"Mama kenapa balu datang? Baim loh udah dali lama pengen ketemu Mama," kata Baim yang semakin mengeratkan pelukannya di tubuh Anna.
"Mama ke mana aja? Cali uang buat beliin Yusup mainan ya? Tapi mainan Yusup udah banyak Ma, uang Papa ada banyak buat beli mainannya," kata Yusuf yang ikut mengeratkan pelukannya.
Anna masih menangis sesenggukan, berkali-kali wanita itu melayangkan kecupannya di puncak kepala Yusuf dan Baim. Anna paham sekarang, apa yang membuatnya merasa aneh ketika berdekatan dengan anak-anak itu. Mereka anak-anaknya, darah dagingnya. Anna senang bisa bertemu dengan putra-putranya, anaknya tumbuh dengan baik dan sepertinya mendapat curahan kasih sayang yang melimpah. Segala kebutuhan anaknya pun sudah terpenuhi. Mereka tidak kekurangan suatu apa pun dari sepenglihatannya dan juga yang Anna dengar dari perkataan Yusuf barusan.
Anna tidak bisa menggambarkan perasaannya. Ia senang, di lain sisi ia juga hancur. Senang karena akhirnya ia bisa melihat, memeluk, dan mengenal anak-anaknya. Hancur ketika dirinya ditolak oleh anak kandungnya sendiri. Anna merasa sesak melihat bagaimana reaksi Adam tadi, dadanya seakan dihujami ribuan belati. Rasanya benar-benar menyakitkan, sampai-sampai seluruh syarafnya mati rasa.
"Maafkan Mama, maaf karena Mama baru datang," lirih Anna diakhiri dengan segukannya. Mata wanita itu melirik Fabian, Fabian hanya mematung dengan tangannya yang masih digelayuti Rere. Laki-laki itu tak mampu berbuat apa pun setelah Anna menolak ia rengkuh tadi. Dia berdiri di sana seperti orang bodoh yang tak mengerti apa-apa.
"Kamu, tolong cari Adam, saya takut Adam kenapa-napa," lirih Anna nyaris tidak terdengar karena teredam isakannya. Anna sebenarnya kesal dengan Fabian, sudah tahu kalau anaknya pergi, bukannya mengejar karena ditakutkan akan terjadi hal buruk malah berdiam diri dan membiarkan dirinya digelayuti wanita seksi yang ingin sekali Anna sebut sebagai rubah betina.
Fabian merasa lidahnya kelu. Wanita itu rupanya masih enggan berbincang dengannya, terbukti karena Anna sama sekali tidak menatap matanya ketika berbicara, jangan lupakan suara wanita itu yang terdengar malas-malasan. Mungkin, jika bukan karena Adam, Anna tidak akan berbicara padanya.
Jujur saja, sejak tadi Fabian ingin mengejar Adam, namun melihat keadaan Anna yang kacau, laki-laki itu mengurungkan niatnya. Bukannya ia tidak sayang dengan Adam, tapi Fabian terlalu bingung harus menempatkan dirinya di mana. Sebagai ayah yang baik, atau sebagai sosok yang harus memulihkan hati seseorang di mana di masa lalu dirinya lah yang menjadi penyebab hancurnya hati itu.
"Baik," kata Fabian.
Laki-laki itu tampak melepas paksa cekalan Rere di tangannya. Sedari tadi wanita cantik itu tidak berbicara apa-apa, hanya menatap semua dengan tatapan datar terkadang pandangan merendahkan yang tertuju pada Anna dan kedua putranya.
Anna bukannya tidak sadar, jika saja kondisinya memungkinkan Anna sudah mau menerjang wanita bergaun ketat itu lalu mencolok matanya. Anna paling tidak suka dengan orang yang memandang rendah orang lain. Bukankah derajat seseorang itu sama di mata Tuhan? Buat apa menyombongkan diri? Tidak ada gunanya jika tidak memiliki hati yang baik. Baik pun kalau sombong juga sama saja, ibaratnya dia malah merendahkan diri di mata Tuhan.
"Apaan sih kamu, Bi?" Ketus Rere namun diabaikan oleh Fabian.
"Aku pergi dulu, tolong jaga Yusuf dan Baim. Yusuf, Baim, kalian baik-baik ya di sini?" ujar Fabian lembut, Anna dan kedua putranya kompak mengangguk, kemudian laki-laki itu melangkahkan kakinya menjauh, mengabaikan Rere yang masih membuntutinya dan berusaha meraih lengannya untuk digelayuti.
Anna menghela napasnya, tangannya terangkat menghapus air matanya sendiri. Wanita itu mengulas senyum tipis, kembali, ia mengecup puncak kepala Baim dan Yusuf.
"Maafin Mama ya?" Lirih Anna berulang kali.
Yusuf menegakkan badannya lebih dulu, mata beningnya yang menurun dari Anna menatap Ibunya tersebut, "Mama nggak salah kenapa minta maap? Yusup seneng Mama datang, Yusup udah lama nunggu Mama. Yusup nggak pa-pa Mama pelgi, yang penting Mama udah balik lagi," kata Yusuf dengan senyum lebar di wajahnya.
"Mama peluk Baim aja lasanya udah seneng banget," imbuh Baim.
"Kalau Mama minta maap gala-gala nggak beliin Yusup mainan, Mama nggak usah sedih. Mainan Yusup kan udah banyak, uang Papa masih banyak kalau buat beli mainan Ma," kata Yusuf yang membuat Anna gemas. Dikecupnya pipi anak itu dengan gemas.
"Mama Baim mau cium, jangan Yusuf aja!" Baim berujar kesal, anak itu menunjuk pipinya, meminta Anna menciumnya juga. Anak kembar memang suka iri begitu, ya? Anna tersenyum, perasaannya menghangat. Anna berharap Adam mau menerimanya, dan mau memaafkannya meski kesalahannya memang sangat besar. Setidaknya anak itu mau menatapnya, tidak masalah kalau Adam belum mau memaafkannya.
"Iya." Anna pun mencium pipi Baim, ia masih mempertahankan senyumnya. Senyum kecut lebih tepatnya.
"Mama, nanti kita ketemu Om Opan ya? Yusup mau pamel kalau Yusup udah ada Mama, telus Yusup mau ngejek Om Opan, soalnya dulu udah ngejek Yusup sama Bang Baim kalena pengen Mama jadi Mamanya kita. Kan sekalang Mama benelan Mamanya Yusup," ujar Yusuf dengan suara yang sedikit terbata.
"Nggak boleh saling ngejek, jangan ngejek balik ya? Itu nggak baik." Nasihat Anna. Yusuf dan Baim serempak mengucap 'Yah' dengan bibir mereka yang sama-sama mengerucut.
"Tapi Om Opan kan ngeselin Mama," ujar Baim tak suka.
"Tapi tetap nggak boleh, oke?" Dan Baim serta Yusuf pun hanya mengangguk, mereka kembali memeluk Mamanya dengan sayang.