TUJUH

1324 Words
"Om Bewok, Papa ada di dalam?" Tanya Yusuf pada sekretaris sang ayah yang tampak sibuk dengan laptop di hadapannya. Laki-laki yang terlihat seram karena bulu tebal yang menghiasi rahangnya itu tersenyum ramah, "Eh ada Triplet. Papa ada di dalam, tapi Papa lagi ada tamu." Laki-laki brewok yang memiliki lesung pipit di kedua pipinya itu menjawab dengan halus. "Siapa Pak, tamunya?" Tanya Naufan. "Biasa Mas, Si Itu." Naufan menganggukkan kepalanya, mengerti siapa yang sekretaris sepupunya itu maksud. "Yusup bisa masuk nggak Om? Yusup udah kangen Papa," kata Yusuf dengan nada mengibanya. Dua saudaranya kompak memutar bola matanya. Adik bungsunya itu terlihat sangat manja. "Ehm ... sebaiknya kalian masuk nanti saja, takutnya Papa kalian..." Laki-laki brewok bernama Putra itu tampak enggan melanjutkan ucapannya. Naufan meringis, paham betul dengan apa yang si Brewok ini maksud. Lain halnya dengan Naufan, si kembar tiga sama sekali tidak paham, justru merasa penasaran dengan apa yang Om Brewoknya itu maksud. Rasa penasaran tiga anak tersebut memang begitu besar. Jadi sebisa mungkin seharusnya orang-orang di sekitar mereka tidak membuat spekulasi atau pernyataan-pernyataan yang mengundang banyak tanya, jika tidak mau direpotkan dengan pertanyaan dari tiga anak itu yang bisa saja tidak ada habisnya. "Apasih Om Bewok, kok ngomong gitu? Kan kita mau ketemu Papa. Masa nggak boleh masuk?" Yusuf protes, alisnya menukik, bibirnya mengerucut, mengeskpresikan kekesalannya. "Nggak mau tahu, kita mau masuk. Kalau nggak boleh masuk, nanti brewoknya Om kita cukul!" Baim bersuara. Membuat Putra pias. Pasalnya, ia begitu mencintai jenggotnya. Berkat jenggot itu, wajahnya yang---kata orang lain---terlihat cantik, jadi terlihat sangar. Ia lebih suka dikatai sangar daripada cantik. Dia ini laki-laki loh, akan terdengar sangat menyebalkan kalau dirinya disebut cantik. Masa laki-laki cantik? "Ya jangan dong. Kan Om nanti nggak ganteng lagi," katanya terdengar memohon. Yusuf dan Baim kompak mencebikkan bibir mereka, lain halnya dengan Adam yang tampak menghela napasnya dengan kesal. Adam tampak malas berbicara, atau lebih tepatnya tengah malas dengan situasi yang dihadapinya sekarang. "Benar kata Om Putra, kita masuknya nanti aja. Tunggu tamu Papa kalian keluar." Naufan menyela, ada kekhawatiran di nada suaranya yang hanya mampu dipahami oleh Putra. "Apa sih Om ini? Om nggak tahu lasanya kangen, makanya Om nggak bisa ngeltiin kita." Yusuf berteriak kesal. "Om ngeselin!" Baim ikut berteriak. Adam hanya diam, dengan ekspresi masamnya. "Ih, Om nggak ngeselin, baik hati dan nggak sombong gini dibilang ngeselin. Kalian nih yang ngeselin," kata remaja tanggung itu dengan suaranya yang dibuat akar terdengar memelas. "Au ah, gelap, gelap, gelaaaaap banget!" Yusuf menyahut. "Eh Baim dan Yusuf ya, dibilangin sama yang lebih tua nggak mau nurut. Keras kepalanya itu loh. Keturunan siapa coba? Contoh Adam yang pendiam, enak, nggak bikin naik darah biar sesekali bikin nangis darah," Kesal Naufan karena diacuhkan oleh para keponakannya. Putra yang menyaksikan hanya terdiam menahan senyum gelinya. Sibuk menggerutui Baim dan Yusuf, Naufan tidak sadar kalau Adam sudah berjalan menuju pintu ruang sang Ayah. Anak itu sudah bersiap membuka pintu ruang ayahnya. Dan ketika pintu terbuka, Adam dibuat bingung dengan penampakan wanita yang tampak menempel dengan ayahnya. Adam tidak tahu apa yang Papanya itu lakukan, dan Adam juga tidak tahu siapa wanita itu, karena wajah Papanya tertutupi kepala si wanita. "Papa ngapain?" Tanyanya yang membuat terkejut semua orang. Suara Adam yang lantang tentu saja sampai di indra pendengaran sang Papa, Om, dan juga semuanya. Fabian yang terkejut, buru-buru bangkit dari duduknya, membuat wanita yang sebenarnya duduk di pangkuannya itu langsung terjengkang. Fabian sudah merapikan dirinya ketika berjalan mendekati putra sulungnya itu. Wajahnya sedikit pias, ia lupa kebiasaan putranya setiap pulang dari taman kanak-kanak selalu mampir ke tempat kerjanya. Ia juga lupa kalau anak-anaknya suka masuk ke ruangannya tanpa memgetuk pintu terlebih dahulu meski beberapa kali ia sudah menasihati ketiga anaknya. Pikiran Fabian tengah terpecah, apalagi pertemuannya dengan Anna kemarin yang membuatnya sulit tidur, serta kedatangan wanita itu semakin mempersulitnya dalam mencari benang merah dari masalah yang ia alami. Fabian berdeham sebelum bersuara, menetralkan kegugupannya karena kepergok sang putra saat melakukan tindakan tak bernormanya, "Adam sama siapa ke sininya? Adik-adik mana?" Tanyanya lembut. Adam tersenyum tipis, tanpa menjawab ia menolehkan kepalanya ke arah Naufan dan juga Om Brewoknya yang masih setia terdiam. Sementara kedua adiknya malah bersorak, berpelukan lantas jingkrak-jingkrak lantaran ayahnya yang mereka rindukan tiba-tiba muncul. Naufan dan Putra kompak menggaruk kepala mereka, yang entah memang tengah gatal atau hanya bentuk tindakan spontan yang mereka lakukan saat-saat kurang nyaman seperti sekarang ini. "Sama Om Naufan ternyata, kenapa nggak ngabarin kalau mau ke sini?" Fabian benar-benar terlihat bodoh karena pertanyaan itu. Padahal ia sudah tahu sejak awal bahwa kedatangan putranya ke kantor sudah menjadi jadwal harian ketiga putranya tersebut. "Apa harus kasih tahu?" Suara Adam terdengar tidak bersahabat. Anak itu mengedarkan tatapannya pada si wanita yang masih setia merintih, dan mungumpat tidak jelas karena p****t seksinya telah mencium lantai marmer dingin kantor Fabian itu. "Papa! Yusup kangen!!" Yusuf yang sudah puas berbahagia bersama Baim, langsung menghambur memeluk ayahnya, disusul dengan Baim. Kedua bocah itu memeluk ayahnya dengan erat, meluapkan rindu yang seakan tidak bertemu selama bertahun-tahun, padahal baru tadi pagi mereka berpisah. Fabian tertawa dan mencium kening dua putra tampannya itu. Adam masih bergeming, ia mendadak tidak suka dengan ayahnya. Anak itu menolak sang ayah yang juga hendak mencium keningnya. Wajahnya menunjukkan kekesalan. "Nggak usah Pa. Di bibir Papa ada darahnya, takutnya nggak baik buat kulit Adam," ucap Adam yang langsung menghempas tangan sang ayah dari pundaknya. Fabian membulatkan matanya. Otaknya berusaha mencerna ucapan sang anak mengenai darah di bibirnya. Dan ... astaga! Jangan bilang kalau lipstick merah menyala wanita itu menempel di wajahnya! Buru-buru Fabian mengusap wajah---terutama bibirnya---dengan lengan jas yang ia kenakan. Alvaro dan Putra yang menyaksikan itu hanya diam, tak berani bersuara. "Papa, Tante miskin itu siapa Pa?" Tanya Yusuf tiba-tiba dengan jari telunjuknya yang mengarah pada wanita itu. Yusuf punya alasan sendiri mengapa menyebut wanita yang bersama Papanya tadi dengan sebutan Tante Miskin. Jangan mengira kalau anak itu terlalu sombong, jangan mengira pula bahwa Yusuf tidak memiliki tata krama. Yusuf memang sedikit unik. Mendengar dirinya disebut, wanita bergaun minim itu segera bangkit dan menyudahi gerutuannya. Ia memasang senyum lebar, melupakan fakta bahwa salah satu anak Fabian itu menyebutnya miskin, ia berjalan mendekati Fabian dan ketiga putranya. "Halo Manis," sapanya pada anak-anak Fabian. Adam menatap tajam wanita itu, merasa tersinggung dengan kata manis yang diucapkannya. "Kok Manis? Baim loh nggak manis, ganteng tahu!!" Baim maju dan mencubit tangan wanita itu, membuat wanita tersebut meringis seketika, ingin membalas namun karena ada Fabian sehingga ia mengurungkan niatnya. "Manis itu anak pelempuan. Yusup anak laki-laki!!" Yusuf memasang wajah kesalnya. "Mata Tante nggak dipakai buat lihat ya?" Suara Adam yang terdengar tidak berintonasi membuat siapa pun yang mendengar pasti merinding. Bahkan, Fabian yang ayahnya saja merasa merinding mendengar suara anaknya itu. Naufan dan Putra setia dengan keterdiaman mereka. Tidak berniat ikut bersuara. "Iya. Ganteng, udah ya, udah Tante ganti." Wanita itu tersenyum, "Ah iya, jangan panggil Tante dong. Kan aku calon Mama kalian," lanjutnya. Adam, Baim, dan Yusuf sontak membulatkan mata mereka. "Mama?" Suara Adam berbisik, bernada tidak suka. "Nggak mau!" Baim dengan suara meninggi. "Tante miskin, Yusup nggak suka." Kali ini Yusuf menyinggung wanita itu. "Siapa bilang Tante miskin? Tante cukup kaya loh Sayang, nih, Tante pakai kalung berlian." Wanita itu menunjuk kalungnya yang berbandul berlian besar di lehernya. Yusuf melihat kalung itu, lantas mengangguk pelan. "Tapi Tante pelit. Tetap nggak mau. Yang boleh pelit itu cuma Yusup sama Tuan Klab," ucapnya. "Tante nggak pelit kok," ujarnya menyanggah. Wanita itu masih mempertahankan senyumnya. Sebenarnya ia tidak mengerti dengan perkataan Yusuf, ia berusaha berhati-hari karena bisa saja ucapan anak dari laki-laki yang ia incar ini akan menjatuhkannya. Yusuf terbahak lucu, Baim dan Adam mengernyitkan dahi mereka lantaran adik mereka malah tertawa. Bingung di mana letak lucunya, perasaan memang tidak ada yang lucu. "Pelit tahu Nte, beli baju buat badan sendili aja pelit, apalagi buat olang lain?" Entah dapat dari mana kata-kata itu, tapi kalimat tersebut memang keluar dari mulut Aldan Yusuf Triatmoko, anak yang bahkan usianya saja belum genap enam tahun itu. TBC Lanjut? Tidak? Suka?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD