20-Mungkin Saja Cemburu

1595 Words
Denting sendok dan garpu mengiringi makan malam di apartemen dengan nuansa abu-abu dan putih itu. Tidak ada kata yang keluar dari bibir mereka, sekadar bilang “hai” saja tidak mereka lakukan. Bukan tanpa maksud Verza mendiamkan Rensha. Pria itu sempat melihat istrinya itu dan Gilbert makan siang di kafe apartemen, tampak sedang berbahagia. Rensha sendiri sebenarnya tidak betah karena Verza sejak tadi memilih diam. Karena sedang lelah, wanita itu memilih mengikuti saja. Kreeek... Suara kaki kursi terdengar, membuat Rensha yang masih sibuk dengan makan malamnya mengangkat wajah. Dia melihat Verza memindahkan piring ke tempat cucian setelah itu berbalik meninggalkannya. “Aneh,” gumam Rensha pelan. Dia kembali menunduk dan menyantap paha ayam kesukaannya. Sedangkan Verza memilih menuju ruang tengah. Kepalanya terasa pusing karena tadi meeting dengan investor yang detail-nya minta ampun, membuatnya yang tidak sabaran menahan emosi habis-habisan. Tet! Pintu apartemen membuyarkan lamunan Verza. Pria berkaus panjang itu beranjak, membuka pintu untuk tamunya. Saat melihat dua pria di depannya, Verza seketika kikuk. “Kenapa nggak bilang kalau mau ke sini, Pa. Kan Verza bisa jemput,” ucapnya sambil membukakan lebih pintu lebar. “Nggak apa-apa. Papa nggak mau ngerepotin,” jawab Irsya. Renga mendorong kursi roda lalu mengedarkan pandangan. “Adik gue mana?” “Ada di dalem. Bentar gue panggil.” Verza melangkah menuju dapur. Dia mendekati Rensha yang sibuk mencuci piring itu. “Ada papa sama Kak Renga di depan, Ren.” Rensha yang setengah melamun mengangkat wajah. Dia mengernyit melihat keberadaan Verza. “Apa?” “Lo ngelamun? Ada papa sama Kak Renga di depan.” Mata Rensha berbinar, sontak dia menghentikan kegiatannya. Sampai di ruang tamu, dia segera menghambur memeluk papanya. “Papa!!! Kangen,” teriak Rensha dalam pelukan papanya. Irsya membalas pelukan anak perempuannya itu. Dia merasa Rensha masihlah gadis yang selalu dia sayangi dan harus dijaga. “Papa juga kangen kamu. Gimana kabarmu?” Perlahan Rensha melepas pelukannya lalu bersimpuh di depan papanya. “Rensha baik-baik aja kok.” “Tuh, kan, apa Renga bilang,” ucap Renga menimpali. “Gimana kabar, Papa?” Verza bersuara. Rensha mendongak, menatap suaminya yang sejak tadi diam itu. Saat tatapan mereka bertemu, dia buru-buru mengalihkan, membuat Verza mengernyit heran. “Kabar papa baik. Gimana kalian? Baik-baik aja, kan?” Verza tersenyum lantas menjawab. “Baik-baik aja, Pa.” Irsya senang mendengar jawaban itu. Dia lalu mengusap puncak kepala Rensha lembut. “Duduk di atas, Ren. Dingin, loh, di bawah.” Rensha menurut. Dia berdiri dan memilih duduk di tangan kursi, membuat Renga yang duduk di kursi itu menoleh. “Duduk sebelah suami lo sana!” Renga menatap dua orang yang baru menjalin kehidupan pernikahan itu. Terlihat wajah Rensha yang sebal, sedangkan Verza tampak biasa saja. Renga mengernyit, merasa ada yang tidak beres. “Kalian lagi berantem?” selidiknya. “Enggak!” jawab Verza dan Rensha bersamaan. Dua orang itu lantas bertatapan, hingga Rensha yang memilih memutuskan kontak terlebih dahulu. “Gue kan kangen lo. Makanya gue duduk di samping lo, Kak,” jawab Rensha beralasan. “Oh, kirain berantem.” Irsya geleng-geleng melihat tiga orang yang terlibat perdebatan kecil itu. Tatapannya lantas tertuju ke menantunya itu. “Pertengkaran dalam rumah tangga itu biasa. Kalau ada masalah sekecil apapun diomongin. Jangan berlarut-larut,” ucapnya menasihati. Dia yang mulai dulu, tiba-tiba aja nggak nyapa gue, batin Rensha sambil menatap Verza tajam. Dinasihati seperti itu Verza tersenyum tidak enak. Sebenarnya dia tidak marah, hanya merasa hatinya terusik. Dia menikah dengan Rensha tapi merasa tidak bisa membahagiakan wanita itu. Tadi saat melihat Rensha yang tertawa dengan Gilbert, tebersit rasa ingin melepaskan. Namun, sebagian hati Verza tidak terima. “Biasa aja dong natapnya. Masih ada gue nih, ngebet banget nyerang adik gue,” ucap Renga memperhatikan Verza yang menatap adiknya dalam. “Renga, jaga ucapanmu,” ingat Irsya. Tatapan Verza dan Rensha bertemu. Wajah Rensha memerah perpaduan antara malu dan marah. Dia malu karena sejak tadi ditatap Verza, dia juga marah karena malam ini pria itu aneh. “Papa balik dulu ya, udah malam,” kata Irsya kala melihat waktu telah menunjukkan pukul sembilan. “Nanti aja, Pa,” jawab Rensha berat. Berbeda dengan Rensha, sang kakak seolah menyetujui. Renga berdiri lalu mendekat ke kursi roda papa. “Bener kata papa, gue harus pulang. Papa juga harus istirahat.” “Kapan-kapan main ke sini ya, Pa,” ucap Verza tulus. Irsya mengangguk singkat lalu menatap Rensha yang terlihat masih tidak terima itu. “Kapan-kapan papa ke sini lagi,” janjinya. “Papa hati-hati, ya,” jawab Rensha sambil berjalan keluar apartemen. Dua orang itu menatap kepergian tamu mereka. Setelah Renga dan Irsya menghilang di dalam lift, Rensha berbalik. Dia yang tidak tahu Verza di belakangnya menabrak pria itu. “Verza!!” maki Rensha sambil mengusap dahi. “Sorry, Ren,” jawab Verza sambil menarik Rensha ke dalam pelukan. Dia merasa jantungnya berdetak lebih kencang daripada sebelumnya.   ***   Dua orang yang sebelumnya saling kenal, saling bercanda dan mengisi waktu satu sama lain itu, sekarang mirip dengan orang yang baru kenal. Setelah kedatangan papa mertuanya, Verza kembali ke mode diam. Dia sedang menyelami perasaannya yang menurutnya aneh apalagi jantungnya yang berdetak lebih cepat itu. Hal yang telah lama tidak dia rasakan. Sekarang pagi telah menjelang. Mereka masih di ranjang dengan sang wanita yang masih terlelap itu. Verza duduk menatap Rensha yang memunggunginya itu. Semalam tidak ada percakapan yang menjadi penghantar tidur. Tidak ada pelukan tengah malam yang mereka lakukan. Hal itu semakin membuat hati Verza kian berantakan. “Huh!!” Embusan napas pelan itu terdengar di telinga Verza. Dia menoleh, memperhatikan Rensha yang masih memunggunginya itu. “Gue tahu lo udah bangun, Ren.” Kalimat itu membuat Rensha membuka mata. Sejak sepuluh menit yang lalu dia terjaga. Sebenarnya dia ingin bangun lebih pagi, tapi ternyata Verza telah bangun lebih dulu, membuatnya bertahan dengan posisinya sampai Verza beranjak menjauh. Nyatanya, Verza tidak kunjung turun dari ranjang hingga Rensha tanpa sadar menghela napas dan berujung didengar barusan. Perlahan Rensha memutar tubuh menghadap Verza. “Semalem kita itu ngapain, sih?” tanyanya bingung. Verza menggeleng pelan. “Gue nggak tahu sama diri gue, Ren.” Satu alis Rensha terangkat. “Lo ada masalah?” tanyanya yang dijawab dengan gelengan dari Verza. “Atau gue ada salah sama lo?” Lagi-lagi Verza menggeleng, membuat Rensha tidak tahu apa yang sedang dirasakan suaminya itu. “Terus kenapa? Lo nggak mau cerita sama gue?” Kedua mata Verza terpejam, menyiapkan mental untuk menjelaskan semuanya. “Kemarin gue mau ngajak lo makan siang. Tapi gue liat lo sama Gilbert,” jawabnya setelah matanya kembali terbuka. Rensha seketika terduduk, menatap Verza panik. “Lo nyari gue? Sorry, Ver. Gue nggak tahu.” Perlahan Verza bangkit duduk bersandar di kepala ranjang. “Nggak masalah, Ren.” Hening, tidak ada lagi yang memulai percakapan. Hanya Rensha yang menatap Verza, sedangkan pria itu lebih menatap ke layar televisi. “Gue ngerasa lo lebih bahagia sama Gilbert,” ujar Verza dengan napas tercekat. Bola mata Rensha membulat. Dapat kesimpulan dari mana sampai Verza berbicara seperti itu? Rensha lalu menggeleng tidak percaya. “Lo tahu apa soal gue, Ver?” “Gue ngerasa lo bisa tertawa lepas sama Gilbert.” “Gue sering tertawa sama lo! Apa lo lupa ingatan?” Verza mengangguk singkat ingat saling berbagi tawa dengan Rensha. Namun, itu dulu sebelum pernikahan. “Tapi setelah nikah kita jadi orang asing, Ren.” Rensha menunduk dengan air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Dia merasa Verza akan melepasnya. “Terus mau lo apa?” tanyanya sambil terisak. Mendengar isakan itu Verza mendekat dan memeluk Rensha erat. “Apa pernikahan ini bikin lo tertekan?” “Harusnya itu pertanyaan buat lo!!” “Enggak, Ren. Gue selalu mentingin lo.” Sontak Rensha melepas pelukannya. Dia menatap Verza dengan pandangan menyelidik. “Kalau lo mentingin gue, harusnya lo nggak ngomong kayak tadi.” Verza terdiam sadar dengan kalimatnya tadi. “Tapi emang kenyataannya gitu, Ren. Gue harus apa?” Rensha menangkup pipi Verza. “Kalau lo mau bahagiain gue, lakuin Ver. Tapi kalau lo ngerasa nggak mampu, lepas gue sekarang juga.” Setelah mengucapkan itu Rensha turun dari ranjang. Dia berjalan cepat ke kamar mandi lalu mengunci pintu dari dalam. Air mata Rensha turun membasahi pipi. Dia masih tidak habis pikir dengan Verza. Sebelum menikah, semua persoalan seolah sederhana, tidak seperti sekarang yang menjadi rumit. Di ranjang, Verza duduk diam, masih mencerna permintaan Rensha. Sebagian hatinya setuju, agar Rensha bahagia dengan yang lain. Namun, sebagian hatinya tidak terima melihat Rensha dengan pria lain, kecuali dirinya. “Gue pertahanin lo, Ren. Sampai gue bener-bener nggak bisa mertahanin lo,” tekad Verza. Dia lalu berjalan menuju lemari, mengambil bungkusan yang kemarin ingin dia berikan untuk Rensha. Setelah itu dia berjalan keluar. Tak lama setelah Verza keluar, Rensha keluar dari kamar mandi. Wanita itu mendesah lega melihat kamar telah kosong. Rensha segera menuju lemari, mengambil baju yang belum sempat dia ambil. Drtt!!! Ponsel di nakas itu tiba-tiba bergetar. Rensha menoleh, melihat ponselnya yang menyala. Tanpa membuang waktu, dia mengambil benda itu dan membuka pesan masuk yang langsung membuatnya kaget. “Udah selesai, Ren?” Rensha menoleh lalu mendekat ke Verza. “Gue mau ke bandara, Ver.” Verza mengeryit bingung. “Ngapain, Ren?” “Gue harus nyusul Gilbert!” jawab Rensha sambil beranjak ke kamar mandi. Verza terdiam, hatinya sakit mendengar kalimat itu. Dia merasa Rensha lebih memilih Gilbert. Verza mendengarkan pandang, tas pemberiannya masih di ranjang tanda jika Rensha tidak tahu tas pemberiannya itu. “Apa lo milih Gilbert, Ren?” Kedua tangan Verza terkepal. Dia tidak akan membiarkan ini semua terjadi. Dia sudah bertekad akan mempertahankan Rensha, tidak seharusnya pertahanannya goyah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD