Pria yang biasanya arogan, tidak bisa menahan emosi dan terkesan cuek, sifat itu seketika hilang ketika sampai di pemakaman umum. Rasa rindu, rasa sakit dan rasa ingin kembali ke masa lalu membelenggunya. Entah ini ke berapa kalinya, Verza merindukan mamanya. “Ini makam mamaku, Ren.” Wanita berpakaian serba hitam itu menatap gundukan tanah yang tertutup rumput hijau. Rensha berharap jika rumput hijau yang tumbuh menandakan mama Verza berbahagia di alam sana. “Ma, Verza datang,” sapa Verza sambil menunduk menyentuh nisan di depannya. Mata Rensha tidak lepas dari pusara di depannya. Nama Aizah terukir jelas, nama yang baru pertama kali ini dia tahu. Rensha lalu berjongok di samping Verza, menabur taburan bunga di rumput yang hijau itu. “Kenalin. Ini istri Verza, namanya Rensha. Maaf bar

