SEBELAS

838 Words
Anna tidak tahu lagi harus melakukan apa. Setelah berhasil menenangkan dirinya sendiri, wanita itu memutuskan untuk menyusul ke rumah sakit satu hari kemudian. Ia sangat mengkhawatirkan keadaan ayahnya, dan Anna sudah menyiapkan diri jika sewaktu-waktu ia kembali mendapat cercaan dari sang kakak. Anna segera bergegas menuju ruang rawat sang ayah setelah bertanya dengan suster. Wanita itu berhenti sebentar, tubuhnya seakan gemetar melihat Ibu dan kakaknya saling berpelukan dengan air mata yang beruraian. Mendadak rasa takut mulai menyergapnya. Dengan langkah tertatih didekatinya kakak dan ibunya tersebut. "Bun..." parau. Suara Anna terdengar sangat parau. Rafa tampak mengusap air matanya, ia menatap Anna dengan tajam. Sementara sang Bunda tampak enggan melihatnya. "Puas kamu? Puas kamu udah bikin ayah sekarat?!" Sentak Rafa. Laki-laki itu tampak melepas pelukannya dengan sang Bunda, lalu berdiri dan segera mencengkeram lengan Anna. Rafael Abraham, laki-laki itu mengabaikan ringisan yang keluar dari mulut adiknya. Rafa sadar apa yang ia lakukan malah memperburuk suasana. Tapi Rafa tidak bisa mengendalikan dirinya, laki-laki itu merasa bahwa memarahi Anna dan mengeluarkan semua uneg-unegnya lah yang dapat mengikis emosi dalam jiwanya. Memang benar, pemikiran Rafa itu memang benar. Namun menjadi sangat salah karena Rafa tidak memikirkan bagaimana akhir dari kemarahannya. "Maaf. Aku benar-benar minta maaf. Bang, dengerin penjelasan Anna dulu." Anna menarik paksa tangannya, dan ia segera berlutut di hadapan Bundanya yang duduk di kursi tunggu itu. "Bunda, Bunda dengerin penjelasan Anna ya? Bunda ... Bunda maafin Anna. Anna nggak bersalah Bun," ucap Anna dengan suaranya yang terdengar semakin tak jelas. Tangan Anna berusaha meraih tangan Alena, namun segera Alena tarik. Alena tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya, tapi sungguh. Ia tidak ingin melihat putrinya saat itu juga. Hatinya sudah hancur lebur, batinnya berperang, menyalahkan dirinya sendiri yang tidak becus mendidik anak. Pertama, ia sudah gagal mendidik Alvaro menjadi sosok yang patuh, karena putranya malah menentang keputusan mereka dan memilih sang pacar. Dan kedua, Anna. Kesalahan Anna sangat besar. Aib yang tidak bisa dimaafkan. Aib yang bisa saja merubah cara pandang orang lain terhadap keluarganya. Munafik jika Alena tidak memikirkan nama baik. Keluarganya terkenal erat dengan kerohaniannya, akan terdengar sangat memalukan jika orang lain tahu salah satu anaknya telah memiliki anak di luar pernikahan. Alena tahu dirinya salah, ia masih mencoba membuka hatinya, ia masih mencoba menenangkan dirinya agar mampu memaafkan sang putri. Setidaknya, jika ia tidak mampu memaafkan Anna, ia bisa mendengar cerita putrinya. Bagaimana bisa kejadian buruk itu terjadi, dan bagaimana pula nasib cucunya yang entah di mana keberadaannya. Alena hanya butuh waktu untuk menerima semuanya. "Pergi," lirih Alena. Air mata wanita itu terus berjatuhan. Menggambarkan bagaimana perasaannya yang sudah luluh lantah. Alena menyuruh putri sematawayangnya itu bukan karena apa-apa, tapi dia tidak mau jika putra sulungnya akan bertindak lebih yang malah menyakiti hati Anna. Alena tidak mau hubungan anak-anaknya tercerai berai. Anna masih bergeming di tempatnya, ia menolak pergi. Ia ingin mendengar suara ibunya yang berkata bahwa beliau sudah memaafkannya. Anna tahu untuk detik itu permintaannya terlalu berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Dia hanya manusia biasa, bukan manusia super yang bisa menekan egonya sendiri. "Pergi, kamu pergi..." lirih Alena lagi. Dan untuk yang kesekian kalinya Anna menggeleng, memilih memeluk kaki bundanya. Rafa yang geram dengan kekeras kepalaan Anna, tanpa berpikir panjang menarik tubuh adiknya itu dan menyeretnya sedikit menjauh. Rafa tidak peduli dengan tatapan semua orang, lagipula ia tidak sedang menggunakan jas dokternya, tidak ada masalah bukan? Rafa sangat beruntung karena hanya satu orang yang melihat perilaku buruknya itu, orang itu pun memilih pergi, malas ikut campur dengan urusan orang lain. "Kamu tuli ya?! Bunda bilang pergi ya pergi! Kamu jangan menjadi sampah gini Na, aku malas menyentuh sampah menjijikkan seperti kamu!" Hinanya membuat Anna benar-benar hancur. Sampah menjijikkan, ya? Apa Anna sekotor itu, sampai-sampai kakaknya tak mau menyentuh dirinya? Rasanya hati Anna lebih hancur daripada ketika ia mendapatkan luka yang Fabian torehkan dulu. Anna tidak tahu bahwa kakaknya bisa berbicara sekejam itu padanya. Ya Tuhan, kakak kandungnya sudah sebegitu jijiknya dengan ia. Apalagi orang lain? Anna berada di titik terendah dalam hidupnya sekarang. Ia butuh dukungan untuk tetap bertahan, bukan hinaan seperti sekarang. Di sini ia korban, tapi diperlakukan seperti terdakwa hanya karena tidak ada yang mau mendengar penjelasaannya. Kesalahannya memang besar, tapi apakah mendengarkan penjelasannya itu sangat sulit? Atau, apakah suaranya terdengar sangat menjijikkan? "Bang." Anna menggelengkan kepalanya. Namun Rafa semakin murka. Laki-laki itu sudah tidak peduli, dengan kesal ditendangnya tubuh sang adik, hingga wanita itu terkapar di lantai. "Pergi sialan!!" Pada akhirnya Anna menurut, dengan tertatih ia berusaha bangun. Diseretnya dengan paksa kedua kakinya menjauhi tempat itu. Kakaknya benar-benar jahat. Rafael Abraham sangat jahat. Tidak bisakah laki-laki itu menjadi tokoh protagonis lagi? Bisakah kakaknya itu meredam amarahnya dulu? Bisakah kakaknya itu mengesampingkan egonya barang sebentar saja? Bisakah Rafael Abraham tidak menatapnya dengan kemarahan? Ke mana kakaknya yang dulu sangat pengertian? Ke mana Rafael Abraham yang dulu selalu menjadi tameng penjaganya? Ke mana Rafael Abraham yang selalu menenangkan dirinya ketika ia berada dalam masalah? Lalu, ke mana Anna harus pergi jika kehadirannya tak lagi diterima? Apa ia harus mati saja? Bukankah ia hanya sebatas sampah yang menjijikkan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD