Rompang 12

2177 Words
Anjani sedang berkutat serius pada lembaran-lembaran kertas laporan praktikum yang dikumpulkan tadi pagi oleh Ammar. Kesibukannya itu membuat fokusnya tidak terpecah ke sekelilingnya. Menatap rekan-rekannya yang sedang asyik mengobrol pun tidak. Lembaran kertas itu dirasa lebih menarik dibandingkan perbincangan seru para rekan kerjanya. Sayup-sayup terdengar rekan-rekan guru perempuan yang membahas salah satu judul sinetron yang ditayangkan di stasiun televisi swasta pada malam hari. Ada yang berkomentar gemas dengan kelakuan Si A. Ada pula yang jengkel dengan tingkah laku Si B. Anjani sedikit banyak tahu dengan jalan cerita sinetron tersebut, tetapi ia tidak ingin menumpuk pekerjaan dengan ikut nimbrung dalam bahasan itu. Anjani berhenti sejenak dari aktivitasnya kala sudut matanya menangkap ada seseorang yang berdiri di depan mejanya. Harum parfum dengan aroma citrus yang bercampur chypre menguar di udara sekitar Anjani. Ia pun mendongak untuk melihat siapa orang tersebut. Mata Anjani seketika membola saat melihat Arsya yang melengkungkan senyumnya dengan lebar. Memperlihatkan lesung pipit kecil yang muncul di sebelah bibirnya ketika tersenyum. Tangan Arsya mengulurkan sebuah kotak kecil bening. Jika dilihat dari posisi Anjani, terlihat potongan buah yang diselimuti parutan keju dan diguyur dengan mayonnaise juga kental manis. Arsya terus menjulurkan tangannya ke depan muka Anjani. “Apa?” tanya Anjani pura-pura tidak mengerti. Ia membiarkan kotak itu tetap dipegang oleh Arsya. Tidak ada niatan untuk menerima. Arsya pun memegang tangan Anjani. Kemudian tangan dengan kulit yang lembut itu ia tengadahkan. Kotak berisi salad buah yang ia beli dari menitip pada Ayuni, ia letakkan di atas telapak tangan Anjani. Sontak, Anjani mendelik tajam pada Arsya. Ia meliarkan pandangan ke segala penjuru ruang guru. Takut jika ada yang memergoki kelakuan nekat Arsya. Ia mengembuskan napas lega karena para rekannya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. “Segera dimakan. Jangan mentang-mentang sibuk ngoreksi laporan membuat kamu nggak sempet makan,” pesan Arsya. Tanpa menunggu jawaban Anjani, ia memutar tubuhnya dan berjalan menuju mejanya. Anjani memandang kotak salad itu. Ia tidak mengerti maksud laki-laki itu yang tiba-tiba mengantarkan salad buah kepadanya. Sejurus kemudian saat ia melihat handphone yang ia letakkan di mejanya, ia tersadar bahwa beberapa waktu lalu ia saling berkirim pesan dengan Arsya. [Ke kantin, yuk.] [Masih banyak koreksian. Kamu saja. Lagian masih istirahat pertama, terlalu pagi buat jajan. Masih ada sisa energi dari sarapan tadi pagi.] [Yah ☹] Anjani ingin tertawa karena balasan Arsya yang terkadang sering menggunakan berbagai emotikan yang disediakan oleh aplikasi perpesanan itu. Menurutnya lucu saja ketika seorang Arsya mengirim pesan disertai dengan emotikon. Anjani memilih tidak membalas pesan Arsya dan kembali berkutat dengan lembaran-lembaran praktikum. *** Anjani sedang menggendong Putri di teras rumah. Putri sedang asyik menghisap dot pada botol susunya. Bayi itu tampak kehausan. Cara Putri menghabiskan susunya membuatnya tertawa kecil. Ia gemas dan ingin sekali mencubit pipi chubby Putri. Anjani baru saja meletakkan botol s**u Putri di meja bundar yang ada di teras rumah. Putri sudah mulai mengantuk akibat kekenyangan. Anjani pun menimang-nimang keponakannya agar Putri lekas tidur. Hampir saja mata Putri terlelap. Namun, mata itu kembali terbuka kala mendengar suara seorang laki-laki mengucapkan salam. Anjani melongok ke arah gerbang. Betapa terkejutnya ia kala melihat Arsya yang berada di luar pagar. Untungnya Anjani selalu menggunakan kerudung instan saat di luar rumah. Anjani pun berjalan menuju pagar untuk membukakan pagar agar Arsya dapat masuk ke dalam. Matahari sedang terik-teriknya, tak elok jika membiarkan Arsya menunggu dengan berdiri di bawah panasnya matahari. Putri masih berada di gendongannya, ia memanfaatkan payung yang selalu disediakan di depan rumah untuk memayungi dirinya dan Putri. “Masuk, Pak,” kata Anjani mempersilakan Arsya untuk masuk ke dalam rumah. Arsya bergeming di tempatnya. Ia memilih untuk menunggu Anjani melipat payungnya. “Mari, Pak,” ucap Anjani sedikit pelan karena Putri sudah tertidur di gendongannya. “Silakan duduk dulu, Pak. Saya tidurkan Putri dulu di kamarnya dan saya siapkan minuman untuk Bapak.” ‘Kenapa nyebut saya lagi sih, Jan?’ batin Arsya tidak terima. Sambil menunggu Anjani kembali ke ruang tamu, ia mengamati ruang tamu Anjani yang sederhana tetapi membuat nyaman. Segala perabotan tertata pas. Arsya mencoba mencari foto keluarga atau pun foto pernikahan Anjani di dinding ruang tamu. Namun, tidak ada sedikit pun titik terang. Membuatnya semakin ingin tahu. 10 menit berselang, Anjani kembali ke ruang tamu dengan nampan yang berisi minuman dingin dan sepiring camilan. Di belakang Anjani, Sukma mengikuti. “Temannya Anjani, ya?” tanya Sukma penasaran. Selama ini, sejak SMA hingga sampai sekarang Anjani tidak pernah menerima tamu laki-laki. Baru siang ini ada teman laki-laki Anjani, membuat senyum Sukma merekah lebar. Teman yang sering berkunjung ke rumah mereka adalah Nabila. Dan Arsya kemungkinan akan menjadi teman Anjani berikutnya yang akan sering berkunjung. “Iya, Bu. Perkenalkan nama saya Arsya.” Arsya berdiri dari duduknya kemudian mencium punggung tangan Sukma. Sikap Arsya yang sopan itu membuat senyum lebar Sukma semakin kentara. Ia merasa bangga dengan laki-laki semacam Arsya. “Rekan kerja atau kuliah, Mas?” tanya Sukma ramah. Sukma memilih ikut bergabung bersama tamunya. Sudah sangat lama ia tidak berkenalan dengan orang baru, terutama teman Anjani. Ia merindukan momen-momen seperti itu. Hari-harinya hanya berkutat dengan kain dan mesin jahit juga merawat Putri. Yah, sesekali ia bertemu dengan pelanggan baru, tetapi berbeda rasanya dengan kehadiran tamu baru. Kedatangan Arsya berhasil membuatnya penasaran akan hubungan Sang Tamu dengan putrinya. “Rekan kerja, Bu. Saya guru olah raga di SMA Cenderawasih Nusantara,” jawab Arsya sopan. Sukma mengangguk mengerti. Mereka terlibat perbincangan sebentar sebelum Sukma memutuskan untuk masuk ke dalam. Banyak pesanan jahitan yang harus segera ia selesaikan. Ia tidak ingin melebihi batas waktu yang diberikan oleh pelanggannya. Sebelum ia masuk, tidak lupa mempersilakan Arsya untuk menikmati hidangan sederhana yang mereka suguhkan. Hening mengisi ruang tamu rumah Anjani. Tidak ada suara detak jarum jam, sehingga suasana hening semakin terasa. “Bapak tahu rumah saya dari mana?” tanya Anjani dengan pandangan menghunus. Menuntut jawaban. “Kenapa jadi menyebut diri sendiri pakai saya lagi?” protes Arsya. Anjani mengernyit. Ia juga tidak sadar jika telah menyebut dirinya dengan kata saya, bukan aku seperti biasanya. Posisi di rumah dan ada ibunya sepertinya menjadi alasan pikirannya meminta bibirnya mengatakan kata saya. “Nggak tahu. Tiba-tiba terlontar begitu saja,” jawab Anjani dengan wajah santai. Arsya ingin sekali melayangkan cubitan pada pipi putih Anjani. Namun tentu saja hal itu hanya keinginannya dalam hati. Ia tidak ingin mendapatkan bogeman mentah jika nekat menuruti keinginannya itu. “Pokoknya kalau kamu manggil aku dengan kata ‘Pak’ dan juga menyebut diri dengan kata ‘saya’, kamu akan mendapat hukuman,” ancam Arsya. Anjani memandang Arsya dengan pandangan bingung. “Apa sih? Bukannya menjawab pertanyaanku bisa tahu rumahku dari mana malah bicara ngalor ngidul,” dumal Anjani kesal. “Hukumannya adalah kamu akan mempunyai satu rasa sayang untukku yang akan ditabung. Jika tabungan itu sudah mencapai 20 rasa sayang maka kamu mau tidak mau harus menjadi kekasihku,” ucap Arsya enteng. “Suka ngelantur kalau ngomong.” Arsya mengedik. “Aku minum ya,” ijin Arsya. Belum juga Anjani menyetujui, bibir gelas itu sudah bertemu dengan bibir Arsya. Siang hari yang terik kemudian minum minuman dingin membuat dahaganya hilang. “Minumannya segar,” kata Arsya. “Ini dari jeruk nipis dikasih gula?” tanya Arsya. Ia baru merasakan minuman seperti ini. Rasa asam dari jeruk nipis atau biasa dikenal dengan nama jeruk pecel dan manisnya gula bercampur dengan rata sehingga rasanya menjadi seimbang. Manisnya tidak terlalu manis dan asamnya juga tidak terlalu kuat. Membuat minuman itu terasa segar. Anjani mengabaikan Arsya. Ia kesal dengan laki-laki di hadapannya ini. Tidak ada angin tidak ada hujan, rekan gurunya itu tiba-tiba nongol di depan pagar rumahnya. Arsya peka dengan wajah cemberut Anjani. Ia pun kembali pada mode serius. “Karena saking penasarannya aku sama siapa itu Putri dan kamu yang buru-buru pulang. Aku bertanya pada Bu Tutik alamat rumah kamu. Memangnya kamu sudah menikah ya, Jan? Kalau kamu sudah menikah aku nggak akan dekat-dekat sama kamu lagi.” Setelah mengucapkan itu, dadanya terasa nyeri. Mana bisa ia berkata seperti, tetapi tentu saja ia tidak ingin menjadi pengganggu hubungan orang lain. Anjani menahan semburan tawanya. Ia menutup mulutnya agar tawa itu tidak menguar. Takut Putri terbangun. “Iya. Aku sudah menikah. Kan kamu tahu sendiri kalau tadi aku menggendong Putri,” jawab Anjani dengan mimik serius. Arsya lemas seketika. Pupus sudah harapannya untuk mendekati Anjani. “Boleh aku lihat foto pernikahanmu?” pinta Arsya untuk meyakinkan dirinya bahwa Anjani memang sudah menikah. Rasanya sungguh berat. Anjani kelimpungan. Mana ada foto pernikahan? Foto berdampingan dengan laki-laki saja tidak pernah. Jika ia hendak melanjutkan sandiwara ini, rasanya ia sendiri yang akan lelah. “Foto pernikahannya siapa, Nak Arsya?” sahut Sukma yang bergabung ke ruang tamu dengan membawa sepiring nasi. “Makan dulu, Nak Arsya. Maaf tidak mengundang kamu ke dalam. Kondisi rumah sedang berantakan dengan kain jahitan,” lanjut Sukma sungkan. “Ibu, tidak perlu repot-repot begini.” Niat hati ke rumah Anjani untuk mencari tahu tentang Si Putri, dan ternyata ia mendapatkan sambutan yang begitu luar biasa seperti ini. “Tidak repot. Maaf hanya menu sederhana. Kamu pasti lapar karena dari sekolah langsung ke sini.” “Terima kasih, Bu,” ucap Arsya. Ia jadi merasa semakin tak enak hati karena keramahan ibu Anjani. Ia juga merutuki dirinya karena bertamu ke rumah orang dengan tangan kosong. “Sebelum kamu makan, Ibu mau bertanya. Siapa yang sudah menikah?” Arsya menggaruk belakang kepalanya. “Anjani?” jawab Arsya dengan tidak yakin. Sukma menguarkan tawa kecil. “Dari mana Nak Arsya bisa menyimpulkan seperti itu?” tanyanya dengan tawa yang masih melekat. “Tadi waktu saya ke sini Anjani sedang menggendong putri? Itu putrinya Anjani ya, Bu? Lalu Anjani juga mengatakan pada saya kalau dia sudah menikah,” jelas Arsya. Tawa Sukma sudah tidak bisa ia tahan lagi. Tawanya menguar lembut memenuhi ruang tamu. Arsya dibuat bingung dengan respons Sukma. Sedangkan Anjani hanya tersenyum lebar juga merasa bersalah. ‘Kenapa pula Ibu tidak dapat diajak bekerja sama?’ batin Anjani. “Anjani belum menikah, Nak. Putri itu nama bayi yang ia gendong. Dia keponakannya Anjani. Putrinya kakaknya Anjani,” jelas Sukma meluruskan. Arsya mengembuskan napas lega. Ternyata Anjani sedang mengerjainya. Ia pun memandang Anjani tajam. “Kalau begitu silakan dinikmati makan siangnya, Nak Arsya. Ibu tinggal dulu ke dalam ya,” pamitnya. “Jan, ambilkan air putih,” pintanya pada Sang Putri. Anjani mengangguk. Ia melangkah masuk ke dalam mengikuti Sang Ibu. Anjani tahu bahwa maksud ibunya memintanya mengambil air putih adalah agar Arsya nyaman menikmati makan siangnya. “Kamu ternyata bisa jahil juga ya?” komentar Sukma. Anjani tertawa lebar. “Biar dia nggak ngaco kalau ngomong, Bu.” “Ngaco gimana?” tanya Sukma heran. Anjani menghela napas. “Masak dia bilang sayang-sayang gitu ke Anjani. Padahal kita baru akrab beberapa bulan ini. Dulu kan Anjani buat benteng pertahan agar kita nggak saling akrab. Anjani takut,” cerita Anjani. Sukma memahai akan hal itu. Perpisahannya dengan Purnomo, memberikan luka yang cukup dalam bagi Anjani. Juga membekaskan setitik trauma kepada putri bungsunya. “Nduk, tidak semua laki-laki sama dengan ayahmu. Kalau kamu memang juga sayang dengan Arsya, kalian bisa mencoba menjalin hubungan. Kuatkan komitmen kalian agar di akhir nanti tidak ada luka yang ditinggalkan,” pesan Sukma. “Anjani belum yakin, Bu. Anjani masih meraba-raba maunya Anjani apa,” akunya. Sukma mengangguk paham. “Dipikirkan baik-baik. Tidak boleh gegabah. Tapi jangan juga menyiksa diri,” pesannya. “Iya, Bu.” “Sudah sana kembali temui Arsya. Jangan lupa air putihnya.” Anjani mengangguk. Kemudian ia mengambil air putih dan kembali menuju depan untuk menghidangkan segelas air putih. “Terima kasih, Jan. Rasanya sedap dan enak. Sayur bayamnya juga manis dan ada bau rempah yang khas,” ucap Arsya setelah meneguk habis air putihnya. “Ibu memang sering menambahkan sedikit daun kemangi ke dalamnya. Kadang juga ditambah dengan umbi kunci. Tahu kunci kan?” “Ah iya. Aromanya memang khas dan sedap.” Anjani hanya mengangguk untuk menyetujui. Ia tidak tahu harus merespons apalagi. Arsya memerhatikan Anjani. Kerudung instan yang digunakan Anjani membuat paras ayu rekannya bekerja itu semakin terlihat cantik. ‘Aku semakin kagum sama kamu, Jan. Kamu melindungi dirimu sekali,’ puji Arsya dalam batin. “Karena kamu berbohong kepadaku mengenai Putri. Hukumanmu sudah tertabung lunas,” kata Arsya untuk memecah hening di antara mereka. “Eh, enak saja,” protes Anjani tak terima. “Nggak boleh protes. Kamu telah berbohong. Maka kamu sekarang sudah menjadi kekasihku,” kata Arsya dengan senyum lebar penuh kemenangan. “Aturannya nggak kayak gitu ya!” Arsya mengedik. Ia kemudian mengambil handphone, diutak-atiknya sebentar. Setelahnya ia letakkan kembali handphone itu di atas meja. “Nggak usah teriak-teriak. Putri kan sedang tidur,” peringat Arsya dengan wajah yang menyebalkan. Anjani ingin sekali mengusap wajah tanpa dosa Arsya itu. Namun, sebelum keinginan itu terjadi dering handphone Arsya memenuhi ruang tamu. Wajah Arsya tampak terburu setelah menerima panggilan itu. Ia pamit kepada Anjani dan Sukma karena ada urusan penting yang mendesak. Saat Sukma masuk ke dalam rumah karena tangisan Putri, Arsya memanfaatkan kesempatan itu dengan mengelus puncak kepala Anjani yang tertutup kerudung. Perlakuan itu berhasil membuat Anjani mematung dan matanya membola. Keterkejutan Anjani itu membuat tawa Arsya menguar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD