TIGABELAS

846 Words
Anna tidak tahu harus berkata apa, di lain sisi ia sangat bahagia karena pada akhirnya ia tahu bahwa ternyata tiga anak kembar berwajah tampan yang sejak pertemuan pertama begitu menggetarkan hatinya itu memang putranya. Pantas saja selama ini ia merasakan getaran aneh dan rasa bahagia yang selalu menjalar ketika berhadapan dengan tiga anak ini. Namun, di sisi lain pula ia juga merasa sedih. Ia kembali dipertemukan dengan seseorang yang sudah menghancurkan masa depannya, merusak kebahagiaannya, dan membuatnya seperti w************n. Laki-laki yang beberapa tahun lalu membuatnya tidak percaya akan yang namanya cinta. Luar biasa. Bagaimana perasaan kalian ketika bertemu dengan orang yang menyakiti hati kalian? Apa yang akan kalian lakukan? Menampar dan mencaci makinya? Menendang k*********a tanpa ampun? Membuat wajah tampannya tak lagi berbentuk? Semua opsi terasa menyeramkan, tapi percayalah, ketiga opsi itu yang pertama kali muncul di otak cantik Anna ketika melihat Fabian yang berjalan mendekat dengan seorang wanita cantik berpakaian super minim. Hell, ini Indonesia, negara dengan budaya timur yang menganggap kalau pakaian super seksi sangatlah tabu. Bagaimana bisa tanpa malunya wanita itu berpakaian seperti ini? Bahkan sampai berkeliaran di muka umum. Anna pikir lebih baik wanita itu tidak berpakaian saja kalau niatnya hanya untuk menggoda laki-laki. Yang Anna pikirkan benar bukan? Dan entah kenapa Anna sangat kesal melihat Fabian yang tampak oke-oke saja ketika lengannya digelayuti dengan manja oleh wanita seksi itu. Anna mendesis, menilai bahwa semua laki-laki itu sama. Menyukai wanita seksi dengan d**a montok yang justru ingin ia jadikan samsak tinju. Anna mulai tidak paham, kenapa dirinya bertingkah seperti seorang wanita yang cemburu karena laki-lakinya tergoda oleh wanita lain. Anna sudah mengubur perasaannya dalam-dalam semenjak ia memutuskan untuk kembali ke Indonesia, jadi tidak mungkin bukan kalau di masih mencintai laki-laki itu. "Boys, sepertinya ... Tante harus pergi. Tante mau nengokin Papa Tan-Tante dulu. Lain kali kita ketemu lagi, ya?" Dengan paksa dan sedikit gugup Anna pamit ke tiga anaknya itu. Sejujurnya, sedari tadi Anna sudah menahan air matanya, ia juga menahan dirinya untuk tidak memeluk ketiga bocah tampan itu. Sumpah demi apa pun, ingin rasanya Anna memeluk Adam, Baim, dan Yusuf. Ia tidak pernah tahu rupa anaknya. Ah ralat, anak-anaknya, karena ternyata putranya tidak hanya dua, melainkan tiga. Wanita itu tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Ia bahagia, namun jauh dari kata itu, ia sangat bahagia. Sakit rasanya ketika Anna harus menahan diri, sakit rasanya ketika Anna tidak bisa berbuat apa-apa. Lehernya seperti tercekik, Anna ingin berteriak di depan anak-anak itu, bahwa dirinyalah Ibu yang mereka maksud, Ibu yang dengan tega meninggalkan mereka ketika mereka masih merah. Ibu yang dengan egoisnya mempertahankan memilih pergi daripada mengurus anak-anaknya. Hancur tidak cukup sempurna untuk mendeskripsikan perasaannya. Ia lebih dari kata hancur. Lebur pun tak cukup cocok. Mungkin lebih tepatnya hancur lebur tak bersisa. Ia merasa pantas mendapat kebencian dari Kakak dan juga Bundanya. Ia hina, sangat hina. Tanpa menunggu lama pun, air mata Anna sudah meluncur, menari-nari eksotis di pipi mulusnya yang tampak putih merona. Adam, Baim, dan juga Yusuf tampak heran melihat wanita yang begitu mereka sayangi meski belum kenal dekat tersebut menangis. Mereka menghiraukan Ayah mereka yang sudah berdiri di sana. Jarak yang sangat dekat yang semakin meremukkan diri Anna. "Tante kenapa?" Tanya Adam. Anak itu biasanya tak melibatkan emosi di setiap ucapannya, ia begitu datar, dingin, dan tak tersentuh. Namun kali ini Adam terlihat sangat sedih. Anna tak mampu bersuara, ia hanya menggeleng lemah. "Anna aku..." "PAPA KENAL TANTE ANNA?!" Teriak Baim, anak itu tersenyum lebar. Masih tak paham dengan situasi yang terjadi, sehingga dengan lancangnya ia memotong ucapan sang ayah. Untuk sesaat Fabian terdiam. Melihat Anna yang manangis sesenggukkan, ia tahu apa penyebabnya. Fabian pikir, inilah saat yang tepat untuk anak-anaknya tahu bahwa wanita di depan mereka inilah ibu yang selalu mereka tanyakan. "Dia ... Mama kalian." Suaranya tercekat. Anna semakin sesenggukkan. Ketiga anak itu malah melongo. Sementara si Wanita Seksi memandang Anna tidak suka. Fabian melayangkan tatapan lembutnya pada Anna. Ia ingin sekali merengkuh tubuh ringkih itu, memeluk dan mencium wanita yang menjadi ratu dalam hatinya. Tapi, Fabian tahu. Dirinya tidak lebih menjijikkan dari sebuah bangkai tikus. Tidak mungkin Anna mau menerima pelukkannya. "Mama?" Baim bersuara. Ia menatap Anna dengan tatapan berkaca-kaca. "Yusup punya Mama? Yusup punya Mama cantik? Yusup nggak mimpi kan? Yusup lela kasih uang Yusup buat tahu kalau ini bukan mimpi," ujar Yusuf yang sudah berhambur memeluk Anna. Adam hanya diam. Ia melirik datar pada wanita yang sempat ia khawatirkan itu. Perasaan marah kini mendominasi hati Adam. Adam tidak tahu apa penyebabnya, tapi kini ia merasa sakit hati. "Kamu bukan Mama Adam. Mama Adam udah lama mati!" Teriaknya lantas berlari menjauh. Anna menjerit seperti orang kesetanan, membuat Yusuf mundur lantaran merasa takut, tidak ada yang lebih sakit dari mendengar ucapan dari darah dagingnya sendiri yang mengatakan ia telah tiada. Fabian melepas kasar tangan Rere yang bergelayut manja di lengannya. Laki-laki itu merengkuh tubuh Anna ke dalam pelukannya, menenangkan Anna yang seperti kesetanan itu. Anna menolak, enggan menerima sentuhan Fabian. Hati Fabian ikut hancur. Ia laki-laki bodoh yang membuat peristiwa pilu itu terjadi. Ia laki-laki bodoh tanpa tahu malu. Ia si Bodoh yang harusnya disalahkan atas kejadian itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD