Pagi menjelang siang itu rumah Fabian tampak ramai dengan tawa anak-anaknya. Ketiga anaknya tersebut tengah bermain, halaman bersama Naufan. Baim dengan sepeda kayuhnya, Adam yang menemani Yusuf yang tengah memasang lilin-lilin di atas kue tart pemberian sang Papa karena pagi-pagi buta sekali anak bontot Fabian Triatmoko tersebut merengek meminta dibelikan kue ulang tahun. Padahal tidak ada juga yang sedang ulang tahun.
Sementara Fabian, laki-laki itu tampak duduk di serambi rumah yang menghadap langsung ke halaman, Fabian tampak sibuk dengan laptop yang menampilkan pesan email dari beberapa kolega kerjanya.
Pagi ini seharusnya ia masih ada di kantor, namun karena rengekan putra-putranya---Yusuf dan Baim lebih tepatnya---akhirnya laki-laki itu memutuskan untuk tidak ke kantor. Lagipula tidak ada yang melarang Fabian bolos kerja, tidak ada juga yang akan memarahinya, Fabian kan bosnya. Fabian memang sudah memutuskan untuk menemani anak-anaknya bermain, meski kenyataannya Fabian tetap lebih mengutamakan pekerjaannya. Kebetulan hari ini Naufan juga sedang tidak masuk sekolah, bukan karena membolos tapi karena sebagian besar gurunya harus mengikuti workshop di luar kota, sehingga pembelajaran pun akhirnya diliburkan daripada murid-muridnya masuk namun malah tidak melakukan apa-apa di sekolah.
"Siang Sayang," tiba-tiba saja pipi Fabian dicium. Fabian menolehkan kepalanya, matanya berotasi malas melihat orang yang kini duduk di kursi depannya.
"Untuk apa kamu ke sini?" Tanya Fabian dengan suaranya yang terdengar dingin.
Regina justru tersenyum, wanita itu tampak menyilangkan kakinya sebelum tangannya beralih mengibas-ngibaskan rambut pirang panjangnya yang digerai.
"Ya mau ketemu kamu dong, kan kamu calon suami aku," kata Regina. Tampaknya wanita itu memang bermuka tebal, buktinya ia tidak malu mendatangi Fabian lagi padahal satu minggu yang lalu ia sudah melukai anak dari laki-laki yang diicarnya tersebut.
"Saya nggak suka kamu dekat-dekat dengan saya. Kita sama sekali tidak memiliki hubungan, baik sekarang atau pun tahun-tahun yang sudah berlalu." Fabian bersedekap d**a, masih dengan tatapan datarnya ia melayangkan pandangan pada Regina.
Regina tertawa renyah, sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Fabian barusan. Regina bertopang dagu dan memandang Fabian dengan senyum menggodanya.
"Aku nggak peduli tuh, terserah apa kata kamu, aku nggak bakal peduli."
"Gila!"
"Aku kan gila karena kamu." Fabian memilih diam, mengabaikan Regina.
Regina pun tak lagi berbicara, wanita itu masih setia bertopang dagu dan menatap intens Fabian yang menekuri laptopnya.
"Ehm, kamu cium bau-bau sesuatu yang kebakar, nggak?" Tanya Regina dengan hidung yang mengendus-emdus. Fabian menghentikan kegiatannya, ikut mengendus bau seketar sebelum akhirnya ia menangkap penampakan putra bungsunya yang tengah memegang lilin menyala dan mengarahkan api lilin itu ke rambut Regina. Ketiga anaknya tampak menahan tawa, ia pun ikut menahan tawa. Lain halnya dengan Naufan yang sudah tertawa di tengah halaman.
Menolehkan kepalanya, mata wanita itu seketika melotot horor melihat ujung rambutnya terbakar. Regina segera menampik lilin yang Yusuf pegang hingga lilin itu terlempar jauh.
"Apa yang kalian lakukan?!" Sentaknya keras yang dibalas tawa oleh Triplet. Tiga anak itu tampaknya sangat puas melihat sebagian rambut Regina tinggal setengah.
"Kalian ya!! Bian, anak-anak kamu jahatin aku. Kamu harus lakuin sesuatu." Regina merengek dengan sudut-sudut matanya yang mulai mengeluarkan butiran air. Fabian mengedikkan bahunya. Tidak peduli.
"Tante, Tante tuh halusnya seneng, lambut kuning Tante bisa makin kuning gala-gala dibakal sama Yusup!!" Yusuf berkata dengan tawanya yang nyaring.
"Ini bukan kuning, tapi pirang!! Astaga aku baru mewarnainya kemarin, dan sekarang?!!"
Yusuf dan kedua kakaknya tertawa.
"Bagus tahu Nte, yang sepaluh panjang yang sepaluh pendek," sahut Baim.
"Bonusnya dapat bau daging panggang," imbuh Adam.
Mata Regina langsung tertuju pada Fabian yang menampilkan ekspresi tidak tahu apa-apanya.
"Aku nggak mau tahu. Kamu harus anterin aku ke salon," ucapnya penuh penekanan.
****
Anna tidak main-main dengan ucapannya, satu minggu kemudian atau lebih tepatnya hari ini, wanita itu sudah duduk di hadapan kedua orang tuanya di ruang keluarga. Alena dan Leon tampak bingung ketika putri tunggalnya itu berkata ingin berbicara hal penting dengan mereka.
Sebenarnya Anna merasa gugup, benar-benar gugup, jantungnya berdebar cepat, seperti ketika ia baru mengikuti lari marathon. Namun keputusannya sudah bulat, kalau tidak sekarang, kapan lagi?
"Yah, Bun, sebenarnya..." Suara Anna terdengar bergetar, dan Anna yakin, cepat atau lambat air mata pasti akan meluruh membasahi kedua pipinya.
Untuk beberapa saat, Anna merasa tak mampu berkata-kata, lidahnya begitu kelu. Ia menarik napas lalu menghembuskannya perlahan. Anna memberanikan dirinya menatap kedua orang tuanya yang masih setia menatapnya dengan bingung itu.
"Sebenarnya apa An? Kamu kalau bicara jangan setengah-setengah, apalagi sama orang tua. Kualat loh," kata Leon, ayahnya tidak sabaran.
Kemudian bundanya menyahut, "Kamu mau bicara apa? Dari tadi diam terus? Kalau nggak ada yang mau diomongin, mending udahan aja ya kalau nggak benar-benar penting? Bunda mau masak, udah sore gini. Kakakmu tadi telepon Bunda, katanya mau datang." Bundanya berbicara seraya melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
Sang Ayah tampak mengangguk dengan tangan yang membelai rahang tegasnya. Rahang itu tampak ditumbuhi oleh bulu-bulu halus dengan beberapa di antaranya sudah memutih. Usia tidak lagi dapat dibohongi memang.
"Ini tentang Anna." Suara Anna terdengar pelan. Kedua orang tuanya kompak mengerutkan kening. "Iya? Apa yang nggak kita ketahui dari kamu? Kamu mau dipindah tugaskan ke luar kota? Atau kamu yang mau kuliah lagi? Atau, kamu sudah menemukan jodoh kamu? Pacar kamu mau datang melamar? Kalau dua terakhir itu, Bunda siap dengerinnya. Umur kamu udah mau dua lima tahun, sudah seharusnya kamu menikah dan memberi Bunda dan Ayah cucu. Kakak kamu aja udah kasih kami tiga cucu, kamu kapan?" Ucapan Bundanya membuat mata Anna berkaca-kaca.
Anna udah kasih kalian cucu. Batin Anna menjerit. Sesak yang ia rasa semakin terasa.
"Ayah dan Bunda juga udah tua. Ayah mau lihat anak-anak Ayah bahagia dengan pasangannya masing-masing, Rafa, kamu, dan ... Alvaro. Tidak ada orang tua yang mau anak-anaknya tersakiti. Alvaro, biarpun anak itu sudah mengecewakan kami, tapi kami tetap mengharapkan yang terbaik untuknya." Suara Ayahnya terdengar parau, seperti mau menangis.
Anna sepenuhnya paham. Ia jadi merasa takut memberitahu rahasianya pada orang tuanya itu. Perasaan takut karena telah mengecewakan itu perlahan mulai hadir kembali, membuatnya meragu. Anna benar-benar takut mengecewakan Ayah dan Bundanya. Anna benar-benar takut dengan respon mereka. Seandainya kedua orang tuanya tidak marah, Anna tahu jika kedua orang tuanya nanti pasti merasa hancur. Hancur karena tidak bisa mendidik putrinya.
"Ayah, Bunda, Anna benar-benar minta maaf." Kalimat itulah yang mampu Anna ucapkan, kalimat-kalimat lain hanya mampu berkumpul di tenggorokkannya. Tak berani keluar hingga sampai di gendang telinga dua manusia yang berjasa atas hidupnya ia di dunia ini tersebut.
"Kamu minta maaf karena apa sih, An? Kayak udah buat kesalahan gede aja." Bundanya tertawa. Begitu juga ayahnya.
Anna menatap Alena dan Leon dengan diam. Ia menarik napas dalam-dalam.
"Anna memang sudah melakukan kesalahan besar, Yah, Bun." Tawa Alena dan Leon seketika terhenti. Mereka manatap penuh tanya pada Anna. Mereka tidak lagi berbicara, menunggu Anna melanjutkan ucapannya.
"Anna dulu ... Anna..." Kemampuan merangkai kata Anna seolah menghilang. Kumpulan frasa yang semula sudah ia siapkan mendadak lenyap begitu saja, membuat wanita itu bingung harus mengatakan apa.
"Anna punya anak." Akhirnya ia mampu mengatakan tiga kata itu setelah lama menenangkan diri.
Ayahnya berdeham sebelum membalas ucapan Anna yang terdengar ngawur karena wanita itu mengucapkannya dengan lagat asal. "Kami tahu kamu sudah lama menjomlo, kalau kamu pengen punya anak, nikah dulu dong. Cari pacar, terus ajak nikah. Kalau perlu, cari laki-laki yang nggak cuma nyatain cinta ke kamu, tapi langsung ngelamar kamu ke orang tua kamu. Ayah butuh laki-laki yang serius," kata Ayahnya disertai kekehan.
"Betul kata Ayah. Kamu udah terlalu matang, teman-teman kamu banyak yang sudah gendong anak. Kamu kapan nikah?" Bunda menyahut.
"Anna nggak lagi becanda Yah, Bun. Anna benar-benar punya anak," Anna mengulangi ucapannya. Tangis yang ia tahan akhirnya pecah juga. Wanita itu menangis sesenggukan. Mengabaikan kedua orang tuanya yang kompak memasang wajah kaget.
"Maksud kamu?" Suara ibunya nyaris tidak terdengar. Lain halnya dengan sang ayah yang memegangi dadanya dengan lagak seperti sesak napas. Beberapa detik berselang tubuh ayahnya sudah terkulai di sofa.
Kepanikan semakin menjadi seiring dengan teriakan nyaring sang Kakak yang berada di ambang pintu ruang keluarga tanpa memedulikan di gendongannya ada sang putra yang tampak terlelap.
TBC
Kemarin mau update tapi nggak sempet. Hari ini aja dobel apdetnya yah?