Sepenggal cerita Verza semalam membuat Rensha sadar jika dirinya hanya mengenal suaminya sebagian kecil saja. Rensha ingin meminta Verza agar terbuka, tapi wanita itu sadar tidak bisa memaksakan kehendaknya. Apalagi dia tidak ingin privasi Verza terganggu.
“Gue berangkat dulu, ya, Ren.”
Pamitan Verza membuat Rensha mengangkat wajah. Dia menggeser laptop yang sejak tadi menyala, tapi hanya dia tatap itu. Rensha lalu berdiri mendekati Verza yang sedang memakai dasi itu. “Sini gue benerin,” tawarnya sambil menarik pundak suaminya.
Sudut bibir Verza tertarik ke atas lalu menjawil hidung Rensha gemas. “Kalau kayak gini kita jadi suami istri beneran, ya?”
“Hm...”
Rensha hanya menjawab gumaman daripada bertanya balik. Bisa-bisa dia mendengar kalimat yang membuat hatinya sedih. Usai memasangkan dasi, Rensha menepuk bahu lebar Verza. “Profesional ya. Jangan sibuk sama karyawannya.”
Verza menggeleng tegas. Setiap kerja dia memang disuguhkan dengan penampilan sekretarisnya yang aduhai. Namun, dia tidak ada niatan mengajak kencan sekretarisnya itu, bisa dibilang dia profesional jika bekerja.
“Lain cerita kalau gue nggak kerja,” jawab Verza sambil mengerling.
Mendengar kalimat itu Rensha tidak kaget. Sikap Verza yang seperti itu sangat dihafal Rensha, bahkan di luar kepala. Rensha menjauh kembali duduk di depan laptopnya.
“Ren, lo mau minta sesuatu nggak?”
Verza mendekat, merasa sejak menikah jarang memberikan sesuatu untuk Rensha, membelikan makanan tentu bukan termasuk di dalamnya.
“Minta apa, ya? Gue lagi nggak minat,” jawab Rensha mulai sibuk dengan Photoshop.
“Tas mungkin. Kan, lo suka banget sama tas.” Verza berdiri di belakang Rensha menatap desain sampul buku berwarna biru itu. Dia lalu menumpukan dagunya di pundak Rensha. “Gue liat lo jarang ganti tas. Suka banget, ya, sama tas pink pemberian gue?”
Diingatkan dengan barang kesukaannya, Rensha menghela napas. Dia menjauhkan wajah Verza, lalu menoleh. “Tas lainnya udah gue jual karena masalah dulu.”
“Ya udah nanti gue beliin baru.”
“Eh nggak usah!!” tolak Rensha cepat. Sejak musibah yang menimpa keluarganya, dia mulai belajar untuk tidak menghamburkan-hamburkan uang.
“Gue nggak nerima penolakan,” jawab Verza cepat. Dia lalu mencium pipi Rensha lantas berdiri tegak. “Gue berangkat, ya. Doain suami lo nggak banyak dikejar-kejar cewek,” pamitnya sambil melangkah menjauh.
“Sok kegantengan lo!”
Rensha geleng-geleng, heran punya suami super percaya diri seperti Verza. Tatapan Rensha kembali ke laptop dan melanjutkan pekerjaannya. Saat sedang serius dia mendengar bel apartemen berbunyi.
“Siapa, ya?” gumamnya heran.
Tanpa membuang waktu lama Rensha turun dari kursi. Dia membuka pintu dan menemukan wanita berambut merah berdiri di depannya.
“Jadi kalian udah tinggal bareng?” tanya Tirta kala melihat Rensha membukakan pintu.
“Jelaslah. Gue udah nikah sama dia.”
Tirta manggut-manggut. Sebelum ke apartemen, dia telah bertemu dengan Verza di basemant. Tirta yang merasa belum memberi Rensha perhitungan segera saja naik ke apartemen 701. “Lo yakin Verza nerima lo?” tanyanya dengan senyum sinis.
Rensha menarik napas panjang, menyiapkan mental mendengarkan makian, hinaan atau bahkan fakta mengejutkan dari Tirta.
“Bahkan setelah nikah, Verza tidur sama gue!”
Tubuh Rensha menegang. Dia menatap Tirta tajam. Sedangkan Tirta diam-diam mengamati raut perubahan Rensha itu.
“Kenapa kaget gitu, Sha?” tanya Tirta dengan senyum puas. “Harusnya lo masih inget dong, bekas lipstick yang nempel di kemeja Verza.”
Tanpa Tirta ingatkan lagi Rensha sudah mengingat semuanya. Saat Rensha melihat kemeja Verza ada bekas lipstick merah, lalu wanita itu memilih menghindar dan pulang ke rumah. “Tujuan lo ke sini cuma mau ngomong itu? sorry gue sibuk,” ucapnya hendak menarik pintu.
Tentu Tirta tidak membiarkan musuhnya lolos begitu saja sebelum dia puas memanas-manasi dan membuat musuhnya kalah telak. Tirta menegakkan tubuh, lalu satu tangannya merogoh ponsel.
Wanita berjaket putih dengan celana jeans itu menyerahkan ponsel mahalnya ke Rensha. Tangan Rensha mendorong ponsel Tirta. Firasatnya mengatakan kalau Tirta akan menunjukkan sesuatu yang akan melukai hatinya.
“Ini video gue sama Verza. Lihat gimana Verza nyentuh gue. Hanya orang bodoh yang gak sadar kalau Verza begitu memuja gue,” ucap Tirta sambil menunjukkan video aktivitasnya dengan Verza minggu lalu.
Rensha melihat sekilas bagaimana Verza dan Tirta berciuman. Air mata Rensha hendak turun. Dia buru-buru mendorong Tirta menjauh dan menutup pintu.
“Nangis, Sha!!!” teriak Tirta dari depan pintu.
Air mata Rensha turun. Dia menghapus air mata dengan ujung jari. Dia lalu berlari ke kamar, duduk di balik pintu dengan bahu bergetar. Harusnya Rensha tidak sakit hati lagi karena kelakuan Verza. Seharusnya dia sadar jika rumah tangganya masih abu-abu, menjalani hidup tanpa ada kejelasan apapun.
***
Setelah hampir satu jam mengeluarkan unek-uneknya, Rensha kembali bisa melanjutkan aktifvitasnya, sekarang dia telah menyelesaikan tugasnya. Hari ini dia diperbolehkan atasannya untuk mengerjakan tugas di manapun, asal selesai. Tapi sialnya karena di apartemen dia jadi tahu kebusukan Verza.
Jam makan siang, perut Rensha mulai keroncongan. Dia sedang tidak mood membuat masakan sendiri. Akhirnya dia memutuskan ke kafe bawah. Meski keluar dengan mata bengkak bukan pilihan terbaik, tapi dia tetap melakukannya. Dia butuh suasana baru untuk melupakan ucapan Tirta.
Tidak sampai sepuluh menit, Rensha sampai di kafe bawah. Dia duduk di dekat jendela, melihat orang-orang yang berlalu lalang tak peduli matahari bersinar begitu terang.
“Silakan, Kak.”
Rensha mengangkat wajah lalu tersenyum ke pelayan yang mengantar makanannya itu. Dia mulai mengambil pisau dan garpu, bersiap menyantap beef steak di depannya.
Bumbu kacang dengan lembutnya daging memanjakan lidahnya. Saat sedang asyik makan, suara decitan kursi terdengar, Rensha mengangkat wajah sambil mengunyah makanan di mulutnya.
“Sendirian aja, Nona Cantik.”
Pria berkaus polo putih duduk di hadapan Rensha. Kedua tangannya terlipat di atas meja sedangkan matanya menatap wajah cantik tapi sendu di depannya itu.
“Gue kira siapa, Gil,” ucap Rensha setelah itu kembali memotong steak-nya.
“Lo kira siapa?”
“Bukan,” jawab Rensha tak sesuai. “Lo mau?”
Gilbert mengamati hot plate di depannya itu. “Gue bukan pecinta daging.”
“Vegetarian?” tanya Rensha sedikit heran.
“Yaps. Gue lebih suka makan sayur sama buah daripada daging.”
Pandangan Gilbert teralih ke mata Rensha yang memerah itu. Dia tidak tahu apa yang membuat Rensha menangis. Namun, Gilbert yakin jika Rensha menangis karena Verza.
“Lo nggak bahagia?”
Pertanyaan Gilbert menghilangkan nafsu makan Rensha. Wanita ber-blouse biru itu meletakkan pisau dan garpu ke pinggir piring. Dia membasahi tenggorokannya yang kering dengan orange jus. Setelah itu memilih menatap ke arah lain, tanpa menjawab pertanyaan Gilbert.
Melihat Rensha yang bungkam, Gilbert semakin yakin dengan dugaannya. Tangan pria itu lalu terulur, mengusap punggung tangan Rensha.
“Kan, gue udah bilang kalau lo nggak bahagia lo bisa temuin gue,” ujar Gilbert mengingatkan.
“Nggak segampang itu, Gil,” jawab Rensha diakhiri dengan embusan napas panjang.
Rensha menarik tangannya yang masih diusap oleh Gilbert itu. “Gue kira lo udah ke Paris.”
Gilbert menggeleng. “Ada seseorang yang nahan gue di sini.”
“Pacar lo?”
“Elo.”
Rensha menggeleng, tidak menganggap perkataan Gilbert serius. “Gue nggak nahan lo, Gil.”
Gilbert menarik napas sejenak. “Lo emang nggak pernah nahan gue. Tapi gue nggak bisa pergi gitu aja ninggalin lo,” jelasnya lembut. “Apalagi ngeliat lo kayak gini. Lo nggak bahagia, Ren.”
Dalam hati Rensha ingin mengatakan dia memang tidak bahagia. Baru sepuluh hari menjalani pernikahan dengan Verza, tapi sudah ada penganggu. Sudah ada fakta-fakta yang kapanpun bisa memisahkan mereka. Namun, Rensha tidak ingin mengakui itu. Selama ini dia hidup dengan harapan kecil, yaitu Verza mau melihat ketulusan cintanya.
“Diem gue artiin, ya.”
Rensha tersenyum, tapi tidak sampai ke mata. Dia lalu menggeleng pelan. “Ini pilihan gue, Gil.”
Gilbert mengurut ujung mata dengan dua ibu jari. Sekarang dia tahu apa yang dinamakan cinta buta dan itu semua ada dalam diri Rensha.
“Ren. Gue sebenernya nggak mau ngomong ini,” kata Gilbert menggantung. “Tadi gue liat Verza pelukan sama wanita lain di basemant.”
“Wanita itu Tirta.”
“Lo tahu?”
Bahkan sangat tahu, batin Rensha. Dia mengangguk mengiyakan. “Bisa dibilang dia emang penghalang, tapi gue juga nggak mau kalah sama dia.”
Bahu Gilbert merosot. Itu artinya dia akan sulit membuat Rensha berpaling. “Kalau ada penghargaan wanita tersetia, lo pasti menang.”
“Ada-ada aja lo,” jawab Rensha sambil tersenyum. Senyum tulus hari ini setelah badai kecil menerpanya. “Jangan bahas masalah berat. Kepala gue terasa pecah,” pintanya.
“Maunya lo bercanda? Sayang banget gue nggak bisa bercanda.”
Rensha terkekeh ingat dengan pria yang irit ngomong bahkan terkesan kaku itu. Sekarang Gilbert sedikit berbeda, pria itu sedikit supel dan tubuhnya lebih berisi daripada pertemuan pertama. Wajah Gilbert juga lebih segar dan pria itu tidak lagi terlihat arogan.
“Kenapa natap gue kayak gitu, Ren?” tanya Gilbert sambil menggerakkan kelima jarinya di depan Rensha.
“Gue lagi mikir aja. Lo banyak banget perubahan dari awal ketemu.”
Lo alasan gue berubah, biar hati lo berpaling ke gue, batin Gilbert. Dia tersenyum, memperlihatkan kedua lesung pipinya. “Makasih udah muji.”
“Pede banget, gue nggak muji,” jawab Rensha setelah itu terkekeh pelan.
“Gue anggep pujian. Gue emang orangnya gini.”
“Gil!! Nggak cocok sama tato naga lo.”
Mau tidak mau Gilbert menunduk, melihat tato bergambar naga yang dia buat di Paris. Dia lalu tersenyum, baginya Rensha seperti kebanyakan orang, menganggap pemilik tato adalah sosok yang keras padahal tidak semua begitu. “Ren. Kapan-kapan kita keluar, ya. Gue takut lo mati muda mikirin Verza.”
Kedua alis Rensha hampir bertaut. Tak lama dia mengangguk. Baginya itu bentuk perhatian Gilbert kepadanya. “Makasih ya. Lo ternyata baik banget ke gue.”
“Makasih udah muji gue lagi.”
“Gil!!” teriak Rensha sebal.
“Hahaha...”
Mereka berdua lalu terbahak. Hal pertama yang baru mereka lalukan hari ini. Dalam hati Rensha bersyukur karena dibuat tertawa oleh Gilbert.