LIMA

1387 Words
Anna membekap mulutnya yang menganga, mata setengah sipitnya melebar, terlihat lucu. Ia tidak salah dengar bukan? Laki-laki itu, Fabian Triatmoko, penyumbang s****a atas bayi yang ia kandung itu menyatakan cinta padanya? Anna benar-benar tidak percaya. Sungguh. Ia bertanya-tanya hal apa yang membuat laki-laki itu menyatakan perasaan padanya. Ia tidak memiliki kriteria yang dapat membuat seorang laki-laki jatuh cinta terhadapnya. "Apa kamu serius?" Mata Anna berkaca-kaca, ia berusaha menyelami mata Fabian, mencari kebohongan yang barangkali saja tersimpan di sana. Namun ia sama sekali tak menemukannya. Laki-laki ini serius akan ucapannya. "Aku nggak pernah bohong soal urusan hati. Aku selalu serius. Aku jatuh cinta sama kamu. Mungkin karena pepatah yang selalu mengatakan jika cinta ada karena terbiasa itu benar. Aku terbiasa dekat dengan kamu. Aku terbiasa berdua bersama kamu. Aku menyayangi kamu. Kita bisa menikah, dan merawat anak kita bersama-sama." Laki-laki itu berbicara dengan suara lembut setengah seraknya yang tidak berhenti membuat jantung Anna berdebar kencang. Fabian tersenyum ke arahnya, menggenggam tangan dan memberikan usapan lembut di punggung tangannya. Anna menundukkan kepala, jujur, ia juga menyukai Fabian. Bahkan perasaan itu sudah menjelma menjadi cinta. Namun, bukan itu inti dari permasalahnya. Yang membuat Anna pusing adalah hubungan mereka. Anna tidak tahu apa yang harus ia ucapkan pada orang tuanya nanti. Terlebih lagi ketika orang tuanya tahu perihal kehamilannya. Sekarang sudah sangat terlambat. Jika Anna memang mau jujur perihal kehamilannya, seharusnya sudah sejak dulu Anna jujur, berkata pada orang tuanya jika yang terjadi hanyalah kecelakaan yang sama sekali tidak ia sengaja. Tapi semua itu benar-benar sudah terlambat. Hanya tinggal hitungan hari ia akan melahirkan. Anna tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya sang Ayah dan Bunda, juga keluarganya yang lain. Salahnya memang tidak bisa menjaga diri, namun nasi sudah menjadi bubur. Percuma Anna berandai-andai. Semua itu tidak akan membuahkan hasil. Statusnya akan tetap seperti ini. "Jujur, aku juga mulai menyukai kamu. Tapi, aku rasa, aku nggak bisa. Bagaimana dengan orang tuaku? Aku takut. Seharusnya sejak dulu bayi ini memang nggak pernah ada, seharusnya aku nggak menerima beasiswa ini, seharusnya waktu itu aku kamu nggak..." Anna tak mampu melanjutkan ucapannya. Air matanya sudah mengalir, membanjiri pipi mulusnya yang tampak memerah. Anna benar-benar tersiksa dengan perasaannya sendiri. Anna benar-benar tertekan. Ia sedang hamil dan tidak seharusnya ia memikirkan hal seperti tersebut. Tidak baik untuk kesehatan janin dan juga dirinya sendiri. Anna tidak tahu, kenapa rasa bencinya bisa berubah menjadi cinta. Anna bertanya dalam hati, bertanya pada Tuhan mengapa Dia memberikan perasaan itu untuknya. Tuhan memang Maha membolak-balikkan hati manusia. Mungkin seharusnya sejak dulu dirinya tidak membesarkan rasa bencinya terhadap Fabian. Sehingga Tuhan tidak menghukumnya dengan cara seperti sekarang, mencintai laki-laki itu. "Kita hadapi semuanya bersama-sama. Aku siap menerima resiko apa pun yang bakal kita hadapi. Aku nggak peduli. Ini demi cinta kita." Laki-laki itu meyakinkan Anna, menghadirkan secercah rasa tenang yang merambat di relung hati wanita bernama Annastasya Abraham tersebut. "Kamu harus janji." "Kamu bisa pegang ucapanku." Fabian membawa tubuh Anna ke dalam pelukannya. Anna memejamkan matanya merasakan bibir Fabian yang mendarat di keningnya. *** Hari kelahiran bayi Anna dan Fabian sudah dekat. Anna tersenyum membelai perut besarnya. Membawa tas besarnya, ia melangkahkan kaki menuju unit apartemen Fabian. Tempat yang juga ditinggalinya dari beberapa bulan yang lalu. Anna baru saja kembali dari apartemen kecil yang merupakan tempat tinggal wanita itu sewaktu dirinya masih menyandang beasiswa. Sebelumnya Anna sudah meminta izin pada Fabian, wanita itu berniat tinggal sehari di apartemen kecilnya sebelum pada akhirnya melepaskan apartemen itu untuk selama-lamanya dan tidak menempatinya lagi. Anna menghentikan langkahnya beberapa kali lantas mengambil napasnya. Tubuhnya memang cepat lelah. Kandungannya yang begitu besar membuatnya tidak tahan untuk berjalan lama. Anna mengulum senyum melihat pintu apartemen Fabian yang hanya berjarak kurang dari lima meter di depannya. Pagi ini ia begitu semangat. Entahlah apa yang membuatnya sesemangat ini. Mempercepat langkah akhirnya Anna sampai di apartemen Fabian. Wanita itu memasukkan kombinasi password apartemen Fabian. Kakinya segera melangkah ke dalam apartemen ketika pintunya terbuka. Dahinya seketika berkerut melihat kondisi apartemen yang berantakan. Napas Anna sedikit tercekat melihat high heels yang sudah jelas milik seorang wanita tergeletak asal di lantai, bahkan ia bisa melihat sebuah dress yang tampak lusuh tergeletak asal di sofa. Anna tidak dapat menahan air matanya. Dengan langkah yang sedikit bergetar ia berjalan menuju kamar Fabian yang terletak di sisi kamarnya. Tangan Anna bergetar ketika membuka pintu itu. Tubuhnya nyaris ambruk kala melihat Fabian dan seorang wanita tampak saling tatap di atas ranjang. Ditambah keadaan wanita itu yang sepertinya tidak memakai sehelai benang pun pakaian di balik selimut tebal yang membungkus tubuhnya. Sementara Fabian, laki-laki itu tidak memakai baju atasan hingga membuat perut berototnya terpampang jelas, laki-laki tersebut hanya memakai celana pendek selutut. "Fabian," cicit Anna dengan suara pelannya yang tanpa disangka sukses membuat fokus Fabian tertuju padanya. Laki-laki itu terkejut, spontan melangkahkan mendekati Anna. "Anna aku bisa jelasin," katanya cepat. Anna tertawa hambar di sela isak tangisnya. "Nggak ada yang perlu dijelasin. Semua udah jelas. Aku paham, apa yang kamu bilang selama ini hanya bualan semata. Kamu nggak benar-benar mencintai aku. Kamu hanya memanfaatkan aku. Kamu benar-benar b******k Fabian!!" Teriak Anna. "Demi Tuhan, ini nggak seperti yang kamu pikirkan. Aku berani bersumpah. Aku mohon percaya sama aku!" Fabian berusaha meraih Anna ke dalam dekapannya. Namun dengan segera Anna tangkis. Anna melirik wanita yang masih berdiam di atas ranjang itu. Terlihat senyum di wajahnya, lebih tepatnya senyum mengejek yang membuat Anna benar-benar merasa terhina. Ternyata selama ini ia telah mempercai buaya. Dianya ternyata sangat bodoh, benar-benar bodoh! "Mari kita akhiri semua ini. Aku dan kamu sudah nggak ada hubungan apa-apa lagi!" Tegas Anna penuh penekanan. "Please jangan kayak gini. Biarin aku jelasin semuanya. Atau setidaknya tetaplah tinggal sampai anak-anak kita lahir, aku mohon," kata Fabian dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuknya. Anna mengusap air matanya sendiri, ia memandang laki-laki itu sinis. "Nggak akan! Jangan mimpi." "Anna, aku mohon. Jangan egois. Meski kamu tidak mau mendengarkan penjelasanku, setidaknya tolong jangan egois untuk amak kita." Fabian berkata dengan memelas. Anna memilih diam. "Baik. Tapi sesuai janji kamu di awal. Aku tetap bisa kuliah. Dan masalah bayi ini, jangan sampai ada yang tahu. Hanya aku, kamu, dan Tuhan. Suatu saat nanti, kalau kita bertemu lagi, bertingkahlah seakan kamu nggak kenal aku, begitu juga aku, aku akan melakukan hal yang sama. Bayi ini, kamu yang bertanggung jawab penuh. Aku akan lepas tangan," kata Anna dengan nada datar, sebelum akhirnya wanita itu melangkah keluar kamar dan berjalan ke kamarnya sendiri. *** Anna mengerjapkan mata, memotong bayangan masa lalu yang kembali menghantui ingatannya. Ia buru-buru bangkit dari posisi jatuhnya itu, lantas membenarkan pakaiannya. Matanya menatap datar sosok yang masih mematung dengan posisi terduduk di ubin tersebut. Lidah Anna mendadak kelu, ia merasa hatinya yang dulu hancur berantakan dan sekarang sudah mulai tersusun, mendadak kembali hancur. Anna seperti merasa ada pisau tajam yang menghunus tepat pada jantungnya, lantas mengoyak tak bersisa, meninggalkan dirinya yang seakan hidup tanpa jiwa. Laki-laki itu. Dia masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Dia masih tampan. Tubuhnya masih tegap dan berisi. Hanya saja, rahang laki-laki itu mulai ditumbuhi bulu-bulu halus yang justru membuatnya semakin tampan. Anna menggelengkan kepala, lantas mengerjapkan matanya beberapa kali. Dalam hati merutuki dirinya yang malah memuji laki-laki b******k itu. "Maaf, saya tidak sengaja," ucap Anna dengan nada datarnya. Jauh dari dirinya yang cenderung berperingai hangat dan mudah tersenyum pada orang lain. Jujur, butuh banyak tenaga saat mengucapkan kalimat tersebut. Karena berbicara dan berhadapan dengan orang yang pernah menyakitinya dulu sangatlah menguras tenaga Anna. Tanpa menunggu lebih lama atau menunggu sampai laki-laki itu buka suara dan menyapanya, Anna langsung melangkahkan kakinya menjauhi laki-laki itu. Ia tidak cukup kuat untuk berdiri di sana lebih dari satu menit. Anna takut bukan hanya hatinya yang hancur, tapi perilakunya juga. Ia tidak menjamin untuk tetap diam melihat wajah tanpa bersalah laki-laki yang dulu sempat merajai teritorial hatinya itu. "Anna, tunggu!" Fabian Triatmoko. Laki-laki itu hendak bangkit dan menyela ucapan Anna. Namun sia-sia, karena Anna sama sekali tidak menghiraukannya. Wanita itu benar-benar melakukan apa yang pernah diucapkannya dulu. Jika mereka bertemu, mereka harus bertingkah seolah tidak saling kenal. Fabian menyesali keputusannya yang dulu malah setuju dengan permintaan Anna. Fabian benar-benar menyesal telah melepas Annanya, cintanya. Terlebih lagi, ia sudah menorehkan luka yang teramat dalam pada wanita itu. Dia merasa dirinya benar-benar bodoh. Fabian dan kebodohannya memang tidak pernah terpisahkan. Fabian mengerang lantas mengacak rambut cokelat gelapnya yang disisir rapi itu dengan frustasi. "Bodoh!" TBC Lanjut?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD