Anna masih menangis ketika ambulan datang dan segera membawa ayahnya ke rumah sakit. Alena, Bundanya tampak lemas. Anna tak mampu melakukan apa-apa, ia masih terpaku di tempat yang sama. Sementara itu, kakak dan juga kakak iparnya--Adara--dengan sigap membawa anak-anak mereka ke lantai atas, bermaksud menghindarkan buah hati mereka dari pemandangan membingungkan yang takutnya membuat pertumbuhan psikis mereka terganggu.
Keano---putra kakaknya---sebenarnya ingin bertanya pun urung, karena tangan besar ayahnya sudah menarik ia menuju lantai atas. Anna berusaha mendekati Ibunya, tangannya terulur hendak mendekap sang Bunda, namun Alena malah menepis.
Anna mengerti, meski sang Ibu tidak berteriak di depan wajahnya dengan melontarkan makian, hinaan, atau pun semacamnya, tapi Anna tahu, Ibunya itu tengah marah besar. Kesalahan yang ia buat terlalu fatal, ia tidak lagi kotor, Anna merasa dirinya lebih buruk dari kotor. Lihat saja, bahkan wanita yang mengenakan hijab berwarna biru dongker itu tampak enggan ia sentuh. Sekotor itu kah, dirinya?
"Bunda," lirihnya parau. Alena masih melengos, enggan menatap putri sematawayangnya itu.
"Maafin Anna Bun, Anna tahu Anna salah. Tapi, bukan sepenuhnya salah Anna Bun, dengerin penjelasan Anna dulu," kata Anna di sela isak tangisnya. Alena menggeleng. Masih enggan berbicara.
"Kamu tidak bisa membuat pembelaan Na, kamu benar-benar bersalah. Tidak ada gunanya kamu membohongi kami lagi." Suara Rafa membuat Anna menoleh, kakaknya itu tengah berjalan menuruni anakan tangga. Rahangnya tampak mengeras, menjadi bukti kuat bahwa laki-laki itu juga sedang marah padanya. Bahkan suara sang Kakak terdengar sangat dingin di telinganya. Matanya tampak menatap Anna dengan tajam, tatapan jenaka itu tidak lagi terlihat oleh netranya.
"Bang, tapi emang bener, Anna nggak benar-benar bersalah. Anna ... Anna nggak melakukan itu atas kemauan Anna sendiri. Anna ..." Anna seakan tak mampu melanjutkan ucapannya. Lidahnya kelu, ingatan masa lalunya mulai berdatangan, menghantamnya perlahan hingga membuat Anna goyah. Goyah secara mental.
Ingatan ketika Fabian, Si b******k itu m*****i dirinya membuat Anna tak mampu berbicara apa-apa. Suaranya tertahan di tenggorokkan. Hanya isakan yang keluar dari mulutnya.
Rafa sudah berdiri di sisi sofa, laki-laki itu mendengkus sinis, benar-benar muak dengan ekspresi sang adik yang terlihat rapuh. Ia mendadak jijik dengan adiknya ini. Rafa benar-benar kecewa. Ia sebagai kakak merasa gagal memberi contoh yang baik untuk adik-adiknya, tidak hanya Anna, Alvaro, adik bungsunya itu juga telah membuat malu keluarga, merusak nama baik kedua orang tuanya dengan memilih sang kekasih daripada orang-orang yang sejak ia lahir selalu ada di sisinya.
Namun, kasus Anna terdengar lebih menjijikkan daripada kasus Alvaro yang lebih memilih minggat dari rumah. Rafa pikir, jika Anna tidak berniat melakukan itu bersama laki-laki yang entah siapa orangnya, Anna bisa menolak, bukan menerima begitu saja sampai mendapatkan hasil. Rafa tidak mengerti jalan pikir adiknya ini.
"Anna ... Anna..." Anna masih berusaha menjelaskan namun ia seperti benar-benar kehilangan kemampuan berbicaranya. Alena, wanita itu tampak menggeleng, semakin memperlihatkan kekecewaannya pada sang putri.
"Kamu mau bilang diperkosa begitu?! Na, logikanya ya, kalau kamu benar mau diperkosa kamu bisa tendang kemaluan orang itu! Kamu pasti lolos. Kalau kamu berkata tidak bisa, itu artinya kamu sudah lebih dulu menikmati!" Sarkas Rafa tak lebih dulu menyaring ucapannya. Anna merasa semakin tertohok.
"Bang!"
"Sudah aku bilang, nggak ada gunanya kamu membuat pembelaan. Sekali di mataku salah, akan selamanya tetap salah! Kamu kotor An, benar-benar kotor. Kamu sudah menjadi noda. Kamu mempermalukan keluarga. Pas kamu berbuat itu, apa yang kamu pikirkan?!" Suara Rafa terdengar menggelegar. Rafa merasa tindakannya sekarang adalah suatu kebenaran. Jelas saja, ketika seseorang marah, apa pun yang dilakukan akan terasa benar. Sekalipun, hati nuraninya tahu bahwa itu kesalahan. Ego yang dimiliki terlalu kuat. Hingga hati nuraninya tertutupi oleh keegoisan.
"Kamu tidak ingat bagaimana wajah Ayah dan Bundamu? Kamu tidak mengingat bagaimana Ayah, bagaimana Bunda yang tersenyum bahagia, kemudian sekarang menangis? Kamu tidak ingat kalau penyakit Ayah kumat? Kamu kenapa mau-maunya menjadi wanita menjijikkan?! Jangan menjadi w************n kalau kamu menyandang nama Abraham!" ujarnya keras. Alena hanya membiarkan saja, ia merasa lemas tidak bertenaga, lemas karena terus mendapat hantaman kenyataan bahwa dirinya telah gagal menjadi seorang Ibu. Gagal mendidik anak-anaknya. Ia tidak pantas menjadi Ibu.
Mungkin, ini balasan dari Tuhan atas kesalahan-kesalahannya di masa lalu.
Pandangan Rafa melembut ketika menatap Bundanya. "Bun, ayo kita ke rumah sakit, kita susul Ayah," ucap laki-laki itu lembut dan langsung diangguki oleh sang Ibunda.
Rafa lantas meraih tubuh rapuh Bundanya, memapah wanita yang rela mengandung dan menggadaikan nyawa ketika melahirkannya itu untuk berjalan keluar. Mereka harus segera mendampingi sang kepala keluarga yang tengah meregang nyawa. Meninggalkan Anna dalam kesendirian di ruangan itu.
"Tuhan, Engkau melihat sendiri bagaimana aku berusaha, tapi kenapa Engkau membuat semuanya menyalahkanku? Tuhan, apa Engkau benar-benar ada? Jika Engkau ada, kenapa Engkau tidak membantuku? Kenapa Engkau membuatku dibenci?" Anna berkata frustasi. Wanita itu menjambak rambutnya sendiri dengan kasar.
"Aku mulai meragukan keberadaan-Mu Tuhan. Engkau tidak pernah membantuku," ucap Anna lagi, masih terdengar sama frustasinya.
Dari banyaknya orang di sana tidak ada yang benar-benar paham dengan perasaan Anna. Anna hancur, sama hancurnya. Anna membutuhkan dukungan, bukan hinaan. Anna membutuhkan tangan yang mau merangkulnya, membawanya bangkit dari gravitasi jurang yang terus menariknya ke dalam kesakitan, Anna membutuhkan tangan yang mau menghapus air matanya ketika tangannya sendiri tak lagi berfungsi. Anna membutuhkan kata-kata penyemangat bukan caci makian. Anna tahu, hamil di luar nikah merupakan kesalahan yang sangat besar, bahkan sangat hina di mata Tuhan. Tapi ia sudah berusaha keras mempertahankan kesuciannya.
Tangis Anna terhenti ketika sebuah tangan mungil merangkul tubuhnya. Mengusap sudut matanya yang berair. "Onty Na. Onty Na kenapa nangis? Pelmennya Onty Na jatuh? Onty Na jangan nangis, ya? Nanti Nono kasih pelmen Nono ke Onty Na. Pelmen Nono ada banyak," lirih Keano. Anak itu mencium mata Anna. Bukannya berhenti, Anna semakin mengencangkan tangisnya, ketika merasa ada yang mampu menjadi tumpuannya biarpun itu hanya seorang anak-anak.
"Onty Na nangisnya kalau Nono buat lepot Onty Na aja ya?" Anna menggeleng, mempererat dekapannya pada tubuh mungil Keano.
"Tuhan nggak adil No, Tuhan nggak adil," kata Anna membuat Keano kebingungan.
"Tuhan nggak adil kalena nggak kasih Onty Na pelmen? Telus yang dikasih cuma Nono doang gitu ya?" Tanya anak itu polos. "Onty Na tenang aja, kapan-kapan Tuhan bakal kasih Tante Anna pelmen yang banyak. Tante halus sabal, lajin do'a makanya, kayak Nono dong," ucap Keano lagi.
Sebenarnya, jika Anna bisa berpikir jernih, Anna bisa menangkap maksud baik dari ucapan polos keponakannya itu. Permen bagi anak-anak adalah kebahagiaan. Kata Keano, untuk mendapat permen, haruslah sabar dan banyak berdo'a, sama dengan kebahagiaan, untuk mendapatkan itu haruslah sabar dan rajin berdo'a, berusaha juga tentunya. Tentu saja Tuhan itu adil, hanya saja, Tuhan tidak selalu memberikan apa yang kita mau dalam satu waktu. Tuhan akan memberikannya secara berangsur-angsur, sampai kita paham bahwa tidak selamanya apa yang kita mau, akan terkabul saat itu juga.
TBC
Sampai sini, masih mau lanjut?
Jawab dong. Saya ngerasa cerita ini sama sekali nggak ada antusiasnya. Saya butuh dukungan. Tolong dong, kasih dukungan, saya nggak minta muluk-muluk, cukup vote dan komen. Komen dua atau tiga kata nggak lebih lama ketika saya menulis setiap partnya. Beneran deh. Udah gitu aja. Maaf untuk typonya.