Anna mengarahkan langkahnya menuju taman rumah sakit, hingga akhirnya ia menemukan kursi taman yang memanjang. Anna pun mendudukkan dirinya di sana, tidak peduli jika orang yang lewat akan memandangnya aneh karena terus-terusan menangis. Mungkin banyak dari mereka yang berpikir kalau dirinya baru saja kehilangan salah satu anggota keluarga yang sangat dicintainya, dan sebagainya.
Anna sudah mencoba menghentikan tangisnya, namun entah kenapa hal itu rasanya sangat sulit. Ia tidak bisa untuk berhenti menangis barang sebentar saja. Bayang-bayang ketika kakaknya berkata kasar terus menggentayangi pikirannya, ia tidak mampu mengenyahkan pembuat rasa sakitnya itu. Anna merasa benar-benar lemah sekarang.
"Gue nggak nyangka kesalahan lo lebih gede daripada kesalahan gue," ucap seseorang yang baru duduk di sisinya. Anna mengusap air matanya, lantas menolehkan kepala ke arah orang tersebut, seulas senyum tampak terpatri di wajahnya. Sebuah senyuman yang seakan mengejek Anna.
"Ngapain lo di sini?" Ketus Anna dengan suara paraunya. Orang itu mengedikkan bahunya tak acuh, lantas menyenderkan tubuh tegapnya pada sandaran kursi, tangannya sudah bersedekap d**a, sementara matanya sudah memejam.
Tak mendapati jawaban, Anna menundukkan kepalanya.
"Lo lupa istri gue dirawat di sini?" Setelah beberapa detik terdiam, suaranya mendadak menyambangi indra pendengaran Anna. Membuat Anna kembali memusatkan penglihatannya pada orang itu.
"Gue tahu. Maksud gue, kenapa ... lo ada di sini, sementara lo harus nungguin istri lo?" Tanya Anna dengan suaranya yang sedikit-sedikit tersedat, lantaran tangisnya yang cukup lama tadi.
Anna memindai seluruh tubuh adiknya, ya orang itu adiknya, Alvaro Abraham, siapa lagi memang? Tumben sekali adiknya itu hanya mengenakan celana jeans dan kaos oblong berlengan pendek sebatas siku-siku. Yang membuat Anna heran itu bukan karena laki-laki itu mengenakan kaos dan celana jeans, tapi sosok itu yang terlihat luar biasa berantakan.
"Istri gue kritis." Suara Alvaro mendadak terdengar parau. Anna hanya diam, ia tidak memiliki kata untuk membalas ucapan adiknya selain bela sungkawa.
"Tapi gue nggak mau bahas kesedihan gue." Laki-laki itu berdeham, matanya senantiasa terpejam. "Gue kira, lo anak Ayah dan Bunda yang paling lurus. Ternyata enggak." Kekehan lirih terlontar dari mulutnya. Kelopak matanya sudah terbuka, melirik kakaknya yang terlihat rapuh.
"Kenapa lo keliatan seneng? Bukannya istri lo sekarat?" Anna bertanya. Pandangan matanya tampak kosong.
"Karena kesalahan lo lebih gede daripada gue. Apalagi?" Tatapannya mengejek Anna dan Anna hanya mengangguk sebagai pembenaran atas ucapan adiknya itu.
"Ya lo bener. Gue itu sampah. Iya kan? Lo mau ngomong gitu juga kan, ke gue?" Tanya Anna. Wanita itu tersenyum kecut.
"Sok tahu lo. Nggak lah. Bagi gue lo tuh kakak terhebat, ya meski lo nganggap diri lo semenjijikkan sampah. Di sini gue nggak bakal ngehina lo. Gue bakal dukung lo kak. Gila aja kalo semua orang mojokin lo, bisa-bisa lo bunuh diri lagi." Alvaro terkekeh, hal tidak biasa yang sekarang ia lakukan. Alvaro itu terkenal minim ekspresi, dan jarang sekali laki-laki itu tertawa.
Anna heran, istri adiknya tengah kritis, tapi wajah adiknya itu malah terlihat berseri. Ya, meski beberapa saat yang lalu wajah itu terlihat mendung. Anna tahu, adiknya ini memang berusaha menunjukkan senyum padanya, hanya wajahnya yang terlihat bahagia, dan jika dilihat dari matanya, maka kesedihan yang dapat ditemukan.
"Lagian lo dulu satu-satunya orang yang masih mau nanyain kabar gue, sementara yang lain udah lupain gue aja. Kak, lo nggak ada niat buat bunuh diri kan? Kalau ada, gue bisa bantu." Anna mendengkus, namun bibirnya mulai berkedut ingin mengulas seulas senyum. Anna menghargai usaha Alvaro untuk membuatnya tersenyum itu. "Sialan lo! Gue nggak sebodoh itu kali!"
"Siapa tahu? Kali aja iman lo setipis softex istri gue."
"b******k!" Anna tertawa. Meski air mata masih setia membasahi pipinya.
"Nah gitu dong, ketawa." Alvaro ikut tertawa.
"Gimana anak lo? Lo nggak ada keinginan nemuin Ayah sama Bunda? Gue rasa udah waktunya lo ketemu sama mereka." Anna menasihati.
"Sok kasih nasihat lo. Kasus lo aja lebih berat dari gue. Btw, anak gue udah sehat, dan saran lo. Emang rencananya gue mau nemuin Ayah sama Bunda dalam waktu dekat ini," jelas Alvaro.
"Oh." Respon Anna singkat. Ia baru sadar, tangisnya sudah mulai mereda. Perasaannya pun sudah sedikit tenang.
"Kak, gue saranin, lo tenangin diri lo sendiri. Nggak usah berusaha buat orang lain tenang kalau lo sendiri aja belum tenang. Mending lo curhat sama Tuhan, Tuhan kasih lo cobaan kayak gini tuh biar lo kuat, biar lo lebih dekat dengan-Nya, bukan buat lo musihin Dia. Lo juga jangan masukin perkataan Abang dan sikap Bunda ke hati, lo tahu kan kalau mereka lagi emosi?" Alvaro terlihat sangat bijak dengan kata-katanya.
"Ya. Nggak cuma emosi, mereka murka. Apalagi Ayah jadi kena serangan jantung," lirih Anna.
"Lo jangan jelasin saat mereka lagi emosi, sebesar apa pun usaha lo. Lo nggak bakal dapat hasilnya. Gini Kak, kemarahan Bang Rafa itu karena dia sayang sama lo, bukan karena dia benci sama lo. Saking sayangnya, dia terlalu marah besar, sampai-sampai dia nggak bisa ngekontrol emosinya." Anna mengangguk, ia setuju dengan ucapan adiknya itu.
"Ya lo bener."
Alvaro mengangguk, "Gue yakin, beberapa hari kemudian, Abang bakal datengin lo dan sujud-sujud minta maaf ke lo. Percaya sama gue."
"Thanks. Ucapan lo sedikit bantu gue." Anna menepuk bahu Alvaro.
"Gue gitu loh. Gue juga mau terima kasih." Alvaro tampak tersenyum.
"Buat?" Tanya wanita itu bingung.
"Karena udah buat masalah yang lebih gede dari gue. Jadi, gue bukan anak Ayah Bunda yang paling buruk sekarang," kata Alvaro diakhiri tawa.
"Sialan!"
"Nggak ya. Udah dibantu juga, malah ngatain. Ngomong-ngomong, anak lo gimana? Cowok apa cewek?" Alvaro bertanya hati-hati, ia memperhatikan air muka saudarinya yang terlihat semakin keruh. Alvaro yakin, kakaknya benar-benar terpuruk. Ya, dia menyaksikan bagaimana kakak sulungnya menghina kakak perempuannya ini dengan lantang dan kasar. Tapi Alvaro bisa memahami perasaan Abangnya. Abangnya terlihat sangat kecewa. Meski tindakan Abangnya sama sekali tak bisa dibenarkan.
"Nggak tahu. Gue sama sekali nggak tahu wujud dan rupa anak gue."
"Lo, nelantarin anak lo sama bapaknya?"
"Nggak. Gue nggak pernah mau nelantarin anak gue. Udahlah jangan dibahas," kata Anna terlihat malas menjelaskan. Dan Alvaro tak lagi berusaha tahu. Kalau sudah waktunya, kakaknya ini pasti akan berterus terang padanya.
***
Berjalan pelan, Anna menyusuri taman kota yang tidak jauh dari tempat ayahnya dirawat. Ia masih mencoba menghibur dirinya sendiri. Perkataan Alvaro membuatnya bertindak demikian, Anna ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu, sebelum mencoba menenangkan orang lain.
Anna berhenti di sebuah danau buatan yang tidak begitu luas. Ia mengernyitkan dahinya melihat ketiga anak yang tampak asyik berdebat. Entahlah apa yang mereka debatkan.
Anna melangkah mendekati tiga anak itu, rasa penasaran tiba-tiba menguasai dirinya. Selain itu, Anna tidak merasa asing dengan sosok ketiga anak tersebut.
"Pelahuku kok udah nyebul aja ya? Keltasnya mulahan nih," kata anak bertopi putih bertuliskan huruf B di bagian depannya.
"Kayak pelahunya Yusup dong, nggak basah-basah juga." Anak bertopi putih dengan tulisan huruf Y di depannya tampak menyahut.
"Berisik." Sementara anak bertopi putih bertuliskan huruf A itu terdengar kesal.
"Astapilulah. Bang Adam nggak boleh kasal, nanti adik nangis. Abang nggak dikasih uang jajan sama Papa." Si Anak bertopi Y kembali bersuara.
"Salah Yusuf, yang benel tuh Astaghfilullah." Si Anak Topi B membenarkan ucapan Si Anak Topi Y yang salah mengucap istighfar.
"Eh iya, Astaghpilullah." Anak yang memanggil dirinya dengan nama Yusup itu menyahut dengan kekehan.
"Terserah. Lagian itu masih salah, yang bener itu Astaghfirullah." Anak yang dipanggil Adam itu membalas acuh.
"Ih, kan kita emang belum bisa bilang ep sama el," ucap Yusuf dengan raut cemberutnya.
"Kamu aja ya Suf, Abang Baim kan cuma belum bisa bilang el." Baim mambalas sambil mejulurkan lidahnya.
"Au ah gelap. Tapi Alhamdulah. Uang jajan Bang Adam buat Yusup. Bisa Yusup tabung nih, Yusup otewe ngalahin Tuan Klab sama Mail."
Yusuf bersorak senang, melupakan fakta bahwa dirinya baru diejek oleh sang kakak. Anna ikut tertawa menyaksikan interaksi lucu ketiga anak itu.
"Yang bener Alhamdulillah, kamu masih salah itu." Adam berkata kesal. Yusuf hanya tersenyum tanpa dosa.
Anna ingat sekarang, ketiga anak itu adik atau entahlah siapa dari murid didiknya, yang jelas tiga anak itu memiliki hubungan dengan salah satu muridnya yang bernama Naufan. Anna pun berjalan mendekati anak-anak itu. Entah perasaannya saja atau bagaimana, Anna merasa hatinya sudah membaik sekarang. Ya berkat ketiga anak itu.
"Hai? Apa kabar semua?" Tanya Anna yang langsung mendudukkan dirinya di antara ketiga anak itu.
"Eh? Tante Cantik." Kompak mereka bertiga, dan Anna hanya tersenyum. Sepertinya tiga anak itu mengingat dirinya.
"Kok kalian main di pinggir danau? Bahaya loh. Orang tua kalian ke mana?" Tanya Anna lembut. Ketiga anak itu kembali kompak, mereka menampilkan ekspresi cemberut.
"Mama nggak ada Tan, nggak tahu ke mana. Kalau Papa, Papa lagi diajak jalan sama Tante Miskin. Ke salon katanya. Kemarin Baim sama Adam habis bakar rambut Tante Miskin. Yang separuh panjang, yang separuh tinggal setengah." Anna tidak tahu harus berekspresi bagaimana mengenai jawaban polos anak yang ia ketahui bernama Adam itu. Kalimat pertama terdengar sedih, namun kalimat terakhir terdengar lucu.
"Papa tega Tan sama kita, masa kita ditinggalin di sini? Kalau ada olang yang mau nyulik kita-kita yang kata Oma ganteng dan imut ini gimana? Telus minta uang tebusan yang banyak gimana? Kan bangklut, nanti Yusup nggak jadi nyaingin Tuan Klab," celetuk Yusuf. Anna terkekeh, dalam hati merasa bingung dari mana anak itu bisa belajar berkata demikian. Diajari orang tuanya kah? Atau mungkin murid didiknya yang sedikit menyebalkan itu yang mengajari tiga anak polos ini untuk berkata demikian?
"Nanti kita culik penculiknya balik, telus minta uang. Gimana?" Baim memberi usul.
"Eh boleh, Bang Baim pintel deh, Yusup seneng dengelnya. Nanti Yusup banyak uang dong." Yusuf justru mengangguk semangat.
"Kalian apaan sih? Buat malu di depan Tante Cantik aja. Jangan ngomongin uang bisa nggak sih? Om Opan kalian percayain, masih kecil juga." Adam berkata ketus. Anna benar-benar tak dapat menahan tawanya. Apalagi melihat ekspresi Baim dan Yusuf yang tampak lucu dengan ekspresi kesalnya. Oh, ternyata benar ulah pencemaran otak anak-anak polos itu adalah muridnya sendiri. Terbukti dari ucapan Yusuf menyangkut Om Opan-nya.
"Udah-udah, jangan ribut dong. Kalian kan saudara. Mending kita jauh dari sini, bahaya kalau sampai kecebur terus nggak ada yang nolong." Ketiganya kompak mengangguk.
"Eh itu Papa Tan. Papa udah balik dong." Anna mengerutkan keningnya mendengar Baim berkata Papa. Wanita itu mengikuti arah yang ditunjuk oleh Baim, seketika tubuhnya melemas melihat objek yang anak itu tunjuk.