LIMABELAS

1237 Words
Adam dan Rafa sudah duduk di kursi panjang bercat putih yang berada di taman rumah sakit. Mereka duduk bersisian, tatapan mereka sama-sama terarah ke depan. Adam dengan sisa tangisnya, cegukan yang tiada akhir. Sementara Rafael yang menampilkan wajah muramnya. Beberapa saat tidak ada yang membuka suara. Mereka masih setia dengan kebungkamannya. "Kamu cerita dulu dong, kenapa kamu nangis." Rafa lebih dulu membuka suara, laki-laki itu menolehkan kepalanya hingga menghadap Adam. Dari samping, wajah anak itu mengingatkan dirinya dengan seseorang. Wajah yang saat ini membuat perasaannya kacau. Dan Rafa merasa aneh dengan hal itu. Di sisi lain, Rafa mencoba berpikir bahwa kenapa ia bisa melihat adiknya---Annastasya---di wajah anak yang duduk di sampingnya tersebut, karena rasa bersalahnya yang terlalu besar. Rafa sadar, bahwa ia terlalu kasar pada Anna, ia memperlalukan adiknya dengan sangat buruk. Anna jelas bersalah, Anna jelas terpuruk, dan ia malah memperkeruh keadaan. Bagaimana kalau adiknya sampai melakukan tindakan di luar batas karena tekanan yang ada? Bunuh diri misalnya. Rafa sama sekali tidak memikirkan hal itu. Yang Rafa pikirkan adalah bagaimana emosinya bisa tersalurkan, mungkin kini emosinya sudah reda, tapi perasaan lain datang, perasaan yang lebih menyiksa dari amarah. Apa lagi kalau bukan penyesalan? "Adam nggak punya Mama Om, umur Adam udah hampir enam, terus udah lama ini Adam nggak tahu Mama Adam," jelas anak itu. Rafa terdiam beberapa saat. Ia sedikit takjub. Takjub karena cara bicara Adam yang terkesan seperti orang dewasa, tidak terlihat diucapkan oleh anak yang usianya saja belum genap enam tahun. "Anak Om usianya udah mau lima tahun, seumuran sama kamu, kamu bisa main sama anak Om kalau kamu kesepian," ujar Rafa menanggapi. Ia bingung harus berkata apa, laki-laki itu pikir, dengan menanggapinya demikian Adam akan sedikit terhibur. Rafa mengerti bagaimana hidup tanpa orang tua yang lengkap. Ia pernah bernasib sama, bedanya, waktu itu ia tidak mendapat perhatian seorang ayah di usia yang seharusnya malah mendapat perhatian lebih. Ia hanya tinggal bersama bundanya. Rafa masih ingat, nyaris setiap hari ia menanyakan keberadaan ayahnya. Ia baru bisa merasakan kasih sayang sang ayah ketika usianya sudah enam tahun, atau entah ketika usianya berapa karena nyatanya Rafa sudah lupa dengan masa lalu, masa kecil lebih tepatnya. "Adam nggak kesepian, adik Adam ada dua." Adam berkata singkat, suaranya mengalun rendah, tatapan matanya tertuju pada rumput hijau dengan pucuk yang sedikit kecokelatan. "Oh, terus ... apa yang buat Adam nangis kayak gini?" Tanya Rafa. Ia berusaha memahami Adam. "Mama Adam udah balik." Rafa seketika paham. Situasi Adam mungkin sama dengan yang ia rasakan ketika ia masih kecil dulu, namun sayangnya waktu itu ia masih terlalu polos dan tak mengerti apa-apa. Berbeda dengan Adam yang seperti banyak paham mengenai kerasnya kehidupan orang dewasa. Karena kalau tidak seperti itu, kepribadian Adam tidak akan terbentuk seperti sekarang ini. Entah harus berapa kali menjelaskan ini. Anak itu terlihat seperti orang dewasa yang terjebak di tubuh anak-anak. "Bagus dong kalau Mama Adam udah balik, setiap malam Adam bisa dibacain dongeng." Rafa menanggapi. "Adam nggak suka dongeng. Om, Adam nggak tahu kenapa Adam ngerasa marah sama Mama. Kenapa Mama nggak datang dari dulu, jadinya Adam nggak perlu denger teman-teman Adam ngatain Adam sama adik-adik nggak punya Mama." Adam mulai menangis, anak itu teringat ketika teman-teman se-playgroup-nya mengatai ia dan juga dua adiknya tidak memiliki Mama. Baim dan Yusuf mungkin tidak memasukkannya ke hati, tapi kata-kata itu terus saja terngiang-ngiang di kepalanya. Kali ini Rafa tak memberi tanggapan, ia menunggu Adam melanjutkan ceritanya. "Mama tiba-tiba datang. Adam pernah ngarep dia jadi Mama Adam, tapi Adam nggak pernah mau kalau dia Mama benerannya Adam. Tadi Adam bilang kalau Mama Adam udah mati. Adam pikir Adam bakal tenang habis ngomong gitu, tapi di sini..." Adam menunjuk dadanya sendiri. "Di sini nggak enak, Adam nggak tahu kenapa bisa kayak gini rasanya, padahal di sini nggak pernah kena luka, Adam nggak suka, rasanya mau nangis terus. Mama Adam nangis denger omongan tadi Om." Anak itu mengusap air matanya yang terus saja berderai. "Adam seharusnya nggak gitu ke Mama Adam. Kasihan Mama. Mama Adam mungkin pergi jauh dari Adam karena Mama Adam memiliki alasan," kata Rafa. Laki-laki itu mengusap puncak kepala Adam dengan sayang. "Alasan? Maksudnya Om Rafa apa? Alasan itu gimana? Apa alasan Mama lebih penting dari Adam? Mama lebih sayang sama alasan?" Tanya anak itu di luar dugaan Rafa. Rafa sudah biasa menanggapi pertanyaan nyeleneh Keano---putranya---tapi ia belum pernah mencoba menanggapi pertanyaan yang terlalu sensitif seperti yang Adam tanyakan baru saja. Yang bisa menjawab pertanyaan itu tentu saja objek yang mereka bincangkan, Mama Adam. Ia tidak memiliki kuasa menjawabnya, ia memiliki batasan yang tentu saja tak boleh dilampaui. "Om nggak bisa jawab pertanyaan itu, Dam. Om tidak bisa mengukur kasih sayang seseorang, apa lagi Om nggak kenal sama Mama Adam. Tapi percaya sama Om, Mama Adam pasti sayang sama Adam, cinta sama Adam. Mama Adam mau yang terbaik untuk Adam. Adam tinggal buktikan ke Mama, kalau karena dulu Mama udah pergi ninggalin Adam, Adam bisa menjadi anak yang lebih kuat," ujar laki-laki itu. "Buktikan? Buktikan itu gimana Om? Adam nggak tahu dan sama sekali nggak ngerti." "Dengan kamu tetap menyayangi Mama, kamu kasih seluruh rasa sayang kamu ke Mama. Jangan pernah tidak menyukai Mama. Sebelum kamu lahir, Mama udah banyak berkoban supaya kamu bisa hidup sampai sekarang." Rafa berhenti sebentar, ia mengedarkan tatapannya ke depan. Ia merasa konyol berbicara seperti itu dengan anak kecil. Memangnya anak ini bakal mengerti? Yang benar saja, jelas Adam belum mengerti. Ucapannya ditujukan untuk orang dewasa sementara Adam masih kecil. "Terus Om? Adam harus sayang sama Mama? Nggak boleh marahin Mama, gitu ya?" Rafa mengangguk mantap, sedikit takjub karena ternyata Adam paham dengan yang ia ucapkan. Adam benar-benar berbeda dengan anak kebanyakan. "Om dulu malah nggak ada Papa pas seumuran kamu gini, Papa Om lagi kerja. Jadi anggap aja kepergian Mama kamu pergi dulu, itu karena Mama lagi kerja. Ngerti?" Rafa tersenyum, dalam hati ia berharap Adam mengerti penjelasannya. "Adam ngerti Om. Terus, Om tadi mau bilang sesuatu, Om mau bilang apa?" Rafa berdeham terlebih dahulu. Ia ragu. Haruskah bercerita atau tidak, Rafa tidak mau pikiran Adam terkontaminasi oleh ceritanya. Ia tidak mau kalau ajang berceritanya dapat mengganggu pertumbuhan psikis anak ini. Namun, karena sejak awal ia sudah berjanji, maka ia pun akan berbicara. "Om udah buat salah sama adik Om. Om udah buat sedih adik Om. Om udah jahat sama adik Om," cerita Rafa. "Adam juga pernah jahat sama adik Adam. Adam pernah ngerobek uang monopoli Yusuf, sampai buat Yusuf marah ke Adam. Tapi Yusuf nggak marah lagi, pas Adam kasih uang monopoli Adam ke Yusuf. Om kasih uang monopoli Om ke adik Om, mungkin adik Om bakal berhenti sedihnya." Saran Adam dengan pemikiran polosnya. Meski memiliki pikiran dewasa, Adam tetap anak-anak berusia lima setengah tahun. "Beda Dam, adik Om nggak berhenti sedih hanya karena Om kasih dia uang monopoli. Om udah kelewatan," kata Rafa. "Kenapa nggak puter balik, Om, kalau udah kelewatan?" Rafa tertawa. "Om nggak bisa putar balik, ada rambu-rambu yang bilang nggak boleh putar balik, Dam." Laki-laki itu masih tertawa. Tawa yang terdengar hambar. "Kalau nggak bisa putar balik, ya mundur aja Om," sahut Adam. Rafa terdiam. Mundur? Mungkin, dalam masalahnya disebut mengalah. Ia harus mengalah dengan egonya, mencoba berbicara dengan Anna, berbicara dengan kepala dingin, menanyakan dan meminta penjelasan atas apa yang terjadi. Mungkin adiknya memang tidak bersalah. Siapa tahu, kan? Lagipula, dia juga harus meminta maaf pada Anna. Hati adiknya mungkin saja hancur lebur karena ucapannya. Rafa melupakan sesuatu. Ia terlalu percaya diri bahwa Anna akan memaafkannya. 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD