Angkasa baru sampai ke rumah aman (safe house) ketika gerimis turun semakin deras. Langit masih merah, mendung, menutup bulan. Lampu-lampu minyak mengecil, terpercik air. Beberapa titik dibiarkan padam. “Mereka sudah sampai?” tanya Angkasa pada seorang agen yang menyambut kedatangannya. “Sudah, Yang Mulia,” jawab pria itu. Pria itu mengambil alih kuda Angkasa, menuntunnya ke kandang kuda di belakang rumah. Sementara Angkasa masuk lebih dulu ke rumah kayu satu lantai itu. Halamannya yang luas juga cukup gelap itu sangat sempurna untuk bisa mengawasi sekitar area rumah. Dua agen menjaga di pintu depan, dua lagi bersembunyi di titik-titik strategis. Mereka semua mengawasi dengan kesiagaan penuh dan senjata lengkap. Bangunan itu dibeli markas pusat beberapa bulan

