EMPAT BELAS

965 Words
Adam berlari tak tentu arah. Anak itu menangis. Kulit putihnya tampak memerah. Adam rupanya tidak sadar bahwa dirinya sudah berlari sampai memasuki area rumah sakit. Yang ada di pikirannya ia harus bersembunyi. Bersembunyi dari rasa sakit yang nyatanya tak ia ketahui apa penyebabnya. Bersembunyi dari banyak hal yang tidak bisa ia pahami dengan otak dan pikirannya. Adam sendiri belum begitu paham tentang perasaanya. Entah mengapa ia merasa marah dengan wanita cantik yang ditemuinya tadi. Selama ini ia selalu mengharapkan kehadiran sang Mama. Setiap malam Adam berdo'a agar Tuhan mau berbaik hati mengirimkan seseorang yang bisa memperlakukannya juga adik-adiknya dengan baik dan penuh kasih sayang. Tapi ia berdo'a bahwa seseorang itu bukanlah ibu kandungnya. Bagi Adam, ia tidak memiliki ibu kandung, anak itu telah menganggap bahwa ibu kandunganya lebih memilih pergi daripada merawatnya. Sehingga tidak ada harapan yang tersisa di hati Adam perihal sang ibu kandung. Adam merasa marah bertepatan ketika ayahnya berkata bahwa wanita yang sebelumnya Adam panggil dengan sebutan Tante Anna itu adalah ibunya, ibu kandung yang dulu pernah ia inginkan kehadirannya, namun tak kunjung menampakkan diri di depan dirinya. Dulu, Mamanya pergi. Ia sama sekali tak mengenal rupa, nama, dan bagaimana sosok ibunya. Sekarang, kenapa tiba-tiba Mamanya datang begitu saja? Adam tidak paham. Dan ia membenci dirinya sendiri yang tidak kunjung menemukan jawaban. Adam benci karena ia tidak paham harus bertingkah seperti apa. Ia tidak mengerti kenapa ia harus berpikir seperti itu, dirinya ingin abai, sama seperti kedua adiknya, namun kenapa tidak bisa? Kenapa dirinya malah semakin memikirkan hal itu? Kenapa Adam tidak bisa menghapus pikiran buruknya? Adam benar-benar tidak tahu. Demi Tuhan, usia anak itu masih kisaran lima tahun. Adam bukan manusia dewasa dengan banyak pengalaman yang bisa memecahkan masalahnya sendiri. Bahkan, orang dewasa pun belum tentu bisa memecahkan masalahnya sendiri. Apalagi dia? Mencari jawaban dari tambah-tambahan satu sampai lima saja ia belum begitu bisa, apa lagi masalah orang dewasa yang menyangkutkan diri Adam dalam masalah itu? Pemikiran Adam memang sudah lebih dewasa dari kedua adiknya, tapi belum tentu juga anak itu bisa memahami apa yang terjadi. Lari Adam tiba-tiba terhenti ketika bocah itu menabrak sebuah tubuh. "Astaga!" Pekik suara berat yang baru saja ia tabrak. Adam merasa takut seketika. Dengan ragu anak itu mendongakkan kepalanya, pandangannya bertemu dengan seseorang yang tengah meringis. "O-Om Adam minta maaf, Adam nggak sengaja," ucap Adam gugup, namun sarat akan ketakutan. Laki-laki yang baru saja putra Fabian Triatmoko itu tabrak tampak menghela napasnya, merubah ekspresinya menjadi sedikit lebih ramah demi mengurangi ketakutan anak di depannya tersebut, lalu berjongkok, menyejajarkan tingginya dengan tinggi Adam tentunya. "Om nggak pa-pa kok. Kamu nggak apa-apa, kan?" Giliran laki-laki itu yang bertanya. Adam mengerjapkan matanya bingung, lalu dengan polosnya ia melihat tubuhnya sendiri, tidak menemui sesuatu yang salah dalam dirinya Adam pun menggelengkan kepala tidak berniat menjawab dengan suaranya. Laki-laki itu tersenyum, mengacak rambut Adam dengan pelan. Senyum lebar terukir manis di paras tampannya itu, "Kamu sendirian di sini? Kenapa kamu nangis?" Tanyanya kemudian, kali ini dengan suara yang lebih lembut. Tangan besar laki-laki tersebut terangkat, mengusap linangan air mata di pipi anak itu. Sementara itu Adam menggelengkan kepala di sela isakannya. Laki-laki itu merasa bingung, mulai khawatir bahwa yang menyebabkan anak di depannya ini menangis karena bertabrakan dengan tubuh besarnya. "Kamu nggak kenapa-napa kan?" Tanyanya lagi, masih dengan nada lembut. Ada rasa khawatir yang terbalut di dalam suara itu. Adam menggeleng, tapi kemudian mengangguk. Anak itu bingung harus menjawab apa. "Nama Om, Rafael. Panggil aja Om Rafa. Kalau kamu? Nama kamu siapa?" Tangannya mengusap puncak kepala Adam. "Adam," jawab Adam singkat. Laki-laki yang ternyata kakak Anna, Rafael Abraham, itu tampak mengangguk, entah mengapa hatinya berdesir melihat anak yang sepantaran dengan putra sulungnya ini. Melihat wajah anak ini, Rafa merasa familiar. Ah, Rafa ingat. Anak ini anaknya Fabian. Laki-laki yang pernah melamar istrinya dulu. "Nama Papa kamu Fabian bukan?" Tanya Rafa. Ia sebenarnya kesal mengingat laki-laki yang pernah melamar Adira, istrinya dulu. Adam hanya mengangguk kecil mendengar nama ayahnya disebut. "Kamu kenapa sendirian di sini? Papa kamu di mana? Mama kamu? Nggak baik anak kecil berkeliaran di rumah sakit sendirian. Ayo, Om antar Adam ke orang tua Adam," ujar Rafa lembut. Adam seketika menggeleng, tangisnya mendadak histeris. "Nggak mau, Om. Nggak mau Mama, Mama jahat!" Rafa sedikit terkejut mendengar teriakan Adam. Laki-laki itu cepat berpikir, apa yang membuat anak sekecil ini seperti ketakutan ketika ia menanyakan Mamanya. Rafa sedikit mengambil kesimpulan, sepertinya anak di depannya tersebut sedang bertengkar dengan sang Mama. Makanya anak ini menangis sambil berlari. Sedang ngambek toh rupanya. "Kamu kenapa bicara begitu? Kasihan Mama kamu, kalau Mama kamu dengar kamu berkata seperti itu, Mama pasti sedih." Adam menunduk dalam, ia takut dimarahi oleh laki-laki dewasa di depannya itu. Rafa sedikitnya tahu bahwa Adam takut dengannya. "Kamu mau cerita ke Om Rafa? Mungkin aja Om Rafa tahu solusinya. Gimana?" Adam berpikir sebentar, penawaran yang terdengar menggiurkan. Siapa tahu ia bisa menemukan jawaban atas pertanyaan yang berkumpul di kepalanya. Lagipula Om-Om di depannya ini terlihat baik, meski sudah ia tabrak, tapi Om-Om ini tidak marah, justru bertanya dengan lembut padanya. "Boleh Om," lirih Adam. "Bagus. Kamu hapus dong air mata kamu, anak laki-laki pantang menangis," ujar Rafa seraya mengusap sudut mata dan pipi Adam yang masih basah sejak kali pertama ia mengusapnya tadi. Lagi-lagi hati Rafa berdesir. Ia seperti menemukan sesuatu yang hilang, tapi Rafa tidak tahu mengapa rasanya bisa seperti itu. Adam mengangguk, kemudian tangan mungil anak itu mencoba mengusap matanya yang masih berair. "Nah, gitu dong. Kamu kan makin keliatan ganteng, kayak Om." Rafa tersenyum, ia mengangkat tubuh Adam ke gendongannya. "Kita cari tempat buat curhat yuk? Nggak enak kalau ngobrolnya di emper rumah sakit. Om juga pengen ngomong sesuatu ke kamu." Adam tersenyum tipis, kemudian mengangguk. Tangan mungilnya melingkar di leher Rafa. Kemudian Rafa membawa Adam pergi ke area taman rumah sakit. TBC Gaje ya? Maaf :)
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD