"Pelit tahu Nte, beli baju buat badan sendili aja pelit, apalagi buat olang lain?" Kata Yusuf dengan tatapan kesalnya yang tertuju pada wanita itu.
"Apa?!" Wanita itu, Regina, atau yang kerap disapa Rere tersebut tampak kaget. Tatapannya yang semula terlihat ramah, sekarang tampak marah. Kesal bukan main dikatai seperti itu oleh bocah yang usianya saja belum genap enam tahun.
"Yusuf bilang. Pelit, buat beli baju sendiri saja pelit, masih kurang bahan, apalagi buat orang lain?" Fabian berkata datar, berbicara seolah membenarkan ucapan putranya, menganggap kalau Rere tidak paham atau tidak mendengar dengan jelas bahasa cadel sang putra.
"Iya, gitu Tan. Selain pelit, telinga Tante banyak kotolannya ya? Sampai segitunya nggak dengel omongan Yusup. Baim aja dengel jelas," kata Baim.
Naufan dan Putra yang menyaksikan itu hanya terdiam dengan tangan yang menutupi mulut mereka, menahan tawa yang sudah siap meledak.
"Dia kan pelit buat beli pembersih kuping." Adam menyahut, matanya menatap Rere dengan sinis.
Di ruangan itu, Rere seperti dipojokkan. Ia seperti tidak mendapat dukungan. Bahkan, Fabian pun malah ikut memojokkannya. Padahal sewaktu ia mulai menggoda Fabian, laki-laki itu hanya pasrah, sama sekali tidak menolak bahkan terkesan menerima dengan senang hati perlakuannya. Dasar laki-laki, munafik sekali!
"Tante mau nikah sama Papanya Yusup buat minta duitnya Papa supaya ngasih Tante duit ya?" Yusuf sudah berdiri di depan Rere, tangan anak itu tampak menarik-narik rok pendek Rere. Hal yang ia lakukan pada resepsionis perusahaan ayahnya terulang lagi.
"Tante nggak boleh gitu. Mending Tante minta ke Tuan Klab. Uangnya Tuan Klab banyak loh, lebih banyak dali uang Papa. Sampe-sampe bisa dibuat mandi," lanjut Yusuf dengan tatapan polosnya. Anak itu tampak mengingat-ingat beberapa adegan di kartun Spongebob yang menyajikan saat di mana Tuan Krab tengah menikmati uang hasil jerih payahnya dengan digunakan untuk mandi.
Regina benar-benar kesal sekarang. Anak dari laki-laki yang diincarnya tersebut sudah melakukan penghinaan secara terang-terangan padanya. Ia tidak bisa diam saja, ditambah tangan anak itu yang semakin keras menarik ujung roknya. Dengan kasar Regina pun menghempaskan tangan mungil Yusuf, lantas mendorong tubuh anak itu hingga Yusuf nyaris terjengkang, apabila tak segera Fabian tangkap.
Baik Fabian, Naufan, Putra memberi tatapan tajamnya. Namun Rere sama sekali tidak mempedulikan hal itu. Karena nyatanya saat ini wanita itu malah menatap pongah ke arah Fabian.
"Dasar anak kurang ajar. Sopan sama yang lebih tua. Kalian nggak pernah diajarin sopan santun ya?!" Rere menatap Yusuf dengan tatapan marahnya. Yusuf mengerut takut. Rupa wajah nenek sihir yang menyeramkan berlalu lalang di kepala Yusuf. anak itu memeluk sang ayah dengan erat, menyembunyikan diri dari sosok nenek sihir yang siap menelannya hidup-hidup itu. Lain halnya dengan sang adik, Baim dan Adam tampak bersiap-siap menyerang Regina, merasa kesal karena orang yang mengaku sebagai calon mamanya itu sangat jahat. Persis seperti ibu tiri Cinderella.
"Huh, sekarang malah ketakutan. Pantes kalau kalian nggak punya Mama, kalian nakal sih!!" Regina tersenyum sinis. Ucapan wanita itu rupanya membuat amarah Fabian seketika meledak. Matanya menatap Regina dengan tajam.
"Jaga mulut kamu, Regina! Kamu tidak ada hak berkata seperti itu pada anak-anak saya! Lebih baik kamu pergi!!" Sentak Fabian dengan suara tegasnya. Laki-laki itu sudah berdiri, bahkan mencengkeram kasar lengan Regina.
Regina menghela napasnya, terdengar kesal, tampak tidak terpengaruh dengan ucapan Fabian. Wanita tersebut agaknya tidak menghiraukan perkataan Fabian barusan. Lihat saja dari ekspresi wanita itu yang masih santai.
"Oke, kalau gitu. Aku pergi dulu. Kita lanjut nanti malam aja, kegiatan kita yang tertunda tadi. Kalau sekarang, sayang sekali harus kita tunda. Maaf udah mendorong anak kamu, aku sengaja kok. Ya udah bye, sampai jumpa." Tanpa malu dan merasa bersalah, wanita bergaun minim itu mendekati Fabian lantas mencium sudut bibir Fabian di hadapan semua orang.
Fabian menggeram marah. Kesal dengan tindakan menjijikkan wanita yang berdiri di depannya itu. Matanya menatap marah pada punggung Rere yang semakin menjauh dari pandangannya.
"Pipi Papa ada darahnya lagi. Mending dicuci, takutnya ada kuman." Adam berbicara, nyaris tidak berintonasi jika saja di akhir kalimat ia tidak memberi penekanan. Baim dan Yusuf mengangguk polos, membenarkan ucapan sang Abang.
Fabian menghela napasnya. Sepertinya ia harus menyiapkan kata-kata untuk membuat Adam tak lagi marah padanya. Membujuk Adam sangat sulit, anak itu begitu beku. Dia ayahnya, tapi entah kenapa, begitu sulit untuknya mendekati sang putra. Dia dan Adam dekat, tapi seperti dipisahkan oleh tembok besar dengan tinggi yang menjulang.
***
Rasa-rasanya Anna sangat malas untuk bangkit dari pembaringannya sejak tadi pagi. Bahkan ia mengabaikan bahwa hari ini, ia harus mengadakan ulangan harian untuk murid kelas sepuluh. Semenjak pertemuannya dengan Fabian tempo lalu, ia jadi merasa sangat tidak berguna. Seharusnya ia tidak lari, tapi menanyakan bagaimana anaknya. Yang demi Tuhan sama sekali tidak ia ketahui bagaimana rupa dan jenis kelaminnya. Apakah anaknya cantik ataukah tampan. Apakah anaknya mendapat gizi yang cukup, apakah anaknya bahagia tanpa kehadirannya, apakah anaknya---pernah menanyakan di mana keberadaannya. Pertanyanyaan terakhir yang muncul di kepalanya itu sebenarnya sedikit mengganggu Anna. Anna merasa nyeri yang tidak ia ketahui kenapa bisa terasa amat menyakitkan.
Pada mulanya, Anna tahu, ia terlihat seperti Ibu yang jahat, yang rela meninggalkan anaknya demi sebuah kesenangan. Tapi bukan itu. Ia---dulu---sama sekali tidak memiliki niat untuk melepas darah dagingnya pada laki-laki b******k tak bermoral semacam laki-laki itu, hanya saja keadaan memaksanya berbuat demikian, bertindak antagonis dan merelakan semuanya terjadi.
Anna mau berjuang, Anna sudah menyiapkan hatinya untuk rela mendapat tatapan kebencian dari kedua orang tuanya, Anna sudah sekuat itu untuk memberitahu pada Ayah Bundanya jika ia tengah hamil---hamil di luar nikah, yang tentu saja tidak pernah diharapkan oleh wanita manapun, keluarga siapa pun.
Namun, memang salahnya sendiri mengapa ia dulu membuat keputusan yang salah. Anna sempat menyalahkan gejolak masa mudanya---demi Tuhan, usianya saat itu bahkan belum genap sembilan belas tahun---yang tentu saja terlalu dini, masih terlalu labil dalam membuat keputusan. Ya, Anna sebenarnya bukan orang yang suka disalahkan. Tapi, kali ini ia sadar, bahwa dirinya memang benar-benar salah.
Menghela napas, Anna akhirnya bangkit. Wanita itu berjalan menuju balkon kamarnya, dipandanginya langit yang sudah terang. Waktu memang sudah tidak lagi pagi, jam di dindingnya sudah menunjukkan pukul sepuluh lebih. Anna sempat terkejut mengetahui fakta bahwa ia bermalas-malasan hampir setengah hari.
"Enak banget itu muka kayak nggak ada rasa bersalahnya sama sekali. Dasar kadal kurang belaian, minta dipotong kali ya kelaminnya, biar nggak sifatnya doang yang kayak cewek, tapi orangnya sekalian," kesal Anna mengingat bagaimana tatapan Fabian kemarin. Laki-laki itu sama sekali tidak menunjukkan rasa bersalahnya sedikit pun.
"Awas aja kalau ketemu lagi, nggak bakal aku biarin. Kali ini aku bakal buat perhitungan. Lihat aja entar, habis kamu sama aku." Anna tertawa, ia mengibaskan rambutnya sebelum masuk ke dalam kamarnya lagi.
Anna tahu, menyimpan dendam bukanlah hal baik. Tapi mau bagaimana lagi? Dendam itu muncul begitu saja, ia juga malas menghapus dendamnya. Dan ya, Anna memiliki misi baru. Ia harus berterus terang pada orang tuanya. Ia harus menyiapkan hati menerima semua kejadian buruk yang mungkin terjadi. Biar bagaimana pun, yang namanya bangkai jika ditutupi pasti akan tercium baunya.
Anna tidak mau Ayah dan Bundanya tahu dari orang lain, bukan dari dirinya sendiri.
TBC
LANJUT?
MAU DOBEL APDET?