“Indera penciuman lo kayak komodo, ya.”
Wanita dengan kimono panjang bunga-bunga berwarna pink berhenti mengucek mata. Langkahnya terhenti, tatapannya tertuju ke depan. Di meja bar pria berkaus tanpa lengan berdiri dengan satu siku menyangga di atas meja.
“Lo ngomong apa, sih?” tanya Rensha tidak mengerti.
Perlahan Verza mendekat lalu melingkarkan tangan ke pundak Rensha. Membimbing wanita itu mendekati meja bar, setelah itu dia mulai menjelaskan.
“Gue udah bikinin lo s**u sama madu. Baru mau manggil eh ternyata udah nongol,” jelas Verza. “Itu artinya penciuman lo tajem,” lanjutnya sambil menjawil hidung Rensha.
Rensha menepis ibu jari Verza dari hidungnya lalu memutar bola matanya malas. “Gue emang udah bangun. Bukan bangun gara-gara bau s**u plus madu.”
Memang kenyatannya begitu. Sejak sepuluh menit yang lalu Rensha sudah bangun dan tidak menemukan Verza di sampingnya. Wanita itu sempat mencuci muka dan bergosok gigi, setelah itu keluar menuju dapur. Bertepatan dengan Verza baru selesai membuat minuman.
“Oh, ya, semalem lo balik jam berapa?” tanya Rensha mengalihkan pembicaraan.
Verza menyeruput kopinya. Tanpa diminta kilasan kejadian semalam berputar,saat dia menghabiskan banyak minuman bersama Titra. Yah, sedikit diiringi sentuhan tapi tidak sampai kebablasan.
“Jam sebelas. Lo udah pules banget semalem,” jawab pria itu jujur.
Rensha manggut-manggut. Kemarin saat pulang ke apartemen Verza, dia tidak menemukan pria itu duduk di depan meja sambil menggambar. Rensha mengira Verza ada urusan pekerjaan dan berakhir di kelab. Sebenarnya Rensha ingin menunggu sampai suaminya pulang. Namun, dia merasa itu percuma.
Diam-diam Verza menatap Rensha yang menunduk itu. Dia mendekat, memiringkan kepala hingga bisa melihat raut Rensha. “Lo nggak lagi tidur, kan?”
Karena kaget Rensha mendorong wajah di depannya membuat kepala Verza membentur pinggiran meja. Verza sontak menegakkan tubuh sambil mengusap belakang kepalanya yang berdenyut.
“Apaan sih, Ren!” kata Verza.
Rensha menutup mulut, kaget dengan tindakan refleksnya barusan. Tak lama dia terkekeh melihat wajah Verza yang kesakitan itu. “Makanya jangan deket-deket,” jawabnya membela diri.
“Gue mau mastiin lo itu kenapa. Malah didorong.”
Tangan kiri Verza masih mengusap kepala. Dia mendapati Rensha yang senyum-senyum seolah tidak bersalah itu. Melihat itu Verza mendekat, memberi pelajaran kepada bibir yang mengejeknya.
Tindakan cepat Verza tidak terprediksi oleh Rensha. Wanita itu terdorong ke belakang, beruntung kedua tangannya sigap memegang bagian bawah kursi. Rensha mulai menegakkan tubuh, masih dengan bibir yang dieksplor Verza.
Verza melihat Rensha yang menatapnya intens itu. Tangannya lalu terangkat menutup mata wanita itu. Kemudiam Verza memejamkan mata, menikmati ciumannya. Apalagi Rensha mulai membalas ciumannya, dengan gerakan pelan.
“Stop!! Nanti keterusan!” kata Verza setelah tiba-tiba mengakhiri ciumannya.
Rensha membuka mata. Dia sebal karena Verza menarik diri disaat dia masih terbuai ciuman itu. Rensha lalu mengalihkan pandang.
“Minum dulu, Ren. Kasihan gelas lo dari tadi ngeliat kita ciuman,” kata Verza sambil mengerling genit. Tangan besarnya terangkat ke kepala Rensha dan menggerakkan kepala itu agar menghadap depan meja.
“Gue udah buatin spesial loh, dengan banyak madu,” lanjut pria itu.
Tangan kanan Rensha terulur, mengambil secangkir s**u di depannya. Dia mulai menegak minuman kesukannya itu. Rasa manis s**u dengan madu langsung memanjakan lidahnya.
Melihat Rensha yang meminum, Verza ikutan menyeruput kopi pahitnya. Dia lega akhirnya bisa menjalani rutinitas pagi bersama Rensha. Seperti sebelum permalasahan keluarga Rensha datang.
“Ver. Lo mau sarapan nggak?” Rensha mengedarkan pandang. Dia ingat statusnya sekarang sudah menjadi istri Verza. Sudah sewajarnya dia memasakkan sarapan untuk sang suami meski tanpa memasakpun Verza tidak akan mempermasalahkan itu.
“Lo mau makan? Delivery aja, yuk,” usul Verza.
Verza merogoh ponsel di celana hitamnya lalu mulai mencari menu makanan yang cocok untuk sarapan. “Lo mau bubur?” tawarnya sambil melirik istrinya sekilas.
Sebenarnya Rensha ingin mendengar Verza minta dimasakkan. Namun, Rensha hanya bisa menuruti usul itu. “Terserah deh. Apa aja,” jawabnya pasarah.
“Oke bubur!” jawab Verza lalu mulai memesan bubur ayam dengan ekstra sambal.
Setelah itu Verza memutar tubuh mengahadap Rensha. Alis tebalnya tertarik mendapati Rensha yang menatapnya sambil terbengong itu. “Piggy lo kenapa sih?” tanyanya sambil mencolek pipi Rensha.
Rensha tersadar dari lamunannya. “Nggak apa-apa kok. Udah pesen sarapan?”
“Udah. Lo mandi dulu aja, sambil nunggu.”
“Oke.”
Perlahan Rensha turun dari kursi dan kembali ke kamar utama. Sambil mengenyahkan bayangan saat memasak bersama Verza. “Rensha!! Inget ini bukan pernikahan seperti yang lo bayangin,” gumamnya pelan.
Rensha melanjutkan langkah ke kamar mandi. Saat melewati tempat baju kotor, dia sempat melihat warna merah di kemeja Verza. Dia mendekat ke keranjang, mengambil kemeja itu dan memeriksanya.
Bekas bibir tercetak jelas di kemeja putih itu. Bukan hanya satu, melainkan tiga. Rensha geleng-geleng, yakin jika semalam Verza bersama wanita lain. Tanpa sadar Rensha meremas kemeja itu. Nyatanya, Verza tidak berubah setelah statusnya berubah.
***
Pria berkemeja dengan celana kain abu-abu itu melangkah santai. Tangan kirinya terangkat memegang jas yang sejak keluar kantor dia tanggalkan. Hari kedua menjadi direktur, tidak sesulit saat hari pertama. Itu semua disebabkan oleh otaknya yang encer. Hanya satu yang membuatnya kurang nyaman. Dia enggan terkekang waktu, harus pulang sesuai waktu padahal pekerjaannya sudah selesai.
Sore ini pria itu memilih langsung pulang. Dia ingin mengguyur tubuhnya yang lengket dengan air dingin. Jakarta hari ini begitu terik, membuat Verza tidak ingin berlama-lama berinteraksi di luar ruangan.
Langkahnya membawa ke apartemen 701. Dia berharap saat membuka apartemen Rensha sudah ada di sana. Verza menarik jas dari pundak, berganti memegang dengan tangan kanan. Tangan kirinya lantas terangkat, melihat jam tangan hitam yang telah menunjukkan pukul tujuh malam.
Sesampainya di apartemen, nuansa gelap menyambutnya. Verza terus melanjutkan langkah, masih yakin Rensha ada di apartemen. Wanita itu sering sengaja tidak menghidupkan lampu, hanya lampu kamar yang dibiarkan menyala.
Saat Verza membuka kamar, dugaannya benar lampu telah menyala. Dia melangkah masuk, memperhatikan kamar d******i hitam putih yang tidak berpenghuni itu. Tangan kanannya melempar jas ke sofa lantas melanjutkan ke arah kamar mandi.
Pintu kamar mandi tertutup setengah. Pria itu geleng-geleng. Jika Rensha sedang mandi, maka wanita itu sama saja menatang bahaya.
“Ren!!” panggil Verza lalu menempelkan telinga di daun pintu. Tidak ada suara apapun dari dalam. Verza memberanikan diri mendorong pintu di depannya itu. Pandangannya menelusuri kamar mandi dan Rensha tidak ada di dalam.
Verza memilih ke ranjang. Dia mengira Rensha masih terjebak macet atau sedang mencari makan malam.
***
Setelah hampir tiga jam menunggu, Verza baru mendapat kabar dari kakak iparnya jika Rensha sedang di rumah. Tadi dia sempat mencari istrinya di apartemen sebelah. Dia juga sempat menghubungi Rensha, tapi ponsel wanita itu tidak aktif. Verza hampir menjemput Rensha ke kantor, takut wanita itu lembur saat Renga meneleponnya.
Sekarang, Verza telah sampai di rumah megah bergaya eropa dengan warna glod sebagai warna utama. Pria itu berdecak kagum, pantas saja Rensha berusaha merebut rumahnya. Karena rumah itu begitu megah, selain itu juga terlihat nyaman.
“Masuk, Ver! Ngapain berdiri di situ.”
Suara Renga terdengar dari dalam. Verza tersadar dari kegiatannya. Dia lalu melangkah masuk, nuansa elegan dengan d******i warna gold kembali menyambutnya.
“Rensha di lantai dua. Langsung naik aja, deh,” ucap Renga lalu berlalu meninggalkan Verza.
Verza melangkah ke tangga melengkung di depannya dengan menaiki dua anak tangga sekaligus. Sesampinya di lantai dua, dia melihat pintu berwarna putih dengan sedikit sentuhan soft pink. Dia yakin jika itu kamar Rensha.
Tanpa membuang waktu, Verza membuka pintu itu pelan dan mengintip si pemilik yang katanya sedang di dalam itu. Verza melihat seorang wanita duduk membelakanginya sedang mengoleskan sesuatu di wajah.
“Cantik banget deh sih, Piggy.”
Godaan itu membuat Rensha menoleh. Dia tersentak mendapati Verza berdiri di depan kamarnya itu. Rensha seketika berdiri menatap Verza dengan hati yang kembali sakit. “Lo ngapain ke sini?”
“Emang salah? Sekarang, kan, lo istri gue,” jawab Verza sambil melangkah masuk.
Ruangan bernuansa pink menyambut Verza. Dia geleng-geleng melihat hampir semua barang berwarna pink, khas Rensha. Tatapan Verza lalu tertuju ke sebuah foto berukuran 15R tepat di atas ranjang. “Itu foto lo?”
Rensha menatap foto masa kecilnya, saat dia berdandan di hari kartini. “Iya. Cantik kan?”
“Cantik,” jawab Verza sambil menatap foto di depannya itu. “Bibir lo emang nggak kayak Angelina Jolie. Tapi menurut gue tipis tapi seksi,” lanjutnya sambil mengedip genit.
Godaan Verza kali ini tidak membuat Rensha tersenyum. Dia masih sebal karena bekas lipstik Titra di kemeja Verza. Ya, Rensha tahu. Tirtalah yang tadi memberi tahunya saat berpapasan di restoran.
“Ini cowok siapa, Ren? Kok dekil banget,” kata Verza setelah memperhatikan deretan foto di samping jendela kamar Rensha.
Pertanyaan itu membuat Rensha sejenak melupakan rasa sedihnya. Dia mendekat, melihat fotonya bersama Renga saat di puncak. “Kalau Kak Renga denger lo katain dekil, pasti dia marah.”
Verza kaget, tidak menyangka jika Renga yang terlihat keren pernah mengalami masa dekil. “Seriusan itu Renga?”
“Iya. Tapi sekarang dia ganteng, kan? nggak usah ngejek, deh. Kayak lo ganteng aja,” balas Rensha tidak terima kakaknya diragukan.
“Gue emang ganteng, Ren. Dari kecil bahkan,” jawab Verza.
“Oh, ya? Gue nggak pernah liat foto lo.”
“Udah gue simpen di tempat yang aman.”
Setelah menjawab itu Verza berbaring di ranjang. Dia terbayang masa kecilnya sebelum semuanya hilang karena pelakor. Melihat Verza yang tiba-tiba diam, Rensha mengernyit bingung. Wanita itu mendekat, memperhatikan Verza yang memejamkan mata dengan rahang mengeras itu.
“Ver. Lo nggak apa-apa, kan?”
“Hmm.”
Rensha masih diam memperhatikan. Dia merasa Verza selalu menghindar jika membahas masa kecil.