18-Sekelumit Kisah Masa Lalu

1544 Words
“Ren sini, deh, gue udah masang iklan buat apartemen lo.” “Mana?” Rensha menghentikan sarapannya sejenak. Dia melongok melihat ponsel Verza yang berisi banner iklan itu. Rensha manggut-manggut, spesifikasi apartemennya yang tertera telah sesuai. “Gue setuju.” Verza menarik ponselnya lalu menatap banner dengan warna biru dan putih. “CP-nya nama lo, ya.” “Nama lo aja, deh. Gue nggak ngerti gitu-gituan,” jawab Rensha sambil melanjutkan memakan bubur. “Oke. Nanti gue sebar ke anak buah gue.” Kalimat Verza menarik perhatian Rensha. “Anak buah?” tanyanya. “Lo punya anak buah?” Gue keceplosan, batin Verza. Dia mengacak rambut yang memang sudah acak-acakan lalu tersenyum lebar. “Junior gue di kantor.” “Oh.” Tak ada rasa penasaran di diri Rensha, membuat Verza mendesah lega. Pria itu sampai sekarang belum menceritakan soal profesi barunya. Dia juga meminta agar Renga tidak memberi tahu Rensha. Verza merasa belum ada waktu yang pas untuk menceritakan semuanya. Diam-diam Rensha memperhatikan Verza yang sibuk bermain ponsel itu. Dia ingat semalam sebelum tidur Verza mengusap rambutnya. Rensha juga mendengar saat ponselnya bergetar setelah itu Verza pergi. Rensha menebak kalau pria itu ke kelab. “Ren, lo nggak berangkat kerja? Udah jam delapan, loh,” ucap Verza setelah melihat jam di pojok ponselnya. Pria berkaus tipis itu mengangkat wajah, melihat semangkuk bubur yang telah berpindah posisi. Dia tersenyum, heran dengan Rensha yang kali ini doyan makan bubur itu. “Udah jam berapa emang, Ver?” tanya Rensha setelah menegak s**u vanila campur madu. “Jam delapan lebih dua menit.” Sontak Rensha turun dari kursi. Dia harus segera setor cover yang telah dia kerjakan. “Gue berangkat dulu,” pamitnya lalu menuju kamar untuk mengambil tas. Verza ikutan berdiri. Dia harus segera ganti baju dan segera pergi ke kantor. Dia sudah mendapat ancaman dari sang papa harus datang tepat waktu. Saat Verza hendak masuk, Rensha keluar kamar hingga mereka terpaksa menghentikan langkah. “Buru-buru?” tanyanya sambil bergeser ke samping. Rensha mengangguk. “Lo tahu ponsel gue nggak?” “Di nakas, tuh.” “Nggak ada.” “Ada! Coba cek.” Rensha melangkah ke nakas, mencari ponsel kecilnya. Dia mengangkat ponsel Verza, memindah ke ujung nakas. Setelah itu mengangkat kunci mobil dan memindahkan ke samping ponsel. “Mana? Cuma ada ponsel lo sama kardus.” Verza tersenyum. Rensha sepertinya tidak menyadari jika kardus itu berisi ponsel baru. “Ya yang dikardus itu. Gue beliin ponsel buat lo.” Jawaban Verza membuat Rensha menoleh. Wanita itu terbengong menyadari jika Verza membelikan ponsel barunya. “Terima, ya. Lo butuh ponsel yang dukung buat kerjaan lo,” pinta Verza setelah itu berdiri di depan Rensha. Tangan Verza terulur, mengambil kardus ponsel dan menyerahkan ke Rensha. “Lo terima, ya,” ucapnya sambil menarik tangan mulus di depannya itu. Rensha tersenyum dan menerima ponsel yang setipe dengan ponsel sebelumnya itu. Karena senang, dia menarik Verza ke dalam pelukan memeluk sahabat sekaligus suaminya itu erat. “Ihhh makasih, Sayang. Lo baik banget, deh.” Kedua tangan Verza melingkar ke pinggang istrinya lalu mengangkat tubuh mungil itu. “Sama-sama. Sampai kantor langsung aktifin, ya. Jangan lupa ngabarin gue,” bisik Verza. “Oh, ya, nomor lama lo gue tempel di bawah kardus.” Perlahan Rensha melepas pelukannya. Dia berjinjit lalu mencium bibir Verza lembut. “Makasih, ya. Gue berangkat dulu.” Verza terkekeh geli. Dia memperhatikan Rensha yang memakai tas punggung pink dan berjalan cepat keluar kamar itu. Verza masih tertawa geli dengan kelakuan Rensha barusan. Tak lama pria itu ingat harus segera sampai kantor. Verza buru-buru melepas kaus tipisnya berganti memakai kemeja putih serta jas hitamnya. Setelah itu bersiap menjadi Verza seorang wakil direktur. Sedangkan di lobi, Rensha masih tersenyum. Di pikirannya tak henti memutar kejadian beberapa menit yang lalu hingga tanpa sadar dia melangkah ke trotoar. Sejak masalah utang, dia tidak memiliki mobil. Yah meski mobil biasa tidak sebanding dengan mobil sport Verza, Rensha tetap menyayangi mobilnya dulu. Namun, apa daya, dia lebih mencintai keluarganya. “Kok gue ngerasa ada yang ketinggalan,” gumamnya tiba-tiba. Rensha menarik tasnya ke depan membuka resleting belakang, mencari benda kotak berisi berisi data perkerjaannya. Setelah merogoh hampir sudut tas, dia tidak mendapati benda itu. “Duh, alamat ketinggalan ini.” Rensha berbalik. Beruntung kali ini dia memakai celana, membuat langkahnya sedikit lebar. Dia berjalan ke lobi dengan napas yang mulai naik turun. Saat melangkah di lobi, pria berjas keluar lift dan berbelok ke arah kiri. Merasa jika pria itu Verza, Rensha mengernyit bingung. Dia ingat jika sahabatnya itu sangat jarang mengenakan jas. “Verza apa bukan, ya?” gumamnya. Rensha melangkah ke arah kepergian Verza. Namun, baru dua langkah dia ingat dengan hardisk eksternal yang harus dia ambil, seketika dia balik menuju lift. Urusan Verza memakai jas, biar nanti malam setelah bertemu pria itu.   ***   Tok. Tok. Tok. Suara ketukan di pintu yang setengah terbuka itu membuat si pemilik mengangkat wajah, menatap wanita berpakaian formal dengan beberapa berkas di tangan. Mata kecokelatannya menatap wanita yang berjalan masuk itu, sedangkan satu tangannya menutup berkas yang dia baca. “Ini formasi untuk perekrutan pegawai tahun ini, Pak.” Verza mengulurkan tangan. Dia lalu membaca tabel yang berisi jumlah pegawai untuk beberapa formasi. Setelah membaca sekilas, pria itu mengangkat wajah. “Kenapa masih di sini?” “Mungkin Bapak perlu bantuan lagi.” “Nggak perlu! Kembali ke tempat kerjamu.” Wanita itu mengangguk sopan, lalu berbalik menjauh. Tatapan Verza masih tertuju ke sekretarisnya yang bertubuh semampai itu. Dia menggeleng, mengenyahkan pikiran lelakinya atas tubuh yang baru saja dilihat. Verza kembali mempelajari berkas sebelumnya, tapi baru satu kalimat dia mendengar langkah kaki. Dia mengangkat wajah dan menghela napas melihat papanya yang berjalan masuk. “Kenapa tadi telat?” tanya Firan setelah duduk di depan meja anaknya. “Telat dikit doang.” “Tetap saja, Verza. Waktu adalah uang! Jangan main-main.” Verza menatap papanya memohon. Dia sama sekali tidak ingin membuat perdebatan. “Ada perlu apa Bapak Presdir ke mari?” Firan melihat Verza yang menahan emosi itu. Firan menegakkan tubuh lalu mulai menjelaskan maksud kedatangannya. “Bulan depan ada proyek baru. Kamu yang tangani.” “What? Emang nggak ada yang lain?” tanya Verza heran. Biasanya yang menangani sebuah proyek adalah sang manager proyek berserta para arsitek. “Memang kenapa? Nggak perlu turun tangan. Hanya perlu mengkoordinir mereka,” jawab Firan. “Kamu lulusan terbaik, kan? sumbangkan ide brilianmu untuk perusahaan.” Setelah mengucapkan itu Firan beranjak, meninggalkan Verza tanpa mendengar persetujuan dari anaknya itu. Brak!!! Selepas kepergian papanya, Verza menggebrak meja. Dia merasa papanya begitu memanfaatkannya. “Gue ngerasa papa cuma meres gue doang!”   ***   Pukul tujuh malam, Verza pulang ke apartemen dengan dua kantong kresek di tangan. Dia melangkah pelan menuju kamar, mencari keberadaan wanita yang mungkin saja sudah pulang utu. Saat mengintip dari celah pintu, Verza melihat Rensha duduk di tengah ranjang dengan laptop di hadapan. “Ren,” panggil Verza pelan tidak ingin mengagetkan. Rensha yang sibuk dengan Paintool SAI mengangkat wajah. Dia tersenyum melihat wajah Verza yang terlihat setengah itu. Sontak Rensha turun dari ranjang hingga berhadapan dengan Verza. Seketika hidungnya mencium aroma yang membuat perutnya keroncongan. “Hidungnya nggak usah mekar-mekar gitu.” Verza mendekat, menggesek hidungnya dengan hidung Rensha. “Lo bawa apa? Bikin gue laper.” Verza mengangkat kantong itu, mendekatkan ke hidung Rensha. “Makan dulu, yuk!” ajaknya sambil berbalik menuju dapur. Di belakang pria itu, Rensha mengekor. Dia mengusap perut yang sebenarnya sejak satu jam yang lalu butuh diisi itu. Namun, pekerjaan yang belum selesai membuatnya memilih menahan sejenak. “Nih. Ayam geprek sambel ijo. Sambel kesukaan lo,” kata Verza setelah membuka kardus ayam geprak. Perut Rensha seolah tidak sabar melahap ayam itu. Dia buru-buru mencuci tangan, lalu duduk di samping Verza. “Hmm... Enak banget ini.” Verza terkekeh lalu mengusap puncak kepala Rensha lembut. “Gimana? Enak nggak?” Rensha manggut-manggut. Bibirnya mulai terasa panas karena sambel ijo yang terasa nendang itu. Rensha mengangkat wajah, menatap Verza yang hanya menatapnya itu. “Lo nggak makan?” tanyanya. “Bentar lagi. Mau mandi dulu,” jawab Verza sambil melepas jas yang masih melekat. Tindakan Verza membuat Rensha menghentikan kegiatannya. Tatapan wanita itu tertuju ke jas yang terlipat di atas meja itu. “Kok lo tumben pakai jas?” tanyanya membuat Verza menegakkan tubuh. “Gue tadi juga ngeliat lo pakai jas buru-buru pergi,” lanjut Rensha. Verza mengalihkan pandang sejenak. Dia merasa kali ini tidak bisa menghindari fakta lagi. Perlahan Verza menoleh, menatap Rensha yang menuntut jawaban itu. “Gue sebenarnya kerja di tempat bokap.” Rensha kaget mendengar hal itu. “Kok lo nggak cerita?” Tangan kanan Verza menggaruk tengkuk. “Gue nyari waktu yang pas, sih.” “Udah berapa lama?” “Sebelum kita nikah.” Respons Rensha hanya helaan napas panjang. Dia merasa Verza belum terbuka sepenuhnya, sama dengan dirinya. “Kapan-kapan kita ke rumah papa sama mama, ya,” katanya mengalihkan topik. Verza menggeleng tegas, tidak setuju dengan usul Rensha. “Ngapain? Kalau nggak ada perlu nggak usah ditemui.” Lagi-lagi Rensha menghentikan kegiatannya. Dia menatap Verza dengan satu alis terangkat. “Gue nggak tahu lo ada masalah apa sama bokap tapi kita tetep harus sering jenguk mereka, Ver. Tanpa mereka lo nggak akan bisa jadi kayak gini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD