Mata Fabian mengerjap, hal pertama yang laki-laki itu lihat adalah wajah cerah seorang dokter paruh baya dengan warna putih yang mendominasi helaian rambutnya. "Akhirnya Anda sadar juga, Pak," kata dokter itu ramah. Fabian ingin menanggapi dengan senyuman, namun ia malah meringis. Sudut bibirnya yang terluka terasa perih ketika ia berusaha menarik sudut bibirnya itu membentuk seulas senyum. "Te-terima ka-kasih Dok," ucap Fabian terbata, dokter tersebut tersenyum lantas menganggukkan kepalanya dengan sopan. "Sudah menjadi tugas saya, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Bu, saya permisi," pamit dokter itu pada Fabian dan juga ... ternyata ada Anna di ruangan itu. Anna tersenyum tipis seraya mengangguk sopan. Selepas kepergian dokter tersebut, Anna mendekati Fabian. Fabian tampaknya masi

