TUJUH BELAS

705 Words
"Fabian, jangan lari-lari dong, aku susah mau ngimbanginnya! Kaki kamu panjang, kamu juga lebih leluasa geraknya! Kaki aku udah sakit, berhenti dong!" Teriak Rere kesal, Fabian hanya tak acuh. Ia terus berlari, matanya mengedar ke segala arah mencari keberadaan putranya. "Bian!! Kamu dengarin aku nggak sih?" Tanya Rere kesal. Wanita itu sudah menghentikan langkahnya, dan Rere sudah melemparkan tas tangannya hingga mengenai punggung ayah tiga anak tersebut. Fabian pun akhirnya menghentikan langkahnya juga, ia membalik badannya dan menatap Rere dengan tatapan datar. "Saya nggak nyuruh kamu ngikutin saya, untuk apa kamu mengikuti saya?" Tanya Fabian dengan kesal, membuat Rere semakin marah. "Lagipula, siapa suruh kamu pakai sepatu setinggi itu? Siapa juga yang suruh kamu pakai rok pendek? Saya nggak nyuruh. Jadi jangan salahkan saya," lanjut Fabian dengan tenang. "Aku calon istri kamu, aku berhak ngikutin kamu. Dan kamu harus rela dekat dengan aku setiap saat," kesal Rere dengan napas yang memburu, antara menahan amarah dan juga hasil dari berlarinya tadi yang ternyata menguras sebagian energinya. "Sejak kapan kamu jadi calon istri saya?" Laki-laki itu menghela napasnya kesal. Rere menggeram marah, "Apa kata kamu? Sejak kapan? Tentu saja sejak Mama kamu memperkenalkan kita. Aku calon istri kamu Fabian!" Teriak Rere seperti orang kesetanan. Fabian mendengkus sinis. "Jangan mimpi!" "Aku nggak mimpi. Kalau kamu menolak aku karena anak-anak kamu, kamu harusnya senang dong Bi. Ibu mereka udah balik, mereka bisa ngikut Ibunya. Kamu nggak perlu mikirin tiga anak sialan kamu itu. Kamu bisa fokus sama aku, kita bisa berduaan, bermesraan tanpa harus ada yang membebani. Aku tahu kamu pasti cinta kan sama aku?!" Ucap Rere tak tahu malu, padahal mereka sudah berada di tepi jalan. Tepatnya di trotoar di mana banyak kendaraan dan orang berlalu lalang. Fabian merasa marah mendengar ucapan Rere itu, mulut wanita itu benar-benar tak pernah disekolahkan. "Jaga mulut kamu Re, saya bisa merobekkannya dengan tangan saya sendiri," kata Fabian dingin. Begitu juga tatapannya yang seolah membekukan wanita itu. Rere tidak gentar, wanita itu malah tertawa. "Kamu jangan munafik Bi, aku tahu, bahkan setelah malam-malam yang kita lalui, kamu nggak mungkin melupakannya begitu saja kan?" Ujarnya sinis. "Kamu yang menjebak saya! Lagipula, tidak ada yang terjadi di antara kita. Saya bisa membuktikan itu!!" Teriak Fabian. "Jangan berpikir seperti itu Sayang. Kita sama-sama menikmatinya kalau kamu lupa." Sebuah senyum sinis terpatri di wajah cantik itu. "Kamu benar-benar!! Saya tentu saja menyayangi anak saya, kamu berkata seolah saya ini ayah yang buruk. Jaga bicara kamu, kamu tahu bukan, sedang berhadapan dengan siapa?" Ucap Fabian dengan suara tegasnya. Rere atau wanita bernama Regina itu memutar bola matanya malas. "Sudahlah, jangan memperumit keadaan Bi. Lagipula kamu memang butuh wanita buat jadi istri kamu kan? Aku tahu, beberapa waktu yang lalu kamu melamar wanita, tapi sayangnya kamu ditolak. Kalau kamu melamar aku, aku nggak bakal nolak. Tenang saja," ujar Rere dengan senyum menggodanya. Fabian mendadak kesal karena wanita itu mengungkit kejadian beberapa waktu yang lalu, di mana ia melamar seorang wanita yang tak lain ternyata istri Rafael Abraham, kakak Anna, yang juga sahabat semasa kecilnya dulu. Fabian pikir dengan kehadiran istri di hidupnya, anak-anaknya akan lebih bahagia. Fabian terlalu kalut waktu itu, hingga mengambil keputusan tanpa berpikir panjang, apalagi melihat Adara setelah sekian lama tidak bertemu membuat ide itu seketika muncul di kepalanya. Fabian di tempat sudah berusaha menahan dirinya untuk tidak berbuat lebih pada wanita di depannya itu. Ingin rasanya Fabian mendorong Rere ke tengah jalan, membiarkan kendaraan menabrak tubuh wanita itu. Bisa-bisanya dia berkata yang tidak-tidak, wanita itu pikir sedang berhadapan dengan siapa dirinya? Dia Fabian Triatmoko, dia bukan sembarang orang! "Saya memang butuh istri, tapi istri yang bisa merawat anak-anak saya, bukan istri yang ada untuk melayani saya saja. Lagipula, kamu tidak pantas menjadi istri saya. Tidak ada satu pun dari diri kamu yang bisa saya banggakan. Terlebih, kamu tidak menyayangi anak-anak saya. Saya tidak butuh istri yang mengabaikan anak-anak saya. Saya tidak butuh wanita bermulut setan seperti kamu!" kata Fabian tajam sebelum kembali melenggang pergi mencari keberadaan Adam, meninggalkan Rere yang mengepalkan tangannya dengan penuh amarah. "Lihat saja Fabian, sebentar lagi kamu akan jadi milikku. Tinggal tunggu waktu. Tidak ada yang bisa menghalangi aku, termasuk anak-anak sialanmu itu, atau wanita jelek ibu dari anak-anak jelek kamu," gumamnya penuh dendam. Matanya memancarkan kebencian yang begitu mendalam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD