EMPAT

1520 Words
Anna menatap tajam sosok jangkung yang berdiri di depan teras rumahnya itu. Melihatnya membuat hati Anna rasanya terbakar. Melangkah cepat Anna menghampiri si sosok yang malas Anna sebut siapa orangnya itu. Anna baru pulang dari tempatnya mengajar, ia begitu lelah dan letih. Parahnya, ketika ia sampai di rumah ia malah disuguhkan oleh pemandangan yang begitu menjengkelkan. "Baru pulang ya lo setelah sekian lama," ucap Anna sinis. "Ke mana aja Lo, baru pulang? Nungguin pacar sialan lo yang udah mau jadi tanah?" Anna tahu ucapannya sudah terlalu kasar. Tapi ia kadung kesal dengan sosok di depannya ini. Sosok itu tidak menjawab hanya memandang Anna dengan wajah datar serta lirikan tajamnya. Detik berikutnya Anna merasa kekesalannya sudah berada di ambang batas. Bisa-bisanya laki-laki ini tidak merasa bersalah atas semua yang dia lakukan. "Gue colok juga itu mata kalau masih melotot," ketus Anna yang lagi-lagi tak laki-laki itu tanggapi. "Dasar setan, Lo nggak denger apa kata-kata gue? Atau Lo nggak ada mulut? Bisa-bisanya Lo tenang kayak gini? Alvaro Abraham, gue tegasin sekali lagi kami nggak butuh kehadiran Lo lagi. Kami udah bahagia. Mending Lo pergi sono. Eneg gue lihat muka Lo!" Kesal Anna menahan amarahnya, air mata wanita itu sudah berada di ujung sudut matanya. Meski Anna sering bertemu dengan Alvaro, karena permintaan Keano, tapi saat ini Anna sedang kesal. Ia malas berhadapan dengan adiknya itu, hingga kata-kata kasarlah yang tercetus dari mulutnya. Sebenarnya Anna kesal karena setiap mereka bertemu, Alvaro tak pernah menceritakan keadaannya. Hanya diam dan menikmati pertemuan mereka tanpa banyak bicara. Alvaro Abraham, akhirnya laki-laki yang lebih muda dua tahun lebih darinya itu pulang setelah pergi dari rumah bertahun-tahun lalu, ah lebih tepatnya empat tahun silam, tepat setelah hari kelulusan Alvaro. Hanya gara-gara seorang gadis, Alvaro tega meninggalkan keluarganya. Baik Alena dan juga Leon sama sekali tidak merestui hubungan Alvaro dengan sang pacar yang kala itu dengan lantangnya ingin menikah di usia belia. Namun, remaja yang kini sudah bertransformasi menjadi pemuda dewasa tersebut menolak keras perintah orang tuanya untuk berpisah dengan sang pacar karena dirinya yang akan dijodohkan. Orang tuanya juga sudah bilang bahwa pacar Alvaro bukanlah perempuan baik-baik. Alvaro tetap pada pendiriannya. Hingga akhirnya, kalimat berupa 'Kamu memilih siapa? Pacarmu atau keluargamu?' Tercetus melalui mulut Alena, sang ibu, kala itu. Entah setan apa yang menguasai Alvaro, dia lebih memilih pacarnya. Berkata bahwa pacarnya tidak memiliki orang lain selain dia. Suatu jawaban yang benar-benar bodoh! Dasar otak udang! Mana ada seperti itu. Anna saja tahu betul bagaimana peringai pacar Alvaro tersebut. Dia hanya gadis cantik yang menyembunyikan kebusukannya di balik wajah polos itu. Membayangkan wajah pacar Alvaro saja sudah membuat Anna kesal. "Ayah dan Bunda ke mana?" Alih-alih menanggapi ucapan kakaknya tadi Alvaro malah mempertanyakan hal lain. "Mana gue tahu? Ngapain Lo ke sini? Butuh duit buat pacar eh atau malah udah jadi istri lo?" Lirikan sinis Anna tak membuat Alvaro gentar. "Istri. Gue mau pinjem duit buat istri gue." "What?! Demi apa lo beneran nikah? Lo udah gila Al?" Anna benar-benar terkejut. Ia tidak menyangka adiknya bisa sejauh itu melangkah. Anna merasa berkali-kali lipat kecewa dengan Alvaro. Dari dulu Alvaro selalu bungkam dengan masalahnya, dan kini tiba-tiba datang hanya karena meminjam uang. Dia menikah tanpa mengundang keluarganya. Jangankan mengundang, meminta restu pun tidak. Kecuali satu kali itu. Benar-benar tak memiliki hati adik semata-wayangnya tersebut. "Gue nggak gila, gue nikah dengan orang yang gue cinta. Gila kalau gue nerima perjodohan waktu itu. Apa bedanya gue nikah muda sama cewek yang gue cinta dengan cewek sialan itu?" Alvaro yang merasa tersinggung membalas sinis kakaknya yang sudah berkacak pinggang itu, gaya andalan Anna ketika wanita itu benar-benar marah. "Jelas beda Al, pertama lo nggak bakal buat Ayah dan Bunda sedih. Kedua, penyakit jantung Opa nggak bakal kambuh gara-gara lo milih pergi. Ketiga, lo masih jadi bagian dari keluarga ini. Keempat, lo nggak bakal dibenci keluarga lo. Kelima, lo nggak bakal kesusahan. Terakhir yang bisa gue pikirin, gue nggak bakal kecewa dan semarah ini sama lo. Lo bayangin ya Al, gue yang nggak lihat kejadian langsung aja bisa sekecewa ini, apalagi Ayah, Bunda, dan Bang Rafa yang lihat kelakuan lo langsung?" Kata Anna, sebenarnya Anna tak pernah bermaksud mengungkit-ungkit hal seperti itu, sejak dulu ia selalu mengerem mulutnya, tapi demi Tuhan saat ini suasana hatinya sedang tidak baik. Jadilah mulut pedasnya beraksi. Maaf-maaf saja untuk Alvaro. Semoga tidak tersinggung dengan perkataannya. Alvaro terdiam. Ucapan kakaknya itu memukulnya telak. Sebanyak itukah keuntungan jika ia tidak menolak perjodohan waktu itu? "Lo benar-benar nggak punya hati Al. Lo mending pergi sekarang. Bentar lagi Ayah sama Bunda bakal balik, gue nggak mau buat Ayah sama Bunda sedih. Kita ... udah bahagia tanpa lo. Kalau lo balik, gue nggak jamin Bunda bakal nggak nangis. Ngomong-ngomong, sorry kalau ucapan gue terlalu kasar atau gimana. Mood gue lagi nggak bagus. Gue minta lo maklumin," kata Anna diakhiri dengan helaan napas. Jika ditanya apakah Alvaro terluka atau tidak, ia jelas terluka. Ucapan Anna bagai pisau tajam yang menggores hatinya. Perih. Seakan belum puas, tangan kasat mata ikut menghakiminya dengan menaburkan garam di atas luka itu, membuat sakit yang ia rasakan berkali-kali lipat. "Gue minta maaf An," katanya. Anna berdecak. "Lo nggak ada salah sama gue. Salah lo tuh sama Opa, Ayah, dan Bunda, terutama Tuhan karena lo udah durhaka sama orang tua lo sendiri." "Iya gue tahu. Gue juga bakal minta maaf ke yang lain. Sekali ini aja An, gue butuh duit, istri gue sekarat, sementara anak kami masih butuh sosok ibunya." Berita macam apa lagi ini? Jadi adiknya ini sudah punya anak? Benar-benar berita yang mengejutkan. Sama halnya dengan dirinya. Namun, Anna tidak mau kesalahannya disamakan dengan kesalahan Alvaro. Alvaro melakukannya dengan kesengajaan penuh, sementara dirinya tidak, ia dilecehkan. Anna tahu, dirinya tak jauh berbeda dengan sang adik, tapi Anna menganggap kesalahannya tak sebesar kesalahan adiknya itu. Ya, dia egois memang. Anna mengakuinya. "Please An, lo nggak mau kan ponakan lo sedih? Anak gue masih bayi." Anna kembali tak mengerti mengapa Varo berbicara sepercaya diri ini menyebut dirinya telah punya anak. "Oke. Gue bantu lo, tapi jangan sekalipun lo menginjakkan kaki di rumah ini. Kehadiran lo sama halnya kayak tisu yang baru gue pakai buat ngelap ingus, nggak ada harganya." "Iya." Alvaro tahu kesalahannya besar, tapi tidakkah kakaknya itu mau menjaga mulutnya? Ia benar-benar sakit hati. Ia memang laki-laki, tapi ia juga punya hati. Benar memang laki-laki mengandalkan logika, tapi kalau sudah menyangkut keluarga seperti ini, jangan heran mengapa hati ikut andil di dalamnya. "Oke, istri lo dirawat di rumah sakit kan?" Alvaro mengangguk lesu. "Gue bakal ikut lo ke RS. Siapa tahu aja lo bohongin gue. Gue bakal kasih pinjam lo uang kalau yang lo omongin emang benar." Untuk yang kedua kalinya Alvaro mengangguk. **** Tepat pukul setengah lima sore, Anna dan Alvaro telah tiba di rumah sakit. Alvaro langsung mengajak saudara perempuannya itu menuju bangsal tempat sang istri dirawat. Anna tak dapat menutupi rasa terkejutnya ketika melihat istri Alvaro dalam keadaan yang benar-benar menyedihkan. Valerie---wanita itu---tampak terlelap tak berdaya dengan selang-selang kecil yang dimasukkan ke dalam hidungnya, dan selang dengan ukuran yang lebih besar yang dimasukkan ke dalam mulut wanita itu, juga kabel-kabel medis yang menempel pada d**a Valerie. Kepalanya botak, tubuh sintalnya sudah tak lagi berbentuk, menyisakan tubuh kurus kering seperti tak pernah terawat. Wajah cantiknya pucat, kusam, dan sedikit berkerut. "Dia terkena kanker getah bening. Sudah memasuki stadium akhir. Kami terlambat mengetahuinya. Dia sudah berkali-kali kritis." Alvaro melirik Anna. "Kalau sudah sejauh ini. Itu artinya kamu ada biaya untuk dia. Buat apa kamu minta bantuan ke aku?" Anna bertanya bingung. Ia tak lagi ber-lo-guean dengan Varo. "Ya, Alhamdulillah kita ada rezeki. Aku hanya meminta Kak Anna datang untuk memaafkan dia, bukan karena uang." Begitu juga Varo yang sudah mengubah cara bicaranya. "Maksud kamu?" "Valerie membutuhkan maaf kakak supaya dia bisa pergi dengan tenang atau jika Tuhan mengizinkan, Valerie bisa sehat kembali. Dia benar-benar meminta maaf karena sudah buat kakak sakit hati dulu, dia nggak maksud buat hubungan kakak dengan pacar kakak dulu merenggang. Dia masih lima belas tahun waktu itu, kepribadiannya tentu saja masih labil." Anna melirik Valerie. Ya, dulu sewaktu Valerie masih remaja belia, wanita itu pernah membuat hubungan Anna dan pacarnya retak. Bahkan, dengan sengaja Valerie mengadu domba ia dengan sang mantan. Tapi, itu sudah lalu, jika saja Alvaro tak mengingatkannya, ia tak akan mengingat hal itu. Haruskan ia memberi Valerie maaf? Tapi secara tidak langsung wanita itu yang membuat adiknya durhaka. "Oke. Aku bakal maafin dia. Tapi aku ada syarat buat kamu. Minta maaf sama Ayah dan Bunda." Alvaro tersenyum tulus, lantas mengangguk. "Oke, aku pergi dulu." Entah mengapa melihat senyum itu membuat mata Anna rasanya panas. Buru-buru Anna melangkahkan kakinya keluar bangsal. Rasanya ia butuh udara segar. Mungkin ia bisa pergi ke taman rumah sakit. Anna mempercepat langkahnya, ia tidak melihat ke sekeliling. Anna sepertinya tidak menyadari jika ada sosok yang berjalan berlawanan arah dan berjalan dalam garis horizontal dengannya. Sepersekian detik berlalu, kedua tubuh itu bertabrakan, membuat keduanya sedikit terpental dan pada akhirnya terduduk pada dinginnya ubin. Anna tak sanggup bersuara melihat siapa yang menabraknya. Begitu juga sosok itu. Tatapan mereka terkunci. Mata itu membuat ingatan Anna langsung terlempar pada kejadian beberapa tahun lalu. TBC Next atau tidak? Maaf untuk typonya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD