Tiga hari menjalani pernikahan, baru hari ini mereka menghabiskan waktu bersama. Itupun karena Sabtu, waktu mereka terbebas dari rutinitas padat. Dua sahabat itu memilih menghabiskan waktu di mal. Mereka sepakat mencari keperluan dapur dan beberapa pakaian.
Setelah semalam mereka menginap di rumah orangtua Rensha, paginya mereka memilih ke apartemen sejenak untuk berganti pakaian. Semalam tidak ada percakapan lain setelah Verza memilih berbaring di ranjang.
Sepanjang malam, Rensha ingat dengan perubahan raut Verza. Bukan hanya sekali Rensha menyadari hal itu. Dulu saat baru mengenal Verza, Rensha pernah ingin tahu masa kecil pria itu. Justru yang dia didapat kepergian Verza bahkan tanpa sepatah kata.
Mulai sekarang, Rensha tertekad tidak akan bertanya masa kecil Verza. Dia tidak ingin membuat Verza berubah sikap.
“Gimana kalau kita bikin peraturan, Ren?”
Verza melirik wanita di sampingnya itu. Kedua tangannya mendorong troli yang hampir penuh dengan kebutuhan dapur.
“Peraturan apa?” tanya Rensha sambil meletakkan dua buah pasta gigi herbal ke troli. Dia lalu memutar tubuh, menghadap Verza yang seolah berpikir itu.
“Gimana kalau Senin sampai Kamis di apartemen gue? Sisanya di apartemen lo,” usul Verza.
Sejak tadi Verza ingat dengan apartemen Rensha yang sering kosong. Sedikit susah memang ketika dua orang menikah dan telah memiliki tempat tinggal sendiri-sendiri.
“Gue sih setuju. Tapi apa nggak tambah ribet?” tanya Rensha sambil melanjutkan langkah.
Melihat istrinya itu melangkah menjauh, Verza mengikuti. Dia mendorong troli yang semakin terasa berat itu. “Ribet gimana?”
“Ya ribet aja. Kita harus mindahin baju lagi. Sebagian di tempat lo sebagian di tempat gue,” jawab Rensha sambil menggerakkan kepala ke kiri dan ke kanan. “Terus bahan makanan juga dibagi jadi dua tempat,” lanjutnya.
Verza berpikir sejenak. Apa yang dikatakan Rensha memang benar. “Tapi mending gitu daripada apartemen kosong. Lo nggak mau, kan, apartemen lo ada hantunya?”
Langkah Rensha terhenti lalu memukul lengan kekar Verza. “Nggak usah ngomong aneh-aneh, deh!!”
Tanpa sepengetahuan Rensha, Verza tersenyum. Dia tahu kalau Rensha paling tidak suka membahas makhluk halus. “Beneran, Ren. Rumah yang nggak ditempatin empat puluh hari langsung ditempati makhluk halus.”
“Terus gimana? Gue mau apartemen gue aman,” balas Rensha dengan nada meninggi. Tak lama dia tersenyum. “Gimana kalau disewain aja? Lumayan buat pemasukan.”
“Apa lo nggak sayang?” tanya Verza meminta pendapat. Dia ingat jelas bagaimana Rensha mencintai apartemen nomor 700 itu.
“Nggak masalah, deh, kayaknya. Itukan tetep milik gue. Daripada kosong,” jawab Rensha tanpa pikir panjang.
Verza mendorong troil ke samping lalu menyejajarkan langkah dengan Rensha. “Oke biar gue promoin ke temen gue.”
Seketika Rensha menoleh. Dia tahu teman Verza seperti apa. Kebanyakan wanita dengan hobi keluyuran tiap malam. Rensha menggeleng tegas tidak ingin apartemennya disewa oleh orang-orang seperti itu. “Gue mau yang sewa orang baik-baik,” putusnya.
“Gue bisa tanya Gil. Siapa tahu temen bulenya berniat tinggal di Jakarta sementara waktu,” lanjutnya.
Mendengar nama Gilbert, Verza mengeratkan genggamannya di troli. “Emang nggak ada pria lain yang bisa dimintain tolong?”
Telinga Rensha terasa aneh mendengar pertanyaan itu. Dia memutar tubuh dan lebih memilih menatap deretan bumbu instan.
“Ren!! Jawab!”
Rensha meletakkan beberapa bumbu ke troili lantas menatap Verza malas. “Terus siapa?” tanyanya lelah. “Terserah, deh, mau lo promoin ke temen lo atau enggak, tapi gue minta temen lo yang baik-baik.”
Setelah itu Rensha meninggalkan Verza yang tersenyum itu. Pria itu senang karena akhirnya Rensha menurut juga. Verza mendorong troli ke arah kasir dan mengantre bersama ibu-ibu dengan belanjaan yang cukup banyak.
“Gue berasa suami siaga yang nemenin istrinya belanja,” bisik Verza.
Rensha terdiam. “Kalau lo nggak lupa lo itu suami gue.”
“Oh, iya-iya. Gue udah suami lo.”
Jawaban Verza membuat Rensha sedih. Bahkan pria itu masih sering lupa dengan status barunya.
“Setelah ini belanja apa? Gue beliin baju seksi mau?” tawar Verza sambil melingkarkan lengannya ke pundak Rensha.
Rensha segera menepis. Dia bergeser ke depan Verza tidak ingin terlalu dekat dengan pria itu. Tidak baik untuk jantung dan hatinya.
“Diem gue artiin, ya,” bisik Verza.
“Udah, deh, lo diem.”
“Malu, ya?”
“Ck!! Verza!!”
Verza terkekeh geli. Dia selalu suka membuat Rensha marah-marah tak jelas. Kedua tangan pria itu menjauh dari troli berganti memeluk Rensha dari belakang. “Lo itu selalu bikin gemes,” bisiknya setelah itu mengigit pundak Rensha.
Rensha berdecak kesal ditambah ibu-ibu yang menatapnya dengan senyum menggoda itu. Dia menunduk sambil menutup wajah. Dua hal yang membuat Rensha malu karena ulah Verza. Pertama, saat pria itu tidak bisa mengontrol emosi di tempat umum. Kedua, saat pria itu bertindak semaunya di tempat umum, seperti memeluknya saat ini.
***
“GUE CAPEK!!!”
Wanita dengan hotpants dan tank top hitam menghempaskan tubuh di ranjang. Dia mengurut kepalanya yang terasa lelah. Setelah seharian memutari mal. Sekarang sang suami yang dicintai ingin dibuatkan spageti.
“Udah lama lo nggak bikinin gue spageti, Ren. Awal-awal kenal aja sering dibikinin,” protes Verza.
Verza berdiri menatap Rensha yang berbaring itu. Dia sebenarnya juga lelah, tapi rasa lapar dan ingin memakan spageti mengalahkan semuanya. “Oke deh lo istirahat dulu, tapi nanti bikinin, ya,” pintanya tak mau menyerah.
Perlahan Rensha menoleh melihat Verza mulai melepas kancing kemeja. Lalu pria itu melempar kemeja ke sembarang arah membuat Rensha melotot tajam. “Kebiasaan!”
“Kan lo tahu ini kebiasaan gue. Jadi harap maklum dong,” balas Verza tidak merasa bersalah.
Verza mulai melepas kancing celana jeans, membuka resleting dan melepasnya di hadapan Rensha. Sontak Rensha menutup wajah lalu mengintip dari sela jari. Dia mendesah lega melihat Verza masih memakai celana sepaha.
“Lepas di kamar mandi sana. Nggak tahu malu banget,” decak Rensha.
Verza tersenyum, tahu apa yang membuat Rensha menurutinya. Dia maju selangkah, hingga pahanya menempel pinggiran ranjang. “Lo mau penawaran menarik nggak?”
Tubuh Rensha menegang. Dia merasa ada hal buruk yang akan menghampirinya.
“Gue mau lepas celana di sini.”
“GAK!!” teriak Rensha.
Sudut bibir Verza tertarik ke atas. “Ya udah bikinin gue spageti, ya,” pintanya.
Rensha memberenggut. Dia sangat lelah, kakinya seolah berat karena seharian mengelilingi mal. “Emang lo nggak kenyang tadi habis makan steak?”
“Perut pria, Ren. Karet,” jawab Verza sambil terkekeh. “Gimana? Mau nggak? Gue lepas sekarang, nih!” Verza mulai memegang ujung celana pendeknya.
Rensha memejamkan mata. Dia tidak peduli Verza mau berbuat apa. Dia begitu lelah dan ingin segera tidur.
Melihat tidak ada pergerakan apapun, Verza merasa kali ini dia kalah. Dia menghela napas, terpaksa dia harus delivery saja. “Ya udah deh kalau lo nggak mau. Gue nggak bisa maksa,” ucapnya sambil menunduk.
Pria itu mengecup puncak kepala Rensha lembut. Membuat Rensha yang memejamkan mata perlahan menggerakkan matanya.
Verza tersenyum melihat mata Rensha memerah tanda wanita itu benar-benar lelah. Dia kembali menunduk dan mencium bibir Rensha lembut.
“Good night, Piggy.” Setelah mengucapkan itu Verza menjauh ke kamar mandi.
Di ranjang Rensha tersenyum. Dia menyentuh pucak kepalanya yang tadi diusap Verza. Jika biasanya saat dirayu maka Rensha akan menurut, kali ini tidak. Rasa lelahnya lebih mendominasi. Wanita itu lalu menarik guling dan memejamkan mata.
Tiga puluh menit kemudian, Verza selesai dengan rutinias mandinya. Dia keluar dengan handuk putih melingkar di pinggangnya. Verza bergerak menuju lemari mencari boxer yang selalu dia gunakan tidur.
Setelah selesai, Verza berbalik menatap wanita yang telah terlelap di ranjang itu. Dia lalu mendekat, berbaring di samping Rensha. Tangannya seolah gatal ingin mengusap puncak kepala Rensha lembut.
Drttt!!
Getar ponsel itu tiba-tina terdengar. Verza lalu menggapai ponselnya di atas nakas. Saat ponsel di genggaman, getar itu masih terdengar. Dia menoleh, melihat ponsel kecil yang menyala. Dia tertegun, menyadari Rensha telah berganti ponsel.
Tak lama getar ponsel itu berhenti. Sedetik setelahnya, ponsel itu kembali bergetar. Kesal, Verza menggapai benda itu dam melihat nama Gilbert muncul. Tanpa pikir panjang, Verza menekan tombol merah.
Rasa penasaran Verza terusik. Dia membuka pesan, terlihat nama Gilbert mendominasi. Verza lalu membuka pesan itu satu persatu.
Gilbert: Ren. Lo malem ini ada waktu nggak?
“Dia beneran deketin Rensha,” gumam Verza. Ibu jarinya lalu bergerak membuka pesan lain.
Gilbert: weekend ada waktu nggak? lo suka nonton? Gimana kalau kita nonton bareng.
“Nggak digubris masih aja ngirim pesan.”
Verza memencet tombol merah, memilih menonaktifkan ponsel Rensha. Dia lalu turun dari ranjang menuju lemari dan mengganti baju. Setelah itu dia mengambil kunci mobil dan ponsel di atas nakas.
Saat membuka pintu utama, dia tersentak menyadari Tirta berdiri. Verza buru-buru menarik wanita itu menjauh. Dia tidak ingin Tirta mengganggu tidur Rensha.
“Lo ngapain sih di sini?” tanya Verza.
“Mau jemput lo. Dari tadi pesan gue nggak lo gubris.”
“Huh....” Verza menghela napas panjang. Dia melepas genggamannya dan berjalan lebih dulu. Di belakangnya Tirta mengekor.
“Lo mau ke mana?” tanya Tirta setelah berjalan di samping Verza.
“Bukan urusan lo.” Pria itu lebih memilih mendiamkan Tirta, daripada emosi sendiri.