Rompang 11

2102 Words
Happy reading!! Dulu kita memang saling berjarak. Namun, saat ini rasa-rasanya jarak itu kian menipis. -Bilbul17- “Nggak kayak gitu, Pak. Ini itu ditata dulu untuk template-template-nya. Baru nanti dimasukkan gambar atau icon yang sesuai dengan apa yang kita mau,” ucap Anjani dengan nada gemas juga kesal. Jari telunjuknya juga ia arahkan pada layar laptop yang menampilkan sebuah aplikasi edit gambar agar Arsya berhenti ngeyel. Sejak tadi mereka berdua ribut dengan hasil editan gambar yang belum mengalami perubahan sedikit pun. 30 menit waktu terbuang sia-sia. Anjani sudah mengingatkan berulang kali langkah-langkah membuat poster yang mudah sejak mereka baru saja membuka aplikasi edit gambar itu, akan tetapi Arsya tetap kukuh pada pendiriannya. Dan berakhirlah desain mereka saat ini yang masih diam di tempat. Masih berupa lembaran putih yang kosong. Arsya menunjukkan cengiran khasnya, sehingga memunculkan lesung pipit kecil di dekat bibirnya. “Iya, iya. Ini mau kulakukan sesuai dengan saran kamu,” pungkas Arsya mengalah. Ia sadar dirinya salah sehingga ia lebih memilih menuruti petunjuk Anjani. Setelah deep talk mereka di perpustakaan kala itu, mereka sudah mulai terbiasa menyebut diri dengan aku dan memanggil lawan bicara dengan kamu. Awalnya mereka juga masih menggunakan bahasa formal ketika berbincang. Namun, entah siapa yang mengawali, mereka tiba-tiba sudah mulai memanggil dengan sebutan aku dan kamu. Mereka pun merasa nyaman dengan panggilan itu. Arsya juga ingin, bahkan sangat ingin menghapus panggilan Pak atau Bu di antara mereka. Namun, ia tidak ingin dinilai Anjani terlalu cepat merubah apa pun di antara mereka. Ia pun membiarkan agar semuanya mengalir sesuai dengan garis takdir yang akan terjadi. Tentunya dengan usaha yang juga gencar ia lakukan. Anjani mendengus kasar. “Meskipun aku nggak jago ngedit gambar atau bikin desain, aku tahu step-nya agar bisa terbuat desain yang cantik. Nggak kayak kamu yang ngeyel terus dari tadi, Pak” dumal Anjani. Biar saja Arsya ikut kesal, ia sedang ingin melampiaskan amarahnya pada rekan gurunya itu. Arsya hanya mengangguk saja. Enggan mendebat karena sadar bahwa ia salah. Ia menuruti kata-kata Anjani, tidak keukeh dengan pendiriannya yang belum tentu dapat menghasilkan desain yang bagus di waktu mereka yang singkat ini. Anjani menghela napas lega karena akhirnya desain poster untuk menarik minat siswa agar mengikuti kegiatan perayaan ulang tahun sekolah jadi dengan hasil yang sempurna. Proses membuat desain itu tentu saja tidak berjalan mulus dan lancar seperti jalan tol. Ia dan Arsya berkali-kali memperdebatkan sesuatu yang sepele. Perbedaan pendapat kecil, membuat mereka ribut dalam jangka waktu yang cukup lama. Untungnya perpustakaan sedang sepi sehingga mereka bebas berbisik meskipun dengan suara standar, bukan teriak-teriak. Jika banyak siswa yang sedang berkunjung ke perpustakaan, mereka berdua bisa mendapatkan teguran keras dari petugas perpustakaan. “Yeay!! Akhirnya selesai juga,” sorak Anjani senang. Dirinya sudah seperti remaja yang baru saja mendapatkan hadiah besar dan menarik. Arsya geleng-geleng melihat sisi lain Anjani. Ternyata setelah mengenal dekat seseorang, ia menjadi tahu akan kepribadiaan orang tersebut. Dulu ia menilai Anjani sebagai seorang perempuan yang irit bicara, judes, dan bodoh amat atau tidak peduli dengan lingkungannya. Namun, kebersamaan mereka selama ini membuktikan bahwa Anjani adalah perempuan yang sangat berbeda dengan penilaiannya dulu. Sangat jauh berbeda. Anjani merupakan perempuan yang luar biasa dan cerdas. Yah meskipun kebiasaan berbicara dengan sinis dan terkadang tatapan meremehkan sesekali masih melekat kuat pada perempuan itu. Dan dari hal itu ia mendapat pelajaran bahwa tidak seeloknya seseorang menilai orang lain berdasarkan tampilan luarnya saja. “Rasanya tadi aku sudah hampir menyerah. Aku bahkan ada niatan akan menghubungi temanku untuk membantu mendesain poster ini,” kata Arsya. “Yeii.. jangan!!“ sergah Anjani cepat. “Sekarang itu jamannya semua serba ada di YouTube dan internet. Mau tahu tutorial apa pun itu ada,” lanjutnya. “Jadi, mending kita memaksimalkan kemampuan kita supaya bisa membuat sesuatu sendiri. Jangan kalah sama robot dong, Pak.” “Tutorial mencintaimu ada nggak?” tanya Arsya dengan memandang tajam Anjani yang duduk di sebelahnya. Anjani tak menggubris. Sejak mereka sudah seperti tidak ada jarak—akrab dan dekat, Arsya memang sangat sering melontarkan kata-kata rayuan gombal seperti itu. Dan Anjani bodoh amat dengan ucapan Arsya yang mengandung racun itu. Ia tak peduli. “Sayang banget kalau misalnya kita bayar orang buat desain jika kita bisa belajar desain. Buktinya kita bisa membuat desain yang simple ini kan?” kata Anjani. “Lagi pula, kita juga harus bisa jadi orang yang bertalenta. Tidak hanya jadi guru yang berbagi ilmu pada murid sesuai dengan bidangnya, tetapi kita juga harus terus mengembangkan diri.” Arsya mengangguk membenarkan. “Terus kamu sayangnya sama aku mulai kapan?” Kali ini Arsya mengedipkan sebelah matanya jahil. Anjani mendelik tajam Arsya. Arsya pun membalas delikan itu dengan tatapan yang tajam juga dalam. Tatapan keduanya tentu berbeda. Anjani memandangnya galak dan menghunus, sedangkan dirinya memandang tajam juga disertai dengan kelembutan dan ketulusan. “Kalau sudah selesai aku mau kembali ke ruang guru saja,” ucap Anjani tegas. Ia paling benci dengan Arsya yang mulai sering melontarkan kata-kata gombalan itu. Anjani takut luluh. Sedangkan dirinya belum membangun benteng cadangan untuk membentengi dan mengokohkan kembali hatinya jika nanti hatinya tersakiti. “Di sini saja kenapa sih, Jan? Di ruang guru juga pasti pada sibuk dengan urusan masing-masing. Kalau di sini kan kita sama-sama free sehingga bisa ngobrol,” bujuk Arsya. Mereka sama-sama sedang tidak ada jam, free dari jadwal sehingga memutuskan untuk mengerjakan salah satu job desk mereka sebagai panitia dekorasi dan dokumentasi untuk perayaan ulang tahun sekolah. Dan perpustakaan yang mereka pilih sebagai tempat untuk mengerjakan desain itu. Mungkin perpustakaan akan menjadi tempat spesial bagi mereka setelah ini. “Males. Telingaku tiba-tiba terasa panas jika mendengar ucapanmu yang penuh bualan dan racun itu,” balas Anjani dengan memandang sinis lawan bicaranya. “Enggak lagi deh untuk saat ini. Tapi nggak tahu kalau nanti,” kata Arsya dengan nada yang dimirip-miripkan dengan Dilan. Saking kesal dan jengkelnya dengan Arsya, Anjani segera mengambil buku tulis yang ia bawa. Digulungnya buku itu kemudian ia pukulkan ke bahu Arsya. “Jangan main kekerasan gini dong, Jan,” protes Arsya sambil mengusap bahunya. Tidak sakit, hanya saja meninggalkan sensasi panas. “Bodoh amat,” jawab Anjani jutek. Arsya pun berusaha mengalihkan topik pembicaraan agar Anjani melupakan kekesalannya. Ia menggiring obrolan pada tanggung jawab mereka yang baru saja diamanahkan oleh kepala sekolah satu bulan lalu. Mereka diminta untuk menarik minat siswa agar berpartisipasi dan mendukung penuh pada segala bentuk kegiatan yang diadakan oleh sekolah atau pun pihak luar. Kepala sekolah ingin agar semua siswanya dapat berpartisipasi aktif dalam segala kegiatan. Tidak hanya siswa tertentu saja, tetapi semuanya. Mereka dipercaya mengemban tugas itu karena mereka memang akrab dan dekat dengan siswa. Jika Arsya memang terkenal sebagai guru yang supel dengan siswa, berbeda dengan Anjani. Anjani seperti seseorang yang memiliki magis untuk menarik seseorang agar mendekat padanya meskipun Anjani terlihat menakutkan. Banyak siswa yang merasa nyaman dengan Anjani. Karena hal itulah mereka mengemban amanah itu. Ketika sedang seru berbicara tentang trik-trik untuk menarik siswa agar berpartisipasi penuh dalam segala kegiatan, handphone Anjani yang diletakkan di meja bergetar. Anjani mengambil handphone-nya kemudian melihat nama Sang Pemanggil. Ia mengernyit heran kala membaca nama Sang Ibu sebagai pemanggil. Tidak biasanya ibunya menghubungi saat masih jam pembelajaran. Ibunya sudah tahu jadwalnya di sekolah sehingga ibunya tidak pernah menghubungi di jam-jam itu. Ia pun akan selalu menginfokan jika ia pulang terlambat atau ada apa-apa padanya. Dan ketika tiba-tiba ibunya menghubungi di jam-jam pembelajaran seperti ini, tentu saja menimbulkan tanya. “Iya. Halo. Assalamu’alaikum, Bu. Ada apa, Bu?” tanya Anjani dengan suara yang ia usahakan tenang. Pikirannya sudah tak tentu arah. Ia khawatir terjadi sesuatu dengan ibunya atau pun Putri. “Wa’alaikumsalam, Nduk,” balas ibunya. “Kamu pulang jam berapa?” Anjani bingung terhadap pertanyaan ibunya. “Ya seperti biasanya, Bu. Jam satu,” kata Anjani. Sukma seperti hendak mengatakan sesuatu tetapi enggan. “Ada apa, Bu? Ibu dan Putri baik-baik saja kan?” tanya Anjani pelan. Meskipun hatinya sedang tidak tenang. Arsya yang mendengar kata Putri disebut membuatnya kembali teringat dengan Anjani yang menggendong seorang balita, juga ibu parah baya yang berjalan di samping Anjani ketika di rumah sakit. Namun, ia dengan sabar menunggu Anjani menyelesaikan panggilan itu. Ia akan bertanya setelah sambungan itu selesai agar rasa penasarannya selama ini terjawab. “Itu Putri dari tadi nangis, Nduk. Ibu kemarin lupa mengingatkan kamu untuk membelikan susunya. Susunya sudah habis. Putri terakhir minum s**u sekitar jam 9-nan tadi,” jelas Sukma. “Minta tolong ibu gendong Putri dulu, ya. Jani setelah ini akan ijin pulang lebih awal saja untuk menggantikan Ibu mengurus Putri. Toh Anjani sudah tidak ada jam mengajar.” “Apa nggak masalah, Nduk?” tanya Sukma khawatir. “Enggak, Ibu. Putri juga tanggungjawabnya Jani. Ibu tunggu Jani ya. Jani usahakan tidak sampai 30 menit sudah sampai rumah,” janji Anjani. Sukma mengiyakan. Setelah mengucapkan hati-hati kepada putrinya, sambungan telepon itu pun terputus. “Ada apa?” tanya Arsya yang dari tadi memendam rasa penasaran. Ia sudah ingin menyuarakan pertanyaan tentang siapa Putri, tetapi ia menahannya. “Aku harus segera pulang. Kasihan Putri susunya habis. Besok atau lusa kita bahas lagi ya tentang hal ini,” kata Anjani cepat. Dengan cepat pula ia membereskan semua barang-barangnya yang ada di meja. Setelah itu ia berjalan tergesa keluar perpustakaan. *** Saat Anjani tiba di ruang guru, Nabila sedang duduk di kursinya sambil memandang Anjani lekat. “Kamu dari mana saja sih, Jan? Aku dari tadi kirim pesan ke kamu tapi nggak ada satu pun yang kamu balas. Aku mau ngajak kamu makan siang,” cerocos Nabila. “Aku mau pulang dulu, Bil. s**u Putri habis. Aku tidak mungkin membiarkan Ibu yang membeli susunya kemudian meninggalkan Putri. Jadi aku memutuskan pulang lebih awal. Lagi pula aku juga sedang kosong,” jawab Anjani sambil membereskan barangnya. “Yah. Terus aku makan siang sama siapa?” tanya Nabila sendu. Ia sebenarnya tidak masalah makan dengan siapa pun. Dengan rekan guru yang lain pun tidak masalah, tetapi ia hanya merasa bahwa Anjanilah yang sangat klop dengannya. “Coba ajak Pak Arsya sana. Siapa tahu orangnya mau,” saran Anjani enteng. Ia kemudian menyampirkan tote bag khas guru di bahu kanannya. “Aku balik duluan, ya,” pamit Anjani. “Hati-hati, ya. Eh ngomong-ngomong tadi kamu lihat Pak Arsya nggak?” teriak Nabila karena Anjani sudah mau mencapai pintu. Untungnya ruang guru sedang sepi. Hanya ada mereka berdua. “Mungkin di perpustakaan,” jawab Anjani santai. Setelah itu Anjani segera melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Nabila mengucapkan terima kasih. Binar mata yang mulanya sendu, tiba-tiba berbinar cerah. Ia sudah membayangkan akan menghabiskan siangnya dengan Arsya. Rasanya sudah tidak sabar. Arsya yang tadi berada di lorong hendak menuju ruang guru, menggeleng tak habis pikir dengan kesantaian Anjani. “Masak kamu nggak lihat kalau aku itu sebenarnya ada sesuatu sama kamu, Jan. Jangan mengumpankan aku pada orang lain dong,” gumam Arsya. Pertemuan dan perbincangan yang frekuensinya semakin meningkat tiap waktu membuat Arsya tidak menjadi laki-laki yang lempeng-lempeng saja. Entah bagaimana, jantungnya selalu berdebar ketika berada di dekat Anjani. Hatinya merasa sangat senang dan melambung, serta berbunga-bunga ketika mereka bersama. Melihat senyum Anjani yang merekah juga tawa bahagia yang menguar membuatnya tidak dapat mengabaikan begitu saja. Apa dirinya adalah salah satu korban yang termasuk dalam jajaran orang ‘witing tresna jalaran saka kulina?’ Semoga tidak hanya dirinya yang memiliki perasaan itu, ia berharap Anjani juga memiliki perasaan yang sama. Maka dengan tekad kuat, ia akan menunjukkan bahwa dirinya memang serius. Ia akan membuktikan bahwa setiap ucapannya bukanlah bualan semata. Lamunannya seketika ambyar kala melihat Nabila melangkah keluar dari ruang guru. Arsya segera menyembunyikan dirinya di lorong kecil yang membatasi antara kamar mandi guru dengan ruang guru. Ia menghimpitkan tubuhnya di tembok agar Nabila tidak menyadari keberadaannya. Jujur saja sejak ia dekat dengan Anjani, dalam batinnya berusaha untuk menegaskan agar tidak berkomunikasi berlebihan dengan perempuan selain Anjani. Ia akan tetap melakukan obrolan, tetapi ia akan memberikan sedikit jarak. Ketika tubuh Nabila sudah hilang di belokan lorong perpustakaan, ia bernapas lega. Ia mempercepat langkahnya masuk ke ruang guru. Sedangkan Nabila yang baru menginjakkan kakinya di perpustakaan segera menanyakan keberadaan Arsya pada petugas perpustakaan. Petugas tersebut menyampaikan jika Arsya baru saja keluar perpustakaan beberapa menit yang lalu sebelum kehadirannya. Hal itu membuat dahi Nabila mengernyit. Setelah mengucapkan terima kasih, ia pun segera keluar dari perpustakaan. “Seharusnya jika Pak Arsya kembali dari perpustakaan bebera menit yang lalu, aku dan dia berpapasan. Tetapi kenapa aku nggak berpapasan dengannya?” gumam Nabila bingung. Ketidakadaan Arsya di perpustakaan membuat hatinya kembali mendung. Buyar sudah bayangan indah yang sempat terangkai di benaknya akan keseruan makan siangnya dengan Arsya. Nabila akhirnya memutuskan berjalan ke kantin seorang diri sebelum siswa memenuhi kantin.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD