Anna tersenyum membaca tulisan di sticky note yang tertempel pada pintu kulkas di depannya itu. Tulisan tangan tersebut sama sekali tidak terlihat bagus, hampir terlihat seperti tulisan dokter, bedanya tulisan tersebut masih bisa dibaca dengan mudah, meski begitu kata-kata di sana membuatnya tidak berhenti tersenyum. Darahnya serasa berdesir, jantungnya bertalu hebat, perasaannya berbunga-bunga, ia merasa bahagia, bahkan kesedihannya beberapa bulan yang lalu, lebih tepatnya ketika mahkota berharganya direnggut, seolah hilang tak berbekas untuk saat ini.
Hai Cantik! Jangan lupa dihabiskan sarapannya. Jangan sampai kamu dan baby sakit. Sampai ketemu nanti malam :)
Ya, sesederhana itu tulisannya. Tapi entah mengapa Anna merasa sangat bahagia saat membaca kata-kata itu. Ia merasa ... seperti tengah jatuh cinta. Namun Anna tak mau mengambil kesimpulan secepat itu. Apa lagi pada laki-laki yang telah merusak masa depannya, menghancurkan harapannya, bahkan bisa saja membuat orang tuanya terluka, marah besar terhadapnya. Anna tidak mau mengambil resiko yang berpotensi besar membuat orang tuanya kecewa, atau kemungkinan terburuk ia dibenci, Anna takut dengan reaksi orang tuanya.
Senyum yang menghiasi wajah cantiknya seketika memudar membayangkan wajah-wajah keluarganya yang menanti kedatangannya di negeri kelahirannya sana. Orang tuanya begitu senang ketika ia memberitahu bahwa ia mendapat beasiswa kuliah di salah satu universitas terkenal di Amerika. Anna tidak bisa membayangkan bagaimana kecewanya mereka ketika mengetahui bahwa dirinya telah rusak, ia tidak lagi suci. Salah tidaknya ia, orang lain tetap beranggapan jika ia memang salah.
"Aku nggak mungkin suka kan sama dia? Dia yang udah buat hidupku hancur."
Anna mendengkus, merasa lucu dengan perasaannya sendiri. Dengan gerakan cepat, dilepasnya kertas memo itu dari pintu kulkas. Anna meremas kertas itu hingga menjadi bulatan kecil yang kemudian berakhir mengenaskan di dalam tong sampah.
Melupakan tulisan yang berada di kertas tadi, Anna segera duduk di kursi dan mengambil menu sarapannya yang ditutupi tudung saji oleh laki-laki itu. Ia memang belum lapar, tapi menunda makan pagi bisa berakhir buruk terhadap janin yang ia kandung. Awalnya ia membenci janin itu, namun Anna tidak dapat menampik jika kini ia mulai mencintai calon buah hatinya.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Anna menghabiskan menu makan paginya. Tiga sandwich sudah cukup untuk mengganjal perutnya sampai makan siang nanti.
Selesai dengan sarapannya Anna kembali bergegas menuju kamar dan akan mengurung diri di sana sepanjang hari. Setibanya di kamar, Anna langsung membaringkan tubuhnya di ranjang besar itu. Matanya menelisik ke langit-langit kamar. Bayangan bagaimana hidupnya dapat Anna lihat di sana, ia seperti tengah menonton layar lebar. Anna mendesah, benar-benar merasa lelah dengan pikirannya sendiri.
Satu pertanyaan yang tidak pernah terlepas dari benaknya. Apakah ia terlalu bodoh?
Hanya pertanyaan sederhana dan Anna sendiripun sebenarnya mampu menjawabnya, namun entah mengapa Anna tidak menemukan jawaban atas pertanyaan itu di kepalanya. Sempat ia bertanya pada hati, tapi apa daya, hati malah tak tahu apa-apa.
Anna menegakkan tubuhnya kala mendengar ponselnya berdering. Wanita itu tampak mengerutkan keningnya bingung, siapa yang meneleponnya di pagi-pagi buta seperti ini? Ya, menurut Anna jam tujuh pagi masih masuk dalam kategori pagi buta, meski seharusnya bukan. Diraihnya ponsel berlogo apel yang digigit itu, Anna mendesah melihat nama sang kakak bersanding dengan gambar telepon.
Ia bukannya malas berhubungan dengan sang kakak, tapi ia takut ketahuan. Katakanlah Anna itu penakut, terlalu memikirkan hal buruk, dan terlalu takut mengambil resiko. Anna tidak akan menampik, karena itu memanglah kenyataannya. Anna itu tipikal orang yang selalu berandai-andai dengan hal buruk, ia kerap mengaitkan sesuatu dengan keburukkan.
Dering ponselnya sudah mati, mungkin karena Anna terlalu asik dengan lamunannya, sehingga ia melupakan fakta bahwa sang kakak baru menghubunginya. Namun, kurang dari lima detik berselang ponsel pintar Anna kembali berdering. Detik itu ia langsung teringat bagaimana seorang Rafael Abraham, kakaknya, sangat gigih dalam melakukan sesuatu, jika sekali ini ia gagal maka kali kedua, ketiga, dan seterusnya ia harus berhasil. Kakaknya tersebut tidak akan menyerah untuk menghubunginya, meski sang kakak tahu terkadang Anna harus mengikuti pelajaran di mata kuliahnya. Anna pun memutuskan untuk mengangkat telepon Rafael.
"Halo, Kak."
"Apa rempatmu kuliah udah ngasih kamu banyak tugas sampai kamu melupakan kakak tampanmu ini?" Tanya suara di seberang sana dengan ketus. Anna tersenyum kecil. Kakaknya itu, biar pun marah tidak akan pernah lupa untuk memuji dirinya sendiri.
"Hooh Bang, banyak banget tugasnya." Anna memilih berbohong. Kebohongannya di awal membuatnya harus menutupi hal itu dengan kebohongan-kebohongan kecil lainnya.
"Tuh kan! Apa Abang bilang. Harusnya kamu kuliah di Indonesia aja, biar nggak ngelupain keluarga tersayangmu sendiri. Eh iya, gimana keadaan kamu di sana?"
"Baik, Alhamdulillah. Abang sendiri? Ayah Bunda gimana?"
"Alhamdulillah kami semua baik. Abang sama Adira, Ayah, Bunda, dan Alvaro sebenernya pengin jenguk kamu di sana, tapi gimana ya? Abang belum ada rezeki sih, mana Abang juga belum jadi dokter beneran lagi," kata Rafa. Sempat Anna merasa takut dengan ucapan Abangnya itu, beruntung Abangnya tidak jadi berkunjung.
Ngomong-ngomong soal Alvaro, dia itu Alvaro Abraham, anak paling bungsu Alena dan Leon. Di antara yang lainnya, Alvaro yang paling tertutup. Dan adiknya itu lebih suka tinggal di rumah eyangnya daripada bersama ayah dan bundanya sendiri.
"Nabung dulu Bang, kalau gitu. Ngomong-ngomong di sana udah jam tujuh malem ya?"
"Iya. Abang masih di rumah sakit. Badan capek banget, tadi habis dikerjain sama dokter senior. Mentang-mentang kakak masih koas kali ya."
"Sabar atuh Kak. Orang sabar pantatnya lebar."
"Kamu ya! Ngomong-ngomong video call yuk? Abang kangen nih sama muka kamu, sama badan kamu. Tambah melar apa tambah kerempeng."
Anna membulatkan matanya. Tidak masalah ia video call-an dengan sang Abang saat usia kandungannya masih satu, dua atau tiga bulanan. Tapi sekarang usia kandungannya sudah enam bulan, tubuhnya pun sudah sedikit melar. Biarpun ia bisa menyembunyikan perutnya, tapi ia tidak bisa menyembunyikan pipi tembamnya. Kakaknya itu pasti bertanya-tanya. Apalagi sekarang, laki-laki itu juga mau melihat keseluruhan tubuhnya.
"Nggak bisa nih Bang, Anna lagi di jalan." Beruntung Anna itu cerdas, sehingga ia bisa dengan mudahnya mencari alasan.
"Ya kamu berhenti dulu dong, masa kamu nggak mau berhenti? Ini Abangmu yang paling ganteng, loh."
Anna cepat-cepat merubah topik, "Ck, Abang ini kenapa ngeselin sih? Btw Bang, gimana Mbak Adira? Udah isi belum?" Tanyanya. Topik mengenai Adira, istri kakaknya itu, selalu membuat Rafa bersemangat bahkan bisa melupakan suatu hal dengan cepat.
"Belum nih. Kamu doain dong, biar Adira cepet isi."
"Abang sih, kurang serius mainnya, kurang kerja keras."
"Jangan salahin Abang dong. Eh tapi, masa pagi tadi Mbakmu muntah-muntah terus? Mana Abang deketin dia marah-marah lagi, kan apes banget Abangmu yang ganteng ini," curhat Rafa yang diakhiri desahan.
"Hamil kayaknya itu Bang." Anna membandingkan apa yang kakak iparnya alami dengan apa yang ia alami. Ternyata hampir mirip dengannya. Tidak menutup kemungkinan juga kakak iparnya itu hamil, karena Adira kan sudah bersuami. Memang dirinya, apa?
"Oalah hamil." Rafael terdengar tidak acuh.
"Eh bentar, apa tadi kamu bilang? Hamil?!" Suara Abangnya terdengar meninggi.
"Iya. Itu tanda-tanda wanita hamil. Ih, masa Abang nggak tahu kalau itu tanda-tanda perempuan hamil? Abang kan mau jadi dokter kandungan." Anna berdecak kesal.
"Duh, Abang kan lagi banyak pikiran. Jadi Abang susah buat mikirin itu. Ya udah deh, Abang tutup dulu teleponnya. Abang mau nelepon Dira dulu, nggak sabar mau nanya-nanya. Bye, Assalamu'alaikum."
Belum sempat Anna membalas salamnya, Rafa sudah keburu mematikan sambungan. Benar-benar Abangnya satu itu. "Wa'alaikum salam."
***
Lamunan Anna seketika buyar ketika tangan kecil menggenggam tangannya dengan erat. Wanita yang sebentar lagi genap berusia seperempat abad itu tersenyum mendapati Keano yang memandangnya dengan tatapan polos.
Anna begitu suka bermain dengan anak itu, ia merasa dengan begitu rasa bersalahnya terhadap buah hatinya sedikit berkurang. Kalau boleh jujur, Anna tidak pernah rela meninggalkan anak-anaknya. Ia belum sempat melihat rupa anak-anaknya, bahkan Anna tidak tahu apa jenis kelamin mereka, yang ia tahu bahwa bayi yang ia lahirkan kembar dari saat mereka memeriksakan kandungannya yang sudah memasuki usia tujuh bulan, di layar monitor menunjukkan dua janin yang tampak berkembang hampir sempurna. Salah satu hal yang membuat Anna tidak melihat anak-anaknya, adalah dirinya yang tidak sadarkan diri, ia kehilangan banyak darah, sehingga prosesi bersalin pun harus dilakukan secara sesar.
"Onty, Nono kangen Ongkel Alpa, Ongkel Alpa lama nggak jengukin Nono," ucap Keano dengan tampang kesalnya.
"Kan Om Alva lagi kerja di luar kota, No, ngurus restoran cabang Opa sama kuliah juga," kata Anna, berbohong dengan kebenaran yang ada. Ia tidak tahu di mana adiknya sekarang.
Anna juga merindukan adiknya itu, namun sikap dingin Alvaro terhadapnya, membuat Anna enggan mengakui rasa sayangnya itu. Lagipula sakit hati akibat ulah sang adik belum sepenuhnya hilang. Anna nyaris tak percaya, kepulangannya ke Indonesia beberapa tahun yang lalu disambut oleh kabar buruk bahwa adiknya memilih pergi meninggalkan rumah karena memilih sang pacar dibanding dengan perjodohan yang orang tuanya ajukan. Anna kecewa dengan Alvaro karena gara-gara tindakan Alvaro itu kakeknya terkena serangan jantung, dan akhirnya meninggal dunia. Meski itu semua sudah menjadi takdir tapi bagi Anna dan keluarganya semua itu ulah Alvaro. Bahkan, adiknya itu tidak mau berkunjung ketika istri dari kakaknya---Adira Prameswari--- meninggal dunia.
Andai saja dulu Alvaro tidak keras kepala, dan mau menerima permintaan sang kakek untuk menikahi putri sahabatnya, sehingga tidak perlu drama adu suara tinggi yang berakhir dengan melayangnya nyawa kakek karena malaikat Izrail menjemputnya.
"Tapi Nono kangen."
"Kapan-kapan deh, Aunty Na minta Uncle Alva pulang. Sekalian minta anak itu bawain banyak makanan." Anna tersenyum seraya menaik turunkan alisnya. Keano mengangguk antusias.
"Mantul Nty." Anna mengerutkan keningnya mendengar kosa kata asing keluar dari mulut keponakan tampannya itu.
"Mantul? Kok mantul sih No?" Keano membulatkan matanya.
"Onty masa nggak tahu? Ish, ish, ish, Onty kulang gaul, masa Nono lebih gaul dali Onty Na? Mantul itu mantap betul." Anna mencium gemas pipi gembul Keano.
"Aunty Na kan mainnya nggak di situ No. Aunty Na tahunya tentang ilmu ekonomi. Gini deh. Emang Nono tahu apa itu kebijakan fiskal?"
"Pasta? Tahu, yang enak dimakan itu kan, Nty?" Anna menepuk jidatnya.
"Fiskal Sayang. Jauh banget loh fiskal sama pasta."
"Kan tinggal dideketin Nty. Masa jauh sih? Kesel deh sama Onty Na."
Anna berdecak, yang seharusnya kesal itu dirinya bukan Keano. Heran deh Anna, dulu kakaknya pas memproses Keano ngucap Bismillah atau tidak, sih?
TBC
Ada yang suka nggak sih?
Masih mo lanjut nggak?
Btw, maaf untuk typonya.