"Rumah kamu di mana Dam? Biar Om antar. Kebetulan Om mau pulang nih, sekalian antar kamu," kata Rafa seraya menatap Adam yang ada di gendongannya. Adam menggeleng pelan.
"Lupa rumah Adam di mana," jawabnya lirih dengan kepala menunduk. Rafa berdecak.
"Ya udah, kamu kasih tahu Papa atau Mama kamu di mana, biar Om antar." Adam mengangguk, "Tadi Papa, Mama, sama adik-adik ada di taman sana Om. Om antarin Adam ke sana, mungkin Papa sama Mama Adam masih di sana," ujar Adam.
"Oke, kita ke sana ya?" Adam hanya mengangguk.
"Oke kita ke mobil Om aja." Rafa segera melangkahkan kakinya menuju parkiran rumah sakit. Baru saja ia mau membukankan pintu untuk Adam suara bariton seseorang memanggil nama Adam.
"Adam!!" Kepalanya dan juga kepala Adam sudah menoleh ke sumber suara. Rafa memicingkan matanya melihat siapa yang mendekat. Laki-laki itu memberikan tatapan sinis pada orang yang tidak lain adalah ayah kandung dari anak yang digendongnya ini.
"Ayah kamu Dam," bisik Rafa terdengar kesal.
"Astaga Dam, kamu ke mana aja? Papa cari-cari dari tadi ternyata kamu ada di sini," ucap Fabian Triatmoko dengan napasnya yang memburu tak beraturan, Adam masih enggan menatap sang ayah. Anak itu malah menatap pada kancing-kancing baju Rafa, seolah benda itu lebih menyenangkan dari kehadiran ayahnya.
"Kamu masih ngambek?" Tanya Fabian. Laki-laki itu mengelus puncak kepala Adam dengan penuh perhatian. Adam menggeleng, terlihat malas menjawab sang ayah. Dan Fabian hanya menghela napas memaklumi tingkah putra sulungnya tersebut.
Fabian baru mengedarkan tatapannya pada orang yang tengah menggendong putranya. Ia sedikit terkejut melihat siapa orang itu, ia tadi tidak memperhatikan wajah Rafa. Jadi maaf saja kalau ia tidak tahu. Fabian tersenyum canggung menatap Rafa yang malah menatapnya dengan sinis. Fabian sedikit malu karena dulu ia pernah melamar istri laki-laki di depannya ini. Fabian sebenarnya juga merasa malu sekaligus bersalah pada keluarga dari wanita yang masa depannya telah ia rusak tersebut. Perasaan bersalah itu lagi-lagi menyiksanya.
"Mas Rafael terima kasih sudah menjaga anak saya," kata Fabian sopan. Sejak dulu, lebih tepatnya sejak diperkenalkan oleh Adira bahwa Rafael Abraham adalah calon suami wanita itu, Fabian memutuskan memanggil Rafa dengan imbuhan Mas di depan nama dokter kandungan tersebut. Lagipula usia Rafa satu tahun lebih tua darinya, jadi tidak salah ia memanggil suami sahabat karibnya sewaktu kecil dengan panggilan Mas.
Rafa hanya bergumam sinis, tak berniat menanggapi laki-laki berkemeja biru navy di depannya ini. Rafa tidak menyukai Fabian karena laki-laki ini pernah melamar istrinya, enak saja mau menjadi suami Adara, lalu ia harus dikemanakan? Perlu dicatat bahwa dirinya suami sah Adara Prameswari. Tidak ada yang boleh menggantikan statusnya sebagai suami Adara Prameswari.
"Ayo Dam, biar Papa yang gendong kamu. Kita temuin Mama, Mama dari tadi sedih karena kamu lari gitu aja," kata Fabian lembut, ia mengulurkan tangannya bersiap menerima rengkuhan putra sulungnya tersebut.
Fabian Triatmoko sepertinya harus bersabar karena ternyata Adam malah menggelengkan kepalanya dengan tegas, anak itu memberi tatapan tajam padanya. Yang lucunya, tatapan dari anak berusia lima tahun lebih itu terasa mematikan untuknya.
"Biar saya aja yang gendong Adam ke Mamanya," kata Rafa. Suaranya terdengar sangat sombong. Ya seperti itulah Rafa, ia akan bersikap sombong di depan orang yang tidak disukainya, anak sulung Alena dan Leon itu ingin orang-orang yang tidak disukainya merasa terintimidasi.
Fabian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, pasalnya yang menjadi ibu dari Adam itu adik Rafa sendiri. Fabian belum bisa membayangkan bagaimana reaksi laki-laki ini nanti. Jujur saja, Fabian takut dengan kemungkinan yang ada. Ia benar-benar ragu.
"Sebaiknya tidak Mas Rafael. Saya takut merepotkan Mas Rafael," tolak Fabian halus, yang justru dihadiahi pelototan kompak dari Rafa dan Adam.
"Adam nggak mau ketemu Mama kalau Papa yang gendong Adam," ucap Adam. Fabian menghela napasnya lelah.
"Kalau gitu Adam jalan sendiri ya," bujuk Fabian.
"Nggak, Adam capek. Kebanyakan nangis," balas Adam dengan polosnya.
Lagi-lagi Fabian harus menghela napasnya. Sepertinya memang sudah waktunya mereka dipertemukan dalam satu waktu yang sama. Ia, ketiga putranya, Anna, dan juga kakak wanita itu.