matanya menangkap bayangan seorang wanita yang duduk di antara dua anak bertopi. Posisi tiga orang yang Adam maksud itu membelakangi mereka, sehingga membuat Rafael tak bisa melihat siapa wanita itu. Entah mengapa ia sangat penasaran dengan wanita yang Adam maksud, jujur saja Rafa tidak pernah merasa sepenasaran ini. Laki-laki yang berprofesi sebagai Dokter kandungan tersebut mengernyitkan keningnya, merasa tidak asing dengan bentuk tubuh serta pakaian yang Mama Adam kenakan. "Om, turunin Adam. Adam mau minta maaf ke Mama," ucap Adam membuat Rafa terlempar dari lamunannya. Laki-laki itu mengangguk kaku lantas menurunkan Adam dari gendongannya, kebetulan tangannya sudah sedikit kebas menggendong tubuh anak itu yang memang sedikit berat. Setelah diturunkan Adam langsung berlari, ia berteriak memanggil Mamanya. "Mama!!" Adam langsung berhambur memeluk Anna, Anna terkejut ketika tangan mungil itu melingkar di tubuhnya, namun tanpa bisa ditahan sebuah senyuman terukir manis di bibirnya. Mata Anna kembali berkaca-kaca, wanita itu terharu karena sang anak sudah mau bertatap muka dengannya, bahkan memeluknya dengan erat. "Adam..." lirih Anna. Baim dan Yusuf yang seolah kehilangan perhatian Mamanya tampak mengerucutkan bibir, dua anak itu memandang kesal pada abangnya yang memeluk posesif sang Mama. "Bang jangan lama-lama peluknya, Yusup nggak kebagian ini!" Kesal Yusuf namun tak dihiraukan oleh Adam. Baim memilih diam karena paham betul peringai Abangnya yang tidak suka dibantah. Apalagi jika sudah menginginkan sesuatu. Adam itu begitu posesif memang. Jika tidak mengalah, salah-salah mereka bakal mendapat keketusan Abangnya tersebut. "Maafin Adam yang udah bikin Mama nangis. Adam nggak sengaja marah sama Mama," kata Adam yang membuat senyum Anna bertambah lebar. "Iya, nggak pa-pa. Mama paham, Mama kan udah jahat sama Adam, udah ninggalin Adam, Mama nggak pa-pa dibenci, Mama pantas mendapat itu," lirih Anna yang kini sudah terisak. Adam mendongak, anak laki-laki itu menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Tadi Adam memang marah sama Mama. Sekarang udah enggak. Kalau Adam terus-terusan marah, nanti Adam nggak pernah bisa dekat sama Mama. Adam mau Mama sayang ke Adam, Adam mau Mama nggak cuma sayang ke Baim dan Yusuf," lirih anak itu seraya mengusap bulir air di sudut mata Mamanya. "Mama bakal sayang sama Adam, nggak peduli Adam senggak suka apa pun ke Mama. Karena Adam anak Mama, semua bakal dapat kasih sayang Mama." Anna merangkum ketiga putranya ke dalam pelukan. Anna tidak sadar dua sosok di mana satu di antaranya memilik darah yang sama dengannya. Rafael Abraham, laki-laki itu hanya mampu mematung di tempatnya dengan pandangan nyalang. Tangannya terkepal erat, pemandangan di depannya sungguh di luar dugaan. Amarah itu mulai menguasai dirinya lagi, namun kali ini tidak tertuju pada adiknya, melainkan laki-laki yang kini berdiri di sisinya. Fabian Triatmoko. Laki-laki sialan itu benar-benar b******k. Rafa seharusnya tidak menyalahkan Anna, karena yang paling bersalah di sini itu pasti Fabian. Sejak awal pertemuan mereka Rafa memang sudah merasa tidak suka dengan laki-laki itu, semakin tidak suka ketika Fabian melamar Adara, dan kini rasa tidak suka itu sudah berganti menjadi benci. Rafael memberi tatapan tajamnya pada Fabian, sementara laki-laki itu hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia merasa malu, luar biasa malu karena pasti dirinya tidak dianggap bertanggung jawab. "Oh jadi kamu laki-laki b******k itu. Sekarang saya tidak heran siapa laki-laki b******k yang sudah merusak adik saya, yang bahkan sama sekali tidak berusaha memperbaiki keadaan. Ternyata itu kamu Fabian. Kamu juga yang pasti sudah memisahkan adik saya dengan putra-putranya, hingga membuat Adam sempat membenci Anna." Suara Rafa terdengar menusuk, ekspresinya benar-benar mengerikan. "Maafkan saya," lirih Fabian yang dibalas tawa sinis oleh laki-laki itu. "Maafmu tidak pernah bisa mengembalikan semuanya." Rafael mencengkeram kerah baju Fabian. "Kamu beruntung karena ada anak-anak kamu di sini, kalau tidak, saya tidak bisa menjamin gigi kamu masih utuh! Ingat, saya akan membuat perhitungan pada kamu. Saya harap kamu mempersiapkan diri kamu baik-baik." Rafa melepas cengkeraman tangannya dengan kasar. Laki-laki itu kemudian berjalan mendekati Anna. Anna yang menyadari kehadiran kakaknya tampak terkejut, matanya membola. "Ayo menemui Bunda, bawa anak-anak kamu sekalian," kata Rafa dengan suaranya yang sudah berubah melembut. Laki-laki itu memberikan tatapan memohonnya pada sang adik yang enggan menatapnya lama. Anna lebih memilih menatap ke arah lain. Rafa tahu adiknya kecewa dengan dirinya, dan Rafa tentu tidak bisa menahan kekecewaan sang adik. Ia tahu betapa keterlaluan dirinya. "Ayo kita selesaikan semua Anna, jangan egois," kata Rafa lagi. Pada akhirnya Anna hanya mengangguk patuh. Semua memang harus segera diselesaikan. TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD