Tiga orang duduk di ruang tamu bernuansa biru. Tidak ada percakapan yang terjadi selama lima belas menit, terhitung sejak pertengkaran di lantai bawah. Diam-diam Rensha mengamati dua pria yang duduk bersebelahan itu, heran dengan orang yang sama-sama keras kepala dan saling menyalahkan.
“Oke gue udah bosen diem-dieman,” ucap Rensha mengeluarkan suara.
Verza melirik pria di sampingnya itu. Dua kali Verza melihat Gilbert berbuat tidak baik ke Rensha. Pertama mengejek Rensha mata duitan dan kedua kejadian di depan supermarket bawah.
“Ver. Lo apa-apaan, sih, tiba-tiba mukul Gilbert?” tanya Rensha dengan nada sarat kemarahan.
Gilbert menatap pria songong yang sejak awal pertemuan mengibarkan bendera perang itu. Di sampingnya, Verza melirik lalu mendengus. “Dia meluk lo. Dia cari kesempatan, kan, ke lo?”
Rensha geleng-geleng, Verza memang tidak pernah berubah, hanya melihat suatu masalah dari kaca mata pria itu saja. Dia memajukan tubuhmenatap Verza memohon. “Dia emang meluk gue tapi apa nggak bisa lo nggak mukul dia?”
“Nggak bisalah. Dia cari kesempatan banget!” jawab Verza cepat.
Dituduh seperti itu Gilbert tidak terima. Dia menoleh menatap Verza tajam. “Gue nggak cari kesempatan!”
“Oh, ya? Terus meluk Rensha itu bukan cari kesempatan?” tanya Verza mengejek.
“Dia calon istri gue!”
“Kalian cuma dijodohin! Nggak usah seolah-olah pasangan beneran yang mau nikah!” ucap Verza setelah itu melipat kedua tangan di depan d**a.
Mendengar perdebatan itu, Rensha semakin sebal. Wanita itu berdiri, menarik tangan Verza dan menariknya menjauh. Gilbert hendak berdiri tapi tatapan dari Rensha membuat pria itu tetap diam. Gilbert mengangguk, tahu jika dua orang itu butuh bicara.
Rensha lalu menarik Verza ke lorong apartemen. “Ver. Mau lo apa, sih? Dua kali lo ngacauin semuanya.”
Verza melepaskan genggaman tangan Rensha. “Ngacauin apa? Dia cari kesempatan! Gue nggak terima sahabat gue diginiin.”
Kata sahabat keluar lagi dari bibir Verza membuat Rensha mundur beberapa langkah. Tidak ingin terlalu dekat dengan pria yang membuat jantungnya berdetak kencang itu. “Hanya pelukan? Sama kayak lo yang anggep ciuman sebatas kata hanya,” jawabnya pelan.
Kedua tangan Verza mengacak rambut. Dia menilai Rensha tidak tahu kalau tindakannya bentuk dari menjaga wanita itu agar tidak kenapa-napa. “Oke. Mungkin gue salah.”
“Bukan mungkin, tapi emang salah,” ralat Rensha.
Rensha menarik napas panjang, tidak ingin terlalu lama diselimuti emosi. Setelah beberapa detik menenangkan diri, dia mengangkat wajah. “Harusnya malem ini gue dapat duit dari Gilbert. Gara-gara tindakan lo tadi gue ngerasa Gill nggak bakal kasih duit itu cepet,” ujarnya lesu. “Gue harus cepet ngelunasin hutang, Ver. Please lo ngertiin perasaan gue.”
Pria itu menunduk, menyejajarkan wajah dengan wajah Rensha. “Jadi ini salah gue lagi?”
“Iya!”
“Gue minta maaf,” ucap Verza sambil menarik Rensha ke dalam pelukan.
Verza bingung dengan tindakan spontannya saat melihat ada pria lain bersama Rensha. Dia lalu mencium kening Rensha lembut dan lama. “Ya udah lo masuk ke apartemen Gillbert. Gue nggak bakal ganggu.”
Rensha mengangguk, berbalik kembali ke apartemen Gilbert. Seiring langkahnya, dia berusaha tidak menoleh ke belakang menatap Verza.
“Udah?”
Pertanyaan itu Rensha dapat saat baru melangkah masuk. Dia mengangguk singkat lalu duduk di samping Gilbert. “Maafin sahabat gue,” ucapnya.
Gilbert tersenyum sinis. “Sahabat? Gue ngerasa kalau kalian lebih dari sahabat.”
Seketika Rensha menunduk. Memang mereka lebih dari sahabat tapi hanya Rensha yang menganggap seperti itu. Dia lalu mengangkat wajah dengan senyum terpaksa. “Udahlah nggak usah bahas itu.”
Pria bermuka lebam itu mengalihkan pandang. Selama Rensha dan Verza berbicara, Gilbert sudah memikirkan semuanya. “Gue nggak bisa ngasih uang itu sekarang.”
Tubuh Rensha menegang, ketakutannya benar-benar terjadi. Rensha lalu menyentuh lengan Gilbert memohon. “Gil. Please. Dua minggu lagi jatuh tempo,” ucapnya ingat dengan waktu yang semakin menipis.
Gilbert mengangkat bahu acuh tak acuh. “Gue nggak peduli.”
“Gil...”
Air mata Rensha hendak turun. Meski masih ada waktu, tapi dia ingin segera melunasi semuanya. Dia tidak tahan melihat Renga yang terus mendapat telepon yang mengingatkan tentang hutang.
“Gue bisa ngasih. Asal..,” ucap Gilbert menggantung.
Rensha menatap Gilbert, merasa ada setitik harapan. “Asal apa?”
“Lo bisa bersikap baik dan manis ke gue. Baru gue bisa kasih.”
Gilbert tersenyum. Dia sangat tidak terima dengan tindakan Verza, mungkin ini picik karena melempar hukuman ke orang lain. Namun, Gilbert merasa ini kesempatan baik.
“Gimana, Ren. Lo setuju?” tanya pria itu saat tidak kunjung mendapat jawaban.
Perlahan Rensha menarik napas panjang lantas mengangguk. “Ya. Gue mau.”
***
Tujuh tahun yang lalu
Kepala Gilbert terasa pecah efek dari alkohol membuatnya menjadi linglung. Namun, dia seolah tidak kapok. Dia sering mengulang hingga hangover lagi dan lagi.
“Rampok!!”
Teriakan kencang itu membuat Gilbert terjaga. Dia lalu menepuk pundak sopir taksi. “Berhenti!”
Gilbert mengeluarkan uang lima puluhan lalu turun dari taksi. Dia menoleh ke kanan dan kiri mencari sumber suara dari teriakan tadi. Saat menoleh ke kiri dia melihat seorang wanita bercelana jeans dan jaket putih berjongkok dengan bahu bergetar.
Tanpa menunggu waktu lama Gilbert berjalan mendekat dengan tubuh sempoyongan. Dia lalu menunduk, menyentuh pundak wanita di depannya itu.
“Pergi!!” teriak wanita itu.
Gilbert terus menepuk hingga wanita berkaca mata putih itu mendongak. Dia mengulurkan tangan, berniat membantu berdiri.
“Jangan ganggu saya!” pinta sang wanita.
“Gue gak ganggu. Gue nolongin lo. Lo kerampokan, kan?”
Bukannya segera berdiri, sang wanita justru menangis membuat Gilbert menghela napas panjang. Dia lalu berjongkok di depan wanita itu. “Gue mau bantuin lo. Ayo berdiri,” ajaknya sambil menarik tangan wanita itu.
Kedua tangan kurus itu menepis tangan Gilbert. “Gak! Lo aja mabuk. Mana bisa nolongin gue!”
“Hiks tas gue!!” jerit wanita itu kemudian.
Gilbert kehilangan kesabaran. Dia menarik wanita itu hingga berdiri tapi beberapa detik berdiri wanita berjaket itu limbung. Tubuh Gilbert yang sempoyongan tidak bisa menahan hingga dia terjatuh, dengan wanita itu di atas tubuhnya.
“Hei! Nggak usah pingsan dong!”
Kedua tangan Gilbert menarik pundak sang wanita. Tidak sengaja dia melihat ada tahi lalat wanita itu di leher bagian kanan.
“Hei! Bangun!”
Gilbert menoleh ke kanan dan kiri. Sebelah kanan hanya bangunan proyek mal yang belum jadi, sedangkan sebelah kiri perkantoran yang telah terlihat sepi. Gilbert menghela napas, dia hanya menatap wanita yang pingsan di pelukannya itu.
Kedua mata Gilbert mengamati wajah putih bersih di depannya. Dia tersenyum, menyadari wanita itu sangat cantik dengan poni tengah.
“Andai gue nemuin lo nggak keadaan kayak gini. Udah gue mintain nomor ponsel lo.”
Gilbert terkekeh, pengaruh alkohol membuatnya merancau. Dia lalu menoleh ke belakang saat mendengar langkah kaki. Dia melihat pria berpakaian security berjalan mendekat. Tanpa membuang waktu, Gilbert berteriak meminta tolong.
“Tolong!! Korban perampokan, nih!!”
Bapak ber-security mendekat. Gilbert lantas memberikan instruksi. “Lo cari taksi. Bawa nih cewek ke klinik.”
“Tunggu sebentar, Mas.”
Tak lama sebuah taxi berhenti. Gilbert dan Bapak itu mengangkat wanita pingsan itu masuk ke dalam taksi.
Dua pria itu membawa korban perampokan ke klinik terdekat. Karena tidak kuat dengan rasa pusingnya, Gilbert hanya memastikan wanita itu aman di tangan dokter setelah itu dia memilih kembali ke apartemen.
***
Gerbang hitam itu terbuka saat suara klakson berbunyi beberapa kali. Pria berkaus putih mengendarai mobil merahnya memasuki halaman rumah bertingkat dua. Pria itu memakirkan mobil sembrangan lalu berlari menuju pintu utama.
Langkah panjangnya menuju ke lantai dua, tepatnya ke ruang kerja sang papa. Tanpa mengetuk pintu, Verza membuka pintu bercat cokelat itu hingga tatapannya bertemu dengan pria berkacamata baca.
“Tumben kamu pulang,” ucap Firan—papa Verza.
Verza berjalan mendekat lalu menarik kursi di depan papanya. “Pinjem duit lima belas milyar.”
Permintaan Verza membuat Firan tersentak. Pria beruban itu menatap anaknya yang pembangkang itu. “Buat foya-foya?”
Kedua tangan Verza terkepal. Dia menggeleng tegas lantas menjawab, “Buat bantu sahabat Verza.”
“Oh, ya? Bukan buat main-main? Tumben sekali kamu minta tolong ke papa.”
Sebenarnya Verza tidak ingin meminta bantuan ke pria yang menceraikan istrinya demi wanita lain itu. Namun, dia seolah tidak ada pilihan lagi. Papanya sangat kaya, Verza berpikiran kalau akan mendapat uang sebanyak itu dengan cepat.
“Cepat, Pa. Verza butuh uang. Tenang, pasti Verza ganti.”
Satu alis Firan terangkat. “Ganti? Kamu saja malas-malasan bekerja.”
Verza terdiam. Dia memang terlalu santai menjalani hidup tapi tidak ada yang tidak mungkin. Dia bisa berkerja keras untuk membayar hutang ke papanya.
“Verza janji bisa ngelunasi.”
Ucapan Verza seolah bualan semata. Firan ingat saat anaknya itu tidak mau mengurus perusahaan dan memilih bersenang-senang saja.
“Oh, ya? Berapa bayaranmu jadi arsitek paling malas? Hmm...”
Rahang Verza mengeras lalu memajukan tubuh. “Papa berapa tahun hidup sama Verza sebelum cerai sama mama?” tanyanya mengungkit masa lalu. “Sampai Verza umur sepuluh tahun, kan?”
Firan mengalihkan pandang, tidak suka jika membahas kejadian dulu.
“Tentu papa tahu gimana usaha Verza kalau pengen sesuatu. Itupun kalau papa nggak lupa dan terlalu asyik sama selingkuhan papa,” lanjut Verza.
Firan terdiam menatap anaknya. Tak lama dia tersenyum merasa ada sesuatu yang bisa membuat Verza kembali menurut. “Cari istri dan urus perusahaan Papa. Baru papa kasih.”