Kalau bukan karena perintah papanya, pria berjaket hitam itu tidak akan menggenggam sebuah tiket padahal hatinya masih ingin di Jakarta berjuang untuk mendapatkan hati wanita yang dicintai. Namun, sepertinya Tuhan belum merestui itu. Bisnis keluarga yang berada di Paris membuat Gilbert mau tidak mau harus terbang ke negeri yang terkenal dengan menara Eiffel itu. Jarum jam masih menunjukkan pukul delapan pagi. Dia sudah duduk di ruang tunggu dengan secarik tiket yang sejak tadi dia pandangi. Dia berkali-kali tebang ke Paris, tapi rasanya tidak menyesakkan seperti ini. Benar kata orang, bandara adalah satu tempat dengan dua perasaan yang ditawarkan. Bahagia karena yang dicinta akan tiba. Atau menyesakkan d**a ketika pergi meninggalkan yang tercinta. Gilbert menghela napas panjang, mencoba

