Sehari setelah pernikahan, tidak ada cuti menikah, tidak ada honeymoon, yang ada hanya Rensha dan Verza yang siap dengan pekerjaan mereka masing-masing. Setelah semalam hanya sekadar tidur berpelukan, paginya mereka memilih sibuk sendiri. Hanya berbagi cerita di dapur dengan segelas teh dan segalas s**u campur madu.
Usai perbincangan singkat, Rensha pamit ke apartemennya untuk mengambil laptop. Tanpa kembali lagi ke apartemen Verza, wanita itu memilih segera berangkat ke kantor. Karena waktu yang semakin mepet, ditambah dia ada rapat redaksi.
Sedangkan Verza, selepas kepergian Rensha dia berisap-siap ke kantor. Tepatnya hari ini Verza akan mengurus perusahaan bersama sang papa.
“Itu wakil direktur yang baru? Keren banget!!”
Verza mendengar decak kagum dari karyawati yang dia lewati. Jika biasanya dia menoleh dan memberikan senyumannya, pagi ini tidak. Dia berjalan mantap mengikuti papanya di depannya.
Hari ini ada perkenalan dengan petinggi perusahaan. Verza menolak acara papanya untuk acara sambutan. Baginya acara seperti itu tidak penting, lagi pulandia tidak begitu suka dengan pilihan ini.
“Selamat pagi.”
Tatapan Verza mengamati ruang meeting. Di sana ada sepuluh pria berpakaian rapi berdiri menyambutnya. Verza merapikan letak dasinya lantas berjalan masuk. Dia duduk di kepala meja, tepat di samping papanya.
“Perkenalkan, dia wakil direktur Lafinsha Group,” jelas Firan. Pria itu menoleh ke anaknya yang mengangguk hormat itu. “Yang tak lain adalah anak saya. Verza,” lanjutnya.
Verza berdiri membuatnya mendapat tepukan selamat dari petinggi perusahaan. “Selamat pagi. Saya Verza. Senang bergabung dengan Anda semua.” Setelah mengucapkan itu dia kembali duduk.
Dalam hati dia memaki dirinya sendiri yang sempat bilang “senang”. Padahal Verza lebih suka dengan kehidupan sebelumnya yaitu menjadi arsitek dengan jam kerja sore hingga malam hari. Diam-diam Verza melirik jam di pergelangan tangannya. Seharusnya jam delapan dia tidur, bukan terjebak rapat basa-basi seperti ini.
Di tempat lain, Rensha duduk mendengarkan Ika yang membahas novel terbaru yang akan digarap. Dia mencatat di notes seputar novel itu seperti apa. Kelak itu akan dia jadikan tema utama dalam pembuatan cover.
“Ren. Sejauh ini lo udah kepikiran cover-nya kayak gimana?”
Diberi pertanyaan itu Rensha tersentak. Dia menoleh menatap Ika, lantas menjawab seadanya. Sejujurnya dia belum mendapat gambaran pasti. “Rencananya, sih, gambar dua gaun gitu. Warna dasarnya merah. Gimana?”
“Yang kayak gitu udah pernah.”
Rensha terdiam mencoba mengingat desain cover yang telah dibuat. Beruntung pikirannya cepat bekerja. “Kayaknya bakal gambar keunikan dari kedua tokoh.”
Ika mengangguk singkat. “Nanti kita bahas lagi masalah itu. Lo juga harus baca novelnya, biar sesuai.”
“Siap, Mbak,” jawab Rensha.
Rapat masih berlangsung. Diam-diam Rensha mengeluarkan ponsel dari saku celana. Dia melihat tidak ada satu pesanpun yang masuk. Wanita itu menghela napas panjang, dia terlalu berharap Verza memberinya pesan.
Tanpa diminta pikiran Rensha tertuju ke percakapannya dengan Verza semalam. Sampai sekarang dia tidak tahu maksud Verza menikahinya. Untuk apa menikahi kalau pria itu setuju Rensha jatuh hati kepada pria lain?
“Pria memang aneh!!” maki Rensha tanpa sadar.
Ika yang tengah berbicara sontak terdiam. Dia menatap Rensha yang tersenyum tak enak itu.
“Sorry, Mbak. Inget novel sebelumnya,” ucap Rensha lalu menunduk.
“Fokus, Ren.”
Rensha mengangguk sambil mencoba menghilangkan nama Verza agar tidak membuat kesalahan lagi.
***
Tet!!!
Saat sedang memakan minpedas, bel apartemen itu berbunyi. Wanita dengan celana sepaha dan kaus oblong itu menyudahi kegiatan makannya. Dia turun dari kursi dan berjalan menuju pintu. Dia tersentak saat melihat Gilbert di depannya.
“Gue seneng kalau lo masih tinggal di apartemen,” jawab Gilbert dengan seulas senyum. Dia lalu memperhatikan Rensha yang menatapnya bingung itu. “Gue boleh masuk?”
Seolah tersadar Rensha bergerak ke samping. Tangannya memberi kode agar Gilbert masuk dulu.
“Lo masih tinggal di sini, Ren?” tanya Gilbert setelah duduk di sofa panjang.
Rensha menggeleng, lalu mengangguk membuat Gilbert bingung.
“Yang bener yang mana?” Gilbert sambil menggeleng heran.
“Gimana, ya? Apartemen gue sebelahan sama apartemen Verza. Jadi gue masih sering ke sini.”
Gilbert baru tahu informasi itu. Dunia ternyata sempit, mereka tinggal masih dalam satu atap. Gilbert memajukan tubuh, menatap Rensha yang wajahnya mulai memerah itu. “Lo kenapa?”
“Kenapa apanya?” tanya Rensha mengernyit bingung.
“Muka lo merah.”
Refleks tangan kanan Rensha terangkat. Dia menyentuh pipinya yang terasa hangat. Wanita itu lantas terkekeh pelan. “Habis makan mi pedas.”
“Gue kira lo udah nangis di hari pertama setelah menikah.”
Rensha mengalihkan pandang sejenak. Bahkan wanita itu menangis beberapa jam setelah resmi menikah. Tidak ingin Gilbert berpikiran jauh, Rensha mengajukan pertanyaan. “Lo ngapain ke sini?”
Pertanyaan itu mengingatkan Gilbert tentang kegalauannya tadi. Sejak semalam dia ingat Rensha. Lalu sore ini dia nekat ke apartemen wanita itu. “Pengen ketemu lo. Emang nggak boleh?” tanyanya tidak menutupi semuanya.
“Ya nggak apa-apa, sih, tapi gue, kan, udah nikah.”
“Suami lo ngelarang?”
Rensha terdiam. Jika suami lain melarang istrinya bertemu pria lain, mungkin akan beda dengan Verza. Rensha hanya membalas dengan senyuman.
Senyum Rensha nyatanya tidak mampu membuat Gilbert tenang. Dia semakin penasaran dengan kehidupan Rensha. “Lo beneran bahagia, Ren?”
“Kenapa lo tanya gitu?”
“Kalau lo nggak bahagia, gue bakal rebut lo dari Verza.”
Rensha menunduk, ingat dengan kalimat Verza kemarin. Awalnya Verza tidak membiarkan Rensha direbut Gilbert. Kedua Verza akan melepas Rensha jika wanita itu bisa bertemu pria yang dicintai. Hal itu membuat Rensha bingung.
“Ren. Lo bahagia nggak?” tanya Gilbert kala Rensha hanya terdiam.
Rensha tersentak lalu mengangkat bahu pelan. “Bahagia kok.”
“Yakin?”
“Hm....”
Gilbert menatap wanita cantik di depannya itu. Sampai sekarang dia belum rela Rensha menikah dengan Verza. Insting Gilbert mengatakan ada sesuatu yang disembunyikan Verza.
***
Menjadi pekerja kantoran dengan waktu ditentukan membuat pria yang baru bekerja itu mulai pusing. Seharian Verza mempelajari kontrak kerja sama perusahaan. Dia juga mempelajari perusahaan memiliki produk di mana saja, dengan tipe berbeda-beda. Membuat ingatan Verza pecah oleh ukuran rumah, gaya rumah, biaya serta cicilan perbulan. Ditambah hari pertama dia lembur karena belum menyelesaikan target papanya.
Lelah dengan rutinitas hari pertama, pria itu memilih mampir ke kelab. Dia butuh pengalihan dari rasa jenuhnya. Dia menarik keluar kemeja yang sebelumnya masuk ke celana. Lalu menggulung kemeja panjangnya sampai siku setelah itu melangkah menuju kepan.
Alunan musik serta asap rokok menyambutnya. Verza berjalan ke meja bar dan memberi kode ke bartender yang selalu mengenakan topi terbalik itu. Sambil menunggu minumannya diracik, Verza mengedarkan pandang. Dia melihat wajah yang selalu memadati kelab sedang asyik dengan minuman mereka.
“Nih, Bang.”
Pandangan Verza teralih. Dia mengambil gelas kecil itu dan menegaknya pelan.
“Suntuk banget kayaknya.”
Verza mengangkat wajah menatap bartender yang masih berdiri di depannya itu. “Iya. Perubahan kehidupan.”
“Perubahan kehidupan? Maksudnya?”
“Urusan kerjaan, Bro!!”
Setelah itu Verza menunduk. Dia menarik napas panjang, mencoba relaks. Ditengah kegiatannya tepukan di pundak mulai terasa. Verza sontak menoleh dan segera berdiri kala menyadari Tirta di sampingnya.
“Lo nggak bisa pergi gitu aja!” Tirta mencekal pergelangan Verza.
Verza menatap Tirta malas. “Lo mau ngapain?”
Tirta menarik tangan Verza. Pria itu menurut, baginya semakin cepat Tirta mengucapkan unek-uneknya semakin cepat dia bisa pulang.
“Sekarang lo jelasin kenapa nikah sama Rensha!” perintah Tirta setelah masuk di ruangan privat.
Verza berjalan begitu saja dan memilih duduk di sofa yang disediakan. Tindakan itu membuat Tirta semakin naik darah.
“Jawab Verza!!!”
Tatapan Verza tertuju ke wanita dengan midi dress hijau muda yang masih setia di posisinya itu. Dia mengangkat bahu tidak peduli lantas menjawab. “Terserah gue, kan, mau nikah sama siapa aja?”
Tirta mengepalkan tangan. Dia melangkah cepat hingga berdiri di depan Verza. d**a Titra bergerak naik turun karena emosi yang menguasainya. Dia marah karena Verza memilih menikah dengan Rensha. Dia marah karena Verza tidak mengundangnya di pesta pernikahan, bahkan dia tidak diperbolehkan masuk karena tidak memiliki undangan. Padahal Tirta sudah memberi tahu penjaga kalau dia pacar Verza.
“Kenapa harus Rensha?” tanya Tirta. “Kenapa juga lo nikah? Bukan lo banget!!”
Verza mendongak memperhatikan wanita yang masih emosi di depannya itu. “Udah?”
“Lo jawab!!” Kedua tangan Tirta terulur ke leher Verza.
Kedua tangan Verza terangkat menjauhkan tangan Tirta. Dia tahu Tirta tipe wanita nekat. “Karena gue milih Rensha.”
“Itu bukan alasan!!” maki Titra.
Tirta duduk di pangkuan Verza menatap pria yang masih ada di hatinya itu dengan tatapan terluka. “Lo nggak beneran cinta, kan, sama Rensha?”
Verza mengangkat bahu pelan. “Bukan urusan lo juga gue cinta atau enggak.”
Diam-diam Tirta tersenyum yakin kalau Verza tidak benar-benar menikah dengan Rensha. Tirta mendekatkan wajah sambil tersenyum. “Lo cuma main-main, kam, sama Rensha?”
“Bukan urusan lo.”
“Oke itu emang bukan urusan gue. Lagian lo udah nikah atau belum, gue tetep ngejar lo.”
Sepersekian detik tubuh Verza menegang. Dia tidak percaya dengan kalimat yang dia dengar. “Buat apa? Gue udah nolak lo berkali-kali. Lo masih juga nggak paham?”
“Batu yang keras bisa berlubang kalau ditetesi air terus menerus, Ver. Anggap batu itu lo dan gue airnya.”
“Pengecualian batu yang ini,” jawab Verza.
Kedua tangan Verza menyentuh bahu Tirta, berniat mendorong wanita itu. Namun, sepertinya Tirta sudah menyiapkan kuda-kuda. Dia mempertahankan posisinya lalu kedua tangannya melingkar di leher Verza.
“Malem ini lo sama gue, Ver! Nggak peduli penolakan lo!”