“Cie.. Pagi-pagi udah dapet kiriman dari pengagum rahasia.”
Godaan itu Rensha dapat saat baru keluar lift. Dia berpapasan dengan Ika yang berdiri dengan mendekap sebuah map itu. Tidak mengerti apa yang diucapkan Ika, Rensha hanya menepuk pundak teman sekantornya itu.
“Apaan sih, Mbak Ika,” jawab Rensha tidak ada perasaan bingung sedikitpun. “Mau rapat, Mbak?”
Ika mengangguk lantas ingat sebuah novel yang hendak dia garap. “Bentar lagi ada proyek baru. Coba, deh, lo buat konsep cover, temanya sih tentang pernikahan.”
“Oke. Nanti kalau udah gue kirim di email, ya.”
“Sip! Gue harus buru-buru ke ruang rapat,” pamit Ika lalu masuk lift yang sejak tadi dia tahan itu.
Rensha berbalik berjalan santai ke kubikelnya. Akhirnya dia bisa bekerja santai. Tidak seperti beberapa minggu terakhir yang selalu ingat dengan perekonomian keluarganya.
Wanita berblazer putih bunga-bunga itu menghentikan langkah saat tepat di depan kubikelnya terdapat kardus besar. Dia lalu berjalan cepat, untuk memastikan kardus itu dari siapa.
“Dari pengagum rahasia, Mbak!”
Suara serak itu membuat Rensha menoleh. Dia mengernyit menatap Uno—juniornya.
“Gue nggak punya pegagum,” jawab Rensha apa adanya. Dia merasa tidak memiliki pengagum. Justru dialah yang diam-diam mengagumi Verza.
“Terus dari siapa dong, Mbak? Kayaknya itu bukan dari online shop,” jawab Uno ingat kiriman yang selalu diterima Rensha hanya sebatas kardus kecil berisi pakaian, tas atau sepatu.
Rensha mulai penasaran dengan kardus itu. Dia menunduk, mencari petunjuk kiriman itu dari siapa. Namun, di kardus cokelat polos itu tidak ada tulisan apapun. “Siapa yang ngirim, No?” tanyanya ke Uno yang berdiri di dekat meja printer itu.
Uno mengangkat bahu. “Gue baru dateng. Tuh kiriman udah ada di tempat lo.”
“Kerjaan siapa, sih, ini.”
Rensha menggapai gunting, menggunting perekat dan membuka isinya. Dia tercenang melihat boneka teddy bear berwarna crem dengan ukuran jumbo. Dia sengaja tidak mengangkat boneka itu, takut tidK bisa mengembalikan ke dalam kardus.
“No. Ada tempat kosong nggak buat naroh di barang?” tanya Rensha. “Ya kali ini di depan kubikel gue. Halangin orang jalan.”
Uno mengedarkan pandang di mana setiap sudut penuh dengan tumpukan kertas. Dia lalu menggeleng. “Nggak ada tempat, Mbak. Gojekin aja, deh, anter ke rumah.”
Wanita itu seolah tersadar. Dia merogoh ponsel lalu membuka aplikasi ojek online.
“Bentar lagi abang gojek ke sini,” gumamnya lega. Dia menyingkirkan kardus yang menghalangi langkahnya masuk kubikel. Setelah di dalam, Rensha menggeser lagi agar kardus itu tidak menghalangi langkah orang lain.
“Dari siapa, ya?” Rensha terdiam. Berusaha mencari tahu siapa pengirim boneka besar itu.
***
Pukul enam sore, sesuai janji yang telah disepakati Rensha dan Verza akan fitting baju pengantin. Sekarang mereka sedang mencoba beberapa pakaian yang akan dikenakan di hari pernikahan mereka. Rensha tidak ditemani siapapun, jadi dia hanya menilai gaun berdasarkan penilaiannya saja.
“Ren!!”
Teriakan Verza terdengar. Wanita itu mengintip dari gorden, melihat Verza yang mengenakan kaus itu duduk di kursi tunggu.
“Tunggu bentar ya, Ver!!” teriak Rensha sambil berusaha melepas baju pengantinnya.
“Perlu bantuan nggak?”
Mendengar itu Rensha memutar bola matanya malas. Dia tahu Verza bukan berniat membantu, tapi berniat modus. Tanpa menjawab Rensha melepas gaun itu. Lalu dia buru-buru memakai pakaiannya, sebelum Verza berbuat nekat. Setelah itu Rensha menyibak gorden.
“Yah, udah selesai. Padahal mau gue bantuin,” goda Verza.
Rensha menggeleng pelan lalu melangkah menuju petugas butik. “Saya mau yang ini saja. Baju yang nggak kepilih masih di ruang ganti,” ucapnya.
“Baik. Saya bungkus dulu, ya.”
Verza mendekat duduk di kursi tinggi depan meja kasir. Tangannya melingkar ke pundak Rensha dan menariknya mendekat. “Gue belum sempet liat baju lo kayak gimana.”
Tatapan Rensha tertuju ke rambut Verza yang sedikit berantakan itu. Tangannya terangkat, merapikan rambut lebat itu. “Gue juga nggak liat pakaian lo gimana.”
“Impas, ya.”
Rensha terkekeh geli, masih membelai rambut lembut Verza dengan jemarinya. “Sebelum nikah potong rambut, ya.”
Satu alis Verza terangkat. “Ngapain? Bukannya bagusan kayak gini?”
“Ya biar tipis aja. Biar rapi.”
“Yakin? Rambut gue yang lebat bisa lo jambak, loh, setelah resepsi pernikahan.”
Mendengar kalimat itu Rensha buru-buru menjauhkan tangan, tahu ke mana arah pembicaraan Verza. Sedangkan pria itu hanya terkekeh melihat wajah jutek sahabatnya itu. Karena gemas, Verza mencium bibir Rensha bertepatan dengan petugas butik yang menyerahkan belanjaan mereka.
“Eh maaf,” ucap pegawai itu dengan senyum malu-malu.
Tangan Rensha mendorong kening Verza menjauh. Wanita itu mengambil kantong belanjaan dan berlalu begitu saja.
“Bapak romantis ke calon istrinya,” kata pegawai itu ke Verza.
“Saya juga bisa, loh, romantis ke kamu,” jawab Verza sambil mengerling. Setelah mengucapkan itu dia turun dari kursi meninggalkan pegawai yang terbawa perasaan itu.
Percakapan Verza masih mampu didengar oleh Rensha. Wanita itu hanya geleng-geleng mendapati Verza tidak ada perubahan sama sekali. Rensha menarik pintu kaca butik, bertepatan dengan itu wanita berambut merah hendak masuk. Tubuh Rensha menegang, menyadari Tirta ada di depannya.
“Ren, tunggu dong,” kata Verza belum mengetahui kehadiran Tirta.
Di depan dua orang itu, Tirta terdiam mengamati Verza dan Rensha bergantian. Tatapannya lalu tertuju ke dua kantong besar di tangan Rensha. Dengan cepat, Tirta merebut kantong itu dan melihat isinya.
“Gaun pernikahan, heh?” tanya Tirta menyelidik. Dia memasukkan baju itu ke dalam kantong dan melemparkan ke Rensha. Beruntung Verza sigap sehingga kantong itu tidak mengenai wajah Rensha.
“Lo ngapain di sini?” tanya Verza tak suka. Dia maju selangkah, melindungi Rensha dari amukan Tirta.
“Ini butik punya tante gue. Kalian ngapain beli baju pengantin?” tanya Tirta dengan pandangan menyelidik.
“Menurut lo?” tanya Verza dengan seulas senyum. “Ketika pria dan wanita beli gaun pengantin bareng, apa yang ada di pikiran lo?”
Rensha menarik tangan Verza, meminta sahabatnya itu agar tidak memperkeruh suasana. Namun, bukan Verza namanya kalau menurut begitu saja.
“Jadi kalian mau nikah?!!” tanya Tirta menjerit.
Wanita itu menatap Verza tidak yakin tahu Verza tipe pria bebas yang tidak suka terikat. Tirta tersenyum, tatapannya lalu tertuju ke Rensha yang diam menatapnya itu. Dia lantas bergerak mendorong Rensha. “Pasti lo ngejebak Verza, kan,biar nikahin lo? murahan lo, Ren!!”
Dituduh seperti itu Rensha mulai dikuasai emosi. Dia maju selangkah mendorong Tirta setelah itu dia berjalan keluar butik. Namun, baru beberapa langkah Rensha berbalik menatap Tirta yang menatapnya dengan wajah memerah. Semerah rambut wanita itu.
“Harusnya lo ngaca! Siapa yang sebenarnya murahan.” Setelah mengucapkan itu Rensha melanjutkan langkah menuju mobil Verza.
Di depan pintu, Verza tersenyum. Senang melihat Rensha yang bisa melawan disituasi yang tepat waktu. “Gimana? Calon istri gue, kan, yang menang? Sampai lo nggak bisa bales gitu,” ejeknya.
Tirta mengepalkan tangan. Dia hendak menarik Verza, tapi pria itu lebih dulu berkelit. Tirta berbalik, menatap Verza yang berjalan santai meninggalkannya itu.
“Gue bakal rebut Verza, Ren!!! Camkan itu!!” teriak Tirta.
Di dalam mobil Rensha terkekeh geli karena ulah Tirta. Padahal Tirta sendiri yang dulu menyia-nyiakan Verza sekarang berusaha meraih.
“Seneng banget kayaknya bisa ngelawan Tirta,” kata Verza setelah masuk mobil.
“Udah, deh. Cepet balik, gue udah capek.”
Verza mengangguk. Sebelum menyalakan mobil, dia menyempatkan diri mencium bibir Rensha. “Sebagai balesan lo menang dari Tirta!”
Rensha tersenyum, meski hanya beberapa detik. Dia mendorong wajah Verza agar kembali menatap depan. “Udah, deh, sekarang kita pulang!”
“Gue nginep apartemen lo, ya,” pinta Verza.
“Nggak bisa. Gue pulang ke rumah.”
Mendengar itu Verza kecewa, padahal dia rindu dengan rutinitasnya dulu. Saat berbagi cerita bersama Rensha di malam hari.
***
Asap rokok ada di mana-mana. Teriakan manusia-manusia yang haus kesenangan semakin kencang. Musik dari DJ tak henti berputar, siap membuai mereka dengan sebuah irama tanpa kenal lelah.
Di antara manusia-manusia yang melenggak-lenggokkan tubuhnya, pria bertato naga ikut berjoget. Dia suntuk dengan pikiran yang mengacaukannya. Ya, dia mulai pusing memikirkan Rensha, wanita yang menarik perhatiannya. Wanita yang sempat dijodohkan dengannya.
Saat sedang asyik bergoyang, Gilbert menghentikan kegiatannya. Dia menarik diri dari manusia-manusia yang meliukkan tubuh mereka. Dia berjalan ke meja bar memesan martini untuk melepas dahaganya.
“Suntuk banget lo, Bro!” kata sang Bartender.
Gilbert mengangguk lalu menegak minuman di depannya. Sambil menikmati sensasi minuman itu menggelitik tenggorokannya, dia mengedarkan pandangan. Tatapannya terhenti saat melihat pria duduk sambil di kelilingi beberapa wanita.
“Lo kenal, tuh, cowok siapa?” tanya Gilbert ke Bartender.
Bartender dengan topi terbalik itu melongok, mencari tahu siapa yang dimaksud pria di depannya. Saat melihat yang dimaksud, sang Bartender kembali berdiri tegak. “Dia Verza. Pengunjung tetap kelab.”
“Dia tiap malem kayak gitu?”
“Nggak juga, sih, tapi ya seringlah.”
Tatapan Gilbert teralih menjadi menatap Bartender di depannya. “Dia punya pacar nggak?”
“Kayaknya, sih, enggak. Dia sering gonta-ganti cewek. Pengunjung cewek sini hampir semua jadi teman kencan dia.”
Gilbert manggut-manggut. Dia sudah menebak kalau Verza adalah playboy yang suka bergonta-ganti wanita. Berbeda dengan dirinya yang sama sekali enggan diribetkan oleh urusan wanita.
“Gue nggak boleh lepasin momen ini.”
Satu tangan Gilbert merogoh saku celana. Dia membuka kamera dan mengarahkan ponsel ke arah Verza. Setelah itu Gilbert mengirim pesan singkat ke Rensha.
“Pria kayak gitu lo pilih, Ren?” gumamnya. “Gue bukan pria baik, tapi gue bisa setia. Asal lo setia sama gue.”
Gilbert mengangkat gelas meminta bartender mengisi gelasnya yang kosong. Sambil menunggu, dia menoleh lagi ke Verza. Melihat pria itu tengah bercanda dengan dua wanita yang berada di sampingnya.