12-Rasa Ingin Melindungi

1555 Words
“Gue tanya, lo cinta dia nggak? Atau dia cinta sama lo?” Rensha terdiam, tanpa diminta air matanya menetes. Cinta? Bahkan tidak ada alasan itu yang mendasari semuanya. Dia saja masih tidak tahu apa yang mendasari Verza sampai melamarnya. Diam-diam Gilbert tersenyum. Sebagai seorang pria dia tahu Verza tipe pria yang tidak bisa menetap pada satu wanita. Kedua tangan Gilbert terulur ke depan, menangkup pipi Rensha yang terasa basah itu. “Kenapa diem? Nggak ada cinta di antara kalian?” tanyanya sambil mengangkat wajah Rensha agar menatapnya. Di dalam apartemen, Verza mengepalkan tangan. Dia tidak suka dengan Gilbert yang terkesan menyudutkan itu. Tidak kuat lagi menahan Verza berjalan keluar. Dia kaget melihat Gilbert yang terlalu dekat dengan Rensha. Verza langsung menarik tangan Rensha, hingga wanita itu mundur beberapa langkah. Mata kecokelatannya lalu menatap Gilbert tajam. “Gak usah deket-deket Rensha lagi! Dia calon istri gue.” Gilbert tersenyum. Dia menatap Rensha yang hanya diam itu, mungkin tidak ingin memperkeruh suasana. “Gue tertarik sama lo, Ren. Dan gue bakal perjuangin lo,” ucapnya menarik amarah Verza. Verza melepas genggamannya, dia mendekat ke Gilbert hendak menonjok wajah pria bertato itu. Beruntung Rensha sigap dengan memeluk Verza dari belakang. Hingga tindakan pria itu terhenti. “Takut?” Gilbert mengejek. Dia berjalan mundur, senyum sinis terukir di bibirnya. “Tunggu tanggal mainnya, Verza!!” ucapnya lalu berbalik. Selepas kepergian Gilbert, Rensha melepas pelukannya. Dia menarik pundak Verza agar mengikutinya masuk apartemen. Verza menurut, sambil menghela napas panjang. Dia sedang mengontrol emosinya yang hampir meledak. “Jadi dia mau rebut lo dari gue?” tanya Verza setelah duduk di sofa single. Rensha mengangkat bahu. Dia sendiri tidak menyangka jika Gilbert akan marah sebesar itu. “Lusa. Kita makan malem sama papa.” Kalimat Verza, membuat gerakan Rensha terhenti. Wanita itu mulai diliputi perasaan takut. Selama mengenal Verza, dia tidak pernah sekalipun bertemu dengan orangtua Verza. Rensha harus menyiapkan semuanya. Terutama mental. ***   Sebuah rumah bergaya amerincan classic tampak megah dengan didominasi warna putih dan orange. Setiap sudut selalu dihias dengan perabotan mahal. Mulai dari guci berbagai ukuran hingga pedang etnik yang tentu hanya beberapa buah di dunia. Di ruang makan, tampak empat orang duduk mengelilingi meja oval. Di depan mereka tersaji hidangan utama hingga hidangan penutup. Suasana makan malam yang seharusnya syarat kebahagiaan dan suka cita, jadi menegang karena tatapan berbeda dari dua orang. Firan—Papa Verza—duduk dengan dagu bersangga di dua tangan yang saling menggenggam. Dia sedang menilai wanita yang diajak Verza ke rumah. Firan cukup dibuat kaget ketika melihat wanita berparas cantik dengan makeup sederhana. Padahal dia menebak Verza akan membawa wanita dengan pakaian kurang bahan, yang selalu dijadikan teman kencan anaknya itu. “Nama kamu siapa?” tanya Firan setelah mengakhiri tatapan menilainya. Verza dan Rensha saling berpandangan. Pria berkemeja biru itu mengangguk, memberi kode agar Rensha segera menjawab. “Nama saya Rensha, Om,” jawab Rensha memperkenalkan diri. “Kamu kerja atau bagaimana?” Rensha melirik wanita yang sejak tadi menatapnya itu. Dia melihat ada senyum mengejek yang keluar dari lipstik merah darah itu. Tatapan Rensha lantas tertuju ke Papa Verza. “Saya bekerja, Om. Di kantor penerbitan.” “Oh,” ucap Lasmi—Mama tiri Verza. Lasmi menilai calon istri yang dibawa Verza tidak sebanding. Dia bahkan bisa menjodohkan anak tirinya dengan wanita yang lebih baik. “Keluarga kamu punya usaha, orang biasa atau bagaimana?” “Papa!!” ucap Verza mengingatkan. Firan menatap anaknya itu sejenak. Dia seolah tidak merasa bersalah karena mengajukan pertanyaan itu. Tatapan Firan lalu tertuju ke Rensha melihat wanita itu tengah menunduk. “Ren,” bisik Verza lembut. Satu tangan Verza menggenggam tangan Rensha. Pria itu tahu Rensha pasti berat menceritakan permasalahan keluarganya yang baru dialami. “Siapapun orangtua Rensha bukan urusan papa,” jawab Verza tajam. Mendengar ucapan anaknya, Firan menegakkan tubuh lalu menggeleng tegas. “Tentu ada urusannya. Nggak mungkin papa mau besanan sama orangtua yang biasa aja.” Hati Rensha tercubit mendengar itu semua. Sebelum berangkat dia sudah menyiapkan mental. Dia siap menghadapi orangtua Verza, tapi kenyataannya dia tidak bisa. Dia juga tidak menyangka kalau orangtua Verza seperti ini. “Rensha berasal dari keluarga baik-baik, Om,” jawab wanita itu setelah berusaha mengalahkan ketakutannya. Diam-diam Verza tersenyum. Ini yang dia sukai dari sisi Rensha. Wanita itu selalu berusaha mengalahkan ketakutannya. Verza lalu mengeratkan genggamannya, membuat Rensha menoleh. “Good. Gue suka jawabannya,” bisik Verza manis. Di depan mereka Lasmi menyaksikan keromantisan dua orang itu. Lasmi berdeham, membuat dua orang itu mengangkat wajah. “Malam ini kamu pakai gaun siapa, Ren?” tanyanya sambil meneliti gaun Rensha yang berwarna dusty pink itu. Bibir Rensha terbuka hendak menjawab, tapi suara Verza lebih dulu terdengar. “Ivan Gunawan, desainer kesukaan mama. Kenapa? Merasa tersaingi?” Rensha kaget mendengar nada ketus Verza. Wanita itu lalu mengusap lengan kekar Verza. “Yang sopan sama mama lo.” Verza belum sempat menceritakan keluarganya ke Rensha. Sejak pagi dia dan Rensha sibuk mencari gaun, hingga berakhir di salon. Verza sudah menebak kalau pembahasan masalah fashion tidak akan ketinggalan. Karena itu Verza menyiapkan seditail mungkin hingga dia lupa memberi informasi penting tentang bagaimana sifat papa dan mama tirinya ke Rensha. “Tidak. Mama suka kalau pacarmu peduli soal fashion,” jawab Lasmi dengan senyum meremehkan. Baginya Rensha masih kalah dengan anak teman arisannya itu. “Sudah-sudah, kita bahas topik utama,” ucap Firan mengakhiri topik pembicaraan istrinya. Firan menatap Verza dan Rensha bergantian. Sebagai seorang ayah, Firan tidak ingin anaknya itu salah memilih wanita. Apalagi sampai mempermalukan keluarga karena pilihan yang salah. “Jadi kalian yakin mau menikah?” tanya Firan membuat dua orang itu menegang. Verza menarik napas panjang. Ada sebagian hatinya yang menolak ini semua, tapi dia sudah melangkah terlalu jauh. Ini semua dia lakukan demi membantu Rensha. Meski dialah yang nantinya membawa wanita itu ke masalah yang baru. “Yakin, Pa.” Perlahan Rensha mengembuskan napas lega. Dia sempat takut, Verza berubah pikiran. Rensha mengangkat wajah membuatnya bertatapan dengan Verza versi tua. “Yakin, Om,” jawabnya mantap. Firan mengangguk singkat. Dia berdiri membuat kursi sedikit terdorong ke belakang. Dia lalu menatap Verza. “Ikut, papa,” Setelah mengucapkan itu dia melangkah menuju ruang kerjanya. Di ruang makan, Rensha menatap Verza memohon. Dia sangat tidak nyaman jika harus berdua saja dengan Mama Verza. “Tenang aja. Kalau dia ngejek lo, bales aja. Lo nggak perlu takut,” jawab Verza sambil melirik mama tirinya itu. “Tenang. Gue cuma bentar.” Verza memiringkan wajah, mencium pipi Rensha. Setelah itu dia berdiri menyusul papanya. Dua orang itu sama-sama diliputi perasaan takut. Rensha takut berhadapan dengan Mama Verza. Sedangkan Verza takut papanya akan meminta hal yang aneh-aneh.   ***   “b******k!!” Telinga Rensha akrab mendengar makian yang keluar setiap lima menit sekali itu. Dia melirik pria yang sejak tadi mengumpat, melihat rahang pria itu yang terlihat kaku. Tanda emosi telah menguasai Verza sepenuhnya. “Ver. Are you okay?” Usapan di lengan membuat Verza melirik sekilas. Dia menurunkan kecepatan mobil yang dia kendarai lalu menepikan mobil di bahu jalan. “Tua bangka itu emang b******k!!” maki Verza sambil memukul kemudi. Rensha tidak tahu apa penyebab Verza marah-marah seperti ini. Setelah mereka berpisah selama kurang lebih tiga puluh menit, Verza datang dengan raut mengeras. Pria itu tanpa sepatah kata menarik Rensha hingga di dalam mobil hanya makian yang selalu terlontar. Rensha mengasumsikan jika Verza bertengkar dengan sang papa. “Ada yang mau lo bagi sama gue?” tanya Rensha sambil mengarahkan pandang Verza ke arahnya. Verza menatap wanita di depannya itu lalu menarik napas panjang. Tenggorokannya terasa tercekat karena emosi yang menguasainya. Verza lalu menarik Rensha ke dalam pelukan. “Dia emang b******k, Ren!” Kedua tangan Rensha menepuk pundak lebar itu lembut. “Emang kenapa? Nggak baik ngatain papamu kayak gitu.” “Tapi dia emang b******k. Gue udah nurut, tapi dia minta yang aneh-aneh.” “Minta apa?” Mata Verza terpejam ingat saat papanya meminta agar tinggal bersama setelah pernikahan. Tidak hanya itu, dia dituntut sepenuhnya mengurus perusahaan. Papanya seolah tahu, Verza berniat asal-asalan mengurus perusahaan. Dan ketiga, papanya telah mengurus semua urusan pernikahannya. Bahkan Verza tidak diberi kesempatan untuk ikut andil dalam persiapan pernikahannya sendiri. “Nanti gue ceritain, Ren. Gue masih males,” jawab pria itu sambil membuka mata. Verza melepas pelukan lal menatap Rensha yang terlihat penasaran dengan ceritanya itu. “Oke. Gue bakal nunggu cerita lo,” jawab Rensha meski sebenarnya berat. Sudut bibir Verza tertarik ke atas, memang Rensha wanita yang selalu mengerti dirinya. Verza memiringkan wajah, mencium bibir Rensha cepat. “Besok kita harus fitting baju,” bisik Verza setelah mengakhiri ciumannya. Rensha tersipu. Dia sering membaca novel di mana fitting baju pengantin pasti akan mengasyikkan. Dia membuang muka sejenak, tidak ingin Verza tahu jika dirinya sedang bahagia. “Besok jam berapa, Ver? Gue harus kerja.” Verza kembali menghadap depan dan mulai menyalakan mesin mobilnya. “Setelah lo pulang kerja. Gimana?” “Boleh. Lo jemput gue, kan?” “Tentu dong, Sayang,” jawab Verza sambil mengusap puncak kepala Rensha lembut. Jika hati Verza untuk Rensha, tentu wanita itu sangat bahagia dengan perbincangan ini. Namun, yang dirasakan Rensha sekarang berbeda. Dia memang bahagia, tapi dia todak menampik perasaan sedih yang menggerogoti hatinya. Nyatanya, dia hanya memiliki raga Verza, hanya itu. Diam-diam Verza melirik. Pria itu tahu ada perubahan drastis dari wajah Rensha. Verza menggeleng, tidak ingin memikirkan itu lebih jauh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD