Adam, Ibrahim, dan Yusuf berjalan beriringan memasuki kantor ayahnya. Ketiga anak itu menghampiri resepsionis wanita yang tampak sibuk mematut riasan wajah di cermin kecilnya. Padahal penampilannya sudah bagus.
"Siang Tante Enol," sapa Yusuf membuat resepsionis itu berjingkit. Tidak suka dengan panggilan yang disematkan padanya. Ya, kalau Enol yang dimaksud itu bahenol tidak masalah, tapi Enol yang anak itu maksud merujuk atau memiliki konotasi yang buruk, di mana artinya adalah memiliki riasan yang terlalu berlebihan, singkatnya menor.
Secepat kilat, dirubahnya ekspresi kesal itu menjadi seulas senyum ketika tahu jika yang menyapanya barusan adalah putra bosnya. Sebelumnya, wanita itu pikir siapa yang berani-beraninya memanggil ia dengan sebutan seperti itu? Dan ternyata anak bosnya tersebut.
"Eh kalian. Mau ketemu Papa ya?" Wanita itu menutup alat dandannya dan melatakkan alat itu di sisi komputer. Senyum ramah---yang terlihat dibuat-buat---masih terpatri di wajahnya. Suaranya dibuat seramah mungkin. Yang ternyata malah membuat tiga anak berparas tampan tersebut bergidik. Ditambah lagi ketika melihat bibir berpoles gincu merah yang terlihat sangat mencolok itu.
Mata ketiga anak itu kompak tertuju pada pakaian ketat yang dikenakan resepsionis itu. Tidak, tidak ada pikiran tidak senonoh di otak mereka. Mereka hanya heran, mengapa mereka melihat banyak orang terkhusus wanita memakai pakaian yang membungkus pas tubuhnya. Apakah tidak kekecilan? Apa tidak membuat susah napas? Baju yang kekecilan kan tidak membuat nyaman. Apalagi rok pendeknya. Lagi-lagi beberapa pertanyaan tersusun di otak mereka. Seperti, apa mereka tidak takut kulit paha dan juga kaki mereka digigit nyamuk? Apa mereka tidak takut masuk angin karena udara AC yang cukup dingin? Apa mereka tidak kesulitan saat berjongkok dan juga ketika membungkukkan badan?
Adam, Yusuf, dan Baim kompak terheran-heran dengan cara pikir orang dewasa. Kenapa orang dewasa tidak pernah sama dengan anak-anak? Dewasa itu ... ribet.
"Tante, gaji tante belapa sih?" Tanya Yusuf dengan suara herannya.
Wanita dengan name tag Marina itu tertawa. Menurutnya, pertanyaan anak bosnya ini terdengar konyol.
Yusuf dan Baim menatap penuh tanda tanya, lain halnya dengan Adam yang tampak tak acuh. Anak laki-laki itu memilih mengedarkan tatapannya pada lobi di mana banyak karyawan sang ayah berlalu lalang. Entah mengapa ia merasa tidak suka melihat bagaimana cara berpakaian kebanyakan karyawan wanita sang ayah yang mengenakan pakaian ketat. Adam hanya kesal saja. Dan anak itu tidak tahu kenapa dirinya berpikir seperti itu.
Adam pun kembali mengalihkan tatapannya pada dua adiknya itu. Ia selalu menikmati perdebatan adik-adiknya dengan orang sekitar. Mereka terlihat lucu.
Adam memang berbeda dengan kedua adiknya, entah bagaimana, anak yang usianya saja belum genap enam tahun itu bertingkah selayaknya orang dewasa. Mungkin, salah satu faktor yang mempengaruhi karena cara bicara anak itu yang lebih fasih. Kedua adiknya masih cadel, belum bisa mengucapkan huruf 'R' dengan benar, malahan Yusuf belum bisa menyebut huruf 'F', sementara dirinya sudah tidak. Dan ketika di playgroup, guru-gurunya berkata bahwa anak itu cerdas. Ya, faktor lingkungan terkadang memang mempengaruhi bagaimana terbentuknya kepribadian seseorang.
"Duh, kamu masih kecil, kenapa tanya begituan? Nggak mungkin kan kamu mau ngelamar kerja jadi resepsionis?" Tanya wanita bernama Marina itu dengan kekehan dibuat-buatnya.
Aldan Yusuf Triatmoko. Anak itu mengerutkan keningnya, tidak begitu paham dengan ucapan wanita di depannya tersebut. Matanya melirik pada sang Abang, Al-Kahfi Ibrahim Triatmoko yang juga sama bingungnya. Tidak mendapat jawaban dari sang Abang, Yusuf beralih pada Abangnya yang satu lagi, Kaisar Adam Triatmoko yang malah tampak tak acuh.
"Maksud Tante? Ih, Tante ya, kita tuh bukan masih kecil, liat dong badan kita aja lebih gede dari semut. Masa kecil sih? Tante pelnah sekolah nggak sih? Kok gitu aja nggak ngelti! Bikin Yusup bingung aja," ketus Yusuf dengan bibir yang mengerucut lucu.
Marina mendengkus, anak bosnya ini sering membuatnya kesal. Selama ini dia sudah berusaha sabar, tapi entah bagaimana kali ini. Kalau tiga anak berwajah mirip di depannya berulah lebih menyebalkan dari biasanya, Marina berjanji akan membalas tiga anak itu. Biarlah dirinya dipecat, Marina sudah tidak peduli, dendam kesumatnya harus segera dibalaskan.
"Kalau pun kalian tahu, kalian mau apa emangnya?" Tanya Marina dengan nada sabar yang terdengar dibuat-buat.
"Tante kepo yaaa?" Baim bertanya dengan nada mengejek. Sebenarnya anak itu pemalu, tapi terkadang kalau sudah ada yang memancing kekesalannya, jangan tanya, dia bakal menjadi anak yang menyebalkan, bahkan lebih menyebalkan dari Yusuf yang sudah berada di level kronis.
"Iya!"
"Jawab dulu Nte, belapa gaji Tante. Pelcaya deh, kita nggak bakal minta. Uang Papa udah banyak banget, kita aja kalau tidul selimutnya uang loh, Nte," ucap Yusuf dengan lagak sombongnya.
Yusuf tidak sepenuhnya berbohong. Dia memang tidur dengan selimut uang. Lebih tepatnya, selimut bergambar tumpukan uang milik Tuan Krab. Di selimutnya juga terdapat gambar Tuan Krab, tapi Yusuf tidak akan mengatakan itu.
Yusuf memang mengidolakan sosok Tuan Krab, yang pelit dan juga banyak uang. Tapi tenang saja, putra sulung Fabian Triatmoko itu bukan sosok yang gila uang seperti Tuan Krab, anak itu hanya menuruni sifat pelit Tuan Krab saja. Selebihnya tidak.
"Dasar sombong," gumam Marina.
"Hih, yang sombong itu Tante. Ditanya anak-anak tapi nggak mau jawab, nanti Tante susah loh dapat jodohnya. Apalagi do'a orang yang teraniaya itu manjur. Terus yang tante aniaya itu anak-anak, lebih manjur lagi. Kita do'ainnya Tante jomblo sampe nenek-nenek. Gimana dong?" Akhirnya, Adam yang sedari tadi diam ikut bersuara. Adam itu tipikal nakal tapi pendiam, sekalinya buka suara, ucapannya itu akan terdengar pedas. Siapa pun yang menjadi objek dari perkataan sudah pasti akan menangis. Sama seperti Marina yang sudah merasa matanya mulai memanas.
"Gaji Tante nggak seberapa. Tapi cukuplah untuk biaya hidup sebulan," jawab Marina diakhiri helaan napas. Ia hampir menyerah menghadapi anak-anak itu.
"Cukup beli kepeluan Tante?" Tanya Yusuf dan diangguki Marina.
"Beli jajan?" Marina kembali mengangguk mendengar pertanyaan Baim.
"Cukup buat beli baju nggak Nte?" Tanya Yusuf antusias.
"Lebih dari cukup."
"Loh loh, kalau lebih dali cukup, baju Tante kenapa kekecilan gini? Katanya gajinya cukup. Kita loh sebenelnya kasihan sama Tante." Baim berkata dengan senyum di bibirnya. Senyum mengejek lebih tepatnya.
"Iya nih, mana lok Tante pendek lagi. Nggak takut masuk angin?" Yusuf tahu-tahu sudah berdiri di sisi Marina, tangan mungilnya menarik-narik rok pendek wanita itu, membuat sang empunya tanpa sadar menggeplak tangan mungil putra sang bos.
Yusuf meringis seraya memegangi tangannya, matanya sudah berkaca-kaca, dengan langkah cepat anak itu mendekati dua saudaranya. Baim dan Adam tampaknya tidak terima adiknya mendapat kekerasan. Karena dua anak itu kompak memberikan tatapan tajamnya pada Marina.
Marina terlihat tidak peduli, ia sudah kadung kesal dengan ucapan anak itu.
"Astaga! Kalian ini anak siapa sih? Seneng banget gangguin orang. Sopan sama yang lebih tua!" Kesal Marina akhirnya.
"Ya anak bapak sama ibu kita dong Nte. Masa anak tante? Anak tante sama siapa? Sama Pak Satpam? Nggak ya," jawab Adam.
"Kalian ya! Awas kalian!" Marina sudah hendak keluar dari meja resepsionisnya, namun tiga anak itu ternyata lebih dulu melarikan diri menuju Naufan yang baru saja masuk lobi.
Naufan baru saja selesai memarkirkan mobilnya. Baju putihnya sudah berganti menjadi kaos biasa berwarna hijau polos, sementara celana abu-abunya masih tetap ia gunakan.
"Om Opan, kenapa lama sekali malkil mobilnya? Pelan-pelan ya, takut mobil mahal Papa lusak?" Kesal Yusuf.
Naufan diam-diam menghela napasnya. Punya keponakan kenapa tidak ada yang benar. Curiga Naufan, kalau dulu sepupunya alias Fabian pas buat tiga curut jahil yang sayangnya keponakannya itu pasti tidak didahului dengan do'a terlebih dahulu, makanya ada setan yang ikut andil saat pembuatannya, dan sifat-sifat menyebalkan para keponakannya tersebut pasti didapat dari setan yang ikut andil dalam proses pembuatannya itu.
Naufan bergidik, ia mewanti-wanti dirinya sendiri supaya tidak lupa melantunkan do'a ketika malam pertamanya yang entah kapan akan terlaksana. Tentunya dengan Ibu Anna tercinta, yang sayangnya di sekolah tadi tidak dapat ia temui. Entah ke mana gurunya itu.
"Sorry boys, Om ganti baju atasan dulu. Ya udah, ayo kita ke ruangan Papa kalian." Naufan memilih tidak menanggapi kata-kata Yusuf yang terdengar sangat sombong tersebut.
"Ish, gitu ya! Ya udah. Ayo Yusup udah kangen Papa!!" Sorak Yusuf yang paling gembira di antara tiga saudaranya.
Ya, memang karena Yusuflah anak termanja.
TBC
LANJUT?
SUKA?