Setelah lebih dari seminggu Papa Rensha dirawat intensif, hari ini beliau diperbolehkan pulang. Rensha dan Renga memboyong papanya menuju apartemen, apartemen yang rencananya dijual tapi digagalkan oleh Verza. Untuk sementara mereka meninggali apartemen itu sambil menunggu pencairan dana dari Om Wino.
“Ren.. Maa. mafin.. Pa.. Pa,” ucap Irsya—Papa Rensha dengan terbata.
Rensha menarik tangan kurus papanya ke dalam genggaman. Wanita berambut cepol itu menggeleng tegas. Air matanya seketika turun kala papa masih meminta maaf disaat seperti ini. “Papa nggak salah. Risiko berbisnis kayak gini, Pa.”
Melihat anaknya menangis, Irsya berkaca-kaca. Dia menghela napas panjang saat bagian jantungnya terasa sakit. Refleks tangannya yang bebas menyentuh jantungnya.
“Papa nggak boleh banyak pikiran,” ucap Rensha setelah melihat papanya kesakitan.
Wanita itu beranjak, mengambil obat dan segelas air putih dari nakas. Lalu membantu papanya meminum obat.
“Sekarang papa tidur ya,” pinta Rensha.
Anggukan papanya membuat Rensha mendesah lega. Dia lantas beranjak keluar kamar. Air matanya menetes seiring dengan langkahnya. Dia sedih saat papanya selalu meminta maaf padahal dia merasa papanya sama sekali tidak bersalah.
“Ren ini kaus siapa? Gue pinjem, ya.”
Ucapan Renga membuat Rensha buru-buru menghapus air mata dari pipi. Dia mengangkat wajah, melihat kaus hitam bertuliskan Free dengan warna putih. Kayak punya Verza, batinnya.
“Ren! Kok malah bengong, sih?” tanya Renga sambil menggoyangkan tangan di depan wajah Rensha.
“Eh iya, pakai aja,” jawab Rensha lantas menjauh.
Rensha menggaruk tengkuk, bingung kenapa kaus Verza ada di lemarinya. Dia lantas menggeleng, mengenyahkan pikiran itu. Mungkin nggak sengaja tertinggal.
Dia lalu memilih berjalan ke dapur. Lambungnya mulai terasa perih, tanda harus mengisi dengan asupan makanan. Rensha mengambil roti sandwich yang sempat dia beli. Saat asyik makan, kehadiran Renga mengusik ketenangannya.
“Gilbert udah ngasih uangnya ke lo?”
Sepersekian detik Rensha menghentikan kunyahannya. Dia lalu kembali mengunyah tanpa menatap Renga. “Belum.”
Jawaban Rensha membuat mata Renga terbuka lebar. Dia menggeleng heran, kenapa Om Wino dan Gilbert seolah mengulur-ulur waktu. “Mereka niat bantuin nggak, sih!”
“Sttt! Papa tidur,” ingat Rensha.
Renga mengacak rambutnya frustrasi. “Terus kapan dia ngasih duitnya?”
Jari Rensha saling memilin. Dia tidak mungkin menceritakan kejadian semalam, saat Gilbert bertengkar dengan Verza. Rensha lalu menatap kakaknya yang menunggu jawaban itu. “Kemarin Gil udah ngomongin ini ke gue. Kayaknya besok, deh, beneran cair,” bohongnya.
Satu alis Renga tertarik ke atas. Dia melihat adiknya tidak yakin dengan kalimat yang telah diucapkan. “Besok, ya? Oke gue tunggu beneran besok atau enggak.”
Rensha mengangguk singkat agar kakaknya itu percaya. Meski dalam hati dia mulai kebingungan jika besok Gilbert tidak kunjung memberi uangnya.
Tet!
Bunyi bel apartemen mengagetkan keduanya. Renga berdiri tapi suara Rensha menginterupsi.
“Biar gue aja!” Rensha lantas berdiri.
Wanita itu keluar dapur dan berjalan ke pintu. Saat membuka pintu hal yang dia lihat adalah tangan bertato naga. Rensha mengangkat wajah, kaget melihat Gilbert menatapnya dengan rahang mengeras.
“Ada apa, Gil?” tanya Rensha bingung.
Gilbert menatap wanita di depannya yang terlihat baik-baik saja itu. Yah meski terdapat kantung mata yang kentara.
“Kenapa dari pagi nggak hubungi gue?” tanya Gilbert. “Lo nggak mau uangnya cepet cair? Oke nggak usah bersikap manis.”
Kalimat Gilbert yang kencang membuat Rensha panik. Dia mendekat dan membekap mulut Gilbert. “Gil. Jangan keras-keras. Ada kakak gue.”
Diam-diam Gilbert tersenyum. Dia menarik tangan Rensha yang membekap mulutnya dan menggenggam tangan yang terasa mungil itu. “Nggak mau kakak lo tahu, ya?” tanyanya sedikit menggoda.
Rensha mengangguk tegas. Dia menoleh ke belakang, beruntung kakaknya itu tidak menyusul ke depan. Dia lalu menatap Gilbert penuh harap. “Ini rahasia antara lo sama gue, Gil.”
Gilbert manggut-manggut. Dia menunduk hingga wajahnya sejajar dengan wajah Rensha. Dia tersenyum membuat Rensha mulai ketakutan. “Bersikap manis ke gue,” ucapnya lamat-lamat.
Bahu Rensha merosot. Dia mengurut pelipis dengan jari telunjuk. “Terus kapan Gil gue dapet uangnya? Bokap lo janjiin seminggu.”
“Sekarang belum seminggu, Sayang. Jadi gue masih bisa main-main sama lo.”
Tubuh Rensha menegang, tidak mengerti apa maksud main-main yang ucapan Gilbert. “Janji lo nggak bakal ngapa-ngapain gue!” pinta Rensha dengan sedikit ancaman.
Gilbert menggeleng pelan lalu menepuk pundak Rensha. “Gue tahu batasan, Ren. Asal lo bersikap baik ke gue.”
“Oke,” jawab Rensha setelah itu menghela napas panjang.
Kesekian kalinya Gilbert menang. Uang yang dia miliki membuat wanita yang dia sukai menurut kepadanya. Gilbert lalu menepuk pundak Rensha. “Nanti malem kita ke kelab.”
Bibir Rensha terbuka, hendak menolak. Namun, gelegan tegas dari Gilbert membuat Rensha mengantupkan bibirnya lagi. Untuk kesekian kalinya wanita itu harus menuruti Gilbert.
***
Kepulan asap keluar dari bibir tipis sedikit gelap itu. Selang beberapa detik asap itu keluar, dia kembali menghisap batang rokok dan membuang asapnya ke sembarang arah. Pria itu menunduk, melihat rokok yang beberapa menit yang lalu masih panjang kini tidak lebih dari lima centi.
Verza menjatuhkan rokoknya lalu menginjak benda itu dengan sepatu mahalnya. Tatapannya menjelajah ke pengunjung kelab yang mulai padat. Dia berbalik menyandarkan tubuh sambil menatap ke dance floor.
Pikiran Verza kacau. Setelah kemarin menemui papanya dia seolah menjadi robot. Dia masih menjalani aktivitasnya, tapi tidak dengan pikirannya yang seolah blank.
“Sendirian aja, Ver?”
Sapaan itu membuat Verza mengangkat wajah. Mata kecokelatannya menatap wanita dengan mini dress berwarna ungu itu. Verza mengernyit, mencoba mengingat nama wanita di depannya utu.
“Gue Laura, Ver. Masa lo udah lupa sama gue.”
Mendengar nama Laura, Verza manggut-manggut. Dia lalu bergeser, menepuk sisi sebelahnya meminta Laura mendekat. “Sini.”
Tanpa menunggu waktu lama Laura mendekat. Dia bergeser hingga lengannya bersentuhan dengan lengan Verza. “Kok tumben sendirian? Biasanya ada cewek-cewek yang ngikutin lo. Pesona lo udah luntur?”
Verza menggeleng tegas. Dia melingkarkan lengannya ke pundak Laura lantas mendekatkan bibir ke telinga wanita itu. “Kata siapa pesona gue udah luntur? Buktinya ada cewek yang deketin gue. Lo,” jawabnya diakhiri dengan embusan dari bibirnya.
Laura bergidik merasakan tiupan itu. Wanita itu lalu melingkarkan kedua tangannya ke tubuh Verza. “Oke gue akui kalau pesona lo kuat banget. So rencana lo malem ini apa?”
Diberi pertanyaan seperti itu Verza menjauhkan lengan dari pundak Laura. Pria itu menggeleng pelan. “Gue belum punya rencana.”
“Ke apartemen gue?” tawar Laura.
Bibir Verza terbuka tapi belum ada sepatah kata keluar, dia melihat rambut Laura ada yang menarik hingga wanita itu berteriak setelah itu berdiri. Verza mendongak, mencari sumber keributan malam ini.
“Tirta! Apa-apaan sih lo?” tanya Virza kala melihat Tirtalah pelakunya.
Titra menatap wanita yang sibuk merapikan rambut panjangnya itu. Dia mendekat, mencengkeram rahang Laura. “Jangan deket-deket Verza. Dia punya gue.”
Laura mengernyit. Dia melirik Verza yang lebih memilih menatap ke arah lain itu. “Nggak usah sok kepedean. Verza bukan milik siapa-siapa.”
“Itu kemarin. Mulai sekarang Verza milik gue. Udah minggir!” Tirta mendorong lengan Laura.
Meski sebal, Laura memilih pergi. Dia lebih sayang dengan riasanya daripada bertengkar dengan wanita berambut merah itu. Selepas kepergian Laura, Tirta duduk di samping Verza.
“Kok lo nggak ngasih tahu gue kalau di sini?”
“Emang harus?” tanya Verza tanpa menoleh.
Verza terdiam, ingatannya berputar saat papanya memintanya menikah. Dia bingung memilih siapa untuk dijadikan istri sedangkan teman kencannya bukan kandidat istri yang baik. Sempat Verza akan menikahi Rensha tapi pria itu mengurungkan. Rensha hanya sahabatnya.
“Verza. Kenapa lo diem aja, sih?” tanya Tirta sambil mengguncang lengan Verza.
Perlahan Verza menoleh, menatap Tirta intens. Apa gue ajak Tirta nikah?
Di depannya, Tirta berdecak. Heran dengan Verza yang malam ini lebih banyak diam itu.
“Ada yang lo pikirin, Ver?” tanya Tirta sambil mengusap pundak Verza.
Verza tergagap lalu menatap wajah cantik Titra. Dulu dia mencintai bahkan nyaris tergila-gila ke Tirta sebelum wanita itu mematahkan hatinya hingga dia tidak lagi percaya cinta. Verza menyentuh pundak Tirta membuat wanita itu menatapnya heran.
“Lo berencana nikah dalam waktu dekat ini nggak?”
Pertanyaan Verza yang terlalu tiba-tiba itu membuat Titra melongo bingung. Selama lima detik Tirta hanya menatap lawan bicaranya. Tak lama wanita itu terbahak. “Hahaha.”
Kedua tangan Verza menjauh dari bahu Tirta. Dia heran mengapa Tirta terbahak seolah pertanyaannya adalah bercandaan.
“Pertanyaan lo ada-ada aja, Ver,” ucap Tirta setelah tawanya reda.
“Cukup jawab pertanyaan gue, Titra!!”
Tirta mengangkat kedua tangan seolah menyerah. Dia masih tersenyum karena pertanyaan Verza yang menurutnya aneh itu. “Nikah? Kegiatan terakhir yang pengen gue lakuin.”
“Maksud lo?” tanya Verza tertarik.
Sudut bibir Trita tertarik ke atas. Di pikirannya membayangkan kehidupan saat dia tidak lagi bisa bebas. Menyiapkan sarapan, mengurus rumah, mengurus anak, Tirta bergidik membayangkan itu. “Gue mau hidup bebas tanpa dibatasi sama status pernikahan.”
Jawaban Tirta membuat harapan Verza lenyap. Padahal pria itu sedikit berharap Tirta mau menikah. Setidaknya jika bersama Tirta, Verza tahu sifat wanita itu. Verza juga pernah mencintai Tirta, jadi tidak ada yang salah.
“Kenapa lo tanya gitu?” tanya Tirta saat melihat Verza mengeraskan rahang. Kedua tangannya lalu menangkup pipi Verza. “Lo mau nikah? Ayolah, lo mimpi atau gimana? Gue tahu lo pria yang suka kebebasan.”
Verza menjauhkan tangan Tirta dari pipinya. Dia berdiri, lalu menunduk menatap Tira. “Ya. Gue pria bebas. Sekarang gue harus cari wanita yang bisa angetin tubuh gue.” Setelah menjawab seperti itu Verza menjauh. Pikirannya kacau kala tak kunjung mendapat calon istri, demi membantu Rensha.